Jumat, 16 Oktober 2015

Olah Kesuksesan Orang Lain Menjadi Kesuksesan Sendiri

"Winning starts with beginning."~Robert H. Schuller
"Kemenangan dimulai sedari awal".demikian Robert H. Schuller. Kita kerap tertahan oleh pemikiran sesat akan diri sendiri. Seolah-olah ada sesuatu ‘kekuatan eksternal’ yang menahan laju kita maju. Sesuatu di luar kendali kita, seperti; ‘saya ini berasal dari udik’, atau ‘andai saya punya mobil untuk kerja’ atau ‘bos saya tidak suka sama saya’, dll. Sebagian lain berpikir sesuatu ‘kekuatan internal’ didalam dirinya kerap menghalanginya maju. Dua pemikiran keliru manja mekar di diri kita dan selalu disesali keberadaannya.

Seringkali ‘kekuatan eksternal’ itu kita cari-cari walau kita tahu ia bersemayam didiri kita sendiri. Kita cenderung lebih mudah menyalahkan orang lain, dan nyaman dengan itu. Seakan membenarkan bahwa kita telah berusaha tetapi karena kurang disukai tetap tidak berkembang, bertahan meratapinya. Acap terjerat oleh pemikiran keliru dan terbenam didalamnya, bahkan nyaman dengan itu dan bersemangat menyembunyikan kelemahan sendiri. Andai kita jujur tentulah kita bisa mengenal kekuatan internal kita, tidak seharusnya kita tersudut oleh kekeliruan sendiri. Kita harus mengendalikannya.

Faktor kejiwaaan yang dikenal sebagai ‘kekuatan internal’ adalah "self-image" sesuatu gambaran yang tertanam di ingatan kita - akan citra diri sendiri. Ekstrimnya keluarga terdekat telah menggambarkannya sedari dini, berulang-ulang hingga kita dewasa. Ironisnya hanya hal-hal buruk yang mendominasi, gambaran baik malah terlupakan tanpa kita pernah menyadarinya. Begitu parahnya bahkan ucapan pujian tulus dari atasan dianggap bak peringatan.

Pengalaman masa kecil sangat membekas, manakala oleh keluarga kita diperbandingkan dengan saudara lain atau dengan teman seusia. Gambaran terbentuk dan menjadi citra diri. Semisal kata-kata; ‘dia itu pemalu tidak bisa membawa diri’ atau ‘dia itu kurang percaya diri tak bisa menjelaskan sesuatu’. Tanpa sadar itu tertanam hingga dewasa dan berubah: ‘aku tidak akan pernah berhasil menyampaikan ide gagasan karena tidak pandai berbicara, pemalu dan aku bukan tipikal pemimpin’. Tumpukan ha-hal negatif bak menggunung, keyakinan negatif menghambat. Rongrongan kejiwaan sedari dini, mungkin awalnya terdorong keinginan orang tua untuk melindungi tetapi malah merusak potensi diri.

Bagaikan ‘bahasa pemrograman’ kata-kata dipercaya membentuk bangunan citra diri. Tiap kita cenderung menyembunyikan kelemahan sendiri dengan memilih kegiatan yang bisa menyembunyikannya. Tersandera tanpa kuasa memastikan kebenarannya. Diperlukan seseorang untuk mendorong kita melintasi pembatas itu, atau kita tak akan pernah mengolah keunggulan kita. Mungkin tak bisa dimusnahkan atau mungkin tak akan bisa memaksa nya keluar tetapi kita BISA mengubahnya. Hanya kita harus percaya, mengujinya dengan percobaan sederhana semisal melakukan sesuatu yang berbeda dari rutinitas hidup kita.

Caranya bisa dengan mengkritisi kesuksesan sendiri, sayangnya kita terbiasa menolak karena tidak memahaminya. Mengenal batasan arti ‘sukses’ bisa menjadi langkah awal tetapi kita tak siap akan konsekuensi nya. Merubah nya sembari melangkah maju dengan kerendahan hati alhasil menjadi bijaksana. Selebihnya tinggal keberanian kita untuk bangkit. Banyak orang bijak berhasil menjual metode jalan keluar tentang hal ini tetapi malah tidak pernah menerapkannya. Hanya berhasil membuat alasan demi alasan hingga terkubur dalam kepenatan pemikiran. Tidak mengapa membayarnya tanpa harus mengikutinya. Olah lah itu, ingatlah, Anda jauh lebih hebat dari yang Anda duga-duga.

