Evaluasi stratejik menjadi solusi awal untuk eksis dan terhindar
dari risiko status quo. Terkadang stratejik bahkan telah ter-evaluasi sendiri
oleh perubahan kebijakan pimpinan puncak ditengah situasi kondisi tertentu. Untuk
menghadapi dinamika bisnis yang berubah-ubah diperlukan gagasan baru untuk
disesuaikan dengan konsep stratejik dan menjadikannya sebagai konsep “stratejik
pertumbuhan”.
STATUS QUO:
Beberapa jenis bisnis terlihat tumbuh pesat diawal-awal kemudian
tenggelam, beberapa diantaranya terlihat bertahan – stagnan, seolah kehabisan minat
berkembang. Stagnan terjadi karena berbagai faktor bahkan perubahan ketentuan perundang-undangan
bisa memutus nadi pertumbuhan bisnis. Penetapan ulang tujuan awal diperlukan untuk
menyesuaikannya dengan situasi riel - terkini.
PERILAKU MANAJEMEN:
Perilaku internal manajemen kerap menghambat gagasan perubahan
apalagi jika itu diusung oleh level bawah. Kearifan manajemen puncak diperlukan
untuk memicu sikap internal manajemen bisa menerima perubahan, dan jangan malah
menjadi penghalang.
Nuansa persaingan internal perlu dikelola menambah bekal pertumbuhan,
bila perlu disalurkan dengan mendirikan bisnis baru atau dengan membuka divisi tertentu.
Misalnya: jika perusahaan fokus diproduksi, bisnis baru bisa fokus pada distribusi.
ARUS KAS:
Tak mudah menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan
evaluasi “stratejik” tetapi Arus Kas yang memburuk kerap menjadi pemicu. Walau Arus
Kas dipengaruhi oleh berbagai macam faktor namun reaksi manajemen umumnya
langsung fokus pada penjualan, beban produksi dan tiap hal yang membuat Kas
keluar - penghematan di semua lini operasional.
Saran untuk meng-evaluasi pangsa pasar; mencari tahu jenis
produk yang stagnan; menganalisa pola perilaku konsumen; mengevaluasi tampilan disain
produk, dll., akan dianggap mahal.
Saran untuk menciptakan fleksibilitas pada penjualan dengan
memperluas pangsa pasar atau merubah sistim promosi akan dianggap kian membebani
Arus Kas.
Kepanikan menggiring tiap tindakan fokus pada upaya memenuhi
kebutuhan Kas untuk pembayaran gaji, upah serta biaya produksi. Manajemen
puncak sulit mempercayai kehandalan hasil dari evaluasi “stratejik”, kerap terperangkap
oleh pendapat bahwa Arus Kas adalah gambaran riel kondisi usaha. Namun, akan
dianggap ampuh jika dilakukan untuk tujuan PHK - Pelanggaran!
STRATEJIK PERTUMBUHAN:
Reaksi manajemen terhadap pergolakan bisnis umumnya tidak
sama. Ada yang fokus ke kompetisi iklim persaingan; fokus pada pangsa pasar;
fokus pada tampilan disain dan kualitas produk; fokus ke kapasitas manajemen;
fokus pada perbaikan layanan konsumen, bahkan meniru pesaing untuk tampil lebih
baik.
Fokus pada teknologi baru cara berproduksi untuk memacu
volume produksi dianggap bisa mengubah harga jual; meng-evaluasi pola perilaku konsumen
dinilai penting; menggenjot iklan promosi; diskonto dan rabat potongan harga
bahkan hingga cuci gudang merupakan stratejik merebut pasar. Ekspansi
usaha pada skala tertentu dan tindakan memotong dana operasional manajemen bisa
menjadi bumerang, tetapi itu juga bagian dari “stratejik pertumbuhan”.
Tidak ada stratejik pertumbuhan yang ideal untuk semua bidang
bisnis namun fokus pada penghematan biaya kerap dianggap lebih mudah.
~Salam stratejik!









