Rabu, 18 April 2018

MEMIMPIN DIRI SENDIRI

"Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others."~Jack Welch

Siapa bilang kita tak bahagia? Siapa bilang kebahagiaan hanya milik orang berpunya?

Kebahagiaan hidup tergantung pada kualitas pikiran kita, bukan pada sesuatu hal apa yang kita katakan ke orang lain. Tetapi peperangan terbesar berlangsung didalam pikiran sendiri ditempat mana kekuatan terbesar saling memenangkan seolah apa yang kita katakan ke orang lain menjadi penentu.

Seolah kebahagian kita tergantung pada keputusan orang lain.

Konflik terbesar terjadi didalam pemikiran kita, terjadi kekacauan terbesar yang kita anggap nyata – ternyata tidak benar. Pada kenyataannya diri kita adalah apa yang kita pikirkan, bahwa kita tidak akan dapat mengubah sesuatu apapun jika kita tidak bisa mengubah pemikiran kita.

Bagaimana kita bisa menenangkan pikiran kita, menjadi kunci utama. Bagaimana kita bisa meluangkan waktu untuk meneliti pemikiran sendiri. Saat pemikiran kita sedang rileks, semisal saat ketika bangun pagi, ngopi pagi, perlahan seteguk demi seteguk, luar biasa nikmat, mengaguminya menjadikan pikiran rileks. Saat seperti itu akan menjadi mudah untuk bisa fokus memikirkan apa gerangan yang bisa dicapai diminggu depan.

Mudah mengatakannya tetapi tidak mudah melakukannya, maka berlatihlah, mulailah mengingatkan diri sendiri, memimpinnya kearah yang benar-benar kita ingin capai.

Masalah terbesar ada didalam kepala ketika kita berpikir berlebihan bahwa kita tak akan bisa berhasil seperti orang lain, bahwa kita tak mungkin bisa hidup seperti orang-orang yang sukses. Menjadi tertekan demi melihat kehidupan seseorang yang melebihi kita, hanya karena langsung berpikir bahwa kita tak akan bisa seperti dia.

Jika kita tidak bisa menerima keadaan itu, kenapa tidak dibiarkan saja begitu. Kenapa harus merusak kehidupan hanya karena tidak bisa seperti mereka? Kenapa kita harus memaksakan diri untuk hal-hal diluar kendali - diluar kemampuan kita?

Jika kita tidak bisa menerima bahwa hidup adalah sebuah perjalanan setidaknya belajarlah menerima keadaan pada situasi tertentu, walau kita tak paham bagaimana sesuatu itu terjadi. Bagaimana tiba-tiba yang terlihat tidak mampu malah bisa melebihi sukses keberhasilan orang lain yang merendahkannya.

Dalam hidup tiada yang mustahil. Hanya kita jangan memberatinya dengan pemahaman sendiri.

Pemahaman sendiri cenderung menyesatkan hingga kita terlupa sesungguhnya kita memiliki hak yang sama seperti orang-orang.

Ambil contoh, kala tiba-tiba kita dibantu oleh seseorang yang kita tidak kenal. Tak terduga kita alami begitu saja, terasa aneh diluar kebiasaan. Sebaliknya, kita melihat orang-orang yang mengemis dijalanan dan tertidur di sembarang tempat, terlihat saling mengenal tetapi tidak saling membantu satu sama lain bahkan jika itu berurusan dengan orang yang mengambil paksa uang mereka.

Menyedihkan, apalagi bangsa kita katanya hidup di bumi yang konon “gemah ripah loh jinawi” negara yang makmur akan segalanya. Namun anak-anak terlantar, orang lanjut usia tidak terurus, itu sangat menyedihkan.

Mudah untuk kita menuduh bahwa mereka menjadi demikian itu karena kemauannya sendiri atau karena ada yang mengatur, atau mungkin karena kecanduan narkotika atau akibat berjudi dan melarat. Kita cenderung menyimpulkan bahwa berapapun uang yang didapat akan habis untuk narkotika. Tanpa kita pernah mencari tahu!