"The only difference between success and failure is the ability to take action".
~Alexander Graham Bell
Di SFI kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya. Menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain, dilatih meniru para pendahulu kita, dan itu adalah cara jitu mengolah kesuksesan orang lain untuk kesuksesan sendiri.
~Sukses untuk Anda!

Selasa, 13 Oktober 2015

Warisan Peradaban Yang Kukuh Tetap Bertahan Hanyalah PERUBAHAN

“We often think of time as a powerful healer. But time doesn't change things. What changes is the way you look at the world, the way you choose to interact with it. Recognizing gives you amazing power. IF you can change yourself - and you can - you can change your relationship with the world. When you can be useful to others, rather than merely hoping that they will be useful to you, you are a better person because of it. What's more, you will be happier as well”.
~Ellis Peters

“Kita sering berpikir waktu sebagai penyembuh yang kuat. Tapi waktu tidak mengubah keadaan. Perubahan-perubahan yang terjadi terletak pada cara Anda melihat dunia, cara Anda memilih untuk berinteraksi dengan perubahan itu. Menyadari memberi Anda kekuatan luar biasa. Jika Anda dapat mengubah diri sendiri - dan Anda dapat - Anda dapat mengubah hubungan Anda dengan dunia. Ketika Anda dapat berguna untuk orang lain, bukan hanya berharap bahwa mereka akan berguna bagi Anda, Anda adalah orang yang lebih baik karena itu. Terlebih lagi, Anda akan lebih bahagia juga. Demikian Ellis Peters.

Satu-satunya yang tetap dan konstan mengisi perjalanan hidup kita hanyalah perubahan. Kemampuan fisik, tampilan wujud fisik mengalami perubahan dari hari ke hari. Gombor merubah sintal, mulus pupus mengkeriput dan kita sadar akan itu, bahkan kita menyadari ekses dari perlakuan serta kelakuan kita terhadap tubuh kita. Semisal, untuk menghormati batuk kita cuti merokok, ketika loyo kita senam kesegaran jasmani, dll. Sebagian malah tak sungkan menyiksa tubuhnya hingga hanya diberi asupan makanan dedaunan saja, katanya lebih menyehatkan. Sebagian lain malah tidak peduli. Tetapi tiap satu daripadanya tetap saja berubah dan berubah. Menjadi tua dinilai sehat alamiah. Yang tidak tua-tua malah dikata sakit - tak juga dia bosan!

Aspek sosial juga turut berubah, sedari pertemanan di usia sekolah hingga pergaulan saat ketika dewasa, menikah dan menjadi orang tua. Hidup adalah perubahan bahkan detil perubahan itu berhasil disusun rapi sedemikian rupa, mencakup fisik serta aspek sosial yang mengikuti. Perubahan yang terjadi konstan berlangsung dan tiap kita dididik untuk memanfaatkannya demi keuntungan tetapi kita malah kerap abai hingga menjadi merugikan. Seakan lupa bahwa memanfaatkannya akan membedakan kita dari ternak yang juga mengalami perubahan. Perbedaannya terletak pada kekuatan memilih saja dan kita lebih sempurna dari mahluk apa pun.

Kita dibekali kemampuan memutuskan, dikaruniai kekuatan mengeksekusi nya, tidak seyogianya kita lalai mengabaikannya. Perubahan memaksa kita memahami banyak hal terutama perubahan sifat dasar seiring putaran waktu. Perubahan berhasil meningkatkan pemahaman kita akan kompleksitas hidup serta waktu. Hidup telah merubah waktu seiring waktu merubah hidup - berikut segala turutannya, hingga terbentuk pemahaman akan sifat perilaku waktu.

Perubahan menjadikan kita lebih percaya diri, lebih paham akan efisiensi kinerja bahkan menjadikan kita terbiasa mereka-reka situasi dan kondisi. Perubahan berhasil memaksa kita untuk menjadikan ‘kesabaran sebagai mitra utama’ menghadapinya. Tidak ada yang tetap dalam hidup, bahkan perubahan itu sendiri hakikinya juga turut mengalami perubahan, selalu berubah dan mengubah sendiri perubahan dirinya. Semua berubah!

Menerima perubahan bahkan diartikan telah bisa menerima kenyataan, bahwa tidak lagi bersikukuh memelihara sifat menunda-nunda yang kerap berakhir sesal menyesali penyesalan. Kita tidak dibekali kemampuan memutar balik perjalanan waktu untuk kita bisa mengubah-ubah perubahan semau kita. Menjadi produktif dan fokus ke hal-hal yang positif adalah cara efektif menunggangi perubahan. Membiasakan diri untuk hidup di masa kini ini bahkan dinilai mampu menambah nilai guna dari perubahan. Warisan terakhir peradaban hanya tinggal perubahan, maka terima lah!


