"The
difference between a successful person and others is not a lack of strength,
not a lack of knowledge, but rather a lack of will."
-->
~Vince
Lombardi
Rasa khawatir berlebihan kerap
memperdaya kedigdayaan kita, merusak potensi mukjizat keperkasaan kita. Dan akan
terus begitu itu, tatkala kita bersikukuh bahwa hanya kita seorang yang paling tahu
permasalahan kita, yang paling tahu bagaimana cara mengatasinya.
Orang lain bisa apa? paling
hanya akan berkata mestinya begini, setelahnya begitu, nah seperti itu! Untuk kemudian
terbahak mentertawakan.
Sebegitu itu sesatnya kita dalam
berpendapat. Dan ketika tersadar sungguh kita memerlukan orang satu lainnya, mereka
yang menyayangi telah menjauh pergi demi menjaga keagungan privacy kita.
Nelangsa, jika tiap memulai
hari kita dipenuhi rasa khawatir, dipenuhi rasa cemas tentang - harus bagaimana
lagi kah? Serasa tiap orang mentertawakan ketidakmampuan kita.
Seolah tiap kolega bakal berkata,
kita ini hanyalah produk gagal - yang tak bisa apa-apa. Sedih tak berkesudahan.
Kian semakin khawatir terbebani
pikiran bagaimana kita dimata orang-orang. Bagaimana tanggungjawab akan ketidaklengkapan,
akan ketidakmampuan memenuhi kewajiban kepada keluarga, bagaimana dengan sekolah
anak-anak, tagihan air, listrik yang kian naik tak turun-turun. Terbelit sakit , seolah kita tak maksimal berusaha.
Dan kian khawatir
akan banyak hal yang tak kita miliki. Khawatir akan tiap hal yang orang lain miliki.
Khawatir akan tiap hal yang dulu kita pernah miliki. Tersandera kecewa. Nelangsa.
Kita lupa, bahwa sesama
lainnya juga terbebani alam pemikiran yang kurang lebih sama, diperhadapkan
pada berbagai hal yang sama. Harap-harap cemas juga. Diwariskan rasa khawatir juga, berbeda pada kualitas saja. Konon katanya, itu bukti
pertanda kita masih normal dan Dunia terus berputar mewarnai kehidupan siang malam.
Kita kerap terobsesi akan berbagai
hal yang mungkin salah, hal-hal yang mengecewakan. Terbebani
kebiasaan menduga-duga alam pemikiran apa yang mungkin ada di benak orang lain -
tentang kita, tentang ketidakmampuan kita, dst. Apa kata dunia? Terfokus
akan hal yang negatif saja.
Kita lupa, mungkin itu, hanya sesuatu
kemungkinan saja. Mungkin itu, tidak akan mungkin terjadi. Jika pun terjadi,
mungkin dampaknya tidak seburuk yang dibayangkan.
Mari periksa rasa khawatir
itu lebih jauh lagi. Ketika hal-hal negatif itu mungkin benar terjadi, mungkin itu akan
membawa kita ke pengalaman berharga dan mungkin itu akan menjadikan kita kian kuat.
Ini masalah
keinginan semata. Keinginan dini untuk bisa lebih kuat. Mari
berlatih berpikir positif, menjadikan nya bak ritual positif - bahwa kita baik-baik
saja, dan hidup akan lebih baik.
My Inspiration For Today!
"Starting the
day with a positive thought sets the tone for everything that follows. Instead
of focusing on your troubles and worries, you can think about your blessings.
Take a few minutes when you first wake up to think about the many good things
in your life".
~Ellis Peters
![]() |
| Hotman's Collections |
