Terancam bahaya apakah jika kita beramai-ramai mengamini suatu kebohongan?
Apa pula kerugian kita, jika kita diam saja melihat kebohongan dibenarkan?
Bukankah Palu Kebenaran Penegak Keadilan, berada ditangan para Hakim yang dikenal sebagai orang-orang yang memiliki integritas tinggi?
Bukankah Palu Kebenaran Penegak Keadilan, berada ditangan para Hakim yang dikenal sebagai orang-orang yang memiliki integritas tinggi?
Ini bukan hanya tentang dampaknya yang mengakibatkan kita menjauh dari kebenaran, bukan hanya itu. Lebih fatal lagi.
Ini tentang kebohongan yang dipaksakan sebagai kebenaran. Akibatnya, secara perlahan-lahan kita tak lagi percaya pada kebenaran sejati. Selamanya begitu.
Kita menjadi abai akan harapan menemukan kebenaran. Tak lagi kita bisa mengenali kebenaran. Tak lagi peduli akan prinsip kebenaran. Lebih memilih diam, berpuas diri dengan rupa ragam corak kebohongan.
Ini tentang kebohongan yang dipaksakan sebagai kebenaran. Akibatnya, secara perlahan-lahan kita tak lagi percaya pada kebenaran sejati. Selamanya begitu.
Kita menjadi abai akan harapan menemukan kebenaran. Tak lagi kita bisa mengenali kebenaran. Tak lagi peduli akan prinsip kebenaran. Lebih memilih diam, berpuas diri dengan rupa ragam corak kebohongan.
Walau sebagian diri kita berbisik mengingatkan bahwa itu adalah kebohongan, tetapi bagian terbesarnya tak lagi berminat mempersoalkannya. Sudah tak lagi berharap akan kebenaran sejati. Urat nadi kesejatian jati diri sebagai anak manusia yang hakikatnya mencintai ketulusan jiwa mengusung kebenaran telah putus. Tak lagi tertarik menjunjung tinggi prinsip kebenaran.
Mengisi sisa perjalanan hidup dalam bingkai kebohongan. Kita telah turut serta membenarkan suatu kebohongan, dan mewariskannya ke anak cucu kita. Bisakah Anda membayangkan bahayanya?
Moga-moga Anda bisa menangkap bau najis pada warisan yang kelak akan diwariskan ke anak bangsa tercinta.
Terus bagaimana selanjutnya?Apa yang bisa kita lakukan?
Ini bukan tentang siapa yang paling benar, bukan tentang menjadi pahlawan pem-benar, tetapi tentang siapa yang harus dipersalahkan? Ini tentang bahaya laten terpapar dampak racun kebohongan!
Mengisi sisa perjalanan hidup dalam bingkai kebohongan. Kita telah turut serta membenarkan suatu kebohongan, dan mewariskannya ke anak cucu kita. Bisakah Anda membayangkan bahayanya?
Moga-moga Anda bisa menangkap bau najis pada warisan yang kelak akan diwariskan ke anak bangsa tercinta.
Terus bagaimana selanjutnya?Apa yang bisa kita lakukan?
Ini bukan tentang siapa yang paling benar, bukan tentang menjadi pahlawan pem-benar, tetapi tentang siapa yang harus dipersalahkan? Ini tentang bahaya laten terpapar dampak racun kebohongan!
Mungkin Anda masih ingat peristiwa Chernobyl bencana nuklir yang mengguncang seantero dunia. Atau mungkin Anda pernah menonton tayangan mini seri tentangnya di saluran HBO. Mungkin Anda masih ingat bagaimana dikisahkan Valery Legasov sang Ketua Komisi penyelidik bencana itu berakhir bunuh diri.
Ini bukan tentang pelaku kebohongan sebagai yang paling bertanggung jawab harus pula bunuh diri! Ini juga bukan tentang jika kematian menjadikan segalanya selesai. Sudah mati, habis perkara! Tetapi, ini tentang skenario kucuran informasi dari raksasa teknologi informasi, yang kesemuanya nyaris punya narasi yang sama.
Tindak-tanduknya nyaris semuanya senada, bahwa kebohongan akan diselesaikan dengan upaya mem-framing seseorang. Orang ini harus disalahkan! Semua pemberitaan fokus, berjudul inilah orang yang paling bertanggungjawab.