Alam semesta jagad raya ini tidak perduli dengan apa yang kita pikirkan, bahkan tidak membeda-bedakan antara niat baik kita dengan apa yang akan terjadi terkait bantuan yang kita berikan.

Minat kita membantu tidak akan begitu saja dihakimi oleh alam semesta, apakah akan digunakan sekehendak hati untuk hal tak bermanfaat bahkan tak perduli apakah digunakan untuk menghancurkan dirinya. Apalagi orang-orang itu melarat bukan karena kita, bahkan kita tidak diberikan hak untuk menghakimi.

Sejatinya, membantu adalah sesuatu anugerah, berbagi ke sesama adalah berkah. Andai kita luangkan waktu untuk merasakan hakikat perasaan syukur karena bisa berbagi niscaya akan terlihat betapa sipenerima sangat bersyukur, hanya tidak berani menunjukkannya. Sorot matanya cukup menceritakan kekuatan rasa terima kasih yang tak bisa terukur.

“Leadership is lifting a person’s vision to high sights, the raising of a person’s performance to a higher standard, the building of a personality beyond its normal limitations".

"My job is not to be easy on people. My job is to take these great people we have and to push them and make them even better".
~Steve Jobs

Pimpinlah diri sendiri melakukan kebiasaan baik, kelak kita akan takjub dengan hidup kita.

~salam memimpin selalu!
Join MySFIteam
 

Minggu, 15 April 2018

KEPEMIMPINAN PEMIMPIN BESAR

Konon sang legendaris Muhammad Ali bahkan merasa perlu untuk selalu bisa menanamkan kedisiplinan dalam hidupnya, saban waktu berjuang menjaga karakter kepribadiannya menjadi lebih baik lagi. Jaga pemikiranmu agar selalu positif karena itu yang akan menjadi kata-katamu. Jaga kata-katamu agar selalu positif karena itu yang akan menjadi perilakumu. Jaga perilakumu agar selalu positif karena itu yang akan menjadi kebiasaanmu. Jaga kebiasaanmu agar selalu positif karena itu yang akan menjadi nilai-nilai pribadimu. Jaga nilai-nilai kepribadianmu agar selalu positif karena itu yang akan menjadi takdirmu.

Keep your thoughts positive because your thoughts become your words. Keep your words positive because your words become your behaviour. Keep your behavior positive because your behaviour becomes your habits. Keep your habits positive because your habits become your values. Keep your values positive because your values become your destiny”.
~Muhammad Ali

Dan tiap kita selalu mengaku bahwa kita terus berusaha meningkatkan taraf kehidupan masing-masing tetapi jarang kita yang mau memperdulikan betapa rangkaian kalimat sederhana bisa membangkitkan dashyatnya potensi pribadi. Bahkan dari waktu ke waktu terpicu peningkatkannya, bagaimanapun hal-hal besar banyak yang berawal dari potongan-potongan sederhana.

Yang sukses mencapai keberhasilan akan terbebani pemikiran bagaimana cara untuk mempertahankannya, hingga tiap pemimpin sadar bahwa rencana stratejik serta kemampuan Tim harus ditingkatkan terus-menerus. Proses mencapai bagaimanapun akan berbeda dengan proses mempertahankannya apalagi keberhasilan itu adalah buah kerja keras dari seluruh pihak serta komponennya. Soliditas Tim pelaksana, disiplin serta kompetensi dan integritas harus ditingkatkan, itu kunci utama.

Tak heran jika pemimpin terlihat seolah mudah menjadi tertekan, merasa stres serta kewalahan dan kesepian, banyak yang membutuhkan teman berdiskusi terutama dari sudut pandang yang berlawanan dari pencapaiannya. Pemimpin besar menyadari bagaimana cara mereka menghadapi tantangan akan menjadi perlambang yang menentukan kebesarannya.

Kebesarannya itu yang membuat mengapa kita diajarkan untuk memahami saran pendapat mereka ketika diperlukan.

