Rabu, 02 Desember 2020

Bagaimana Cara Mendengarkan Secara Aktif?

Dunia kini dipenuhi berbagai bunyi-bunyian, itu adalah gangguan, itu yang membuat hubungan komunikasi secara umum menjadi terpengaruh hingga bahkan menjadi terganggu, secara online pun bukan jaminan lebih berkualitas.

Sekilas terbayang kisah nyata: 

“Beberapa saat yang lalu saya ngopi bareng bersama teman. Si teman menanyakan kegiatan saya disaat libur panjang Oktober 2020 yang lalu. Saya menceriterakannya, terlihat dia memperhatikannya. Tersenyum sembari mengangguk-angguk, sekilas saya melihat dia tengah melihat-lihat konten di ponselnya. Saya sadar dia ternyata tidak benar-benar mendengarkan tetapi asyik dengan ponselnya. Sejurus saya terdiam, agak lama, hingga kemudian terdengar dia perlahan berkata, 'maaf, saya tidak terlalu mendengarkan.” 

Mungkin Anda pernah mengalami hal yang sama. Ditanya, tetapi jawabannya tidak didengar. Mendengarkan secara aktif bukan cuma sekedar mendengar, tetapi benar-benar memperhatikan maksud yang disampaikan orang yang sedang berbicara. Dengarkan selengkapnya, jika ada gangguan - sekecil apa pun itu, Anda teralihkan, itu berarti Anda tidak mendengarkannya secara aktif. 

Saya terbayang jika saya juga sering melakukan hal yang kurang lebih sama. Saat seseorang menjelaskan sesuatu, saya teralihkan oleh suatu hal lainnya. Teralihkan oleh sesuatu yang sulit menjelaskan awal musababnya. Terjadi begitu saja, tanpa ada kekuatan yang bisa menghentikannya. Mungkin orang-orang pun kerap mengalami hal yang sama hingga perilaku serupa dianggap wajar. Apalagi di era teknologi dewasa ini, kekacauan bunyi-bunyian bahkan tak lagi terlalu dipermasalahkan.

Sering sekali dering ponsel orang-orang terdengar bernada sama. Jamak terjadi ditengah suasana hening mendengarkan penjelasan seseorang, ponsel berbunyi: “kring,,,,,tete..o..tet ...kring... tete..o...tet...!” Semua saling melotot, seolah mengingatkan agar yang bersangkutan segera mengangkat ponselnya. Sejurus kemudian terlihat semua orang bergegas memeriksa ponselnya masing-masing, ternyata, ponsel orang yang sedang berbicara. Pelanggaran! Semua tersenyum, terkesan lumrah, walau sewajarnya harus dihindarkan sesuai etika pergaulan. 

Seolah tidak lelah, konselor saya sering mengingatkan saya agar meningkatkan kemampuan mendengarkan secara aktif, tetapi ternyata hal itu tidak sesederhana penjelasannya. Serasa sulit untuk tidak otomatis menyambar ponsel  berdering saat tengah mendengar seseorang berbicara. Tanpa terkendali seketika merespon; Hello...I am fine, thanks. Hmh..and how are you! Etc.

Oleh konselor, saya diingatkan agar berusaha fokus ketika seseorang mengajak berbicara. Jangan terlalu mudah teralihkan oleh apa pun. Walau telah berusaha sebisanya, namun masih harus belajar lebih keras lagi. Mungkin Anda juga perlu mempertimbangkan untuk belajar meningkatkannya, demi untuk kebaikan bersama. 

Perlu disiplin untuk bisa berhasil menerapkannya.

Seharusnya ini mudah. Bahkan ketika saat rapat dibuka pun, hal ini kerap diingatkan agar peserta mematikan ponselnya atau agar disetel tanpa bunyi. Namun tetap saja, karena getaran ponsel “perrrrrtttt.....” apalagi jika diletakkan diatas meja, kerap terasa mengganggu. 

“Mendengarkan secara aktif” dapat diartikan bahwa kita fokus memperhatikan. Ini adalah bagian dari suatu proses panjang pertumbuhan kepribadian diri. Konon katanya, kemampuan “mendengarkan secara aktif” adalah pertanda kesehatan mental kita berkembang baik. Namun, jika sekiranya pun gagal fokus bukan berarti Anda dianggap tengah punya gangguan mental. Bukan itu!

Maksudnya adalah bahwa kita aktif mengikuti pembicaraan, apalagi tidak ada orang yang senang jika didiamkan. Walau sekedar menganggukkan kepala pun, Anda dimaknai mengikuti alur pembicaraan. Beberapa bahkan mengeluarkan kata-kata lirih seperti; “hmh... atau sip...uhs...., mungkin agar dianggap tekun mendengarkan. 