Ini bukan tentang pelaku kebohongan sebagai yang paling bertanggung jawab harus pula bunuh diri! Ini juga bukan tentang jika kematian menjadikan segalanya selesai. Sudah mati, habis perkara! Tetapi, ini tentang skenario kucuran informasi dari raksasa teknologi informasi, yang kesemuanya nyaris punya narasi yang sama.
Tindak-tanduknya nyaris semuanya senada, bahwa kebohongan akan diselesaikan dengan upaya mem-framing seseorang. Orang ini harus disalahkan! Semua pemberitaan fokus, berjudul inilah orang yang paling bertanggungjawab.
Perkara selesai! Tetapi, betulkah akan sedemikian itu?
Tanpa daya orang yang disasar tak kuasa membantah, bahkan walau diberi kesempatan membela diri serta didampingi ahli-ahli hukum, tetap tak berdaya.
Apakah harus dipersalahkan(?). Dijawab mudah, Benar! Dia harus bertanggungjawab! Semua Berita isinya sama. Televisi serta semua media offline serta online. Kita tak kuasa jika harus membantah sang penguasa!
Tanpa daya orang yang disasar tak kuasa membantah, bahkan walau diberi kesempatan membela diri serta didampingi ahli-ahli hukum, tetap tak berdaya.
Apakah harus dipersalahkan(?). Dijawab mudah, Benar! Dia harus bertanggungjawab! Semua Berita isinya sama. Televisi serta semua media offline serta online. Kita tak kuasa jika harus membantah sang penguasa!
Ini tentang ketidakberdayaan kala ketika diperhadapkan pada raksasa teknologi informasi, yang punya posisi sempurna mengatur ruang waktu peristiwa. Memanipulasi, sesuai sumber dari instansi terpercaya.
Tak guna membantah kapabilitas instansi-instansi yang membenarkannya, diberitakan di media mainstream, atau Anda akan dicap gila. Dianggap depressi, akan dimintai pernyataan menyesal atau mungkin harus bunuh diri pula?
Tak guna membantah kapabilitas instansi-instansi yang membenarkannya, diberitakan di media mainstream, atau Anda akan dicap gila. Dianggap depressi, akan dimintai pernyataan menyesal atau mungkin harus bunuh diri pula?
Ini tentang dunia nyata, dimana kehidupan nyata, ternyata, nyata-nyata bukan hanya kita yang punya. Dan itu nyata. Benar-benar nyata!
Ini tentang raksasa teknologi informasi yang berakibat dahsyat jika difungsikan untuk mencetak masalah, dalam waktu singkat bakal menjadi masalah. Sama halnya, jika ia difungsikan menyelesaikan masalah. Apa pun itu, akan selesai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Ini tentang kedigdayaan perangkat hukum dan konsep tatanan masyarakat terlihat merana tak berdaya kala berhadapan dengan raksasa teknologi informasi, apalagi kala menghadapi ekses yang ditimbulkannya.
Pastinya kini Anda bisa menangkap isyarat ini!
Ini tentang upaya bagaimana membungkam kedigdayaan teknologi informasi yang berlagak bagai makhluk paling tahu. Makhluk yang tahu tentang permasalahan kebohongan ciptaannya, dan yang paling mumpuni menyelesaikannya.
Ini tentang kegilaan yang dimungkinkan timbul kala teknologi raksasa informasi berada dalam genggaman kontrol orang-per-orang. Dikendalikan oleh kelompok yang gila kekuasaan, yang gila akan kebenaran menurut versinya.
Gila berbohong, bahkan tergila-gila akan kebohongannya. Kala terungkap, kian menggila mempertontonkan, hingga akhirnya, semua berakhir pada satu kata: “tindas, mereka-mereka inilah pihak yang bertanggung jawab”.
Sangat memungkinkan bagi penguasa pemegang kendali teknologi informasi untuk menyetir kebenaran sesukanya, bahkan menurut maunya. Mencipta kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lama, begitu itu seterusnya. Dan kita hidup di tengah-tengah pusaran itu. Dan kelak kita akan mewariskannya ke anak cucu kita.
Kini Anda paham yang dimaksudkan!
Ketahuilah, keterbatasan Anda dan saya terlihat kian melemah kala ketika dipertontonkan oleh raksasa teknologi informasi, bisa berupa Facebook, Twitter, Instagram, Google, serta rupa-rupa jenis media sosial lainnya. Kian memburuk ketika digoreng oleh media mainstream. Secara perlahan, maka punah lah kebenaran sejati.
