Jumat, 09 Juni 2017

Pemikiran Yang Merusak

Kita dituntut keadaan untuk memilih tiap hal yang menguntungkan diri atau kelompok kita. Dipaksa situasi memilih tiap hal yang melindungi kepentingan kita. Meyakini bahwa itulah yang terbaik. Dan itu alamiah!

Ketika sesuatu keputusan membuat cemas, kita menjadi tersiksa didera rasa sesal. Serasa terjebak oleh situasi. Terbayang bagaimana perasaan orang-orang yang kita sayangi – apa kata dunia? Sesak oleh sesal. Terperangkap lingkar negatif yang menyiksa membebani hingga kesehatan menurun. Sebagian bahkan lari ke hal-hal yang kian merusak. Hidup bagai tak berdaya.

Orang Pintar tanggap dan menyediakan layanan mengobati. Bergelar aneh-aneh. Tiap kunjungan ditutup dengan resep pengharapan plus kwitansi tagihan – sekian! Istirahat yang teratur, minggu depan datang lagi. Walau patuh, tak kunjung sembuh. Hidup tak lagi normal!

Dan, itu semua berawal dari diri sendiri, ubatnya pun ada di dalam diri, dan hanya itu yang mujarab!

Caranya:

Jangan Memperbandingkan Diri:
Kita terbiasa dipaksa melakoni hidup dengan cara membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Jika tidak, kita dianggap tidak akan sukses, tidak akan kaya raya. Seolah kurang modal jika hanya hidup berbekal kehidupan sendiri.

Jangan mau dipaksa lupa bahwa tiap orang punya keunikan tersendiri. Punya bakat tersendiri bahkan rasa cemas dan hasrat pun berbeda-beda.

Maka tak adil jika kerap membanding-bandingkan diri kita dengan diri orang lain, tetapi seimbangkanlah demi menampilkan sisi terbaik diri kita.

Jangan Mau Abai:
Jangan abaikan milik sendiri. Bagaimanapun kita adalah kita dan hidup kita itu adalah diri kita. Jika pun hanya kesenangan kecil yang kita punya, nikmatilah. Penghargaan atas hidup berawal dari perlakuan kita terhadap hidup kehidupan kita. Mulailah dengan mensyukuri nilai tiap hal yang kita miliki.

Hidup itu indah maka berbanggalah atas itu. Sesukses apapun seseorang, ia terliihat seolah tak pernah cukup berkecukupan. Terus tergoda menggali, tangguh mendapatkan lebih banyak lagi – dan tak henti-henti.

Dengan bersyukur kita bisa hidup tenang dan itu membuat hidup lebih hidup lagi. Lebih peduli akan sesama.

Jangan Mau Cemas:
Jangan pupuk benih kecemasan atawa bibit kekhawatiran. Keduanya akan mewarnai hidup dengan rasa iri dengki dan benci tak berkesudahan. Hilang akal sehat karena takut gagal. Berubah menjadi amarah yang menimbulkan rasa permusuhan. Dan itu akan menghisap keahlian kita untuk hidup sukses.

Memaksanya keluar barangkali bisa dengan meditasi. Atau bisa dengan merenungkan kembali tindak ucapan kita ke orang lain. Mulailah dengan menyusun daftar kecemasan – apa saja itu? Itu akan membuat kita terbebas dan menjadi paham bahwa, sejatinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Jangan Mau Terperangkap oleh Masa:
Andai alam kesadaran kita hanya terfokus ke masa lalu dan atau ke masa depan, kita akan kehilangan momentum pengalaman di masa kini ini. Masa dimana kita hidup. Walau pengalaman pahit masa lalu kerap mengganjal tetapi jika kita tetap terfokus maka kita tak akan kehilangan kesempatan menikmati momentum di masa kini ini. Hidup tak akan berlalu begitu saja.

Tiap orang punya masa lalu, tetapi tiap orang hidup untuk masa depan.

Bahwa masa lalu kerap meninggalkan bercak yang takkan hilang – itu betul. Tetapi dengan fokus, kemampuan kita akan terpicu untuk berinteraksi dengan tiap hal di masa sekarang ini – dan menjadi berbahagia.

Berlatihlah, Nikmati hidup dimasa kini ini!
Berlatihlah, Nikmati hidup dimasa kini ini!