“Forgiveness isn’t just a blessing you deliver to another
human being. Forgiveness is also a gift you give yourself”
Hidup memang singkat!
"Nobody succeeds beyond his or her wildest expectations unless he or she begins with some wild expectations"
~Ralph Charell
~Robin S. Sharma
Oleh Robin S Sharma dikatakan bahwa: “tindakan Memaafkan bukan hanya berkah yang kita
berikan ke orang lain. Memaafkan adalah juga merupakan pemberian hadiah untuk
diri kita sendiri”.
Kita memang harus mengakuinya, bahwa rada sulit untuk
kita bisa memaknainya secara se-sederhana itu. Ada benjolan berontak kecil di
hati sanubari bahwa taklah semudah itu memahaminya.
Tetapi jika kita sudi menghabiskan waktu yang cukup untuk
menggalinya lebih jauh lagi, maka jelas akan terasa manfaat dari “tindakan memaafkan”
yang dimaksudkan. Sejatinya itulah langkah awal yang baik karena tindakan Memaafkan
tidak akan menghajar balik diri kita – yang memberikan maaf. Bahkan akan ada
waktu untuk mengakui bahwa itu layak, bahwa tindakan itu bak memberi hadiah untuk
diri sendiri – memberi tanpa pamrih.
Jamak terdengar orang-orang mengatakan bahwa mereka telah
“memberi maaf atas tindakan seseorang” tetapi tiap waktu orang itu tetap
memunculkan “peristiwa yang dia maaafkan itu”. Ini menunjukkan bahwa mereka
belum benar-benar memaafkannya, atau mungkin yang dia berikan hanya sekedar
kata “Maaf” saja. Satu kata yang didengar oleh orang banyak disekitarnya, namun
diduga kata itu tidak dari lubuk hatinya. Niatnya hanya untuk sekedar komsumsi
orang banyak saja, dan itu tidak disarankan. Maaf yang hampa!
Pemberian maaf haruslah didasari niat tulus, oleh Robin S
Sharma diatas dikatakan bahwa itu bukan saja hanya sebuah berkat yang kita
berikan ke seseorang, tetapi sekaligus merupakan pemberian hadiah untuk diri
kita sendiri. Sesuatu yang jarang kita lakukan!
Ada banyak penjelasan tentang hal ini, beberapa bahkan
telah dibukukan, diperjualbelikan hingga membawa manfaat komersil bagi banyak pihak
terutama si pembeli yang memanfaatkannya.
Dan dalam tulisan ini saya akan berbagi dan kemudian
membiarkan Anda menemukan cara sendiri agar benar-benar bisa “memberikan maaf”
dan mendapatkan manfaat darinya. Menjadikannya sebagai asupan giji yang
diperlukan untuk Anda bisa menemukan jati diri Anda yang sebenarnya.
Kita ketahui, bahwa “Pencarian jati diri” telah
berlangsung berabad-abad lamanya, diduga telah dimulai sejak mula peradaban
kehidupan manusia berlangsung dan didokumentasikan. Pencarian yang tiada akan
pernah tuntas! Apalagi hidup akan terus hidup dan lebih hidup lagi.
Hidup memang sebuah mistery!
Para filsuf sejak era kehidupan bermula diduga memiliki
kesamaan pemikiran bahwa Alam Semesta hanya memiliki kebaikan untuk tiap manusia
yang menikmatinya – tiap diri kita, pribadi lepas pribadi. Terutama karena hidup
adalah karunia!
Sebagian malah mempertajamnya dengan menanamkan pemikiran
bahwa sesungguhnya mimpi indah itu adalah tanda pertanda keindahan hidup yang
dikirimkan oleh alam semesta. Sedangkan mimpi buruk diberi makna bahwa itu
menunjukkan ada enerji buruk di sekitar kita dan ditengarai akan mengganggu
nikmat hidup atawa kesuksesan kita.
Dan pemikiran positif diyakini akan dapat menjebak enerji
positif - sang sumber mimpi indah, untuk berdiam tinggal menetap di alam
pemikiran kita. Itu yang berperan mencegah enerji negatif - si sumber mimpi
buruk, untuk hinggap atawa tinggal berlama-lama atau bahkan malah akan mencegahnya.
Hidup adalah tanda tanya, dan demikian selamanya!
Vitalitas diri diduga menjadi sumber inspirasi yang
memotivasi diri kita bergerak ke arah yang lebih baik dan menjadikan langkah
serta alam pemikiran kita bisa selaras dengan kesuksesan yang akan kita raih. Jiwa
akan dipenuhi enerji positif, dipenuhi niat baik dan menghadirkan berbagai keindahan
hidup untuk diri kita maupun untuk lingkungan sekitar ditempat mana kita
berada. Gerbong keindahan alam semesta berpindah ke diri kita.
Hidup memang indah!
Dan itu semua bermula hanya
dari satu kata “Memaafkan”.
Andai kita tahu maknanya,
kita akan terkagum-kagum didalamnya. Karena ada banyak lagi rahasia hidup untuk
diketahui, bahkan malah banyak yang kita tidak akan pernah sempat tahu apalagi
paham akan maknanya.
"Nobody succeeds beyond his or her wildest expectations unless he or she begins with some wild expectations"
~Ralph Charell
~Salam hidup selalu!
