“Mengapa bersusah
payah harus menjadi orang lain? Keistimewaan diriMu adalah apa adanya kamu!”.
Tidak akan ada keajaiban, semuanya
bermula dari kerja keras kita menjaga sikap positif untuk mengubah keadaan. Meski
mengalami tekanan hingga penolakan disanan-sini usahakan untuk tetap fokus
menuju tujuan. Dan untuk fokus diperlukan ketenangan agar kita bisa memusatkan
pikiran.
Semisal kita tengah dalam
perjalanan ke suatu tempat berkendara santai ditemani alunan musik radio. Kita
yakin sudah di jalan yang tepat walau hanya berbekal petunjuk lisan dari orang yang
sempat kita tanyakan. Sekonyong-konyong dipersimpangan jalan kita bingung, berhenti
- hendak terus apa berbelok kekiri atau kekanan? Tak jelas! Merasa salah arah,
kita butuh ketenangan untuk memusatkan pikiran – refleks seketika mematikan radio.
Walau tak yakin apakah radio menguras enerji kita mengingat-ingat kembali petunjuk
jalan, tetapi itulah kita. Seolah musik merdu bikin berisik didalam kepala menghisap
enerji kemampuan kita pada situasi tertentu.
Menghentikan kebisingan didalam
kepala serasa memberi ruang, anehnya kita tak pernah bertanya kenapa? tak
pernah memikirkannya mengapa? yang kita tahu itu adalah tindakan pertama - yang
benar. Benar begitu?
Mari terapkan prinsip itu, hentikan
kebisingan dalam hidup kita, mulailah dari gemerincing suara-suara yang didalam
kepala. Tahu caranya-kah? Musnahkan dahulu racun kecanduan yang memicu suara
berisik di kepala.
Langkah Pertama: “Jangan pura-pura! Seolah semuanya baik-baik saja”
Walau sudah terbebani tetapi kita
malu mengakui. Seyogianya kita tak perlu malu untuk rehat bahkan robot pun butuh
waktu perawatan. Tak perlu malu mengaku lelah, itu alamiah. Bahkan untuk berkata
ragu pun, itu alamiah. Kita tak perlu berpura-pura kuat memaksakan diri membuktikan
bahwa semuanya berjalan baik. Tak usah peduli apa kata orang. Faktanya, bahkan
menangis pun adalah cara tepat mengeluarkan airmata dan itu menyehatkan mata.
Langkah Kedua: “Jangan Terbebani Masa Lalu”.
Kesulitan dimasa lalu seyogianya
membuat kita lebih bijak menilai situasi. Menjadikan kita lebih mahfum akan arti
kesedihan. Situasi sulit bahkan mengundang orang-orang terdekat datang mengajarkan
kita cara bagaimana mengelola kesulitan, mengajarkan kita cara agar tidak frustasi,
agar tidak kecewa. Agar terhindar dari cengkeraman rasa takut. Pengalaman hidup
menjadi guru berharga, membawa berkah tersendiri. Menanamkan pengalaman bahwa tiap
hari akan membawa sesuatu yang baru – maka bertindaklah seperti mencuba sesuatu
yang baru – antusias-lah!. Jangan terbenam oleh masa lalu.
Langkah Ketiga: “Jangan Hindarkan Perubahan”.
Perlu konsisten memelihara
gelora semangat diri untuk selalu siap bertumbuh dan merasa baik karenanya. Walau
pertumbuhan tidak selalu terasa baik dan sebaliknya perasaan tidak baik tidak
selalu berarti sedang bertumbuh. Perlu keseimbangan, bahkan merasa tidak nyaman
juga penting. Tiap pertumbuhan adalah tahap awal dari tepian tahap akhir zona kenyamanan,
untuk itu salurkan enerji kearah kemajuan. Ketidaknyamanan adalah akibat perubahan
yang terjadi dalam hidup.
Langkah KeEmpat: “Jangan Mau dikuasai Khawatir dan Cemas”.
Kecemasan adalah musuh
terbesar yang mencuri tiap kegembiraan hidup. Itu adalah produk dari imajinasi kita,
imajinasi yang menciptakan situasi yang tidak diinginkan, yang membangun
hal-hal yang serba menakutkan. Harus dihindarkan! Akan lebih bermanfaat lelah
karena melakukan sesuatu daripada lelah dihimpit rasa cemas mengkhawatirkan
sesuatu yang tak nyata. Jangan sia-siakan jerih payah kita hanya karena didera
hantu kecemasan. Perlu keberanian menyelesaikan berbagai hal penting dalam
kehidupan kita.
Langkah KeLima: “Mengorbankan Diri untuk orang lain”.
Jangan mengorbankan diri demi
seseorang hingga tidak tersisa sesuatu apapun untuk orang-orang yang mengasihi kita.
Tiap kali kita terjebak oleh situasi jangan lupa untuk memikirkan kepentingan diri
sendiri demi kepentingan orang-orang yang mengasihi diri kita. Itu tidak
membuat kita egois tetapi itu akan membuat kita menjadi lebih bijak. Sebenarnya,
ini adalah bentuk paling murni dari ketidakberdayaan kita menghargai kehidupan sehingga
mengasihi orang lain mengajarkan diri kita untuk tahu cara terbaik bagaimana
mengasihi diri sendiri. Dan itulah hidup.
Langkah KeEnam: ”Menjadikan tiap peristiwa bersifat Pribadi”.
Dalam hidup, ada banyak
kesempatan untuk kita melakukan sesuatu tindakan yang bersifat pribadi tetapi
kita memilih tidak melakukannya. Sebaliknya, jarang orang lain melakukan
sesuatu karena oleh kita, umumnya mereka melakukannya untuk kepentingannya sendiri.
Jadi walau terlihat pribadi tetapi mungkin tidak. Semisal ketika kita merasa
jengkel karena seseorang, cuba telisik lebih jauh apakah orang itu juga terlihat
jengkel? Jika tidak, apakah orang itu terlihat lebih hebat hanya karena berhasil
menyakiti tanpa merasakan rasa sakit? Penilaian pribadi akan menimbulkan sesal
yang berjibun – maka hindarkanlah! Sayangi hidup Anda!
Hakikatnya tiap orang semua
sama. Semua bekerja keras untuk bisa lebih baik dengan berusaha berpikir lebih
jernih, lebih positif karena tiap orang tertarik membuat perubahan positif
dalam kehidupannya.
~Salam Berisik!