~Selamat berubah!

Senin, 12 Oktober 2015

Memusnahkan Kepercayaan Diri Atas Keterbatasan Diri

"The best years of your life are the ones in which you decide your problems are your own. You don't blame them on your mother, the ecology, or the President. You realize that you control your own destiny."
~Albert Ellis
“Masa-masa terbaik dalam hidup Anda adalah saat Anda memutuskan bahwa apa pun itu adalah permasalahan Anda sendiri. Anda tidak menyalahkan Ibu Anda, tidak menyalahkan lingkungan bahkan tidak Presiden. Anda mengakui bahwa Anda lah yang mengontrol nasib Anda sendiri”. Demikian dikutip dari Albert Ellis

Kutipan diatas bak mensahkan kesahihan pepatah ‘tiada gading yang tak retak’ artinya tiada sesuatu apa pun yang sempurna. Seakan perintah untuk tiap kita sadar dan mengakui keterbatasan diri. Yang berpendapat setuju, positif menerima kesahihannya, meyakini tujuannya adalah mulia agar bisa melepaskan diri dari rongrongan perasaan seakan paling tahu segala hal.

Pengakuan keterbatasan diri dianggap wajar bahkan terkadang diharuskan. Tidak heran tingkat kerusakan yang terjadi malah terlupakan oleh karena mengakui keterbatasan diri dianggap layak mendapat pujian dan dianugrahi medali. Namun sebagian lain berpendapat, menjadikan nya sebagai alasan dasar pembenaran untuk mengalah berhenti berbuat lebih banyak lagi hal bermanfaat adalah kekeliruan. Itu adalah Tuna penalaran!

Meminta orang lain untuk menghindar dari hal-hal yang dianggap kurang dia pahami seakan membenarkan tindakan pembiaran bahkan dibungkus dengan kata istilah ‘serahkan saja ke ahlinya’. Ahli yang juga memiliki keterbatasan. Korban kecelakaan lalu lintas dapat dijadikan contoh sederhana, menunggu petugas, menunggu ambulance seakan menjadi keharusan dan melupakan perlunya tindakan P3K - segera.

Mempertandingkan keterbatasan semarak dilakukan dibungkus kata: ‘kontes pemahaman’. Berbagai rupa perlombaan menjadi portal pemisah antara yang pintar dengan yang tidak berkemampuan. Visi misi bahkan dipertandingkan secara tidak senonoh. Bahkan jumlah follower dalam akun nya dijadikan bak tolok ukur patokan kelayakan memimpin. Penilaian kompetensi yang keliru, antusias diamini beramai-ramai.

Tuna pemahaman serta pengertian keliru berkembang ke segala penjuru bahkan dinilai memerlukan keahlian baru. Dibutuhkan Ahli yang dinilai mumpuni menilai sesuatu bahkan untuk menilai tingkat kerusakan oleh akibat kekeliruan. Ketidakahlian dipertentangkan dengan keahlian semu, tiap orang diliputi kebanggaan diri dadakan, masing-masing mensertifikasi dirinya sendiri ‘cakap’ serta memiliki kompetensi yang mumpuni. Ahli nya para ahli pun partus populer dikenal sebagai ‘Pakar Ahli’. Kekeliruan penalaran membawa kemerosotan tak terhingga, hingga pengamalan hasil pendidikan kerap diperhadapkan pada peradilan. Diputus vonis final mengikat: ‘keterbatasan adalah akar masalah sumber awal bencana semesta jagad malapetaka’, demikian persidangan para pakar ahli kompetensi. Pakar yang juga memiliki keterbatasan. Wah pelanggaran - tambah keliru saja!

Tujuan hakiki perlunya mengingatkan diri akan ‘keterbatasan diri’ menjadi terlupakan. Misteri kandungan mulia dari pepatah tua menjadi sirna tenggelam oleh hiruk-pikuk keberhasilan keterbatasan melahirkan sesuatu keterbatasan satu lainnya. Tindakan pembiaran berkesinambungan telah berhasil menggiringnya melintasi pembatas tolok ukur keterbatasan.

