~Chinese proverb
Adakalanya kita berpikir bahwa kita terlahir ke dunia ini
bagaikan balok marmer bening untuk dipahat oleh pemahat berpengalaman
dibengkelnya, diwarnai. Bengkel itu adalah dunia ditempat mana kita hidup. Kita
bisa saja membiarkan sipemahat itu melakukannya sendiri, tetapi kita juga punya
pilihan untuk berpartisipasi, terutama jika kita siap untuk itu. Atau kita bisa
ikut bergabung kerja denganNya terutama untuk mengatakan apa dan bagaimana kitanya.
Baru-baru, saya diundang ikut acara bedah buku, bersama penulis
dan pembandingnya berbagi ide gagasan pemikiran dengan para yang hadir. Nyaris
semua yang berbicara menyampaikan bahwa konsep ketika “orang mati” adalah bayangan
akan adanya cahaya putih benderang dan tiap kita melangkah memasuki dan terlarut
didalamnya.
Kala itu terjadi, kita telah melepaskan identitas
keduniaan yang melekat, kita sudah tidak lagi memiliki kesadaran penuh, kita
terlarut berbaur dalam pendarnya. Sudah tidak ada ego yang tersisa tetapi kesadaran
diduga bisa melihat dirinya sendiri. Kala kita berbicara tentang masuk terlarut
dalam terang cahaya maka acontrario-nya akan ada kegelapan – mendatangi
kemudian. Pembahasan terhenti jeddah – coffee break.
Suasana rehat dipenuhi perbincangan alot. Satu-demi satu
suara peserta disuarakan, baik berupa saran maupun pendapat alternatif sudut
pandang dan lain sebagainya. Entah kosakata apa yang paling tepat untuk menggambarkan
persfektif yang muncul. Kian menarik ketika ada yang mendebat bertanya: “setelah tahapan larut dalam cahaya itu, apa
kemudian yang terjadi - berikutnya?”. Terdiam, merenung satu demi satu peserta
diam menatap cangkir kopinya. Sunyi dingin seolah menyergap.
Sangat menarik! Bagaimana jika ternyata tidak terlarut
dalam cahaya, bagaimana jika ternyata sudah tidak ada kesadaran kala terlarut? Semua
peserta seolah kehilangan kata-kata bekal bersilat lidah.
Bagaimana jika ternyata itu yang disebut sebagai
perjalanan spiritual? Bagaimana jika itu tentang kehidupan kita? Ya, kita berkeinginan
untuk bisa terus berjalan melangkah bahkan jika setelah terlarut dalam terang cahaya
itu, kita ingin bisa terus berjalan melampauinya. Bahkan jika itu pun nanti akan
berganti menjadi kegelapan, kita ingin terus berjalan menolak tawaran - apapun
yang muncul. Tiap kita ingin berjalan terus dengan sesuatu apa yang kita pernah
ciptakan.
Didalam hati masing-masing bergumam “Terima kasih, aku
akan terus berjalan dengan apa yang aku ciptakan kala ketika aku hidup”.
Persfektif yang semakin menarik berhasil menenggelamkan seruan untuk masuk lagi
memulai tahapan sessi pembahasan.
Sessi berikutnya diisi dengan tofik penciptaan. Kala
pemahat jumawa berhasil menciptakan pedang pusaka yang begitu luar biasa
keindahannya, apakah kita bersedia mengakui kebesarannya? Akan kah kita kemudian
akan melemparkannya kembali kedalam perapian untuk dimusnahkan dan didaur
ulang? Atau, akan kah kita memilih tampil bangga memamerkannya? Atau
menimang-nimang mengaguminya membangun minat mempelajari keahlian sipemahat
yang begitu jumawa.
Akankah kita menikmati penggunaannya? Lajimnya, begitu
sebilah pedang yang begitu elegan tercipta bukankah kita tertantang untuk menggunakan?
Mengeksplorasi kreatifitas penciptaan jurus menggunakannya? Bahkan mungkin eksporasi
itu akan terus melampaui tahun penempaannya.
Hidup adalah penempaan. Terkadang harus ditempa dengan
api perapian, dengan tetesan air atau siraman luapan terjangan hebat air terjun.
Dan, besar kemungkinan akan ada jedah waktu untuk rehat beristirahat mengagumi tempaannya.
Apakah kita merancang karakter hidup sukses atawa kita
tengah sukses merancang karakter hidup kita?
Jawabnya, tergantung telur masing-masing!
“Love yourself first and everything else falls into
line. You really have to love yourself to get anything done in this world."
~Lucille Ball
~salam sukses selalu!