Ini adalah bagian yang ke-3.
Sudah menjadi kodrat jika kita kerap
membanding-bandingkan diri kita dengan orang-orang lain, dan perbandingan yang
dilakukan itu cenderung tidak sebanding, tidak selaras bahkan jauh dari rasa keadilan.
Secara tidak langsung itu akan membuat kita menjadi terhalang melangkah, meragu
dan khawatir untuk melakukan sesuatu yang kita sukai.
Mungkin tentang ini pun Anda tidak setuju, atau akan
mendebatnya. Namun jauh di dalam lubuk hati, sanubari Anda akan membenarkannya,
karena pikiran seperti itu sering timbul dan membebani. Ada perasaan tertindas
timbul di dalam pikiran: “apakah saya
mampu seperti dia? Apakah saya bisa se-brillian dia?”
Mungkin sering timbul selepas Anda menghadiri pesta
perayaan keberhasilan seseorang, atau mungkin saat mendengarkan terstimoni pengakuan
orang-orang sukses, yang mungkin malah telah beralih profesi menjadi seorang Influencer, Coach, Mentor atau Trainer. Menjelaskan rinci tentang bagaimana
caranya dia berjuang menggapai sukses keberhasilannya. Pemikiran tertindas seperti
itu, juga sering timbul selepas mengikuti pelatihan atau seminar tentang
pengembangan potensi kemampuan diri.
Apakah saya bisa menjadi hebat sehebat dan selincah orang-orang
yang kini berprofesi sebagai Coach, Mentor dan atau Trainer itu?
Sejenak mungkin timbul pemikiran untuk berjanji berusaha,
berjuang keras dan fokus mencapai sukses keberhasilan, persis mengikutkan
cara-cara seperti yang dipaparkan pada pelatihan itu. Hingga tiba-tiba
terhenyak sadar, saya tidak akan pernah bisa sukses seperti kegemilangan yang dicapainya.
Terkadang sadar, persis kala ketika terkendala oleh sesuatu batu sandungan yang
membuat banyak hal menjadi tertunda mungkin malah menjadi terhenti. Menjadi khawatir,
terombang-ambing, perasaan meragu, hidup menjadi dipenuhi pikiran negatif.
Ini tentang sisi negatif, imbas dari tindakan membanding-bandingkan
diri.
Kelelahan serta kebuntuan langkah-langkah memaksa
timbulnya pemahaman bahwa perbandingan yang dilakukan tidak sebanding.
Ini tidak adil.
Terutama karena testimoni atau pengakuan dan kesaksian
yang disampaikan oleh para Coach, Mentor atau Trainer itu bisa dicapai setelah selama
puluhan tahun dia bertarung memperjuangkan karirnya. Sungguh tidak adil.
Seiring perjalanan waktu, situasi memaksa diri untuk
memaknai bahwa Anda tidak perlu melakukan tiap-tiap hal persis seperti yang diajarkan
oleh para Coach, Mentor, atau Trainer itu. Bahkan tidak perlu mengikuti gaya hidup
mereka, tidak perlu berprilaku seperti yang diajarkan itu.
Karena, bagaimanapun tingkat kedewasaan serta
perkembangan kemampuan pribadi diri setiap orang didalam meningkatkan
kematangan dirinya berbeda pada setiap orang. Masing-masing tergantung pada
situasi lingkungan pergaulan sehari-hari. Dan itu juga akan terus berubah-ubah,
berubah dan berubah-ubah lagi, terkadang karena dipaksa situasi atau berubah seiring
perubahan lingkungan pergaulan.
Sisi positif, umumnya timbul dan disadari belakangan
terutama karena waktu yang berjalan ikut turut berkontribusi memampukan diri. Menggiring
ke arah lahirnya pemikiran akan kesadaran, bahwa yang bisa melakukan hal-hal
untuk mengembangkan diri adalah diri sendiri. Hanya oleh diri sendiri, bukan
oleh orang lain, bukan oleh Coach, bukan oleh Mentor atau Trainer, karenanya
Anda tidak perlu berubah menjadi persis seperti mereka.
Menyadari kesalahan karena telah membanding-bandingkan
diri secara tidak adil dan itu akan melahirkan semangat perubahan bagaimana
melakukan hal-hal pembinaan diri.
Ini adalah tentang pikiran positif yang timbul belakangan
setelah kelelahan karena membanding-bandingkan diri.
