Kamis, 05 April 2018

SELALU SAJA MASIH ADA BANYAK WAKTU!

“Become the kind of leader that people would follow voluntarily; even if you had no title or position.”

Seolah tak lelah, kita terlalu mudah dan terbiasa untuk berkata: “tenang masih ada waktu” Tetapi tiap waktu selalu saja melakukan hal yang sama, kita seolah berusaha mengganjal sendiri kemajuan diri kita. Cenderung menunda-nunda mengerjakan dan panik tergopoh-gopoh menyelesaikan pada menit-menit akhir. Yang penting selesai – menjadi alasan cemerlang.

Sejatinya kita itu tak punya waktu untuk menyelesaikan tiap hal. Dan kita perlu bijak untuk bisa memahaminya!

Bahkan walau telah punya rencana atau tahu kiat kilat menyelesaikannya, tetap saja tak cukup waktu untuk bikin tiap hal selesai tepat waktu, apalagi tiap hal punya batas waktu penyelesaian.

Ditaksir rata-rata kita akan hidup untuk 27.375 hari lamanya, apa kita mau menundanya? Jika, Ya! untuk berapa harikah? Tak-kah kita ingin punya keinginan hidup tepat waktu?

Kenapa tidak diselesaikan secepatnya? Dan itu yang akan dibahas kali ini.

Ada yang bilang, ini hanya soal kebiasaan saja. Yang lain bilang, ini karena soal tantangan yang kurang menantang. Ada juga yang berbisik, dia itu pintar tapi sering anggap enteng. Yang lantang teriak beralasan: tidak ada yang salah dengan itu asal tidak lewat batas waktu. Cukup beralasan untuk dinilai semuanya suka cari-cari alasan.

Masalah terbesarnya iya disitu itu!

Seolah takada yang mempersoalkan waktu yang berputar begitu cepat. Tak ada yang berpikir bahwa dua puluh empat Jam sehari semalam tak cukup untuk bisa tepat waktu menyelesaikan tiap hal, sembari bersiap menyelesaikan hal lain - berikutnya. Masih ada banyak hal lagi - yang tak kita ketahui.

Dan tak satupun yang membantah bahwa Tuhan sangat sayang akan ciptaanNya hingga tak perlu khawatir sebab tak akan IA bebankan sesuatu permasalahan yang tak bisa kita tanggungkan.~Amin!

Dan bukan itu masalahnya!

Seolah berpikir linear, semua meyakini bahwa waktu yang 24 Jam itu cukup, jika pun tak selesai, bisa dikerjakan keesokan harinya. Ada 7Hari dalam seminggu dan 4Minggu untuk sebulan, ada 12Bulan untuk setahun, masih banyak waktu. Hanya yang kurang kerjaan yang mempersoalkannya.

Semua cenderung menolak pendapat yang mengusung kebenaran, apalagi jika itu dijadikan dasar menggugat “tidak tepat waktu”, hanya akan dianggap sebagai sesuatu kekonyolan yang dipertontonkan. Tak guna dipertentangkan atau seisi dunia akan bangun menghempaskan.

Kita berlaku seolah waktu berjalan dibelakang dan kita terpaku ditengahnya – mana mungkin menang! Mengapa begitu? karena kita mau-nya begitu. Itulah kita, dan itu masalahnya!

Sudah biasa untuk kita tak akan mau mengerjakan sesuatu jika tak menginginkannya, tetapi akan melakukan apa saja yang kita inginkan – meski seisi dunia akan menolaknya. Itulah kita! Dan kita tahu akan hal itu.

Kita juga mahfum akan waktu yang terbatas maka harus dimanfaatkan sebaik mungkin, hingga perlu atur jadwal agar tepat waktu. Bahkan sadar bahwa jadwal yang sempurna sekalipun, tak akan cukup untuk menyelesaikan tiap hal bisa tepat waktu jika kita masih punya kebiasaan yang tak mendukung pelaksanaannya. Kita itu mahluk pintar!

Kita juga tahu akan sifat menunda-nunda adalah perilaku yang tak baik, dan tahu bahwa perilaku begitu tidak akan membuat kita maju. Stagnan, jalan ditempat!

Kita tahu itu!

Lucunya kita juga suka teriak bertekad, bahwa kita harus berubah, bahwa kita perlu mengubah cara kita berpikir, bahwa kita perlu mengubah cara mengerjakan sesuatu. Kita bahkan belajar intensif agar bisa maksimal memanfaatkan waktu. Berlatih kiat menangani hal yang prioritas.

Kita itu, paham itu!

Terutama karena terdorong kesadaran bahwa sebahagian dari waktu yang terbatas itu akan diperlukan untuk istirahat, untuk bersendagurau dengan keluarga bahkan untuk urusan terkait adat budaya. Kita bahkan menanamkan benih di alam pemikiran kita bahwa walau pun waktu terbatas tetapi akan ada waktu yang cukup untuk kita bisa tidur - dan bermimpi.

Jadi masalahnya apa? Takada!

Kita hanya tidak terbiasa menghargai waktu saat sekarang ini, karena kita terbiasa berpikir bahwa kita itu dibekali waktu yang cukup untuk bikin selesai banyak hal. Maka tak-lah masalah jika disia-siakan sedikit, karena ada waktu juga untuk itu.

Andai kita luangkan waktu untuk melihat kedalam “waktu saat sekarang ini” mungkin akan terlihat bahwa ada banyak hal yang tak terlihat dimasa-masa sebelumnya. Kita hanya kurang bijak untuk bisa paham.

Karenanya, kita perlu lebih disiplin tidak malah larut ikut sosmed chit-chat pepesan kosong. Kita harus kukuh meninggalkan cara lama menyusun jadwal prioritas, berlatih untuk melakukannya sesuai kebiasaan baru.

Ada juga yang berpendapat, sejatinya kita itu tidak begitu memerlukan banyak waktu, kita itu hanya perlu berlatih memanfaatkannya secara maksimal. Maka itu, kita harus cerdas. Hanya itu cara terbaik agar bisa punya banyak waktu!

Tak percaya? Ubah dulu pikiranmu!

"You must give to get. You must sow the seed, before you can reap the harvest."
-Scott Reed

~salam tepat waktu selalu!
 It is Free