Kutipan-kutipan inspirasional tentang kepemimpinan seolah tiada habisnya menghiasi kredo gaya kepemimpinan. Apakah anda Pengusaha atawa Penguasa bahkan keduanya memerlukannya untuk alasan perlunya sesuatu kata-kata mutiara untuk memicu pengembangan tingkat kepemimpinan yang solid.

Sebagai berikut:

"A leader takes people where they want to go. A great leader takes people where they don't necessarily want to go, but ought to be”.

 “A leader is best when people barely know he exists, when his work is done, his aim fulfilled, they will say: we did it ourselves.”
~Lao Tzu

“Great leaders are almost always great simplifiers, who can cut through argument, debate, and doubt to offer a solution everybody can understand”.

“The first responsibility of a leader is to define reality. The last is to say thank you. In between, the leader is a servant”.
~Max DePree

“If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader”.

“A leader is a dealer in hope”.~Napoleon Bonaparte

“A leader...is like a shepherd. He stays behind the flock, letting the most nimble go out ahead, whereupon the others follow, not realizing that all along they are being directed from behind”.~Nelson Mandela

“Tiap Pemimpin mengusung pengharapan, dan tiap kita - yang dipimpin, dipenuhi pengharapan untuk bisa menjadi lebih baik - lagi”.
~Itu kataku.

Dan kita, perlu bijak memahaminya.

~salam bijak selalu!
It's Free!

Kamis, 05 April 2018

SELALU SAJA MASIH ADA BANYAK WAKTU!

“Become the kind of leader that people would follow voluntarily; even if you had no title or position.”

Seolah tak lelah, kita terlalu mudah dan terbiasa untuk berkata: “tenang masih ada waktu” Tetapi tiap waktu selalu saja melakukan hal yang sama, kita seolah berusaha mengganjal sendiri kemajuan diri kita. Cenderung menunda-nunda mengerjakan dan panik tergopoh-gopoh menyelesaikan pada menit-menit akhir. Yang penting selesai – menjadi alasan cemerlang.

Sejatinya kita itu tak punya waktu untuk menyelesaikan tiap hal. Dan kita perlu bijak untuk bisa memahaminya!

Bahkan walau telah punya rencana atau tahu kiat kilat menyelesaikannya, tetap saja tak cukup waktu untuk bikin tiap hal selesai tepat waktu, apalagi tiap hal punya batas waktu penyelesaian.

Ditaksir rata-rata kita akan hidup untuk 27.375 hari lamanya, apa kita mau menundanya? Jika, Ya! untuk berapa harikah? Tak-kah kita ingin punya keinginan hidup tepat waktu?

Kenapa tidak diselesaikan secepatnya? Dan itu yang akan dibahas kali ini.

Ada yang bilang, ini hanya soal kebiasaan saja. Yang lain bilang, ini karena soal tantangan yang kurang menantang. Ada juga yang berbisik, dia itu pintar tapi sering anggap enteng. Yang lantang teriak beralasan: tidak ada yang salah dengan itu asal tidak lewat batas waktu. Cukup beralasan untuk dinilai semuanya suka cari-cari alasan.

Masalah terbesarnya iya disitu itu!

Seolah takada yang mempersoalkan waktu yang berputar begitu cepat. Tak ada yang berpikir bahwa dua puluh empat Jam sehari semalam tak cukup untuk bisa tepat waktu menyelesaikan tiap hal, sembari bersiap menyelesaikan hal lain - berikutnya. Masih ada banyak hal lagi - yang tak kita ketahui.

Dan tak satupun yang membantah bahwa Tuhan sangat sayang akan ciptaanNya hingga tak perlu khawatir sebab tak akan IA bebankan sesuatu permasalahan yang tak bisa kita tanggungkan.~Amin!

Dan bukan itu masalahnya!

Seolah berpikir linear, semua meyakini bahwa waktu yang 24 Jam itu cukup, jika pun tak selesai, bisa dikerjakan keesokan harinya. Ada 7Hari dalam seminggu dan 4Minggu untuk sebulan, ada 12Bulan untuk setahun, masih banyak waktu. Hanya yang kurang kerjaan yang mempersoalkannya.