Menyadari bahwa rumor tentang keberhasilan mereka adalah
benar-benar telah terbukti, tetapi itu adalah sukses keberhasilan mereka.
Bahkan Anda telah turut serta terlibat membantunya menjadi kian semakin sukses
karena Anda membeli ticket masuk untuk sekedar hadir mendengarkan testimoni kesaksian
mereka tentang sukses keberhasilannya.
Menyadari waktu menjadi terbuang percuma karena berusaha
menjadi seperti orang-orang yang menyampaikan testimoni tentang sukses
keberhasilannya. Semestinya Anda cukup memetik nilai-nilai sisi positifnya
saja, mencari tahu bagaimana mereka memelihara semangat juang. Bukan malah berusaha
menjadi seperti mereka. Cukup mencari tahu kiat atau bagaimana sesuatu itu dilakukan.
Seyogianya Anda bisa lebh cepat sukses apalagi dengan tambahan perbendaharaan
trik-trik berikut kiat sukses.
Mungkin karena tiap Anda cenderung melebih-lebihkan
pengalaman orang lain, dan menjadikan Anda men-degradasi peringkat kesuksesan
diri sendiri. Mungkin Anda perlu mengetahui bahwa kemampuan diri tidak terkait
dengan pengalaman. Tetapi pengalaman bisa meningkatkan keahlian.
Mari simak
contoh-contoh berikut:
Misalnya, beratus juta orang China lebih ahli berkendara
di sisi kanan jalan, karena pengalaman mereka sehari-hari. Sebaliknya, berjuta-juta
orang Indonesia lebih ahli berkendara di sisi kiri jalan, juga karena
pengalaman mereka sehari-hari. Tetapi situasi itu tidak bisa diartikan bahwa orang
China dan orang Indonesia lebih mahir berkendara dibandingkan kelompok lain.
Ini hanya tentang pengalaman yang berbeda.
Contoh lain lagi: satu miliar orang China bisa dengan
mudah melakukan sesuatu karena buku pedoman petunjuk penggunaan peralatan yang
dipergunakan menggunakan huruf kanji tulisan China. Disisi lain hanya ada ratusan
juta orang-orang dari seluruh dunia bisa dengan mudah melakukan sesuatu karena
buku pedoman petunjuk penggunaan peralatan yang dipergunakan menggunakan huruf
latin dan dalam bahasa Inggris. Situasi ini tidak malah menjadikan orang China
lebih banyak yang mahir menggunakan alat peralatan sejenis itu dibandingkan
dengan orang-orang dari seluruh dunia. Ini hanya tentang memiliki pengalaman
yang berbeda.
Mari lihat contoh lain lagi. Kala ketika Anda
memeriksakan kesehatan diri ke Rumah Sakit, Anda ditemui dokter dan sekelompok perawat
dan semua mereka berseragam putih-putih. Secara perlahan salah satu dari mereka
menjelaskan hasil pemeriksaan yang dilakukan, memberi saran agar disiplin menjaga
kesehatan. Bahwa jenis makanan tertentu dan beberapa jenis minuman softdrink harus
dihindarkan, karena implikasinya bisa mengganggu sistem antibodi kesehatan tubuh.
Anda menjadi tertegun kagum, terbersit bayangan
penilaian Dokter itu brillian dan hebat, tentu hidupnya jauh lebih sehat dari
Anda, maka harus dipercaya. Anda menjadi merasa tertekan karena menjalani hidup
mengabaikan kesehatan dengan cara “bodoh”.
Sejatinya bayangan Anda itu sama sekali tidak
terkait.
Ini adalah tentang pengalaman.
Bahwa dokter itu bisa menjadi seperti itu mungkin karena
telah bertahun-tahun kuliah di Fakultas kedokteran. Telah bertahun-tahun mempelajari
buku-buku tebal tentang obat-obatan dan tentang penyakit. Telah banyak menghadapi
berbagai test uji kemampuan diri untuk sekedar mendapatkan posisi dalam pekerjaannya.
Telah bertahun-tahun berlaku disiplin menjalani karir hingga akhirnya dipercaya
menangani pasien, seperti Anda.
Ini adalah tentang memiliki pengalaman yang berbeda.
