"If everything's under control, you are going too slow."~Mario Andretti
Sebagaimana ungkapan ~Zig Ziglar: “Jika Anda tidak mau
belajar, tidak ada yang bisa menolong Anda! Tetapi jika Anda bertekad untuk
belajar, tidak akan ada yang bisa menghentikan Anda!", kebenarannya
terungkap dijaman now.
Era teknologi kini ini, kian membuat semakin tidak banyak
aturan permanen yang mengikat mengingat ekspresi perubahan yang terjadi begitu
cepat. Semisal ukuran seksi bukan lagi hanya lekuk tubuh siseksi tetapi
dipengaruhi seberapa banyak follower-nya? menjadi ukuran tingkat popularitas, dan
itu dipertimbangkan. Wajah dunia telah berubah.
Indikator sukses keberhasilan tidak lagi hanya tergantung
pada tingkat kekayaan yang dihasilkan – tetapi siapa yang mengikutinya, kini segalanya
terlihat sumir. Sukses bukan lagi domain para keturunan darah biru, tetapi yang
tidak berdarah pun banyak yang sukses mencapai keberhasilannya. Indikatornya kian
semakin meluas engga jelas apalagi diharuskan mendapat pengakuan dari netizen -
para penghuni dunia maya, dunia yang tak jelas dilintang berapa letak posisinya.
Semua berubah dan semuanya wajib menerima perubahan demi
perubahan yang mengubah tiap perubahan itu.
Jika dulu, tiap kali kita menghadapi perubahan kita
diperhadapkan pada ungkapan kata: “bagaimana jika?”, kini ini cenderung
berhadapan dengan: “kenapa tidak?”.
Dua-duanya mengusung kandungan makna dengan bobot yang
sama kuatnya, abtraksi keduanya terlihat pada gagasan bahwa ada yang tengah
sedang atau akan berubah. Keduanya diyakini menjadi pemicu minat yang
menumbuhkan inovasi, yang memacu kreativitas dan perubahannya – seolah tertantang
membuat sesuatu hal menjadi lebih baik.
Semua dipaksa untuk berubah setidaknya ekpresinya berubah
bahkan imajinasi kita dipaksa berubah untuk mampu memahami sejauh mana sesuatu kreativitas
bisa mengrefleksikan tiap hal yang bisa kita bayangkan. Dunia tanpa batas!
Kemampuan kita berimajinasi ditantang tiada habisnya. Surfing
seolah dicap sebagai kecanduan berinternet apalagi kini internet menyediakan
segalanya, sedari detik-detik kelahiran bayi hingga detik-detik kematian seseorang
menjemput, terpampang jelas. Tersangka pesakitan korupsi pun bisa sewaktu-waktu
berubah posisi seolah pendekar penebar keadilan (justice collaborator). Yang
heran kian semakin heran hingga sakit terheran-heran sedangkan yang kagum kian
semakin kagum hingga mati kelojotan menjadi cara mati mengagumkan. Dunia kian menggila!
Resep sukses tak lagi harus belajar tinggi-tinggi di perguruan
tinggi, kini cukup dengan pelatihan dan keuletan untuk jatuh bangun secara
digital agar bisa menjadi master digital. Bahkan professor pun bisa mengukuhkan
sendiri dirinya sendiri sebagai “professor digital” berstempel dan ber-sertifikasi
digital. Bayar secara digital. Dunia berubah menjadi digital.
Semakin kreatif kita dianggap penuh kreasi, tinggal menerapkannya
kedalam satu bidang kehidupan, menularkannya kedalam aspek kehidupan lainnya. Ide
bagus jarang diminati tetapi ide yang rada gila bisa menjadi viral. Pesohor
kesohor kini tergantung pada total jumlah klik sebagai bukti pertanda berapa
kali sudah ditonton netizen? Kualitas menjadi sumir, tergantung pada tingkat
elektabilitas Netizen – sang penghuni dunia maya.
Seiring waktu tiap kita merasa terbebani, bahwa semua kita
kian semakin membutuhan sesuatu ukuran standar yang mencakup lebih dari sekedar
viral atau like dari netizen dunia maya.
Kita perlu aturan yang meletakkan kebahagiaan pada posisi
semestinya dan bahkan kita dituntut memahami sifat karakter yang melekat
atasnya:
1.
Bertanggungjawab secara Mandiri:
Jamak kita temukan seseorang yang mengaku kurang bahagia dalam
kehidupannya lari dari kenyataan realitas hidupnya. Terlihat begitu mudah
menghindari tanggung jawab pribadinya, semudah ia menyalahkan orang lain dan atau
menunjuk siapa saja yang dia anggap tidak memuaskannya – untuk dipersalahkan.
Dan semakin kita mengenalnya, semakin kita bisa mengungkap kehidupannya.
Nelangsa.
Tak mudah untuk kita bisa menemukan seseorang yang berbahagia
menerima tanggungjawab pribadinya sebagai bagian dari realitas hidupnya.
Semakin kita mengenalnya semakin terungkap bahwa kebahagiaan mereka adalah
ekses dari sikap karakter pribadi mereka sendiri. Bertanggungjawab penuh seolah
tak cukup alasan untuk mereka – mempersalahkan orang satu lainnya.
2. Rendah Hati
secara Pribadi:
Tingkat kepercayaan diri memungikinkan kita untuk
mempercayai nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat – bahwa kita layak untuk
sukses. Seseorang yang berbahagia memiliki tingkat kemampuan pribadi untuk
percaya pada kemampuan dirinya sendiri mengembangkan ketrampilan yang
dibutuhkan. Yang bisa menghasilkan kualitas yang kompeten yang dibutuhkan untuk
menjalani kehidupan yang baik.
Tipikal mereka ini, merasa tidak cukup alasan untuk teriak-teriak
membesar-besarkan prestasi yang dicapai. Menjabarkan pengalaman hidupnya dengan
seksama tanpa dilebih-lebihkan, terkesan jauh dari kesombongan. Diduga mereka
menganut prinsip bahwa kerendahan hati akan memancarkan rasa percaya diri yang
diperlukan untuk mencapai sukses keberhasilan. Penerimaan diri menghadirkan
bobot kerendahan hati dan mereka nyaman dengan kehidupannya.
3. Penerimaan
Diri:
Seseorang yang sampai pada tahap pengenalan diri terlihat
dipenuhi rasa kebahagiaan, terlihat berhasil menghubungkan perasaannya dengan
realitas kenyataaan hidupnya dan terus belajar bertumbuh seiring waktu.
Baginya memelihara kelemahan hanyalah untuk menggali
kekuatan yang diperlukan untuk menjadikannya bisa menghindarkan stagnasi kemalasan
bahkan sifat apatis. Terutama karena telah berhasil membangun pemikiran bahwa dirinya
telah berdamai dengan dirinya – dan menerima apa adanya. Ketenangan batin menjadi
momentum pengingat yang handal bahwa dirinya tengah sedang berjuang memenangkan
dirinya dengan menerima dirinya - apa adanya. Terkesan tengah memaksa dirinya
sendiri untuk berinvestasi pada dirinya sendiri. Oleh karenanya – jangan mau
bingung sendiri!!
"Far better it is to dare mighty things, to win glorious triumphs,
even though checkered by failure, than to rank with those poor spirits who
neither enjoy much nor suffer much, because they live in the grey twilight that
knows neither victory nor defeat."
~Theodore Roosevelt
~salam motivasi!