Semua cenderung menolak pendapat yang mengusung kebenaran, apalagi jika itu dijadikan dasar menggugat “tidak tepat waktu”, hanya akan dianggap sebagai sesuatu kekonyolan yang dipertontonkan. Tak guna dipertentangkan atau seisi dunia akan bangun menghempaskan.

Kita berlaku seolah waktu berjalan dibelakang dan kita terpaku ditengahnya – mana mungkin menang! Mengapa begitu? karena kita mau-nya begitu. Itulah kita, dan itu masalahnya!

Sudah biasa untuk kita tak akan mau mengerjakan sesuatu jika tak menginginkannya, tetapi akan melakukan apa saja yang kita inginkan – meski seisi dunia akan menolaknya. Itulah kita! Dan kita tahu akan hal itu.

Kita juga mahfum akan waktu yang terbatas maka harus dimanfaatkan sebaik mungkin, hingga perlu atur jadwal agar tepat waktu. Bahkan sadar bahwa jadwal yang sempurna sekalipun, tak akan cukup untuk menyelesaikan tiap hal bisa tepat waktu jika kita masih punya kebiasaan yang tak mendukung pelaksanaannya. Kita itu mahluk pintar!

Kita juga tahu akan sifat menunda-nunda adalah perilaku yang tak baik, dan tahu bahwa perilaku begitu tidak akan membuat kita maju. Stagnan, jalan ditempat!

Kita tahu itu!

Lucunya kita juga suka teriak bertekad, bahwa kita harus berubah, bahwa kita perlu mengubah cara kita berpikir, bahwa kita perlu mengubah cara mengerjakan sesuatu. Kita bahkan belajar intensif agar bisa maksimal memanfaatkan waktu. Berlatih kiat menangani hal yang prioritas.

Kita itu, paham itu!

Terutama karena terdorong kesadaran bahwa sebahagian dari waktu yang terbatas itu akan diperlukan untuk istirahat, untuk bersendagurau dengan keluarga bahkan untuk urusan terkait adat budaya. Kita bahkan menanamkan benih di alam pemikiran kita bahwa walau pun waktu terbatas tetapi akan ada waktu yang cukup untuk kita bisa tidur - dan bermimpi.

Jadi masalahnya apa? Takada!

Kita hanya tidak terbiasa menghargai waktu saat sekarang ini, karena kita terbiasa berpikir bahwa kita itu dibekali waktu yang cukup untuk bikin selesai banyak hal. Maka tak-lah masalah jika disia-siakan sedikit, karena ada waktu juga untuk itu.

Andai kita luangkan waktu untuk melihat kedalam “waktu saat sekarang ini” mungkin akan terlihat bahwa ada banyak hal yang tak terlihat dimasa-masa sebelumnya. Kita hanya kurang bijak untuk bisa paham.

Karenanya, kita perlu lebih disiplin tidak malah larut ikut sosmed chit-chat pepesan kosong. Kita harus kukuh meninggalkan cara lama menyusun jadwal prioritas, berlatih untuk melakukannya sesuai kebiasaan baru.

Ada juga yang berpendapat, sejatinya kita itu tidak begitu memerlukan banyak waktu, kita itu hanya perlu berlatih memanfaatkannya secara maksimal. Maka itu, kita harus cerdas. Hanya itu cara terbaik agar bisa punya banyak waktu!

Tak percaya? Ubah dulu pikiranmu!

"You must give to get. You must sow the seed, before you can reap the harvest."
-Scott Reed

~salam tepat waktu selalu!
 It is Free



 

Jumat, 30 Maret 2018

RACUN BEBAN PIKIRAN YANG MEMATIKAN

-->
"Have you ever thought there'd be a day when people think a different way? And on that day, what would you say, if you still thought the other way?"
~Paul McMillan

Sekali waktu kita tentu pernah merenung - terlarut didalamnya, meski mungkin tak sadar tetapi kita mengalaminya apalagi ketika gelisah akan sesuatu. Terkadang kegelisahan malah mendorong kita untuk mencipta mengukir sesuatu prestasi hingga lupa hal apa yang tadinya mengganjal.

