Jumat, 23 Juni 2017

YANG TIDAK SEMPURNA ITU YANG SEMPURNA

Kala memulai bisnis kita terdorong untuk diam-diam menahan diri tidak memberitahukannya ke orang-orang terdekat. Ntah malu tak percaya diri yang pasti: “kerap menunggu saat yang tepat - alasan belum siap”. Menunggu sampai ada produk dulu atau ada hasil dulu dan berbagai alasan yang membenarkannya. Dan itu salah!

Kita kerap mengabaikan lingkungan padahal banyak bisnis yang menggurita dari lingkungan mulut-ke-mulut, melebar memanjang ke jaringan komunitas, dan sukses.

Menunggu juga terjadi kala mulai produksi. Kerap tergoda:”menunggu saat yang tepat merilisnya ke pasar”. Ntah karena kurang percaya diri kita terus berusaha menyempurnakan kualitas, mempercantik disain, memantau pasar dan jaringan sistim penjualannya, mencari hasil survey pasar seolah tak PEDE dengan harga jual yang ditetapkan, de-el-el.

Ingin terlihat punya produk produk andalan. Terbayang impian bakal terjual – untung sekian.
Dan, menjadi terlambat. Kecewa!

Apalagi jika ada produk yang nyaris serupa lebih dahulu mencuba menembus pasar dan sepi peminat, remuk gairah usaha. Lemas sendiri, goyah tak kukuh – letoy tak berdaya!

Tetapi, kala sambutan pasar geliat bergelora, mencengangkan, sesak berubah warna berganti sesal menjadi: Mengapa telat dirilis? Mengapa selama ini ditahan-tahan? Kenapa pula harus diubah-ubah, dan diubah lagi? Mengapa tak langsung dijual?

Modal gosong, hangus hanya karena si sempurna yang tak kunjung sempurna – sesal tak guna!

Tak juga sempurna-sempurna, kenapa kah? Diduga, itu karena asumsi Anda belaka!. Asumsi Anda yang salah tentang makna sempurna, tentang bagaimana keinginan orang, tentang bagaimana pendapat orang. Asumsi Anda yang tak benar tentang apa kata dunia? tentang orang-orang, tentang pasar, tentang produk.

Dan itu yang menghalangi si sukses menghampiri.

Pengusaha yang sukses menjadikan launching rilis produk untuk menjaring keinginan pasar. Untuk menjaring ide cara bagaimana bikin produk andalan. Bagaimana agar merek produknya populer dan menjadi sebutan untuk produk sejenis. Semisal; tiap pasta gigi populer sebagai “Pepsodent” – menjadi merek sepanjang masa.

Seyogianya, Anda tak perlu takut produknya dianggap tak sempurna, tetapi jadikanlah ketidaksempurnaan itu untuk menarik minat orang-orang menyempurnakannya. Seperti; Facebook - Mark Zuckerberg, berawal dari proyek anak sekolahan berubah seketika menjadi teknologi raksasa. Kini, mengubah wajah dunia!

Ketidakpastian iklim dunia bisnis seyogianya disesuaikan dengan ritme operasional dan itu adalah tindakan sempurna daripada mengandalkan asumsi pribadi yang cenderung sesat.

Peradaban bertitah, “jangan kendalikan tiap hal!” karena banyak hal diluar batas kemampuan kita. Walau kita mumpuni menyusun stratejik usaha tetapi itu adalah rencana, realitasnya ada banyak ragam hal yang tak bisa diprediksi. Apalagi dunia usaha – ia punya aturan sendiri.

Stop mengubah-ubah produk tetapi rilislah segera, karena tidak akan pernah ada produk yang tersia-sia. Dengan caranya, mekanisme PASAR akan menentukan peminat atawa penggunanya!

"Would you like me to give you a formula for...success? It's quite simple, really. Double your rate of failure... You're thinking of failure as the enemy of success. But it isn't at all...You can be discouraged by failure - or you can learn from it. So, go ahead and make mistakes. Make all you can. Because, remember that's where you'll find success. On the far side of failure."
~Thomas J. Watson, Sr.
Yang Tidak Sempurna Itu Yang Sempurna!!
~salam SempurnA selalu!