Adakah cara efektif untuk memusnahkannya? Tidak diperlukan jawaban yang benar, bahkan suatu pertanyaan bisa merupakan jawaban yang benar. Masih kah kita sudi mengakui keterbatasan? Kurang mulia kah kita jika bisa meyakinkan diri kita sebagai orang yang paling memahami segala hal? Salah kah jika kita beranggapan bahwa diri kita lah yang paling pintar? Banyak yang berkeyakinan seyogianya lah kita harus sedemikian itu! Namanya ‘suka tahu’!

Kita tidak perlu mengakui keterbatasan diri jika untuk menjadikannya alasan pembenaran untuk kita tenggelam olehnya. Sepanjang mampu melampaui portal pembatas yang ada maka wajib untuk kita bersabda bahwa kita tahu segalanya, paham akan tiap sesuatu - apa pun itu. Sejatinya kita terlahir tanpa keterbatasan. Memusnahkan kepercayaan diri akan keterbatasan diri adalah bagian dari perjuangan hidup, karena bukan percaya diri yang seperti itu yang diperlukan untuk berhasil.

Kepercayaan diri atas keterbatasan diri adalah sesuatu yang salah, karena mengurangi minat berkembang, bisnis afiliasi bisa memusnahkannya. Kehandalan bisnis Afiliasi yang mengagumkan patut dipertimbangkan untuk digeluti sedari dini. Tetapi hati-hati memilih tawaran bisnis online. Di SFI, kita dididik untuk berhasil denganmemberhasilkan orang satu lainnya. Diajarkan cara menghindari kesalahan yangmenghambat keberhasilan orang lain. Ingatlah akan satu hal, bahwa tidak ada formula tokcer untuk berhasil, tetapi kegagalan adalah tahap awal keberhasilan. Dan yakinlah akan hal itu!
~Selamat berkarya!

Jumat, 09 Oktober 2015

Mengubah Cakrawala Jagad Pemikiran

“Kita tidak akan pernah bisa merubah apa pun tanpa kita pernah bisa merubah jalan pemikiran dan cara kita bertindak”~Ombing

Ada yang berpendapat menjadi seorang karyawan dinilai tidak pernah serius menggali potensi diri mendapatkan tambahan penghasilan. Sebagian lain berpendapat menjadi pengusaha cenderung dinilai hanya menyusahkan diri sendiri saja. Dengan kemampuannya banyak perusahaan yang bersedia menggaji 10 X lipat dari keuntungan usahanya. Jika bisa mengelola ritme kerja saatnya menjadi pengusaha memulai bisnis sendiri.

Menjadi pengusaha akan mengubah cakrawala jagad pemikiran dan cara bertindak. Gigih berjuang agar karyawannya bisa bekerja, menghargai karya prestasi orang lain dengan kontraprestasi setimpal tetapi nyaris selalu lupa menghargai karya sendiri bahkan berhati-hati menggunakan kekayaannya. Konon ada idiom populer; pengusaha selalu teliti akan barang belanjaannya dan kerap meneliti harga serta uang kembalian pembayarannya, sedangkan direktur utama bahkan tidak pernah berminat menerima wang kembalian belanjaannya.

1. Kerjasama Usaha - Riil:
Menjadi pengusaha membuat kita untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti; rekanan, supplier, produsen, agen, distributor, dll. Pengusaha memerlukan kemampuan kemandirian, bahkan ditiadakan haknya melamar pekerjaan berbeda dengan pegawai yang bebas kapan pun hengkang pindah tempat bekerja. Pengusaha ditantang mengelola beberapa entitas yang berbeda dalam waktu yang bersamaan semisal: karyawan, supplier, agent, produsen, distributor, pemilik modal serta pemerintah pengelola pajak dan perijinan bahkan masyarakat lingkungan. 
Layaknya menabung, berinvestasi di berbagai bentuk kerjasama usaha menjadikan kita sebagai pemilik modal usaha atau investor. Cara ini menempatkan kita di posisi puncak sebagai kuadran terbaik karena mempekerjakan uang untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

2. Kerjasama Usaha - Online:
Kepemilikan blog atau website menjadikan kita sebagai pemilik properti online ini memerlukan bangunan pemahaman yang berbeda dengan pemahaman pada bisnis riil konvesional. Kerjasama online dapat diartikan membangun properti online melalui jasa provider penyedia jasa itu.
Di dunia usaha riil ada istilah kepemilikan ‘intangible assets’ nilainya jauh meninggalkan nilai ‘tangible assets’. Semisal ‘goodwill’ nama baik usaha yang dibangun sedemikian rupa kerap diperlakukan bagaikan nyawa dari usaha itu sendiri. Sederhananya kepemilikan properti online dapat di setarakan seperti itu. Membangun website atau blog memerlukan biaya dan waktu, tak jarang disain dan pemeliharaan kontennya harus melibatkan pihak ketiga yang ahli dibidangnya.

