"The best years of your life are the ones in which you decide your
problems are your own. You don't blame them on your mother, the ecology, or the
President. You realize that you control your own destiny."
~Albert Ellis
“Masa-masa terbaik dalam hidup Anda adalah saat Anda
memutuskan bahwa apa pun itu adalah permasalahan Anda sendiri. Anda tidak
menyalahkan Ibu Anda, tidak menyalahkan lingkungan bahkan tidak Presiden. Anda
mengakui bahwa Anda lah yang mengontrol nasib Anda sendiri”. Demikian dikutip
dari Albert Ellis
Kutipan diatas bak
mensahkan kesahihan pepatah ‘tiada gading yang tak retak’ artinya tiada sesuatu
apa pun yang sempurna. Seakan perintah untuk tiap kita sadar dan mengakui
keterbatasan diri. Yang berpendapat setuju, positif menerima kesahihannya, meyakini
tujuannya adalah mulia agar bisa melepaskan diri dari rongrongan perasaan
seakan paling tahu segala hal.
Pengakuan
keterbatasan diri dianggap wajar bahkan terkadang diharuskan. Tidak heran tingkat
kerusakan yang terjadi malah terlupakan oleh karena mengakui keterbatasan diri
dianggap layak mendapat pujian dan dianugrahi medali. Namun sebagian lain
berpendapat, menjadikan nya sebagai alasan dasar pembenaran untuk mengalah berhenti
berbuat lebih banyak lagi hal bermanfaat adalah kekeliruan. Itu adalah Tuna
penalaran!
Meminta orang lain
untuk menghindar dari hal-hal yang dianggap kurang dia pahami seakan membenarkan
tindakan pembiaran bahkan dibungkus dengan kata istilah ‘serahkan saja ke ahlinya’.
Ahli yang juga memiliki keterbatasan. Korban kecelakaan lalu lintas dapat
dijadikan contoh sederhana, menunggu petugas, menunggu ambulance seakan menjadi
keharusan dan melupakan perlunya tindakan P3K - segera.
Mempertandingkan keterbatasan
semarak dilakukan dibungkus kata: ‘kontes pemahaman’. Berbagai rupa perlombaan menjadi
portal pemisah antara yang pintar dengan yang tidak berkemampuan. Visi misi
bahkan dipertandingkan secara tidak senonoh. Bahkan jumlah follower dalam akun
nya dijadikan bak tolok ukur patokan kelayakan memimpin. Penilaian kompetensi
yang keliru, antusias diamini beramai-ramai.
Tuna pemahaman serta
pengertian keliru berkembang ke segala penjuru bahkan dinilai memerlukan keahlian
baru. Dibutuhkan Ahli yang dinilai mumpuni menilai sesuatu bahkan untuk menilai
tingkat kerusakan oleh akibat kekeliruan. Ketidakahlian dipertentangkan dengan keahlian
semu, tiap orang diliputi kebanggaan diri dadakan, masing-masing mensertifikasi
dirinya sendiri ‘cakap’ serta memiliki kompetensi yang mumpuni. Ahli nya para
ahli pun partus populer dikenal sebagai ‘Pakar Ahli’. Kekeliruan penalaran membawa
kemerosotan tak terhingga, hingga pengamalan hasil pendidikan kerap diperhadapkan
pada peradilan. Diputus vonis final mengikat: ‘keterbatasan adalah akar masalah
sumber awal bencana semesta jagad malapetaka’, demikian persidangan para pakar
ahli kompetensi. Pakar yang juga memiliki keterbatasan. Wah pelanggaran - tambah
keliru saja!
Tujuan hakiki perlunya
mengingatkan diri akan ‘keterbatasan diri’ menjadi terlupakan. Misteri kandungan
mulia dari pepatah tua menjadi sirna tenggelam oleh hiruk-pikuk keberhasilan
keterbatasan melahirkan sesuatu keterbatasan satu lainnya. Tindakan pembiaran
berkesinambungan telah berhasil menggiringnya melintasi pembatas tolok ukur keterbatasan.
Adakah cara efektif
untuk memusnahkannya? Tidak diperlukan jawaban yang benar, bahkan suatu
pertanyaan bisa merupakan jawaban yang benar. Masih kah kita sudi mengakui
keterbatasan? Kurang mulia kah kita jika bisa meyakinkan diri kita sebagai
orang yang paling memahami segala hal? Salah kah jika kita beranggapan bahwa diri
kita lah yang paling pintar? Banyak yang berkeyakinan seyogianya lah kita harus
sedemikian itu! Namanya ‘suka tahu’!
Kita tidak perlu mengakui
keterbatasan diri jika untuk menjadikannya alasan pembenaran untuk kita tenggelam
olehnya. Sepanjang mampu melampaui portal pembatas yang ada maka wajib untuk
kita bersabda bahwa kita tahu segalanya, paham akan tiap sesuatu - apa pun itu.
Sejatinya kita terlahir tanpa keterbatasan. Memusnahkan kepercayaan diri
akan keterbatasan diri adalah bagian dari perjuangan hidup, karena bukan
percaya diri yang seperti itu yang diperlukan untuk berhasil.
Kepercayaan diri atas keterbatasan diri adalah
sesuatu yang salah, karena mengurangi minat berkembang, bisnis afiliasi bisa memusnahkannya.
Kehandalan bisnis Afiliasi yang mengagumkan patut dipertimbangkan untuk
digeluti sedari dini. Tetapi hati-hati memilih tawaran bisnis online. Di SFI, kita dididik untuk berhasil denganmemberhasilkan orang satu lainnya. Diajarkan cara menghindari kesalahan yangmenghambat keberhasilan orang lain. Ingatlah akan satu hal, bahwa tidak ada formula
tokcer untuk berhasil, tetapi kegagalan adalah tahap awal keberhasilan. Dan yakinlah
akan hal itu!
~Selamat berkarya!



