Jumat, 11 Mei 2018

ANDAI KITA BISA AGAK LEBIH DEWASA

“The difference between a succesful person and other is not a lack of strength, not lack of knowledge, but rather a lack of the will”.~Vince Lombardi
Baru-baru saya dikirimi oleh seseorang ringkasan artikel tentang karakteristik orang yang belum dewasa. Dia ingin agar saya membaca hingga akhir dan berpikir apakah saya setuju dengannya tentang pendapatnya perihal orang-orang dewasa dan perbedaannya dengan orang-orang yang belum dewasa.
Dapat dikatakan tulisan ini adalah merupakan persfektif sudut pandang saya tentang orang-orang dewasa serta hal kedewasaan yang dia pertanyakan hingga tak soal apakah saya setuju atau tidak dengannya.
HASILNYA HARUS SEKARANG - SAAT INI:
Orang belum dewasa kerap berpikir bahwa tiap pekerjaan yang dia lakukan harus segera dibayar - tunai “sekarang”, tak boleh tertunda entah untuk alasan apapun juga. Tak heran jika yang seperti itu adalah sesuatu yang mudah dikerjakan dalam waktu singkat dan langsung menghasilkan. Dia bahkan tak paham jika untuk memanen sesuatu kita harus menanam terlebih dahulu.
Tipikalnya tidak punya visi tentang masa depan, hari ini kerja, hari ini dibayar! Jika hasilnya baru akan dibayar nanti, maka ia akan berdalih mengerjakannya nanti saja!
Kontribusi sedikit, berharap diberi imbalan seketika. Didunia bisnis mungkin trading investasi bisa disebut nyaris seperti itu – selesai, bayar atau ludes! Sangat menjanjikan, menggiurkan, seketika bisa kaya raya atau amblas ludes, hingga tak banyak yang menggelutinya. Yang banyak, berhenti seketika kala hasilnya “tidak seperti yang dijanjikan”. Beberapa mencuba bertahan kemudian berhenti setelah sekian waktu tidak memetik hasil.
Tak mudah menebak kenapa orang-orang mudah keluar dari bisnisnya karena tidak menghasilkan, tetapi karakteristik orang mudah menyerah mudah terlihat sebagai kebiasaan pecundang. Yang bertahan tetap teguh berprinsip bahwa yang menyerah tidak akan pernah berhasil.
Napoleon Hill, seorang ekonom Amerika pernah berkata bahwa orang miskin punya pola pikir yang membuat mereka tetap miskin yakni: (1) selalu berkata “Tidak” untuk sesuatu peluang dan (2) selalu ingin “cepat kaya”. Tak heran jika mereka banyak yang mudah menyerah. Mentalitasnya membuatnya kerap berkata “aku tak bisa melakukannya!”
Dan, itu penghalang utama.
Tipikalnya kerap terdorong oleh ceritera “bisnis gampang, cepat dan hasilnya menggiurkan”. Realitasnya, bisnis seperti itu nyaris tidak ada! Jikapun ada, itu hanya bisnis rekaan atau hanya pemain besar yang berkesempatan untuk itu, karena didukung sumber daya, permodalan dan akses jaringan luas. Pemain biasa perlu berjuang lebih keras memelihara pengharapannya sembari berjuang mengejar impiannya. Yang hilang pengharapan hanya akan memetik kehampaan.
Orang lebih dewasa umumnya lebih paham apa yang dia inginkan dalam hidupnya dan lebih siap mewujudkannya. Mereka lebih mengerti bahwa untuk bisa punya lebih banyak uang, harus terlebih dahulu mengeluarkan uangnya. Orang lebih dewasa lebih bijak memahaminya. Mereka bahkan mengorbankan hobbynya.
Mereka lebih paham akan makna bahwa sesuatu itu jika dirawat, kelak akan menghasilkan berlipat ganda, hingga hanya mereka yang tahu arti benih sama dengan bibit dan menanamnya, menjagainya, menyirami dan memupuknya untuk kelak bisa dipanen.
Orang lebih dewasa lebih berminat untuk belajar bagaimana cara memberi dan tidak terlalu memperlihatkan minatnya akan tawaran bisnis cepat kaya.
MINUS DISIPLIN DIRI:
Sejatinya kemampuan tiap orang bisa dikatakan nyaris sama satu sama lain, yang membedakan hanyalah cara berpikir. Dan cara berpikir diyakini menjadi dasar utama dalam berperilaku, dan itu sangat menentukan cara kita mendisiplinkan diri bahkan akan menggambarkan tingkat optimisme kita.
Yang optimis akan gamblang menggambarkan keberhasilannya adalah hasil dari kerja kerasnya untuk disiplin dalam berjuang, sedangkan yang pesimis santai menyampaikan berbagai alasan atas ketidakberhasilannya. Yang pesimis terlihat nyaman walau tetap stagnan sedangkan yang optimis, berjuang agar keluar dari zona stagnansi.
Yang optimis selalu berlatih meningkatkan pola “berpikir” untuk menelurkan “tindakan”, secara disiplin meningkatkannya dan menjadikannya sebagai sesuatu "kebiasaan" agar bisa memiliki “karakter” orang sukses. Umumnya mereka berhasil menentukan sendiri nasibnya sendiri.
Yang pesimis terlihat puas dalam kegagalannya, menghabiskan waktunya clubbing, menonton televisi seharian untuk menutupi keadaannya yang stagnan. Mereka sadar bahwa itu tidak baik dan perilaku itu tidak akan membawanya kemanapun, dan kelak akan menyesalinya. Sejatinya mereka juga ingin berubah tetapi kerap terganjal oleh pola berpikir bahkan perilaku lingkungannya kerap menahan langkah majunya.
Yang optimis berusaha menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain karena sadar itu akan berbalik menyergapnya. Menghindar dari orang-orang yang cenderung mengecilkan arti perjuangan, menghindarkan perilaku negatif dan tak suka mengeluh.
Yang pesimis doyan mengeluh bahkan menikmati sendiri “keluhannya”. Tiap hal dikeluhkan dan itu dilakukan sepanjang hari, tiada hari tanpa keluhan. Mengeluh tentang orang-orang, tentang tiap hal dalam kehidupannya, mereka bahkan beradaptasi dan membangun lingkungannya mengikutkan keluhannya.
Bagaimanapun, hidup akan memperlakukan kita seperti bagaimana kita mengisi kehidupan kita, dan memperlakukan kita seperti layaknya kita memperlakukannya, maka berhentilah mengeluh. Optimislah, pemenang tidak akan mengeluh dan mereka-mereka yang mengeluh tidak akan pernah menang.
Karakter khas orang-orang yang lebih dewasa terlihat jelas pada orang yang optimis sebaliknya pesimisme mudah terbaca pada orang yang belum dewasa.
Andai kita bisa agak lebih dewasa!
~Salam Dewasa selalu!

"The  great man does not think beforehand of his words that they may be  sincere, nor of his actions that they may be resolute -- he simply  speaks and does what is right".
~Mencius, philosopher
Click and find out!