Minggu, 09 Juni 2019

MEDIA SOSIAL RACUN KEKACAUAN DUNIA

“Don't be afraid to surround yourself with people who know things or are better at things that you aren't, whether that's a mentor, business coach or an employee”.
~Ann Smith, president, A.wordsmith

Sulit menyadari bahwa kini kita hidup di tengah kekacauan dunia. Hal baik dan hal buruk silih berganti terjadi setiap hari, terkadang kita bahkan gagal memisahkan keduanya.

Kecanduan akan posting-posting bernada mengejutkan, baik di Media Sosial atau Media mainstream.

Beberapa menyantapnya bagai suplemen, sarapan pagi sembari membolak-balik timeline Facebook, Instagram, Twitter. Mencari-cari posting pelecehan intelektualitas diri. Gosip selebritis paling laris.

Kita sadar itu tak baik untuk asupan rohani tetapi kita suka dan menyukainya.

Memang ada posting-posting yang berguna semisal tentang peristiwa di kota tempat kerabat bertempat tinggal. Atau peristiwa di lokasi kerabat tengah berlibur.

Beberapa mungkin tentang gosip yang wajib kita ketahui agar tidak terkucil di kantor atau setidaknya membuktikan kita tahu informasi paling muktahir up-to-date.

Walau kita sadar bahwa gossip lebih banyak mudaratnya daripada maslahatnya namun situasi seolah memaksa untuk kita melahap nya. Kita juga tahu itu beracun tetapi kita diwajibkan situasi untuk berkomentar.

RACUN CANDU MEDSOS:
Tak kuasa kita telah terpapar dampak racun kecanduan sosial media, tetapi kita membantah.

Mari bertanya ke diri sendiri:

Begitu bangun tidur apakah Anda terlebih dahulu memeriksa Gadget atau minum air putih? Apakah sekaligus melakukan keduanya?

Konon katanya, itu menjadi bukti pertanda jika Anda telah terpapar racun Media Sosial.

Jujurlah, pastikan sendiri, apakah menjelang tidur Anda mematikan Gadget atau tertidur bersamanya?

Konon katanya, jika Anda terlelap bersama-sama dengan Gadget Anda, Anda telah terpapar racun Medsos. Berhati-hatilah! sudah waktunya untuk membatasi diri sebelum membahayakan diri atau keluarga.

Tak mengapa, jika Anda hanya setengah percaya, atau membantah. Itu hak Anda. Ini tentang Anda.

Barangkali Anda berdalih, Gadget hanya Anda gunakan dua jam setiap hari. Satu jam saat istirahat makan siang, satu jam saat menunggu jam pulang kerja. Jika pun lebih, itu karena iseng melihat-lihat timeline Facebook.

Mungkin Anda tak yakin berapa jam saat diperjalanan menuju tempat kerja, dan saat kembali pulang ke rumah, setiap hari. Berapa jam sebelum tertidur.

Tetapi Anda jujur menyadari bahwa tidak merasa diri lebih baik walau telah berjam-jam scrolling membolak-balik timeline Facebook, Instagram, atau twitter.

Anda jujur mengakuinya, itu permulaan yang baik. Dan berdalih, orang-orang juga melakukan hal yang sama dan mereka baik-baik saja.
Betul, walau itu juga tak betul.

RACUN MEMBANDING-BANDINGKAN DIRI:
Kita kerap terpancing membanding-bandingkan perilaku diri dengan orang lain, itu adalah racun kehidupan.

Kita suka menonton kehidupan keluarga orang yang di upload dipertontonkan, dan kita terpancing membanding-bandingkannya dengan kehidupan diri sendiri.

Kenapa begitu?

Heran jika orang-orang terlihat mudah menjadi kaya, sedangkan kita terus saja kekurangan. Kenapa-kah?

Orang-orang yang hidupnya berkecukupan terlihat lebih bahagia, berlibur ke tempat-tempat wisata, kelelahan menghabiskan uangnya.

Hidup mereka terlihat sempurna, berbeda dengan kita yang kerap mengeluh saat tunjangan kehadiran dipotong karena bolos tidak kerja. Uang makan dipotong karena terlambat masuk kerja.

Dua kali terlambat, hati was-was dapat Surat Peringatan.
Sekali lagi terlambat bakal PHK.

Kehidupan orang-orang kaya di sosial media terlihat tak terbebani dengan kenaikan beban listrik. Berbeda dengan token listrik di rumah yang senantiasa berbunyi minta asupan pulsa.

Mereka terlihat tak terlalu pusing akan kuota pulsa, rajin nge-Vlog, setiap saat siaran “live streaming”, berbeda dengan kita, tidak bisa men-download, harus irit kuota.

