Kita dituntut keadaan untuk memilih tiap hal yang
menguntungkan diri atau kelompok kita. Dipaksa situasi memilih tiap hal yang melindungi
kepentingan kita. Meyakini bahwa itulah yang terbaik. Dan itu alamiah!
Ketika sesuatu keputusan membuat cemas, kita menjadi
tersiksa didera rasa sesal. Serasa terjebak oleh situasi. Terbayang bagaimana perasaan
orang-orang yang kita sayangi – apa kata dunia? Sesak oleh sesal. Terperangkap lingkar negatif yang menyiksa membebani
hingga kesehatan menurun. Sebagian bahkan lari ke hal-hal yang kian merusak. Hidup
bagai tak berdaya.
Orang Pintar tanggap dan menyediakan layanan mengobati. Bergelar
aneh-aneh. Tiap kunjungan ditutup dengan resep pengharapan plus kwitansi
tagihan – sekian! Istirahat yang teratur, minggu depan datang lagi. Walau patuh,
tak kunjung sembuh. Hidup tak lagi normal!
Dan, itu semua berawal dari diri sendiri, ubatnya pun ada
di dalam diri, dan hanya itu yang mujarab!
Caranya:
Jangan
Memperbandingkan Diri:
Kita terbiasa dipaksa melakoni hidup dengan cara
membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Jika tidak, kita dianggap tidak
akan sukses, tidak akan kaya raya. Seolah kurang modal jika hanya hidup berbekal
kehidupan sendiri.
Jangan mau dipaksa lupa bahwa tiap orang punya keunikan
tersendiri. Punya bakat tersendiri bahkan rasa cemas dan hasrat pun berbeda-beda.
Maka tak adil jika kerap membanding-bandingkan diri kita
dengan diri orang lain, tetapi seimbangkanlah demi menampilkan sisi terbaik diri
kita.
Jangan
Mau Abai:
Jangan abaikan milik sendiri. Bagaimanapun kita adalah
kita dan hidup kita itu adalah diri kita. Jika pun hanya kesenangan kecil yang
kita punya, nikmatilah. Penghargaan atas hidup berawal dari perlakuan kita terhadap
hidup kehidupan kita. Mulailah dengan mensyukuri nilai tiap hal yang kita miliki.
Hidup itu indah maka berbanggalah atas itu. Sesukses apapun
seseorang, ia terliihat seolah tak pernah cukup berkecukupan. Terus tergoda
menggali, tangguh mendapatkan lebih banyak lagi – dan tak henti-henti.
Dengan bersyukur kita bisa hidup tenang dan itu membuat hidup
lebih hidup lagi. Lebih peduli akan sesama.
Jangan
Mau Cemas:
Jangan pupuk benih kecemasan atawa bibit kekhawatiran.
Keduanya akan mewarnai hidup dengan rasa iri dengki dan benci tak berkesudahan.
Hilang akal sehat karena takut gagal. Berubah menjadi amarah yang menimbulkan
rasa permusuhan. Dan itu akan menghisap keahlian kita untuk hidup sukses.
Memaksanya keluar barangkali bisa dengan meditasi. Atau bisa
dengan merenungkan kembali tindak ucapan kita ke orang lain. Mulailah dengan menyusun
daftar kecemasan – apa saja itu? Itu akan membuat kita terbebas dan menjadi paham
bahwa, sejatinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Jangan
Mau Terperangkap oleh Masa:
Andai alam kesadaran kita hanya terfokus
ke masa
lalu dan atau ke masa
depan, kita akan kehilangan momentum
pengalaman di masa kini ini. Masa dimana kita hidup. Walau pengalaman pahit masa
lalu kerap mengganjal tetapi jika kita tetap terfokus maka kita tak akan
kehilangan kesempatan menikmati momentum di masa kini ini. Hidup tak akan
berlalu begitu saja.
Tiap orang punya masa lalu, tetapi tiap orang hidup untuk
masa depan.
Bahwa masa lalu kerap meninggalkan bercak yang takkan hilang
– itu betul. Tetapi dengan fokus, kemampuan kita akan terpicu untuk
berinteraksi dengan tiap hal di masa sekarang ini – dan menjadi berbahagia.