Tak juga kah Anda bisa menangkapnya?
Bagaimanapun kita telah diingatkan bahwa dalam hidup ini tiap kita akan berhadapan dengan tirani algoritma teknologi. Sia-sia berupaya menentang teknologi informasi itu. Begitu-kah? Entahlah!
Versi terbaiknya, telah difungsikan sesuai tujuan semula. Yakni memudahkan urusan peningkatan pendidikan, memudahkan perdagangan, memudahkan transaksi keuangan, memudahkan riset dan penelitian.
Menambah pengetahuan tentang tatanan sosial, bahkan membuat kita populer dalam pergaulan sosial. Membuat kita terlihat lebih hebat dari yang sebenarnya, lebih sukses dari yang sebenarnya. Semuanya kian menyadarkan kita akan ketidakmampuan kita.
Walau hati sanubari tahu bahwa kita punya perangkat hukum, punya perangkat tatanan sosial serta punya prinsip yang hidup ditengah-tengah masyarakat, namun terkadang malah menjadi lelucon kala berhadapan dengan raksasa teknologi informasi.
Apakah pihak penunggang raksasa teknologi informasi itu yang pegang kendali tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara? Tentang ini Anda boleh setuju atau bahkan mendebatnya.
Kini kita hidup dalam zaman setengah kebenaran. Fokus pada konsep “harus menyalahkan siapa?”. Kita tak lagi berminat pada jawaban yang benar, tak lagi tertarik pada solusi.
Jika dulu kebohongan kerap dianggap melekat pada sekelompok orang licik mempertahankan kekuasaannya, ternyata jauh di sanubari, kelicikan itu juga bersemayam di diri, dan kita bangga merawatnya.
Ini tentang raksasa teknologi informasi yang berakibat dahsyat jika difungsikan untuk mencetak masalah, dalam waktu singkat bakal menjadi masalah. Sama halnya, jika ia difungsikan menyelesaikan masalah. Apa pun itu, akan selesai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Ini tentang kedigdayaan perangkat hukum dan konsep tatanan masyarakat terlihat merana tak berdaya kala berhadapan dengan raksasa teknologi informasi, apalagi kala menghadapi ekses yang ditimbulkannya.
Pastinya kini Anda bisa menangkap isyarat ini!
Ini tentang upaya bagaimana membungkam kedigdayaan teknologi informasi yang berlagak bagai makhluk paling tahu. Makhluk yang tahu tentang permasalahan kebohongan ciptaannya, dan yang paling mumpuni menyelesaikannya.
Ini tentang kegilaan yang dimungkinkan timbul kala teknologi raksasa informasi berada dalam genggaman kontrol orang-per-orang. Dikendalikan oleh kelompok yang gila kekuasaan, yang gila akan kebenaran menurut versinya.
Gila berbohong, bahkan tergila-gila akan kebohongannya. Kala terungkap, kian menggila mempertontonkan, hingga akhirnya, semua berakhir pada satu kata: “tindas, mereka-mereka inilah pihak yang bertanggung jawab”.
Sangat memungkinkan bagi penguasa pemegang kendali teknologi informasi untuk menyetir kebenaran sesukanya, bahkan menurut maunya. Mencipta kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lama, begitu itu seterusnya. Dan kita hidup di tengah-tengah pusaran itu. Dan kelak kita akan mewariskannya ke anak cucu kita.
Kini Anda paham yang dimaksudkan!
Ketahuilah, keterbatasan Anda dan saya terlihat kian melemah kala ketika dipertontonkan oleh raksasa teknologi informasi, bisa berupa Facebook, Twitter, Instagram, Google, serta rupa-rupa jenis media sosial lainnya. Kian memburuk ketika digoreng oleh media mainstream. Secara perlahan, maka punah lah kebenaran sejati.
Tak juga kah Anda bisa menangkapnya?
Bagaimanapun kita telah diingatkan bahwa dalam hidup ini tiap kita akan berhadapan dengan tirani algoritma teknologi. Sia-sia berupaya menentang teknologi informasi itu. Begitu-kah? Entahlah!