Kita telah terbiasa melakukan sesuatu seperti yang diinginkan orang walau terkadang kita tahu itu salah - apalagi semua melakukannya, kita tak mempersoalkannya takut dicap tak punya etika. Terperangkap makna etika.

Terkadang kita diminta setuju terhadap sesuatu yang sejatinya jauh dari kebenaran. Ini tentang sudut pandang. Seiring waktu perihal yang senada kian menumpuk dan semakin menyebalkan, meracuni, tetapi kita hanya bisa diam dan berjuang melupakannya sepanjang hayat.

Ini tentang pendapat orang-orang dimana kita tak kuasa melawan selain waspada  menyelamatkan nurani demi hidup kehidupan kita.

Maka itu, waspadalah!

Jangan Meracuni Pikiran:
Kelemahan terbesar kita adalah tidak bisa memilih akan berbagi pikiran dengan siapa. Jika pun bisa, hasilnya bisa jadi berbeda, jika tadinya hendak mencari dukungan malah emosi karena ditolak.

Energi terkuras terbebani emosi orang-orang bahkan bisa jadi disebabkan oleh seseorang dijalan raya. Perbincangan terkadang menjadi salah paham, marah tertekan frustasi bahkan terluka. Boros energi oleh situasi yang sejatinya bisa dihindari.

Berhematlah, jangan terbebani pemikiran orang.

Jangan Meracuni Keadaan:
Seolah superman kita kerap terpancing langsung tergerak membantu orang walau tak tahu apa pasal awal pangkal persoalannya. Berempati itu baik, tetapi jika dipaksakan, kita hanya akan merusak diri kita sendiri bahkan orang yang dibantu mungkin malah menjadi frustasi. Analisa dulu kira-kira tentang apa itu.
Terkadang, menghindar tanpa melakukan apa-apa malah membuat keadaan membaik.

Jangan Meracuni Hidup:
Tersiksa jika kita dilibatkan dalam sesuatu yang sangat kita benci, dan kita tak kuat menolak. Ini bukan tentang imbalan tetapi menyangkut sesuatu yang menyakitkan demi melihat ekses akibatnya.

Melakukan sesuatu yang positif akan menyisakan kesan bangga tetapi sesuatu yang negatif menjadi beban sesal berkepanjangan apalagi jika sedari awal kita tahu itu tak layak dilakukan.

Jangan Meracuni Diri:
Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat karenanya jangan mengkonsumsi racun - seperti narkotika. Hiduplah secara menyehatkan.
Hindarkan gaya hidup yang negatif.

Jangan Meracuni Hubungan:
Memutuskan hubungan tidak mudah apalagi jika itu hubungan yang menyesatkan. Adalah penting menjauh dari seseorang yang sewaktu-waktu bisa melakukan hal yang mengerikan terhadap dirinya, perilakunya meracuni. Dengan memutuskannya akan memberi ruang dan waktu untuk kita membuka diri terhadap hubungan yang lebih baik.

Meski secara phisik sulit tetapi perlu berani meminta untuk agar diputuskan, dan kita tak perlu lagi memikirkannya.

Jangan Meracuni Kenangan:
Peristiwa kejadian pahit kerap mendominasi, rasa sakit yang ditimbulkan sulit dilupakan apalagi untuk dihilangkan, meski kita kuat menahannya namun tersiksa dalam pusarannya. Ada saat kita terbebas tetapi sangat sulit melupakan orang-orang yang dulu bikin kita gagal jika kita tak pernah melirik dampak positif yang timbul pasca kegagalan itu. Percayalah, tiap hal ada dampak positif, pasti ada konsekuensinya dan masa lalu tidak otomatis mendikte bagaimana kita dimasa depan.

Fokuslah menambah kenangan manis untuk nanti dikenang dimasa depan daripada terjebak dalam kubangan buruk dimasa lalu.

