~Vince Lombardi
Suka tidak suka kita harus berterima bahwa hidup kita sangat diwarnai oleh pendapat orang lain tentang kita, jika menyenangkan kita akan senang dan betah berlama-lama menikmatinya, tetapi ketika terdengar serasa memojokkan kita terpancing membela diri dan membangun jarak dengan orang itu. Untuk orang yang tidak sependapat kita terdorong untuk bersitegang dengannya. Itu kenyataan dan tidak terbantahkan.
Kita terkadang berubah menjadi seseorang yang bisa meracuni lingkungan dunia sekitar kita terutama ketika kita percaya bahwa ada sesuatu yang terjadi dan itu akan merugikan kita. Apakah akan merugikan secara materil keuangan maupun moralitas - menganggap ada peristiwa tertentu yang merugikan nama baik atau bahkan merugikan secara mentalitas.
Sesuatu peristiwa yang membangkitkan reaksi hebat terkadang bahkan kita kaget akan rentetan peristiwa akibat yang ditimbulkannya. Dalam situasional tertentu rentetan peristiwa yang terjadi bahkan bisa kian membuat kita terpojok dan semakin merugikan. Namun kita berharap reaksi yang timbul dan rentetannya akan menggiring pendapat yang menguntungkan, jika semula memojokkan akan berbalik menjadi mendukung. Kita bahkan terkadang harus membayar sesuatu biaya demi mendapat dukungan yang diharapkan. Dan itu tidak terbantahkan.
Dalam banyak hal kita kerap gagal tidak mampu membedakan perkataan dengan perlakuan. Cenderung menganggap bahwa bagaimana perkataan orang lain tentang kita, akan menjadikan orang itu memperlakukan kita secara sedemikian pula. Seolah perkataan negatif akan menjadikan orang lain memperlakukan diri kita secara negatif juga.
Kita lupa bahwa reaksi orang lain terhadap kita didasarkan pada perkataan serta perlakuan kita terhadap orang itu, dan reaksinya umumnya akan didasarkan pada persfektif orang itu terhadap kita.
Kita kerap gagal paham ketika seseorang menyampaikan pendapatnya tentang kita. Memaparkan persfektifnya tentang diri kita. Menerangkan kekecewaan hatinya terhadap kita atau bahkan sakit hatinya. Kita gagal membangun pemahaman bagaimana memaknai arti tujuan mendalam hingga membuat orang itu menjelaskan pengalamannya tentang kita. Kita cenderung tidak memberinya ruang waktu yang cukup untuk secara rinci menjabarkan alasan pemaparannya - dari sudut persfektif pribadinya.
Reaksi kita kerap cenderung tidak menyelesaikan masalah. Seyogianya ditanggapi dengan persfektif juga bukan malah menimbulkan permasalahan baru. Kita harus tanggalkan pemikiran bahwa kita lebih hebat dari orang itu. Kita harus tanggalkan pemikiran bahwa orang itu berperilaku buruk atau tidak berniat baik terhadap kita dengan penjelasannya. Perlu berpikir sebelum kita menanggapi pendapat seseorang tentang diri kita. Perlu berperilaku dewasa ketika kita memaparkan persfektif sudut pandang kita.
Tidak gampang untuk mengabaikan pendapat seseorang tentang kita. Walau Pakar menyarankan untuk tidak mendengarkan tiap pendapat orang-orang terutama karena cenderung subyektif dan tidak obyektif serta sangat pribadi. Tetapi bahkan sang Pakar tak akan bisa mengabaikan jika itu ditujukan tentang dirinya. Sejatinya, perlu paham diri sendiri untuk bisa paham orang lain.
“Learning is the beginning of wealth. Searching and learning is where the miracle process all begins. The great breakthrough in your life comes when you realize it that you can learn anything you need to learn to accomplish any goal that you set for yourself. This means there are no limits on what you can be, have or do”.~Albert Einstein
Sulit untuk membedakan mana pendapat negatif dan yang mana perlakuan negatif, keduanya terkadang sumir, apalagi terjadi bersamaan. Tetapi terkadang itu hanya persfektif kita yang cenderung reaktif akan persfektif orang itu. Terkadang untuk tujuan menegur agar lebih baik ditanggapi secara salah, kecewa menjadi sakit hati, terpojok tidak mendapat dukungan, sulit untuk memahami secara jernih. Cenderung reaktif berlebihan. Hingga kita kehilangan orang yang benar-benar sayang, yang menginginkan kita bisa lebih baik lagi. Kehilangan sahabat, sanak keluarga hanya karena reaktif dan berlebihan.
Tiap kita terkadang membuat kesalahan, jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak kita setujui kita cenderung menafsirkan itu sebagai serangan pribadi, seolah menentang, seolah menjadi ancaman. Andai kita belajar mendengarkan dan berupaya memahaminya itu akan lebih produktif.
Terkadang pendapat itu baik walau terdengar buruk. Perlu bijak memahaminya. Ketika kita berpikir lebih baik, hidup kita akan menjadi lebih baik. Dan itulah yang perlu kita ingat dan kita ulang-ulangi untuk diri sendiri!
~salam belajar selalu!
"There's no feeling quite like the one you get when you get the truth: You're the captain of the ship called you. You're setting the course, the speed and you're out there on the bridge, steering."
~Carl Frederick
