Siapa bilang kita tak bahagia? Siapa bilang kebahagiaan
hanya milik orang berpunya?
Kebahagiaan hidup tergantung pada kualitas pikiran kita, bukan
pada sesuatu hal apa yang kita katakan ke orang lain. Tetapi peperangan terbesar
berlangsung didalam pikiran sendiri ditempat mana kekuatan terbesar saling
memenangkan seolah apa yang kita katakan ke orang lain menjadi penentu.
Seolah kebahagian kita tergantung pada keputusan orang lain.
Seolah kebahagian kita tergantung pada keputusan orang lain.
Konflik terbesar terjadi didalam pemikiran kita, terjadi kekacauan
terbesar yang kita anggap nyata – ternyata tidak benar. Pada kenyataannya diri
kita adalah apa yang kita pikirkan, bahwa kita tidak akan dapat mengubah
sesuatu apapun jika kita tidak bisa mengubah pemikiran kita.
Bagaimana kita bisa menenangkan pikiran kita, menjadi
kunci utama. Bagaimana kita bisa meluangkan waktu untuk meneliti pemikiran
sendiri. Saat pemikiran kita sedang rileks, semisal saat ketika bangun pagi, ngopi
pagi, perlahan seteguk demi seteguk, luar biasa nikmat, mengaguminya menjadikan
pikiran rileks. Saat seperti itu akan menjadi mudah untuk bisa fokus memikirkan
apa gerangan yang bisa dicapai diminggu depan.
Mudah mengatakannya tetapi tidak mudah melakukannya, maka
berlatihlah, mulailah mengingatkan diri sendiri, memimpinnya kearah yang
benar-benar kita ingin capai.
Masalah terbesar ada didalam kepala ketika kita berpikir
berlebihan bahwa kita tak akan bisa berhasil seperti orang lain, bahwa kita tak
mungkin bisa hidup seperti orang-orang yang sukses. Menjadi tertekan demi
melihat kehidupan seseorang yang melebihi kita, hanya karena langsung berpikir
bahwa kita tak akan bisa seperti dia.
Jika kita tidak bisa menerima keadaan itu, kenapa tidak
dibiarkan saja begitu. Kenapa harus merusak kehidupan hanya karena tidak bisa
seperti mereka? Kenapa kita harus memaksakan diri untuk hal-hal diluar kendali
- diluar kemampuan kita?
Jika kita tidak bisa menerima bahwa hidup adalah sebuah
perjalanan setidaknya belajarlah menerima keadaan pada situasi tertentu, walau
kita tak paham bagaimana sesuatu itu terjadi. Bagaimana tiba-tiba yang terlihat
tidak mampu malah bisa melebihi sukses keberhasilan orang lain yang merendahkannya.
Dalam hidup tiada yang mustahil. Hanya kita jangan memberatinya dengan pemahaman sendiri.
Dalam hidup tiada yang mustahil. Hanya kita jangan memberatinya dengan pemahaman sendiri.
Pemahaman sendiri cenderung menyesatkan hingga kita
terlupa sesungguhnya kita memiliki hak yang sama seperti orang-orang.
Ambil contoh, kala tiba-tiba kita dibantu oleh seseorang
yang kita tidak kenal. Tak terduga kita alami begitu saja, terasa aneh diluar kebiasaan.
Sebaliknya, kita melihat orang-orang yang mengemis dijalanan dan tertidur di
sembarang tempat, terlihat saling mengenal tetapi tidak saling membantu satu
sama lain bahkan jika itu berurusan dengan orang yang mengambil paksa uang mereka.
Menyedihkan, apalagi bangsa kita katanya hidup di bumi
yang konon “gemah ripah loh jinawi” negara yang makmur akan segalanya. Namun anak-anak
terlantar, orang lanjut usia tidak terurus, itu sangat menyedihkan.
Mudah untuk kita menuduh bahwa mereka menjadi demikian
itu karena kemauannya sendiri atau karena ada yang mengatur, atau mungkin
karena kecanduan narkotika atau akibat berjudi dan melarat. Kita cenderung menyimpulkan
bahwa berapapun uang yang didapat akan habis untuk narkotika. Tanpa kita pernah mencari tahu!
Alam semesta jagad raya ini tidak perduli dengan apa yang
kita pikirkan, bahkan tidak membeda-bedakan antara niat baik kita dengan apa
yang akan terjadi terkait bantuan yang kita berikan.
Minat kita membantu tidak akan begitu saja dihakimi oleh alam
semesta, apakah akan digunakan sekehendak hati untuk hal tak bermanfaat bahkan
tak perduli apakah digunakan untuk menghancurkan dirinya. Apalagi
orang-orang itu melarat bukan karena kita, bahkan kita tidak diberikan hak
untuk menghakimi.
Sejatinya, membantu adalah sesuatu anugerah, berbagi ke sesama
adalah berkah. Andai kita luangkan waktu untuk merasakan hakikat perasaan
syukur karena bisa berbagi niscaya akan terlihat betapa sipenerima sangat
bersyukur, hanya tidak berani menunjukkannya. Sorot matanya cukup menceritakan
kekuatan rasa terima kasih yang tak bisa terukur.
“Leadership
is lifting a person’s vision to high sights, the raising of a person’s
performance to a higher standard, the building of a personality beyond its normal limitations".
"My
job is not to be easy on people. My job is to take these great people we have
and to push them and make them even better".
Pimpinlah diri sendiri melakukan kebiasaan baik, kelak kita akan
takjub dengan hidup kita.