Mungkin Anda mahir menangani profesi sebagai
pebisnis profesional. Dan peluang Anda sukses, tergantung pada minat Anda
mengasah bakat dan ketrampilan dibidang yang dikuasai. Jangan Anda lalu berkecil
hati jika kemudian mendapati diri menjadi seorang pasien. Seorang pesakitan. Jangan
lalu menjadi tertekan dan merasa diri sangat “bodoh” hanya karena tidak disiplin menjaga kesehatan.
Ketahuilah, ini tentang pengalaman.
Sebaiknya luangkan waktu untuk meneliti apa sesungguhnya
bakat Anda. Sebagai manusia Anda ditugasi untuk mengembangkannya potensi diri. Perlu
paham bahwa setiap orang dibekali ketrampilan serta kemampuan dan talenta yang
unik. Karenanya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk sukses
mencapai keberhasilan. Anda perlu memahami bahwa talenta Anda itu yang bisa menjadi
bekal awal meningkatkan kemampuan, makanya digunakan, atau akan hilang menjadi
tersia-sia.
Semuanya tergantung Anda.
Mari renungkan ceritra berikut:
Alkisah, tiga orang murid (A, B, dan C) terpilih mendapat
pembagian “talenta” dari sang Guru, yang dikenal sebagai Guru yang pengasih dan
penyayang tetapi sangat pemarah.
Si “A” mendapat satu talenta; si “B” mendapat dua
talenta, dan si “C” mendapat lima talenta.
Ketika tiba waktunya, sang Guru tiba dan mulai memeriksa
apa saja yang telah dilakukan oleh ketiga orang murid-muridnya itu dengan
talenta-talenta yang didapatnya.
Dengan kerendahan
hati si “C” melaporkan:
bahwa segera setelah mendapat pembagian lima
talenta, ia segera memanggil orang-orang dan membagikan masing-masing satu
“talenta” kepada lima orang. Kini kelima orang itu telah pula memiliki
talentanya masing-masing. Dengan demikian dapat diartikan bahwa kini si “C”
telah memiliki sepuluh talenta. Kagum sang Guru kemudian memberikan lebih
banyak lagi tambahan “talenta” kepadanya.
Berikutnya
giliran si “B” yang melapor:
bahwa setelah mendapat pembagian dua talenta, dia lalu
berpikir dalam-dalam, kemudian memutuskan untuk memberikan satu talenta kepada
satu orang lainnya. Satu talenta lagi dia pergunakan sendiri mengembangkan
potensi kemampuan dirinya sendiri. Dengan rasa kagum, sang Guru kemudian
memberikan lagi tambahan talenta kepadanya, dan berpesan agar dipergunakan untuk
mengembangkan potensi dirinya termasuk potensi kemampuan orang-orang yang
dianggapnya layak dan berkenaan.
Selanjutnya
si “A” melapor:
Dengan mimik wajah garang, ia lantang berkata bahwa sang
Guru yang dia kenal sangat pemarah itu telah dia anggap berlaku kejam terutama karena
hanya memberikan satu talenta saja kepadanya. Karenanya, talenta yang satu itu,
telah dia kuburkan dalam-dalam hingga dia merasa tidak punya kewajiban
untuk mempertanggungjawabkannya.
Serasa kecut, sang Guru tersenyum simpul, kemudian
meminta si “A” untuk menggali kembali dan mengambil “talenta” itu, oleh sang
Guru kemudian diberikan kepada orang satu lainnya.
Mungkin Anda telah akrab dengan kisah ini. Kisah yang bagus
untuk direnungkan.
Intinya adalah bahwa, tiap kita masing-masing telah
dibekali “talenta”, selanjutnya tergantung Anda memanfaatkan “talenta” milik Anda.
Mereka yang menggunakannya untuk menggali dan mengembangkan
potensi kemampuan dirinya sendiri, akan mendapatkan lebih banyak lagi “talenta”
jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang mensia-siakannya dengan percuma.
Mereka-meraka yang mengembangkan potensi kemampuan
dirinya dengan “talenta” yang dimilikinya, akan terlihat lebih sukses jika dibandingkan
dengan mereka-mereka yang menguburkan “talenta” miliknya, yang sama sekali
tidak memetik manfaat darinya.
Ini adalah tentang pilihan.
Dan apa pun pilihan Anda, semuanya tergantung Anda.
Bagian pembahasan selanjutnya disajikan pada bagian yang ke-4.
~salam citra selalu!