Jangan Meracuni Keyakinan:
Adalah normal punya rasa takut walau tidak ada medali jika kita memeliharanya, selain rasa tersiksa hingga meledak tak terbendung menyakiti orang-orang yang mencintai kita. Tidak ada faedahnya jika kita mereka-reka skenario bagaimana cara menghadapi bayang-bayang ketakutan, terkadang itu malah kian menambah biaya.

Daripada fokus pada rasa takut tak berdasar akan lebih baik jika berdamai dengannya - dan bertarung melupakannya.

Caranya, buatlah daftar takut! apa saja itu? menggelikan bukan? Timbulkan minat kita mencari solusi jalan keluarnya – buat lagi daftarnya. Fokuslah pada solusi itu, karena itulah yang akan terjadi. Gelombang pemikiran akan memantulkan keadaan apa yang benar-benar kita inginkan.

Yakinlah akan hal itu!

Jangan Meracuni Kebahagian:
Kepercayaan diri yang tangguh akan tergerus jika disekeliling kita dipenuhi orang-orang yang tiap saat mengeluh kecewa akan tiap hal, kecewa akan perilaku kehidupan terhadapnya. Keinginan sulit tercapai jika kita membiarkan diri diracuni pemikiran-pemikiran negatif begitu itu.

Semangat kita memerlukan asupan gizi, dan itu hanya tersedia pada orang-orang yang antusias akan perjuangan kita. Sejatinya tak ada yang sempurna, bahkan tak seorang pun yang bisa melakukan hal benar secara benar-benar, tetapi semua baik-baik saja dan berbahagia, dan itu akan mengalirkan hal baik ke dalam hidup serta kehidupan kita.

Maka fokuslah memelihara kebahagiaan atau hanya akan sedikit yang bisa kita perbuat mengisi kehidupan kita.

~salam bahagia selalu!



Join MySFIteam


It is FREE
 

Minggu, 25 Maret 2018

Berlatih Menantang Hidup

-->
“Think continually about what you want, not about the things you fear”
~Brian Tracy

Jika sebelumnya diulas tentang mengelola waktu, tentang Empati serta keberanian meminta bantuan, dan tentang kenapa kemampuan Mendengar begitu diperlukan, berikut disajikan Tips agar sukses menantang hidup.

1. Uruslah Urusanmu Sendiri:
Ini sulit! Mungkin inilah yang tersulit untuk dikuasai apalagi kita senang dan telah terbiasa ikut campur urusan orang - walau jika itu membuat kita kehilangan waktu.

Sepertinya berat untuk tidak ikut campur urusan orang, kita seolah punya libido hasrat tinggi mencampuri urusan orang. Ketika diingatkan, semua berdalih bahwa akan lebih mengkhawatirkan - jika kita tak tahu tentang apa itu urusannya.

Mencengangkan!

Bahkan tanpa diminta kita terdorong untuk mengkoreksi orang lain walau itu akan menimbulkan pertengkaran, tetap saja kita mengulanginya. Entah karena merasa lebih tahu atau merasa diri lebih baik atau mungkin bosan dengan urusan sendiri. Tak jelas!

Serasa puas – bila ikut campur. Dan kita tak mau mengaku, tetapi nafsu ikut campur urusan orang lain seolah melekat merata bak perilaku.

Mungkin karena kita merasa ikut bertanggungjawab atas keberlangsungan kehidupan semesta jagad raya ini hingga terpanggil ikut campur, meski terkadang malah tambah runyam, tetapi setidaknya telah ikut turut campur.

Dan tiap orang selalu memberi saran - Jangan ikut campur!

2. Jangan Larut Dalam Gosip:
Gosip seolah sudah mendarah daging. Tidak pejabat, penguasa atau pengusaha apalagi anggota rumah tangga bahkan antar rukun tetangga semua suka - seolah santapan rohani bagi kita semua.

Meski sulit tetapi penting untuk bisa menahan diri, jangan ikut latah.

Diduga banyak kekacauan timbul karena gosip, banyak yang rugi bahkan tragedi peperangan patut diduga bermula dari gosip juga. Walau enggan mengaku namun semua senang jika diajak ikut gosip.