Versi terbaiknya, telah difungsikan sesuai tujuan semula. Yakni memudahkan urusan peningkatan pendidikan, memudahkan perdagangan, memudahkan transaksi keuangan, memudahkan riset dan penelitian.
Menambah pengetahuan tentang tatanan sosial, bahkan membuat kita populer dalam pergaulan sosial. Membuat kita terlihat lebih hebat dari yang sebenarnya, lebih sukses dari yang sebenarnya. Semuanya kian menyadarkan kita akan ketidakmampuan kita.
Walau hati sanubari tahu bahwa kita punya perangkat hukum, punya perangkat tatanan sosial serta punya prinsip yang hidup ditengah-tengah masyarakat, namun terkadang malah menjadi lelucon kala berhadapan dengan raksasa teknologi informasi.
Apakah pihak penunggang raksasa teknologi informasi itu yang pegang kendali tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara? Tentang ini Anda boleh setuju atau bahkan mendebatnya.
Kini kita hidup dalam zaman setengah kebenaran. Fokus pada konsep “harus menyalahkan siapa?”. Kita tak lagi berminat pada jawaban yang benar, tak lagi tertarik pada solusi.
Jika dulu kebohongan kerap dianggap melekat pada sekelompok orang licik mempertahankan kekuasaannya, ternyata jauh di sanubari, kelicikan itu juga bersemayam di diri, dan kita bangga merawatnya.
“We are struggling with the global war on the truth”.
~Craig Mazin, the writer of Chernobyl
Menurutnya, kini kita hidup di tengah-tengah dunia yang tengah berjuang dalam perang global tentang kebenaran. Bagaimana para ilmuwan terlihat kerap diejek, diragukan kebenaran yang diusungnya.
Kerap terlihat pendapatnya dibenturkan dengan pendapat para pakar ahli yang telah jinak jiwa raganya, tak lagi kukuh mengusung mempertahankan semangat kebenarannya. Dan kita menderita karenanya!
Mari lihat, PERISTIWA KEBAKARAN HUTAN:
Mari lihat, PERISTIWA KEBAKARAN HUTAN:
Betapa dahsyat meluluh-lantakkan kehidupan satwa dan marga penghuni rimba raya. Menghanguskan benih mata air sumber relung-relung alur sungai yang dikenal mengalir sampai ke laut. Menjadi kering kerontang.
Kini berbagai wilayah menderita kekeringan kala kemarau, tetapi menderita kebanjiran di musim hujan. Beberapa bahkan telah menjadikan musibah banjir bagai kegiatan rutin yang dijadwalkan mesti dilewati pada musim tertentu. Sepanjang tahun begitu itu.
Dan ketika pembakaran hutan didesak untuk dihentikan, terlihat masyarakat kecil yang menjadi korban. Sebagai peladang yang berpindah-pindah, dihukum dikenai pasal tuduhan telah melakukan pembakaran hutan di lokasi perladangan baru. Aneh-kah?
Nelangsa, ada kelompok masyarakat ikut menyalahkan. Namun, si peladang tak surut paham, mengapa kah? Itu sudah dilakukan sejak Indonesia belum ada.
Namun, kala ketika sejumlah perusahaan perkebunan di kenai hukuman Denda karena membakar hutan untuk membuka lahan perkebunannya, tak terdengar suara sumbang. Lambat laun berita kebakaran hutan perlahan menghilang, terutama karena masyarakat telah disibukkan lagi dengan berbagai kisah-kisah sedih lainnya. Aneh-kah?
Kini berbagai wilayah menderita kekeringan kala kemarau, tetapi menderita kebanjiran di musim hujan. Beberapa bahkan telah menjadikan musibah banjir bagai kegiatan rutin yang dijadwalkan mesti dilewati pada musim tertentu. Sepanjang tahun begitu itu.
Dan ketika pembakaran hutan didesak untuk dihentikan, terlihat masyarakat kecil yang menjadi korban. Sebagai peladang yang berpindah-pindah, dihukum dikenai pasal tuduhan telah melakukan pembakaran hutan di lokasi perladangan baru. Aneh-kah?
Nelangsa, ada kelompok masyarakat ikut menyalahkan. Namun, si peladang tak surut paham, mengapa kah? Itu sudah dilakukan sejak Indonesia belum ada.
