“The difference between a succesful person and other is not a lack of
strength, not lack of knowledge, but rather a lack of the will”.~Vince Lombardi
Baru-baru saya dikirimi
oleh seseorang ringkasan artikel tentang karakteristik orang yang belum dewasa.
Dia ingin agar saya membaca hingga akhir dan berpikir apakah saya setuju
dengannya tentang pendapatnya perihal orang-orang dewasa dan perbedaannya
dengan orang-orang yang belum dewasa.
Dapat dikatakan tulisan ini adalah
merupakan persfektif sudut pandang saya tentang orang-orang dewasa serta hal
kedewasaan yang dia pertanyakan hingga tak soal apakah saya setuju atau tidak
dengannya.
HASILNYA HARUS SEKARANG - SAAT
INI:
Orang belum dewasa kerap
berpikir bahwa tiap pekerjaan yang dia lakukan harus segera dibayar - tunai
“sekarang”, tak boleh tertunda entah untuk alasan apapun juga. Tak heran jika
yang seperti itu adalah sesuatu yang mudah dikerjakan dalam waktu singkat dan langsung
menghasilkan. Dia bahkan tak paham jika untuk memanen sesuatu kita harus
menanam terlebih dahulu.
Tipikalnya tidak punya visi
tentang masa depan, hari ini kerja, hari ini dibayar! Jika hasilnya baru akan
dibayar nanti, maka ia akan berdalih mengerjakannya nanti saja!
Kontribusi sedikit, berharap
diberi imbalan seketika. Didunia bisnis mungkin trading investasi bisa disebut
nyaris seperti itu – selesai, bayar atau ludes! Sangat menjanjikan, menggiurkan,
seketika bisa kaya raya atau amblas ludes, hingga tak banyak yang
menggelutinya. Yang banyak, berhenti seketika kala hasilnya “tidak seperti yang
dijanjikan”. Beberapa mencuba bertahan kemudian berhenti setelah sekian waktu tidak
memetik hasil.
Tak mudah menebak kenapa orang-orang
mudah keluar dari bisnisnya karena tidak menghasilkan, tetapi karakteristik
orang mudah menyerah mudah terlihat sebagai kebiasaan pecundang. Yang bertahan tetap
teguh berprinsip bahwa yang menyerah tidak akan pernah berhasil.
Napoleon Hill, seorang ekonom
Amerika pernah berkata bahwa orang miskin punya pola pikir yang membuat mereka
tetap miskin yakni: (1) selalu berkata “Tidak” untuk sesuatu peluang dan (2)
selalu ingin “cepat kaya”. Tak heran jika mereka banyak yang mudah menyerah. Mentalitasnya
membuatnya kerap berkata “aku tak bisa melakukannya!”
Dan, itu penghalang utama.
Tipikalnya kerap terdorong
oleh ceritera “bisnis gampang, cepat dan
hasilnya menggiurkan”. Realitasnya, bisnis seperti itu nyaris tidak ada! Jikapun
ada, itu hanya bisnis rekaan atau hanya pemain besar yang berkesempatan untuk
itu, karena didukung sumber daya, permodalan dan akses jaringan luas. Pemain
biasa perlu berjuang lebih keras memelihara pengharapannya sembari berjuang mengejar
impiannya. Yang hilang pengharapan hanya akan memetik kehampaan.
Orang lebih dewasa umumnya
lebih paham apa yang dia inginkan dalam hidupnya dan lebih siap mewujudkannya. Mereka
lebih mengerti bahwa untuk bisa punya lebih banyak uang, harus terlebih dahulu
mengeluarkan uangnya. Orang lebih dewasa lebih bijak memahaminya. Mereka bahkan
mengorbankan hobbynya.
Mereka lebih paham akan makna bahwa
sesuatu itu jika dirawat, kelak akan menghasilkan berlipat ganda, hingga hanya mereka
yang tahu arti benih sama dengan bibit dan menanamnya, menjagainya, menyirami dan
memupuknya untuk kelak bisa dipanen.
Orang lebih dewasa lebih berminat
untuk belajar bagaimana cara memberi dan tidak terlalu memperlihatkan minatnya akan
tawaran bisnis cepat kaya.
MINUS DISIPLIN DIRI:
Sejatinya kemampuan tiap orang
bisa dikatakan nyaris sama satu sama lain, yang membedakan hanyalah cara
berpikir. Dan cara berpikir diyakini menjadi dasar utama dalam berperilaku, dan
itu sangat menentukan cara kita mendisiplinkan diri bahkan akan menggambarkan
tingkat optimisme kita.
Yang optimis akan gamblang
menggambarkan keberhasilannya adalah hasil dari kerja kerasnya untuk disiplin
dalam berjuang, sedangkan yang pesimis santai menyampaikan berbagai alasan atas
ketidakberhasilannya. Yang pesimis terlihat nyaman walau tetap stagnan
sedangkan yang optimis, berjuang agar keluar dari zona stagnansi.
Yang optimis selalu berlatih
meningkatkan pola “berpikir” untuk menelurkan “tindakan”, secara disiplin
meningkatkannya dan menjadikannya sebagai sesuatu "kebiasaan" agar
bisa memiliki “karakter” orang sukses. Umumnya mereka berhasil menentukan
sendiri nasibnya sendiri.
Yang pesimis terlihat puas
dalam kegagalannya, menghabiskan waktunya clubbing, menonton televisi seharian
untuk menutupi keadaannya yang stagnan. Mereka sadar bahwa itu tidak baik dan perilaku
itu tidak akan membawanya kemanapun, dan kelak akan menyesalinya. Sejatinya mereka
juga ingin berubah tetapi kerap terganjal oleh pola berpikir bahkan perilaku
lingkungannya kerap menahan langkah majunya.
Yang optimis berusaha
menghindari pembicaraan buruk tentang orang lain karena sadar itu akan berbalik
menyergapnya. Menghindar dari orang-orang yang cenderung mengecilkan arti
perjuangan, menghindarkan perilaku negatif dan tak suka mengeluh.
Yang pesimis doyan mengeluh
bahkan menikmati sendiri “keluhannya”. Tiap hal dikeluhkan dan itu dilakukan
sepanjang hari, tiada hari tanpa keluhan. Mengeluh tentang orang-orang, tentang
tiap hal dalam kehidupannya, mereka bahkan beradaptasi dan membangun lingkungannya
mengikutkan keluhannya.
Bagaimanapun, hidup akan
memperlakukan kita seperti bagaimana kita mengisi kehidupan kita, dan memperlakukan
kita seperti layaknya kita memperlakukannya, maka berhentilah mengeluh. Optimislah,
pemenang tidak akan mengeluh dan mereka-mereka yang mengeluh tidak akan pernah
menang.
Karakter khas orang-orang yang
lebih dewasa terlihat jelas pada orang yang optimis sebaliknya pesimisme mudah
terbaca pada orang yang belum dewasa.
Andai kita bisa agak lebih
dewasa!
~Salam Dewasa selalu!
"The great man does not think beforehand of his words that they may be sincere, nor of his actions that they may be resolute -- he simply speaks and does what is right".
~Mencius, philosopher