3. Kerjasama Usaha di Merek Dagang:
Kerjasama investasi di usaha merek dagang rada berbeda dengan kerjasama di usaha riil konvesional semisal real estat karena real estate mempunyai lokasi serta fasilitas usaha yang kasat mata. Tetapi keduanya kini memiliki kemiripan karena dikemas sedemikian rupa, dipenuhi image dan bangunan pemahaman baru. Jika dahulu hasil panen padi dihitung dari jumlah kilogram beras maka kini tidak lagi memperdulikan apakah telah digiling menjadi beras atau masih tetap berupa gabah. Kalau dulu penghasilan real estat dihitung dari jumlah unit rumah terbangun dan terjual maka kini gambar disain pun sudah diperjual-belikan.

Berinvestasi layaknya kini menabung, return on investment dan cost of money dll menjadi pertimbangan tersendiri. Kerjasama usaha sudah jamak diterapkan di bidang Merek Dagang. Kepemilikan merek dagang kini bahkan mengungguli dominasi kepemilikan properti gedung. Kemudahan internet menghadirkan kepemilikan property online semakin menggerus kedigdayaan pebisnis property gedung. Kepemilikan hak cipta online dinilai lebih memiliki efek domino yang menguntungkan. Bisnis ini cocok untuk mendapatkan tambahan penghasilan, jangka pendek atau jangka panjang hanyalah pilihan.
Bisnis Affiliasi adalah model bisnis online yang patut dipertimbangkan dimulai sedari dini karena lebih menjanjikan. SFI mendidik rekanan Afiliasi nya untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya, keberhasilan tim menjadi yang terutama. Tidak ada ‘magic formula’ untuk berhasil tetapi kegagalan adalah awal keberhasilan. Kita adalah penentu apa yang terbaik dari yang tersedia, sejatinya kita telah dibekali kemampuan fantastis untuk itu. Yakinlah akan hal itu. Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Selamat berkarya!

Rabu, 07 Oktober 2015

6 Cara Memupus Kewajiban Menabung Uang

Bagaimana Mendapatkan Tambahan Penghasilan? Menurut petuah para tetua yang tertua, mengurangi pengeluaran adalah cara terampuh, dan menggunakan sisa penghasilan setelah dikurangi biaya adalah pilihan tambahan. Artinya biaya harus ditekan lebih kecil dari penghasilan, semakin besar selisihnya semakin bagus, dan memanfaatkannya bertambah bagus. Bagaimana dengan yang berpenghasilan pas-pasan? satu-satunya pillihan adalah dengan bekerja lebih keras memberdayakan energi pemikiran dan waktu untuk meningkatkan penghasilan sembari menekan pengeluaran. Yang berpenghasilan tinggi akan lebih leluasa mendapatkan tambahan penghasilan untuk menjadi semakin lebih kaya. Bagaimana caranya? Cara mudah tapi rada sulit dipahami sebagai berikut:

1. Menabung di Kendaraan Bermotor:
Membeli kendaraan bermotor tunai atau mencicil untuk kemudahan transportasi, purna jualnya untuk tambahan penghasilan. Teliti informasi tentang harga, merek serta pemeliharaan, kehandalan kendaraan terutama purna jualnya. Jika mencicil, teliti informasi seputar bunga, asuransi, dll. Memilikinya tidak untuk kemudahan transportasi belaka tetapi tambahan penghasilan.

2. Menabung di Kepemilikan Rumah:
Jika kesulitan membeli tunai, pelajari opsi menyewa atau mencicil. Sebagian berpendapat menyewa lebih fleksibel dari mencicil, alasan kenaikan harga atau fasilitas over-cicilan tidak menjanjikan. Harga rumah rentan terhadap situasi perekonomian dibanding kendaraan bermotor. Piihan menyewa dinilai lebih menguntungkan daripada mencicil alasannya lokasi tempat tinggal, jarak rumah ke pekerjaan atau ke sekolah, fasilitas dan keramaian hunian turut berpengaruh.
Jika menyewa lebih mahal dari mencicil, perubahan karir dan perkembangan usia anak menjadi pertimbangan, tetapi pilihan menyewa diyakini lebih fleksibel daripada mencicil 20Tahun. Jauh lebih sulit menjual rumah atau over-cicilan daripada meninggalkan rumah dengan sisa masa sewa. Bagaimana jika tidak terjual ketika harus pindah? Ada yang berpendapat itu bisa nanti disewakan. Namun, untuk alasan fleksibilitas menyewa menjadi pilihan.

