Senin, 12 Maret 2018

MERANCANG KARAKTER HIDUP SUKSES

"Deal with the faults of others as gently as your own."
~Chinese proverb

Adakalanya kita berpikir bahwa kita terlahir ke dunia ini bagaikan balok marmer bening untuk dipahat oleh pemahat berpengalaman dibengkelnya, diwarnai. Bengkel itu adalah dunia ditempat mana kita hidup. Kita bisa saja membiarkan sipemahat itu melakukannya sendiri, tetapi kita juga punya pilihan untuk berpartisipasi, terutama jika kita siap untuk itu. Atau kita bisa ikut bergabung kerja denganNya terutama untuk mengatakan apa dan bagaimana kitanya.

Baru-baru, saya diundang ikut acara bedah buku, bersama penulis dan pembandingnya berbagi ide gagasan pemikiran dengan para yang hadir. Nyaris semua yang berbicara menyampaikan bahwa konsep ketika “orang mati” adalah bayangan akan adanya cahaya putih benderang dan tiap kita melangkah memasuki dan terlarut didalamnya.

Kala itu terjadi, kita telah melepaskan identitas keduniaan yang melekat, kita sudah tidak lagi memiliki kesadaran penuh, kita terlarut berbaur dalam pendarnya. Sudah tidak ada ego yang tersisa tetapi kesadaran diduga bisa melihat dirinya sendiri. Kala kita berbicara tentang masuk terlarut dalam terang cahaya maka acontrario-nya akan ada kegelapan – mendatangi kemudian. Pembahasan terhenti jeddah – coffee break.

Suasana rehat dipenuhi perbincangan alot. Satu-demi satu suara peserta disuarakan, baik berupa saran maupun pendapat alternatif sudut pandang dan lain sebagainya. Entah kosakata apa yang paling tepat untuk menggambarkan persfektif yang muncul. Kian menarik ketika ada yang mendebat bertanya: “setelah tahapan larut dalam cahaya itu, apa kemudian yang terjadi - berikutnya?”. Terdiam, merenung satu demi satu peserta diam menatap cangkir kopinya. Sunyi dingin seolah menyergap.

Sangat menarik! Bagaimana jika ternyata tidak terlarut dalam cahaya, bagaimana jika ternyata sudah tidak ada kesadaran kala terlarut? Semua peserta seolah kehilangan kata-kata bekal bersilat lidah.

Bagaimana jika ternyata itu yang disebut sebagai perjalanan spiritual? Bagaimana jika itu tentang kehidupan kita? Ya, kita berkeinginan untuk bisa terus berjalan melangkah bahkan jika setelah terlarut dalam terang cahaya itu, kita ingin bisa terus berjalan melampauinya. Bahkan jika itu pun nanti akan berganti menjadi kegelapan, kita ingin terus berjalan menolak tawaran - apapun yang muncul. Tiap kita ingin berjalan terus dengan sesuatu apa yang kita pernah ciptakan.

Didalam hati masing-masing bergumam “Terima kasih, aku akan terus berjalan dengan apa yang aku ciptakan kala ketika aku hidup”. Persfektif yang semakin menarik berhasil menenggelamkan seruan untuk masuk lagi memulai tahapan sessi pembahasan.

Sessi berikutnya diisi dengan tofik penciptaan. Kala pemahat jumawa berhasil menciptakan pedang pusaka yang begitu luar biasa keindahannya, apakah kita bersedia mengakui kebesarannya? Akan kah kita kemudian akan melemparkannya kembali kedalam perapian untuk dimusnahkan dan didaur ulang? Atau, akan kah kita memilih tampil bangga memamerkannya? Atau menimang-nimang mengaguminya membangun minat mempelajari keahlian sipemahat yang begitu jumawa.

Akankah kita menikmati penggunaannya? Lajimnya, begitu sebilah pedang yang begitu elegan tercipta bukankah kita tertantang untuk menggunakan? Mengeksplorasi kreatifitas penciptaan jurus menggunakannya? Bahkan mungkin eksporasi itu akan terus melampaui tahun penempaannya.

Hidup adalah penempaan. Terkadang harus ditempa dengan api perapian, dengan tetesan air atau siraman luapan terjangan hebat air terjun. Dan, besar kemungkinan akan ada jedah waktu untuk rehat beristirahat mengagumi tempaannya.

Apakah kita merancang karakter hidup sukses atawa kita tengah sukses merancang karakter hidup kita?

Jawabnya, tergantung telur masing-masing!

Love yourself first and everything else falls into line. You really have to love yourself to get anything done in this world."
~Lucille Ball

~salam sukses selalu!

Awesome - Very rare!