Dan tulisan ini pun mungkin diangkat karena si penulis diikutkan membahas gosip tentang kesuksesan seseorang. Tak apalah jika diduga begitu pula!

Serasa haus untuk ikut bicara, serasa merasa takut ada informasi yang luput jika tak ikut. Walau kebenarannya diragukan tetapi takut jika dianggap engga Gaul – apalagi jika itu  sedang viral di sosmed.

Jika bisa, jangan sampai larut karenanya!

3. Berani Bertanggungjawab:
Orang enggan untuk mau bertanggungjawab atas sesuatu peristiwa. Umumnya karena tergoda pemikiran negatif, semua terbiasa “overthink” dan cenderung memikirkan yang rusak dan negatif - yang belum pasti terjadi.

Kita tidak sadar bahwa kita itu tengah merusak kemampuan kita untuk bisa menikmati masa-masa saat sekarang. Luput akan berbagai kesenangan yang tersedia dimasa sekarang hanya karena takut akan sesuatu – sesuatu dimasa depan. Walau kita ragu akan bagaimana itu – nantinya?

Kita perlu menguasai diri dengan cara memikul tanggungjawab atas ekses dari buah pemikiran kita - dimasa mendatang. Hanya itu yang terbaik untuk membuktikan bahwa kita siap untuk sukses.

Dan itu adalah pilihan kita sendiri.

Pernah ada kejadian lucu. Ada seseorang yang menolak bertanggungjawab atas pembengkakan biaya yang terjadi sebagai ekses dari ide gagasan pemikirannya. Tetapi kemudian menuntut balik ‘bahwa itu adalah prestasi pribadinya’ - demi melihat hasil akhir yang mengagumkan.

Ketahuilah, hidup adalah pengulangan. Bagaimana kita disaat sekarang ini, itu adalah produk kita dimasa lalu, dan pengalaman dimasa lalu kita adalah benar sedemikian itu – dan itu adalah pilihan kita.

Meskipun masa lalu tidak selalu menjadi penentu bagaimana kita dimasa depan, apalagi tiap masa mengusung sendiri perubahannya dan tiap perubahan cenderung berubah mengubah sendiri perubahan dirinya, tetapi jangan sampai kita luput mewarnai masa disaat sekarang ini untuk nanti - dipetik dimasa mendatang.

Pikirkanlah yang dimaui bukan yang ditakutkan!

Bagaimanapun kita kompeten untuk itu!

"Each of us wants to be part of something bigger than ourselves. Call it purpose, destiny or a simple desire to get beyond the insufficiencies of our current existence. An individual's yearning to reach outside his life is a seed of greatness waiting for a stream of inspiration. Carving that stream to people's hearts is a simpler task if the endeavor you are leading them into is attached to a bigger story."
~Mac Anderson & Tom Feltenstein

~salam berlatih!






JoinMySFITeam
 

Selasa, 20 Maret 2018

5 Kiat Sukses untuk Menantang Hidup

-->
I was once asked if a big business man ever reached his objective. I replied that if a man ever reached his objective he was not a big business man."
~Charles M Schwab

Kebebasan diakui sebagai  bentuk pencapaian tertinggi dalam hidup. Bebas menikmati hidup bebas membelanjakan uangnya tanpa takut kehabisan, dll. Tetapi mencapainya diperlukan Waktu yang di-Dedikasi-kan serta Komitmen kukuh melalui proses tahapannya, perlu punya keterampilan, kesiapan diri dan memenuhinya dengan segala daya ikhtiar sedemikian rupa. Itulah “investasi” terbaik dalam hidup.

Perlu Kiat Sukses untuk itu, Yakni:

1. Mengelola Waktu:
Sekeras bagaimanapun kita bekerja, kita hanya punya waktu 24Jam sehari. Hanya itu yang bisa dimanfaatkan, yang harus dikendalikan secara Fokus agar efisien, agar kita tidak kehilangan momentum – untuk sukses.

Mengelola waktu dengan benar menjadikan kita terlihat professional, teliti dan tidak tergesa-gesa memenuhi jadwal aktivitas kita, bahkan punya waktu menikmati hidup, bersantai. Kita terlihat lebih siap menghadapi tiap perubahan dan mengubahnya demi untuk kemanfaatan maksimal.