3. Menabung di Kerja Keras:
Diawal mulai bekerja, semangat memacu diri untuk selalu tepat waktu. Dan ketika pertama kali mendapat gaji rasa bangga memicu motivasi meningkatkan karir agar lebih hebat lagi dan naik gaji. Seiring waktu, kebosanan mengganggu hingga timbul pemikiran ‘disini tidak ada karir’, harus pindah kerja. Lesu dan semakin tak berdaya pekerjaan seolah beban berat. Ingatlah, jika menjadi pekerja - meskipun tidak kita sukai, kita harus memberikan perhatian terbaik, memperlakukannya seakan milik sendiri seakan kita lah CEO pemiliknya. Bayangkan bagaimana peluang sebagus itu, walau tidak mudah tetapi itu mungkin. Fokuslah bekerja keras, akan ada yang mulai memperhatikan, tetaplah bersikeras bahwa itulah pintu pembuka untuk bisa menambah penghasilan.

4. Menabung di Pendidikan:
Pendidikan adalah cara membangun potensi mendapatkan penghasilan, gelar titel bahkan dianggap investasi. Sebagian lain menilai pendidikan cukup seperlunya saja, bersekolah lebih tinggi lagi adalah pemborosan, lelah membosankan dan tidak ada jaminan kenaikan penghasilan. Sertifikasi keahlian bahkan kurang membawa rewards yang sepadan tidak sebanding dengan pengorbanan memperolehnya. Pendidikan kerap dinilai gagal membawa manfaat langsung kenaikan penghasilan. Tetapi pendidikan adalah cara memenangkan kompetisi potensi karir. Seiring waktu, cakrawala jagad kesempatan terbuka lebih lebar bagi yang berpendidikan. Dalam banyak peristiwa tingkat pendidikan tak ubahnya bagaikan media alat pemasaran.

5. Menabung di Pemasaran Diri:
Pemasaran dihiasi berbagai media dan peraga tujuannya sederhana yakni untuk meningkatkan penjualan, mengenalkan produk dan kenaikan margin keuntungan. Bila itu diterapkan memasarkan potensi diri, akan berpotensi menaikkan penghasilan. Tokoh–tokoh populer gemilang menerapkannya. Cara berpakaian dan keunikan pakaian membawa nilai tersendiri. Tutur kata yang sopan serta kemampuan menelaah sudut pandang menjadi jalan karir.
Pakaian rapi tidak selalu identik harus mahal trendy buatan disainer ternama, cara berbicara tidak selalu harus dipenuhi istilah-istilah asing. Terlihat profesional dinilai cukup memadai dan menjadi patokan utama. Brosur, tool kits materi seminar, sarasehan kerap dimanfaatkan sebagai sarana memasarkan diri. Turut ikut pada program pelatihan lokakarya bahkan meniru orang ternama dinilai perlu, dan itu mengubah cara berpikir untuk bertumbuh. Memahami kutipan-kutipan sangat disarankan karena memperkaya upaya pengelolaan diri. Bagaimana memasarkan diri tak ubahnya bak sistim pemasaran produk.

6. Menabung di Waktu:
Bagaimana? ini gagasan gampang tetapi sulit karena kita ditantang untuk membagi dua puluh empat jam yang tersedia. Penyaluran bakat menjadi salah satunya, semisal bakat membaca atau menulis, tujuannya untuk memanfaatkan waktu ke hal-hal yang lebih utama. Bagi yang suka tantangan berbisnis tanpa mengganggu kegiatan pokok utama menjadi pilihan.

Bisnis Affiliasi adalah model bisnis yang mengagumkan, patut untuk dipertimbangkan sedari dini karena akan lebih menguntungkan. Di SFI, kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya. Menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain.

Demikian disadur dari berbagai sumber offline dan online. Ingatlah, tidak ada formula yang mujijat untuk berhasil, tetapi kegagalan adalah tahap awal keberhasilan. Yakinlah akan hal itu!
~Selamat berkarya!

Selasa, 06 Oktober 2015

eTALASe: Fokus Menembus Batas

eTALASe: Fokus Menembus Batas: Siapa bilang menjadi MILLIONERitu susah?: Tiap kita ingin menjadi millioner alasannya agar segalanya lebih mudah, agar semua terpenuhi. ...