Orang-orang itu punya segalanya, sedangkan kita tak boleh lelah berharap dan berharap agar dapat tempat duduk di Trans Jakarta.

Orang-orang itu terlihat begitu mewah, jauh berbeda dengan kita yang sedari dini hari sudah bergegas siap-siap berdiri berjejalan di Kereta Api komuter menuju tempat kerja. Hal yang sama terjadi saat pulang ke rumah.

Tiap hari begitu, sedari tahun ke tahun, penghasilan tetap pas, bersyukur cukup ke akhir bulan.

Kenapa hidup mereka terlihat begitu mudah? Kenapa hidup kita begitu susah?

Tak lelah Anda menonton sajian kisah hidup mereka. Tak terbesit pikiran untuk mencari tahu realitasnya, benarkah seperti postingan di Timeline?

Kian terperosok membanding-bandingkan. Ketidaktahuan membuat kita terlelap oleh sajian unggahan kemewahan.

Beberapa terpancing pemikiran sesat, jika mereka bisa kenapa kita tidak? Pastinya kita bisa juga. Hingga akhirnya terperosok menjauhi norma tatanan sosial.

Bagaimana mereka bisa mewah, ganti mobil tiap waktu, Anda tak pernah berpikir hal apa yang diperbuat untuk mendanai gaya hidup fantastis seperti begitu itu? Harus gonta-ganti pasangan kah agar kebagian jatah pelesir ke tempat-tempat mewah?

Mungkin iya, mungkin juga tidak! 

Tergantung telur masing-masing.

Lajimnya, penghasilan yang didapat dengan bercucuran keringat lebih bijaksana penggunaannya. Pakai akal sehat membelanjakannya. Apakah mereka tidak punya akal sehat?
Tidak juga.

Sesat pemikiran akan memancing kesesatan hidup.

Terkadang melihat unggahan aktivitas orang-orang yang bisa jadi kita kenal menjadikan kita merasa rendah diri.

Perasaan memburuk. Terpancing memelihara pikiran negatif tentang kemampuan diri.

Karenanya jangan suka membanding-bandingkan diri.

Itu Beracun!

RACUN KERASUKAN ENERJI NEGATIF:
Terkadang kita tak sadar jika enerji negatif telah masuk menyelinap merasuki akal sehat dan malah bersemangat memeliharanya.

Membuat kecanduan menonton kehidupan orang-orang, beberapa malah dijadikan ukuran sukses keberhasilan.

Pikiran menjadi serong, bahwa orang-orang sukses itu makan di restoran, jangan sampai terlihat nongkrong makan pecel lele di warung tenda pinggir jalan.

Menjadi jauh dari nikmat kebebasan hidup. Menjadi abai dan melecehkan nikmat kehidupan pribadi. 

Pelanggaran!

Jika yang di upload tentang kehancuran hidup seseorang kita tak lagi empati bersimpati, tetapi menanggapi miring. Kita tak sadar, itu malah membuat hancur hidup orang itu.

Hancur!

Kerasukan enerji negatif menjadikan ketagihan menonton kisah kehidupan orang-orang hingga lupa akan nikmat kehidupan sendiri. Tetapi tidak menjadikan diri kita menjadi lebih baik dari orang itu. Hanya kita harus jujur untuk bisa mengakuinya.

Mari lihat lebih jauh efek dari kerasukan enerji negatif:

Ketika mendapatkan informasi yang di upload tentang tragedi suatu keluarga, apakah kita tahu kejadiannya? Tentu tidak! Yang kita ketahui hanya sebatas informasi yang di upload orang-orang.

Tetapi itu membuat kita seolah terlibat, cenderung menilai negatif perilaku orang-orang yang kita tidak kenal. Berkomentar malah menghakimi korban, kita malah berempati ke si pelaku kejahatan.

Saya ragu, jika Anda mengatakan bahwa itu menjadikan hidup Anda bertambah baik? Tetapi tidak meragu untuk menyatakan bahwa kejadian itu menjadi bukti pertanda bahwa aktivitas Sosial Media mengusung enerji negatif.

Membuat tatanan sosial kehidupan terlihat memburuk.

WAKTU TERSITA ENERJI NEGATIF:
“The Law of Attraction doesn’t care whether you perceive something to be good or bad, or whether you don’t want it or whether you do want it. It’s responding to your thought”, and, “That’s what you’re going to get more of.”
~Bob Doyle, The Secret

Waktu habis tersita enerji negatif, tak sadar kita malah berupaya memancing kehadirannya. Hidup tersia-sia, kian jauh dari manfaat dan kemanfaatannya.

