Kamis, 08 Maret 2018

MOTIVASI MEMENANGKAN HIDUP

"If everything's under control, you are going too slow."~Mario Andretti

Sebagaimana ungkapan ~Zig Ziglar: “Jika Anda tidak mau belajar, tidak ada yang bisa menolong Anda! Tetapi jika Anda bertekad untuk belajar, tidak akan ada yang bisa menghentikan Anda!", kebenarannya terungkap dijaman now.

Era teknologi kini ini, kian membuat semakin tidak banyak aturan permanen yang mengikat mengingat ekspresi perubahan yang terjadi begitu cepat. Semisal ukuran seksi bukan lagi hanya lekuk tubuh siseksi tetapi dipengaruhi seberapa banyak follower-nya? menjadi ukuran tingkat popularitas, dan itu dipertimbangkan. Wajah dunia telah berubah.

Indikator sukses keberhasilan tidak lagi hanya tergantung pada tingkat kekayaan yang dihasilkan – tetapi siapa yang mengikutinya, kini segalanya terlihat sumir. Sukses bukan lagi domain para keturunan darah biru, tetapi yang tidak berdarah pun banyak yang sukses mencapai keberhasilannya. Indikatornya kian semakin meluas engga jelas apalagi diharuskan mendapat pengakuan dari netizen - para penghuni dunia maya, dunia yang tak jelas dilintang berapa letak posisinya.

Semua berubah dan semuanya wajib menerima perubahan demi perubahan yang mengubah tiap perubahan itu.

Jika dulu, tiap kali kita menghadapi perubahan kita diperhadapkan pada ungkapan kata: “bagaimana jika?”, kini ini cenderung berhadapan dengan: “kenapa tidak?”.

Dua-duanya mengusung kandungan makna dengan bobot yang sama kuatnya, abtraksi keduanya terlihat pada gagasan bahwa ada yang tengah sedang atau akan berubah. Keduanya diyakini menjadi pemicu minat yang menumbuhkan inovasi, yang memacu kreativitas dan perubahannya – seolah tertantang membuat sesuatu hal menjadi lebih baik.

Semua dipaksa untuk berubah setidaknya ekpresinya berubah bahkan imajinasi kita dipaksa berubah untuk mampu memahami sejauh mana sesuatu kreativitas bisa mengrefleksikan tiap hal yang bisa kita bayangkan. Dunia tanpa batas!

Kemampuan kita berimajinasi ditantang tiada habisnya. Surfing seolah dicap sebagai kecanduan berinternet apalagi kini internet menyediakan segalanya, sedari detik-detik kelahiran bayi hingga detik-detik kematian seseorang menjemput, terpampang jelas. Tersangka pesakitan korupsi pun bisa sewaktu-waktu berubah posisi seolah pendekar penebar keadilan (justice collaborator). Yang heran kian semakin heran hingga sakit terheran-heran sedangkan yang kagum kian semakin kagum hingga mati kelojotan menjadi cara mati mengagumkan. Dunia kian menggila!

Resep sukses tak lagi harus belajar tinggi-tinggi di perguruan tinggi, kini cukup dengan pelatihan dan keuletan untuk jatuh bangun secara digital agar bisa menjadi master digital. Bahkan professor pun bisa mengukuhkan sendiri dirinya sendiri sebagai “professor digital” berstempel dan ber-sertifikasi digital. Bayar secara digital. Dunia berubah menjadi digital.

Semakin kreatif kita dianggap penuh kreasi, tinggal menerapkannya kedalam satu bidang kehidupan, menularkannya kedalam aspek kehidupan lainnya. Ide bagus jarang diminati tetapi ide yang rada gila bisa menjadi viral. Pesohor kesohor kini tergantung pada total jumlah klik sebagai bukti pertanda berapa kali sudah ditonton netizen? Kualitas menjadi sumir, tergantung pada tingkat elektabilitas Netizen – sang penghuni dunia maya.

Seiring waktu tiap kita merasa terbebani, bahwa semua kita kian semakin membutuhan sesuatu ukuran standar yang mencakup lebih dari sekedar viral atau like dari netizen dunia maya.

Kita perlu aturan yang meletakkan kebahagiaan pada posisi semestinya dan bahkan kita dituntut memahami sifat karakter yang melekat atasnya:

1. Bertanggungjawab secara Mandiri:
Jamak kita temukan seseorang yang mengaku kurang bahagia dalam kehidupannya lari dari kenyataan realitas hidupnya. Terlihat begitu mudah menghindari tanggung jawab pribadinya, semudah ia menyalahkan orang lain dan atau menunjuk siapa saja yang dia anggap tidak memuaskannya – untuk dipersalahkan. Dan semakin kita mengenalnya, semakin kita bisa mengungkap kehidupannya. Nelangsa.

Tak mudah untuk kita bisa menemukan seseorang yang berbahagia menerima tanggungjawab pribadinya sebagai bagian dari realitas hidupnya. Semakin kita mengenalnya semakin terungkap bahwa kebahagiaan mereka adalah ekses dari sikap karakter pribadi mereka sendiri. Bertanggungjawab penuh seolah tak cukup alasan untuk mereka – mempersalahkan orang satu lainnya.

2. Rendah Hati secara Pribadi:
Tingkat kepercayaan diri memungikinkan kita untuk mempercayai nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat – bahwa kita layak untuk sukses. Seseorang yang berbahagia memiliki tingkat kemampuan pribadi untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri mengembangkan ketrampilan yang dibutuhkan. Yang bisa menghasilkan kualitas yang kompeten yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang baik.

Tipikal mereka ini, merasa tidak cukup alasan untuk teriak-teriak membesar-besarkan prestasi yang dicapai. Menjabarkan pengalaman hidupnya dengan seksama tanpa dilebih-lebihkan, terkesan jauh dari kesombongan. Diduga mereka menganut prinsip bahwa kerendahan hati akan memancarkan rasa percaya diri yang diperlukan untuk mencapai sukses keberhasilan. Penerimaan diri menghadirkan bobot kerendahan hati dan mereka nyaman dengan kehidupannya.

3. Penerimaan Diri:
Seseorang yang sampai pada tahap pengenalan diri terlihat dipenuhi rasa kebahagiaan, terlihat berhasil menghubungkan perasaannya dengan realitas kenyataaan hidupnya dan terus belajar bertumbuh seiring waktu.

Baginya memelihara kelemahan hanyalah untuk menggali kekuatan yang diperlukan untuk menjadikannya bisa menghindarkan stagnasi kemalasan bahkan sifat apatis. Terutama karena telah berhasil membangun pemikiran bahwa dirinya telah berdamai dengan dirinya – dan menerima apa adanya. Ketenangan batin menjadi momentum pengingat yang handal bahwa dirinya tengah sedang berjuang memenangkan dirinya dengan menerima dirinya - apa adanya. Terkesan tengah memaksa dirinya sendiri untuk berinvestasi pada dirinya sendiri. Oleh karenanya – jangan mau bingung sendiri!!

"Far better it is to dare mighty things, to win glorious triumphs, even though checkered by failure, than to rank with those poor spirits who neither enjoy much nor suffer much, because they live in the grey twilight that knows neither victory nor defeat."
~Theodore Roosevelt

~salam motivasi!
Awesome - Free