Namun, kala ketika sejumlah perusahaan perkebunan di kenai hukuman Denda karena membakar hutan untuk membuka lahan perkebunannya, tak terdengar suara sumbang. Lambat laun berita kebakaran hutan perlahan menghilang, terutama karena masyarakat telah disibukkan lagi dengan berbagai kisah-kisah sedih lainnya. Aneh-kah?
Mari lihat, ANCAMAN MUSIBAH TSUNAMI:
Ketika didengungkan potensi dampak perubahan iklim yang mengancam, diputuskan untuk melindungi Anak bangsa dengan sains dilengkapi peralatan teknologi tinggi.
Waspada akan ancaman Tsunami serta gelombang laut.
Waspada akan ancaman Tsunami serta gelombang laut.
Tak berselang lama, sekelompok politisi penjilat penguasa berhasil meyakinkan penguasa hingga kebijakan kemudian dibatalkan. Alasan, penghematan Anggaran Belanja.
Semua sontak kaget kala disuguhi berita peristiwa kemarahan alam, begitu dahsyat, ribuan korban jiwa. Anehnya, tak terdengar ada kelompok yang menyesalkan pembatalan kebijakan upaya perlindungan anak bangsa. Tak pula terdengar ada upaya menyadarkan penguasa lalim, bahwa tindakan tak terpuji seperti itu tak akan membuatnya berkuasa hingga seribu tahun.
Perlahan akan menua, tutup usia. Mewariskan kehidupan ini ke anak cucunya. Dengan catatan pernah terjadi musibah kelam yang sejatinya bisa diantisipasi, jika saja – jika saja, dan seterusnya.
Bagaimanapun telah tercatat pada lembaran sejarah peradaban bahwa perubahan iklim telah menyebabkan kekeringan serta kelaparan hingga membinasakan kejayaan Romawi dan Inggris Raya. Konflik kawasan regional hingga peperangan antar bangsa bisa terjadi karena diakibatkan perubahan iklim.
Menyangkal kebenaran bukanlah solusi!
Meninggalkan sain dan teknologi juga bukan jawaban.
Menjadi penguasa wajib berkemampuan mengantisipasi dan menangani dampak akibat perubahan iklim, atau akan tertimpa musibah. Sayangnya, penguasa kini cenderung memilih solusi yang salah, terlihat kukuh bersikeras membangun mufakat yang salah, bahwa itu sepenuhnya adalah kesalahan anu dan nganu-nganu.
Hingga akhirnya dicarilah seseorang untuk disalahkan. Itu yang menjadi solusi trendy di abad teknologi informasi.
Karena si Anu salah nganu! menjadi jalan keluar paling mumpuni dewasa ini.
Semua sontak kaget kala disuguhi berita peristiwa kemarahan alam, begitu dahsyat, ribuan korban jiwa. Anehnya, tak terdengar ada kelompok yang menyesalkan pembatalan kebijakan upaya perlindungan anak bangsa. Tak pula terdengar ada upaya menyadarkan penguasa lalim, bahwa tindakan tak terpuji seperti itu tak akan membuatnya berkuasa hingga seribu tahun.
Perlahan akan menua, tutup usia. Mewariskan kehidupan ini ke anak cucunya. Dengan catatan pernah terjadi musibah kelam yang sejatinya bisa diantisipasi, jika saja – jika saja, dan seterusnya.
Bagaimanapun telah tercatat pada lembaran sejarah peradaban bahwa perubahan iklim telah menyebabkan kekeringan serta kelaparan hingga membinasakan kejayaan Romawi dan Inggris Raya. Konflik kawasan regional hingga peperangan antar bangsa bisa terjadi karena diakibatkan perubahan iklim.
Menyangkal kebenaran bukanlah solusi!
Meninggalkan sain dan teknologi juga bukan jawaban.
Menjadi penguasa wajib berkemampuan mengantisipasi dan menangani dampak akibat perubahan iklim, atau akan tertimpa musibah. Sayangnya, penguasa kini cenderung memilih solusi yang salah, terlihat kukuh bersikeras membangun mufakat yang salah, bahwa itu sepenuhnya adalah kesalahan anu dan nganu-nganu.
Hingga akhirnya dicarilah seseorang untuk disalahkan. Itu yang menjadi solusi trendy di abad teknologi informasi.
Karena si Anu salah nganu! menjadi jalan keluar paling mumpuni dewasa ini.
~Salam Boong pemimpi Boong!