Kita akan dikenal sebagai pribadi yang tidak gegabah, teliti meneliti detil tiap pilihan yang muncul hingga kecil kemungkinanya untuk membuat keputusan yang salah.

Ada tekniknya itu!

2. Punya Empati:
Empati berarti mampu memahami perasaan orang lain. Berbeda dengan ‘simpati’ karena “Simpati” layaknya ditujukan untuk rasa berbelas kasihan. Seumpama ketika kita tahu ada rekan dipecat, kita langsung mempertanyakan secara terbuka. Itulah “empati” bahwa kita memahami perasaannya, kita dapat merasakan betapa getir nanti kehidupannya.

Empati menjadi kunci sukses oleh karena pola pikir dan cara kerja kita menunjukkan kita berkemampuan untuk memimpin. Perlu nyali menerapkannya - langsung bertanya secara terbuka, tidak malah mendiamkannya.

Hanya cara komunikasi yang baik yang bisa membuat penyampaiannya tidak terdengar seolah bersifat menghakimi.

Ada caranya itu!

3. Meminta Bantuan:
Perlu keberanian kala ketika benar-benar mengharapkan bantuan orang lain, sulit mengutarakannya karena kita cenderung menduga-duga negatif. Ini adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai.

Orang kerap salah, menganggap bahwa jika meminta bantuan itu berarti pertanda lemah. Hingga banyak yang memilih mengerahkan kemampuannya sendiri, terhenti setelah tak tertolong lagi - baru meminta bantuan. Adalah salah menganggap rasa malu sebagai bukti kelemahan, terutama karena perlu keberanian melakukannya, dan itu adalah pertanda jika kita punya kekuatan – berani melakukannya.

Alasan lainnya, orang enggan meminta bantuan karena khawatir akan kehilangan kendali atas kondisi tertentu. Ada juga karena menganggap orang lain tidak setrampil dirinya atau sebaliknya karena tak mau ketahuan tingkat keterampilannya. Ada juga karena tidak mau kelak terhutang budi. Yang pongah beralasan, karena tak mau membebani orang lain.

Sejatinya, jika kita  meminta bantuan maka kita memberi kesempatan ke orang lain untuk tampil menunjukkan keahliannya. Ini tentang memberdayakan orang lain.

Bahwa kita tidak sempurna, itu adalah sama seperti semua orang, dan kita harus menerimanya. Meminta bantuan ke orang lain menjadi bukti bahwa kita mengakui ketidaksempurnaan kita itu. Itu kiat sukses juga.

4. Harus Konsisten:
Kita perlu fokus pada tujuan dan kukuh berjuang mencapainya. Jika tiap waktu kita mengubah dan mengubah-ubah tujuan maka kita akan kehilangan arah karena tidak konsisten. Konsisten merupakan kunci sukses untuk mencapai keberhasilan.

Ada pelatihannya itu!

5. Mampu Mendengar:
Punya dua telinga dan satu mulut mungkin ditujukan agar kita bersedia mendengar dua kali dan berbicara satu kali - saja. Mendengar bukan berarti lemah tetapi hanya itu cara agar kita bisa benar-benar paham apa pendapat orang lain.

Jika mau mendengarkan baik-baik kita akan terhindar dari salah paham, bisa menghemat waktu pengerjaan sesuatu bahkan bisa terhindar dari rasa frustasi.

Karenanya tak heran jika banyak pemimpin mengirimkan karyawannya untuk kembali bersekolah hanya untuk dilatih bagaimana cara mendengarkan dengan baik, belajar cara terbaik bagaimana memahami sesuatu.

Kemampuan mendengarkan dengan baik adalah keterampilan yang diperlukan untuk bisa ber-komunikasi dengan efektif.

Ada tekniknya itu!

“I am thankful for all of those who said ‘No’ to me. It’s because of them I’m doing it myself”.
~Albert Einstein

~salam sukses!