Senin, 05 Maret 2018

Anda Cukup Kompeten Untuk Menantang Hidup

“Worry never robs tomorrow of its sorrow, it only saps today of its joy.”
~Leo F. Buscaglia

Kekhawatiran tidak akan pernah merampas hari esok dari kesedihannya, ia itu hanya akan mengurangi sukacita dihari ini, demikian Leo F Buscaglia. Seolah mengingatkan, karena kita telah terbiasa untuk khawatir akan sesuatu yang tak jelas. Kebiasaan yang merusak.

Sebagai makhluk yang dipenuhi emosi, kita kerap diganggu pemikiran khawatir. Walau terkadang khawatir karena untuk alasan tertentu adalah bagus karena berhasil membangun rasa takut tetapi tak bagus untuk kita membiarkannya. Seolah khawatir lebih baik dari keyakinan diri kita sendiri. Haruskah kita membiarkannya?

Tiap kita bercita-cita untuk menjadi orang besar tetapi kita ragu apakah paham akan arti kebesaran yang dimaksudkan, terutama karena hal itu bukan hanya menyangkut bagaimana orang-orang memandang diri kita, tetapi bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Njlimet - tidak semudah mengatakannya.

Anehnya kita terlihat begitu mudah untuk tahu hal-hal yang membuat kacau orang lain, bahkan begitu yakin mengatakan bahwa kita telah mengindentifikasi hal-hal yang menahan langkahnya mencapai puncak kebesarannya. Bagaimana memperbaikinya menjadi persolan tersendiri - aneh.

Diseminar-seminar pengembangan diri kerap diperdengarkan bahwa seseorang tidak bisa mencapai puncak kejayaannya karena terganjal beberapa hal,

Yakni:

1. Diperkosa Pemikiran Negatif:
Kita perlu memahami bahwa hidup kita sangat dipengaruhi oleh orang-orang disekeliling kita. Konon orang-orang yang tiap waktu mengeluh, menebarkan ceritera negatif tentang betapa buruk hidupnya, itu bisa merontokkan daya juang kita. Disarankan untuk kita bisa menghindarkan efek mentalitas negatif setidaknya hingga kita mencapai tahapan dimana kita tak lagi bisa terkontaminasi.

Disarankan juga agar kita menghabiskan waktu dengan orang-orang yang bergizi positif karena mereka antusia akan perjuangan kita, dan itu yang akan mendorong kita mengejar impian kita.

2. Dikerangkeng Kepahitan Masa Lalu:
Kita harus meyakini bahwa kepahitan hidup masa lalu harus ditinggalkan agar tidak menghambat langkah menuju puncak kebesaran yang diimpikan.

Abstraksi makna kata yang menyarankan agar kita “belajar dari kepahitan masa lalu” kerap dipahami secara salah, seolah-olah diartikan agar kita terus menyeret-nyeret jangkar kepahitan itu - kemanapun. Agar tidak kehilangan tongkat dua kali?

Seyogianya kita bisa meninggalkannya agar bisa merangkul masa depan yang lebih baik, bukan malah menjadikan kesialan masa lalu sebagai patokan langkah kedepan.

Pengampunan terhadap kesialan dimasa lalu diyakini akan membinasakan sisa-sisa kepahitan hidup dan berdamai dengannya akan melipatgandakan produktivitas. Melepaskan beban emosional masa lalu akan menjadikan langkah kita lebih ringan.

Melupakan kepahitan masa lalu menjadi patokan apakah kita telah berhasil memetik pelajaran berharga darinya - untuk kita terus bisa maju melangkah.

3. DiBorgol Situasi Kondisi:
Mengejar puncak kebesaran akan tertahan jika kita tidak mau menerima perubahan terutama karena masa depan berarti sama dengan berubah, dan itu tidak terelakkan.

Jangan biarkan situasi kondisi kini memborgol keinginan kita untuk berubah. Jangan menganggap perubahan sebagai sesuatu yang buruk, tetapi beradaptasilah dengannya. Banyak yang malah bertambah sukses setelah dipecat dari pekerjaannya bahkan seorang salesman seperti JackMa pemilik alibaba.com sukses karena memanfaatkan perubahan teknologi - internet.

Kita menyadari perubahan kala kita melihat lagi kebelakang perjalanan kita bahwa memiliki pengharapan itu masih lebih baik daripada samasekali tidak. Dan kita perlu melepaskan diri dari kungkungan borgol keadaan hidup kita karena itu yang akan memaksa keluar keberanian kita mengembangkan kualitas kreativitas.

Walau tidak semua perubahan berakhir baik tetapi perubahan memberi kita kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dan itu yang akan membuat kita menjadi lebih baik.

4. Terkungkung Keyakinan Yang Terbatas:
Ntah disadari atau tidak, kita kerap membatasi sendiri keyakinan kita untuk bisa sukses, seolah membangun kegagalan diri sendiri. Semisal, pemikiran tentang: “saya tidak akan bisa melakukannya karena saya tidak tahu caranya. Dan saya tidak cukup cerdas untuk memahaminya. Saya perlu kiat sukses tetapi saya tidak kenal orang yang tepat untuk mengajarkan kiat jurusnya".

Banyak yang tidak yakin bahwa mereka sejatinya sangat kompeten menangani tantangan hidupnya bahkan banyak orang yang tidak yakin jika dirinya layak untuk hidup layak. Pilar harga diri yang terlalu tinggi telah merusak.

Ini hanyalah satu “keyakinan”. Yakni satu pemikiran yang dipikirkan berulang-ulang secara terus-menerus. Jika kerap memikirkan hal yang negatif maka tak heran jika yang negatif yang cenderung terjadi. Tetapi, jika kita memikirkan yang sebaliknya maka berbagai hal positif akan mendominasi. Karena pemikiran yang berulang-ulang secara terus-menerus diyakini akan menegaskan pemikiran yang seperti itulah yang diharapkan terjadi.

Mungkin banyak dari kita yang telah ditinggal mati kedua orang tua atau bahkan telah mengalami betapa pahit ketika Bangkrut, ketika kehilangan teman atau dipecat dari pekerjaan, ketika tak punya uang, ketika reputasi hilang, dan sebagainya. Betapa pun tragik tetapi kita bertahan meliwatinya, ini membuktikan bahwa kita punya kapasitas melaluinya. Itu-lah sumber daya kita, kemampuan untuk hidup lebih baik!

Manakala kita yakin bahwa kita layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik maka kita telah punya modal dasar untuk bergerak satu-langkah-tiap-waktu, demikian seterusnya. Itu akan meningkatkan kepercayaan diri untuk melakukan apa pun yang diperlukan agar hidup lebih layak.

Dan kita kompeten untuk itu!

Mulailah dengan mengenali keterbatasan diri, lakukan perubahan atasnya. Lihatlah seberapa hebat diri kita merengkuh puncak kebesaran kita. Anda cukup kompeten untuk menantang hidup!

Masih tak percaya juga kah?

~salam berubah!
Awesome