Kemampuan “Mendengarkan secara aktif” menjadi pertanda jika Anda memiliki keterampilan berkomunikasi. Anda dianggap bisa memahami apa yang dikehendaki, hingga bahkan dinilai mampu menyelesaikan tugas sesuai harapan pimpinan. Anda dianggap memiliki keterampilan interpersonal yang baik.

Kemampuan “Mendengarkan secara aktif” diperlukan ketika Anda diharuskan menemukan cara menyelesaikan sesuatu konflik atau permasalahan. Jika kemudian Anda merasa telah melakukannya, berarti Anda telah mengerti manfaatnya. Jika sekiranya belum, Anda bisa melanjutkan membaca. 

Bagaimana Caranya? 

Sebagai berikut: 

1. Perlihatkan Anda tengah mendengar
Perlihatkan mimik wajah serius jika Anda tekun mendengar. Sorot mata fokus tetapi tidak perlu mengambil posisi sedang mengkeker sasaran. Anda bisa mengeluarkan kata-kata lirih seperti; "hmm..." atau “ooh...”, menunjukkan Anda mengikuti alur pembicaraan, memperhatikan, dianggap jika Anda mengerti hal apa yang dibicarakan.
 

Sesekali bisa bertanya meminta klarifikasi, pertanda Anda tertarik. Tersenyum jika yang dibicarakan hal lucu atau tertawa geli, namun Anda harus menahan diri untuk tidak menangis meraung-raung jika itu tentang hal pilu menyayat hati. Bertindaklah yang wajar, jangan malah mengganggu.

Jaga bahasa tubuh, usahakan agar tetap terbuka. Pertanda, Anda mengikuti alur pembicaraan, sekaligus mendorong orang yang berbicara untuk melanjutkan hal yang ingin dia sampaikan. Membangun kesan agar si pembicara percaya diri melanjutkan apa yang ingin disampaikan. 

2. Perlihatkan Anda memperhatikan
Artinya, Anda perlu menyingkirkan segala potensi gangguan. Seperti, ponsel maupun ujung kuku jari-jari tangan Anda. Sesekali lakukan kontak mata, namun jangan malah melotot. Dengarkanlah baik-baik agar waktunya tidak malah tersia-sia.
 

Jika sekiranya hendak menyanggah, Anda harus bersabar hingga dia selesai berbicara. Jika tiap waktu Anda menyela, itu malah akan mengganggu. Kemampuan “Mendengarkan secara aktif” bukti pertanda bahwa Anda terkesan berjiwa satria, dewasa, bahkan walau jika berbeda pendapat pun Anda tetap bisa menguasai diri. 

3. Kemukakan Umpan Balik
Tanggapi dengan seksama, atau Anda bisa memberikan saran atau minta dia mengklarifikasi maksud dan tujuannya yang sebenarnya. Anda bisa menanggapi hal yang sama dengan cara yang berbeda, seperti: “saya juga merasakan hal yang sama”. Atau, “saya bisa mengerti akan hal itu”.

Untuk bisa leluasa berpendapat, Anda disarankan untuk meringkas hal-hal apa yang dibicarakannya, bisa dengan cara menuliskan atau meringkasnya didalam benak kepala Anda. 

Jika hal yang disampaikan mengenai sesuatu konflik, Anda perlu mengendalikan emosi, apalagi jika Anda tidak sependapat dengannya. Kuasai diri, setidaknya sampai ucapannya selesai. Itu adalah cara bijaksana menanggapi sudut pandang yang bertolak belakang dengan sudut pandang Anda. Tingkat kedewasaan Anda dipertaruhkan ditengah perbedaan pendapat. 

4. Jangan Menilai
Anda harus menghindari menggunakan kata-kata yang terkesan menilai seseorang berdasarkan kata-kata yang disampaikannya. Jika Anda bisa memberikan kesempatan yang cukup untuk seseorang mengatakan maksudnya maka Anda pun harus memberikan waktu yang cukup kepada diri Anda sendiri untuk merenungkan tujuan pembicaraannya. Jangan sekali-kali memotong orang yang berbicara dengan kata-kata yang argumentatif. Anda harus tetap berprasangka baik.
 

5. Hargai Orang Yang Berbicara
Hargai orang yang sedang berbicara, biarkan dia menyelesaikan kata-katanya. Jika sekiranya sudah waktunya untuk Anda berbicara, belajarlah menyampaikannya secara bijaksana, jangan memojokkannya tetapi tanggapilah dengan tetap menjaga kehormatannya.
 

Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin bagaimana diri Anda diperlakukan oleh orang lain. 

Saling menghormati menjadi kunci utama dalam berkomunikasi yang baik. Anda bisa mengajukan pertanyaan terbuka untuk membantu si pembicara mengembangkan kosa katanya, jangan malah terkesan melecehkannya. Misalnyal, jadi apa lagi yang perlu Anda lakukan? Kata-kata seperti itu dianggap lebih lunak daripada harus berkata, “jadi kau mau apa?”

Jika seseorang menanggapi ucapan Anda, bersabarlah mendengarkannya, setelahnya Anda bisa mengembangkan tanggapannya itu dengan cara mempertanyakan kembali tentang sesuatu yang sifatnya menguatkan bahwa Anda memahami tanggapannya. Tetapi tidak bermaksud menilainya buruk. 

Kecelakaan berkomunikasi adalah ketika Anda tidak sabar menunggu seseorang menyelesaikan kata-katanya. Jika kemudian Anda masih berminat menanggapi tanggapannya atas kata-katanya Anda sebelumnya, Anda bisa membangkitkan kapasitas orang yang menanggapi dengan cara unik. Misalnya, membagikan pengalaman Anda mengenai sesuatu peristiwa yang terkait dengan tanggapannya. Merangkainya dengan kosa-kata yang lugas, tidak melebar memanjang kemana-mana bagai mantra petaka memanggil bencana.

Membagikan pengalaman sendiri menjadi pertanda Anda memahami tanggapannya. Namun jangan malah menggurui atau berkata ketus bahwa yang dikatakannya tidak akan menghasilkan apa-apa. 

“Ingatlah, jangan menilai seseorang dari kata-katanya, atau Anda bakal senantiasa dinilai orang-orang disepanjang sisa perjalanan hidup Anda”.~Hotman Sihombing. 

Jika Anda bersabar mendengarkan seseorang hingga menyelesaikan kata-katanya, Anda akan dianggap telah memahaminya dengan cara bersabar. Itu menunjukkan jika tingkat kedewasaan Anda sudah mumpuni. Namun Anda perlu mewaspadai umpan balik verbal dari hal yang sebelumnya Anda sampaikan, atau Anda akan dinilai memojokkannya. 

Ikhtisar: 

1.   Perlihatkan jika Anda benar-benar memperhatikan hal yang dibicarakan. Bersabar mendengarkannya dengan menyingkirkan potensi gangguan yang mengganggu. 

2.   Anda bisa memberikan umpan balik tetapi bukan malah membanding-bandingkannya. Jangan pernah menilai, simpanlah penilaian Anda untuk diri Anda sendiri. Jangan kasih ke orang, kantongi saja. 

3.   Jangan menyela orang yang tengah berbicara atau Anda akan disela orang-orang ketika sedang berbicara hingga bahkan ketika Anda lagi sedang berdoa. 

4.   Tunggulah sampai orang yang berbicara selesai, sebelum menanggapinya. Mungkin Anda bisa mengembangkan kata-katanya dengan membagikan pengalaman diri sendiri, namun tidak untuk memojokkannya. Jangan mencela atau malah menjurus menghinanya. 

5.   Hindarkan kata-kata yang argumentatif, tunjukkan jika Anda mengerti konteks yang dibicarakan.

Konon katanya, setengah perjuangan hidup kita adalah jika kita mampu menyadari kesalahan apa yang kita perbuat, dan kita berusaha memperbaikinya.

Sayangnya, kesalahan yang terjadi kebanyakan berawal dari kata-kata kita sendiri, atau bermula dari kata-kata orang lain yang kita artikan secara sembarangan hingga malah menyimpang dari tujuan awal - yang sebenarnya. 

Karenanya, kita harus benar-benar berusaha untuk bisa memahami kata-kata orang lain dan berharap agar orang lain berusaha memahami kata-kata kita. Para pihak, masing-masing akan berusaha untuk saling membangun pengertian untuk bisa bagaimana agar saling memahami satu sama lain, itu adalah merupakan cara terbaik didalam membangun hubungan baik.

Dengan berusaha “mendengarkan secara aktif”, Anda membangun kesan bahwa Anda tidak mengabaikan kata-kata orang satu lainnya.


 “Belajar mendengarkan orang lain dengan cara yang paling benar akan menjadi pelajaran yang paling berharga walau tidak akan pernah mendapatkan sertifikat tanda bukti kelulusan.”~Hotman Sihombing

Disadur dari: https://dailylife.com/article/how-to-improve-your-active-listening, September 02, 2019