Menurut Bob Doyle, Hukum tarik-menarik tidak peduli apakah Anda menganggap sesuatu itu baik atau buruk, apakah Anda menginginkannya atau tidak. Semua yang terjadi mengikutkan isi pemikiran, akhirnya kian banyak yang akan terjadi - menimpa.

Jika Anda membiarkan hal-hal negatif merasuki pemikiran, itu akan memancing timbulnya berbagai pemikiran negatif lainnya. 

Hidup akan terus-menerus dipenuhi hal-hal negatif, hingga Anda tak lagi mempersoalkannya. Dijejali pemikiran negatif orang-orang membuat hidup tersia-sia.

Kita kerap mengeluh tidak punya waktu untuk tiap hal. Alasan tersita oleh kemacetan jalan dan beban pekerjaan. Lelah memaksa ingin istirahat hingga tak cukup waktu untuk bercengkrama dengan anggota keluarga.

Beberapa mungkin harus bekerja hingga belasan jam, setiap hari begitu hingga tidur pun terbatas, mengeluh kurang istirahat.

Namun, bisa aktif di Media Sosial. Waktu tersita membuat Anda abai akan masa depan yang lebih baik.

Waktu produktif tersita enerji negatif, sirna percuma oleh kekacauan dunia.

KEDAMAIAN BATIN HILANG TAK TERSISA:
Walau kita sadar tak ada kaitan dengan tiap berita yang berseliweran di upload di timeline Facebook, Twitter, Instagram, tetapi dorongan rasa ingin tahu membuat kita tak kuasa menghindar.

Rasa ingin tahu membuat kita seolah tahu tiap hal, berperangai seolah tahu peristiwa dunia.

Bangga ada orang-orang yang secara teratur meng-upload informasi yang kita perlu ketahui. Hingga walau tidak dibayar kita juga setia memuktahirkan informasi.

Mungkin itu tak salah. Namun, tidak seyogianya kita turut serta memuktahirkan informasi kekacauan dunia, jauh lebih bermanfaat jika kita memuktahirkan kehidupan sendiri.

Tahu setiap hal akan membuat kita hidup gelisah.

Hilang kedamaian hati.

MENEMUKAN KEDAMAIAN BATIN YANG HILANG:
Perlu bersungguh-sungguh mengatur waktu setidaknya terbebas dari gangguan informasi.

Dewasa ini, serasa kian sulit menemukan waktu tenang.

Mungkin kita perlu memblokir diri dari informasi tentang kekacauan dunia. Di jam-jam tertentu, di hari tertentu, blokir diri dari Gadget, hidup tanpa Whatsapp, tanpa Facebook, tanpa Twitter, tanpa internet.

Banyak hal yang tidak memerlukan internet. Nikmat kopi tak berkurang tanpa Gadget. Berupaya agar bisa terbebas dari beban rencana kerja, skedul rapat, proposal proyek, dll.

Mungkin, meditasi bisa berdampak positif.

Tak mengapa, jika saran diatas terdengar berlebihan, tetapi tidak apa-apa juga, jika sekiranya sudi mengikuti.

Tak apa-apa jika Anda mendebat bahwa membiarkan Televisi hidup sembari melakukan sesuatu tak membuat Anda terganggu.

Namun tak apa-apa juga jika mengakui bahwa tayangan acara apa pun itu, secara perlahan akan menyerap enerji emosi diri. Tetapi Anda tak perlu membanting hancur Televisi Anda.

Ini tentang rasa nyaman memelihara tingkat enerji emosi diri. Namun, apakah itu memungkinkan?

Ini tentang upaya Anda membebaskan perhatian dari informasi tentang kekacauan dunia.

Demi mendapatkan kembali privasi kehidupan pribadi yang hilang terutama karena internet sukses merangsek menerobos ruang-ruang paling pribadi.

Tak soal jika Anda belum merasakannya? Bagaimanapun diperlukan keseimbangan alam kehidupan, hingga tak lagi perlu terlompat saat bangun tidur hanya karena teringat belum memeriksa inbox email.

Tak lagi perlu menunda makan siang hanya karena seseorang meng-upload sesuatu di Timeline Facebook.

Tak lagi perlu menunda jam pulang kerja hanya karena melihat-lihat terbaru di Instagram.

Tak lagi perlu menjadi tak tidur karena gossip di grup Whatsapp atau membalas Telegram teman.

Bagaimanapun ada sendi-sendi privasi kehidupan yang kini terganggu karena Wifi sudah sampai Toilet, apalagi sebagian kita rindu ketenangan hidup.

Walau terdengar sinis, tetapi mungkin keinginan itu juga bersemayam di lubuk hati sanubari Anda.

“Everyone is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”
~Albert Einstein

~Salam Kacau selalu! 
 MyMan

-->