Sabtu, 03 Juni 2017

Small Office Home Office (SOHO)


“SOHO” atau Small Office Home Office menjadi pilihan apalagi tingkat kemacetan lalulintas sudah sangat menyita waktu menghisap habis seluruh energi. Lonjakan kenaikan beban operasional menambah daftar alasan pertimbangan. Dan, orang pintar pun menambahkan ragam alasan lainnya hingga terlihat lajim.

Berbisnis dari rumah tidak mudah, banyak tantangan, diperlukan keahlian tersendiri. Banyak yang menjadi terlena berleha-leha dan merosot. Yang fokus kukuh bertahan, beberapa memilih pindah berkantor di distrik bisnis terdekat.

Ragam pendapat menyatakan bahwa bisnis berbasis rumahan tidak akan bisa sukses. Harus berkantor di pusat distrik bisnis. Alasan kemacetan lalulintas dan beban operasional menjadi tantangan tersendiri. Hingga tidak setiap orang bisa sukses berhasil! Orang pintar pun menambahkan sederet alasan lainnya - membenarkannya.

Mengelola Rumah Kantor:
Pebisnis harus bisa memelihara gairah motivasi diri. Harus jeli memisahkan antara “rumah” dengan “kantor”. Mulailah dengan mengatur layout tata ruang keduanya. Pisahkan dengan jelas, penuhi tempat bisnis dengan alat bekerja dan bebaskan ruang pribadi dari peralatan kantor. 

Sekecil apapun RUKAN/ SOHO Anda, namun jelas terpisah antara "rumah" dengan "kantor". Jika bisa, bangunlah partisi sekat pemisah.

Mengelola Diri:
Musuh utama adalah diri sendiri. Pemikiran bahwa bekerja di rumah menjadi bebas waktu hingga bebas bekerja sesuka waktu adalah bumerang. Pastikan jam kerja Anda dan disiplinlah mematuhinya.
Jika bisa, manfaatkan ‘auto-responder’ untuk sistim komunikasi, efisiensi menjadikan Anda focus.

Mengelola Keuangan:
Mengelola keuangan menjadi pengalaman yang menarik sekaligus menjadi pengalaman yang sangat menakutkan. Pisahkan kebutuhan pribadi dengan kebutuhan kantor.

Disarankan untuk: Bebas Tagihan:
Pastikan hutang kartu kredit atau cicilan kredit pinjaman sudah lunas. Bisa stress kala menata bisnis masih terbebani cicilan apalagi sudah tidak memiliki penghasilan tetap. Cadangan aktivitas darurat sangat disarankan semisal bekerja paruh-waktu.

Pebisnis rumahan terlatih dengan pemikiran bahwa tak soal berapa banyak jumlah uang yang bisa dihasilkan tetapi saldo akhir bulan menjadi modal bisnis di bulan berikutnya.

Mengelola Hasil Usaha:

Disarankan agar: Jangan Mau Bangkrut:
Buatlah daftar pemasukan serta daftar biaya. Evaluasi teratur, itu akan meningkatkan inspirasi Anda membaui uang dan peluang mendapatkannya. 

Jangan bingung oleh ketentuan seperti di teksbook "Cashflow" bahwa bisnis Anda menguntungkan walau rekening Bank kosong. Tanpa uang berarti bangkrut!

Walau tergoda bayang-bayang keuntungan namun hati-hati untuk ekspansi. Pengembangan usaha yang jor-joran bisa masuk zona berbahaya. 

Jangan enggan mengeksplorasi potensi pendapatan yakinlah bisnis rumahan akan menemukan jalannya. Jangan abai akan informasi. Sekecil apapun simak dengan seksama. 

Disarankan agar: Berpikir Ala Pebisnis:

Jika bekerja tiga jam sehari Anda menghasilkan sepuluh juta per bulan, delegasikan pekerjaan itu ke Assisten. Walau untuk itu Anda hanya akan memperoleh sisa pendapatan lima juta tetapi Anda menjadi punya waktu luang untuk mengeksplor sumber lainnya. Terapkan pola itu pada pendapatan berikutnya - demikian seterusnya. 

Model ini dikenal sebagai ‘fokus pada pendapatan residual’ bahwa pendapatan Anda sesungguhnya diperoleh tanpa Anda perlu aktif bekerja penuh.

Itu pola pikir pemilik bisnis, tidak seperti karyawan. Maka itu, ubah pola pikir Anda!

Jangan Mau diDera Rasa Sepi:
Rasa sepi akan mendera – itu pasti, untuk itu sesekali undang teman untuk NoBar ngopi di Rumah Kantor Anda sembari berpromosi dan mendapat saran arahan berharga. 

Jangan haramkan keluar rumah apalagi bisnis Anda bisa ‘mobile’. Dengan bermodalkan gadget plus laptop Anda bisa berbisnis dari perpustakaan sepi atau sembari ngelamun di pantai, sembari ngopi di Starbucks atau mojok ditengah hiruk pikuk kerumunan – dimana saja. 

Bergabunglah dengan komunitas pemasaran untuk berinteraksi dengan banyak orang, itu akan membangun reputasi diri. 

BerPromosi Yang baik:
Bisnis bukan semata-mata tentang Anda, tetapi ini tentang bagaimana Anda bisa terhubung dengan orang lain – bagaimana agar orang lain bisa melihat nilai tambah apa yang bisa mereka dapatkan. 

Maka itu, jangan jelaskan apa yang Anda lakukan tetapi jelaskanlah apa yang bisa diperoleh.

Uraikan bisnis Anda dengan sebaris kata. Jelaskan keunggulan keunikannya. Semisal "dengan internet saya hemat enerji, bisa dapat klien dalam jumlah tak terbatas – itu bisnis saya!” terdengar seolah menawarkan solusi. Dampaknya, itu bisa menerobos benak pendengarnya.

Manfaatkan pesan pendek itu dan selipkan di Kartu Nama Anda, itu cara sehat berpromosi.

Layanan Gratis:
Gratis akan memancing hasil. Tawarkan pelatihan singkat. Jelaskan bahwa Anda ahli membuat orang menjadi profesional, lebih percaya diri jika menguasai cara mendengar dan cara berbicara dengan baik. Tawarkan pelatihan gratis. Itu akan mengikat emosionil dan Anda akan terlihat bagai pakar. Manakala peserta menyukai Anda, mesin pemasaran otomatis bekerja. 

Mulailah dari lingkungan Anda. Terapkan promosi gratis ‘dari-mulut ke-mulut’ bahwa Anda kini tengah membangun bisnis sendiri. Perlu kemitraan. Hubungi tiap orang yang dulu pernah Anda temui saat masih kerja kantoran.


~Salam bisnis selalu

"Talent alone won't make you a success. Neither will being in the right place at the right time, unless you are ready. The most important question is: 'Are you ready?'"
-Johnny Carson