Senin, 30 April 2018

MENYESALI PILIHAN MENYESATKAN

“The is no sudden leap into the stratosphere....There is only advancing step by step, slowly and tortuously, up the pyramid toward your goals....”
~Ben Stein

“Andai dulu saya tidak berhenti, andai dulu saya teruskan hingga batas kemampuan saya, berjuang semampunya dengan apa adanya...dst...”, patahan kata-kata menyedihkan terdengar saat acara selamatan merayakan keberhasilan. Terkesan menyesali keadaan; “semestinya saya yang duduk di panggung kebesaran itu, seharusnya pesta ini adalah pesta keberhasilan saya - bukan dia! Tetapi kenyataan berkata lain oleh karena saya tidak punya ini dan itu sehingga tidak bisa begini begitu, bla...bla...bla!”.

Situasi sedemikian itu jamak kita dengar kala seseorang menyesali ketidakmampuannya, menyesali akibat langsung dari akumulasi ketakutannya, menyesali kenapa tidak melanjutkan upayanya.
Menyesali mengapa harus terhenti ditengah jalan hanya karena kurang percaya diri meneruskan sesuatu yang dirintisnya. Mengapa tidak dilanjutkan hingga sampai ke puncak kejayaan. Usaha serba tanggung! Alasan demi alasan bercucuran diperdengarkan dengan mimik gundah gulana, tetapi dunia hanya ingin mendengar keberhasilan.

Ketahuilah, tidak ada tempat untuk mendengar alasan kegagalan - dalam bentuk apapun. Peradaban manusia hanya mencatatkan keberhasilan, kegagalan demi kegagalan hanya akan menjadi bagian dari tahapan proses pencapaian keberhasilan. Tidak ada waktu untuk mengenangnya. Berbagai kalimat tertangkap mengarah pada peristiwa yang menyesakkan hati dan begitu sangat disesali.

Sesal kemudian tidak ada guna!

Memaksakan Diri Demi Mengesankan Orang Lain:
Tak heran jika kemudian akan menyesali keadaan karena ketika kita menghabiskan waktu untuk menyenangkan orang lain kita cenderung memaksakan diri untuk tampil mengesankan. Bahkan kita memaksakan diri berkonsentrasi hanya demi agar bisa menyenangkan orang lain. Menciptakan diri kita menjadi sedemikian rupa demi memenuhi persepsi orang lain tentang "siapa kita" atau tentang menjadi, seseorang yang paling diinginkan. Dan kita menjadi lupa dengan diri kita sendiri bahkan menjadi gamang sendiri. 
Kita menjadi kuatir akan penilaian orang lain - tentang diri kita. Kita memaksa diri untuk menjalani hidup dengan memainkan peranan sandiwara, seolah menjadi seseorang yang bukan diri kita sendiri. Bahkan mungkin kita akan terpaksa mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan nurani hati, karena sejatinya, kita itu mengenal siapa kita yang sesungguhnya.

Seyogianya kita tak perlu takut akan penilaian orang lain. Kita tidak harus sempurna hanya untuk membuat orang lain terkesan. Biarkan orang - orang itu terkesan dengan cara bagaimana kita mampu mengatasi ketidaksempurnaan kita.

Menjadi diri sendiri akan lebih mengesankan.

Cepat Merasa Puas:
Merasa puas adalah perilaku buruk, itu adalah penyakit yang tidak perlu dipelihara. Jangan biarkan diri kita terlena oleh puja dan puji dari orang-orang yang meneriakkan keberhasilan kita. Kita tidak perlu memiliki sifat buruk yang ditularkan oleh orang lain. Jangan cepat berpuas diri. 

Tahapan lanjutan setelah pencapaian keberhasilan adalah mempertahankannya, walau itu adalah merupakan opsi pilihan tetapi kita memiliki kewajiban untuk memelihara tingkat kesabaran kita, meneliti ulang hal apa saja yang memerlukan perhatian demi mempertahankan keberhasilan itu sendiri. Ini tentang kredibilitas kita.
Kita tak perlu larut dalam hingar bingar puja puji. Kita bahkan tak salah untuk mencuci pelopak mata kita dengan air mata keberhasilan, setidaknya untuk bisa menjernihkan sudut penglihatan sehingga kita bisa melihat kemungkinan visi yang didepan dengan lebih jelas lagi.

Jangan cepat merasa puas.

Menjadi Malas dan Bermalas-malas:
Tiap kita berhutang pada kehidupan, dan dunia menunggu kesediaan kita untuk bangkit menunaikannya. Maka mulailah berusaha, walau itu dengan secara sederhana yakni dengan cara berhenti melamun dan bermalas-malas. Kendalikan hidup kita, ambil alih kendali tanggungjawab akan hidup kita. Malas adalah palang penghalang kita untuk segera bersiap melakukan sesuatu dan ini menyerang tiap orang, menghantui siapa saja.

Tiap kita dihantui pemikiran bahwa kita tidak punya cukup banyak waktu, dan ada saja orang yang tidak sabar mengartikannya sebagai sesuatu tindakan yang harus segera dan segera hingga tergopoh-gopoh. Gegabah dan tidak perhitungan.
Menunggu untuk sesuatu alasan menjadi kebutuhan dan itu bukan berarti malas tetapi untuk sesuatu yang didasarkan pada perhitungan mendasar.

Menunggu untuk alasan jelas tidak sama dengan bermalas-malasan.

Perlu Melakukan Penyesuaian:
Tiap saat diperlukan penyesuaian apalagi jika kita memelihara prinsip bahwa "tiap hari adalah hari pertama dalam hidup kita sekaligus menjadi hari terakhir dari sisa hidup kita". Hingga kita tidak punya alasan menunda-nunda bahkan tidak perlu ada penjelasan untuk sesuatu penyesalan.

Membuat penyesuaian sedari sekarang akan membuat hidup kita menjadi lebih baik, kita menjadi bisa berpikir lebih jernih dan mengisi kehidupan ini dengan lebih bebas tanpa terbebani persepsi orang lain. Lakukan penyesuaian untuk tidak sesat ditengah perjalanan kehidupan.
Hidup adalah pilihan.

Mari bikin hidup menjadi lebih hidup lagi.

“Learning is the beginnning of wealth. Searching and learning is where the miracle process all begins. The great breakthrough in your life comes when you realize it that you can learn anything you need to learn to accomplish any goal that you set for yourself. This means there are no limits on what you can be, have or do”.~Albert Einstein

~Salam hidup selalu!


JoinmySFIteam!