Sedari kita kecil lingkungan telah membanding-bandingkan diri
kita dengan diri anak orang lain, dan kita menjadi terbiasa untuk terlihat lebih
tangguh, lebih pintar dan lebih rapi. Menjadi anak baik dan harus menjadi juara
- dalam tiap hal. Kebanggaan orang tua!
Menjelang dewasa kita diklasifikasikan menjadi anak remaja.
Jika terlihat rada dewasa, kita dianggap menyimpang – tak patut, anak siapa
itu? Jika terlihat sok jagoan, kita dinilai membahayakan – siapa orang tuanya? Jika
masih cengeng dianggap kekanak-kanakan, kita dipaksa bercermin – lihat, kau itu
sudah besar. Jangan bikin malu orang tua!
Tanpa tuntunan berbatas pasti – seolah semua harus sesuai
kehendak orang tua. Dan oleh lingkungan itu dianggap alamiah.
Dan kemudian kita, telah pula mewariskan hal serupa. Akankah kelak
anak-anak kita mewariskannya ke anak cucu mereka?
Peradaban bertitah, demi untuk kebaikan dan tatanan
kehidupan, ajaran pengajaran orang tua tak boleh dinilai salah.
Jika ada pendapat bahwa itu-ini menyimpang,
namun ‘nilai’ tak boleh disimpulkan ‘telah menyimpang’. Itu bukan salah
lingkungan, itu salah orang tuanya. Jika
diingatkan bahwa – haram untuk kita menyalahkan orang tua, maka ditukar jawab -
dasar anak kurang ajar. Bukan salah bunda mengandung tetapi keadaanlah yang memaksa.
Titik!
Maka itu;
Jangan Kendalikan Tiap Hal:
Kita akan frustasi jika gagal mengendalikan
sesuatu diluar batas kemampuan, enerji habis tersia-sia, menyiksa diri seolah
kita ingin dianggap lebih sempurna.
Ketahuilah, tidak setiap saat kita harus
mengemudikan hidup, ada kalanya kita menjadi penumpang. Walau hebat menyusun
rencana namun ada banyak hal yang tidak bisa diprediksi.
Sadarilah bahwa tiap hal ada aturan mainnya.
Jangan Salahkan Orang:
Jangan terbiasa menyalahkan orang lain. Jika
terus-menerus berlaku semberono begitu, itu akan merusak dan menyakiti
orang-orang disekitar kita. Melemparkan tanggungjawab ke orang lain tidak akan membuat
kita menjadi lebih baik.
Sejatinya tak seorang pun bisa disalahkan
untuk bertanggungjawab atas tindakan kita.
Maka, bertanggungjawab-lah!
Jangan Hanya Cinta Harta:
Anggapan bahwa banyak uang banyak harta akan membuat
orang-orang kagum - itu tidak selamanya betul. Kilauan harta tidak selamanya menghadirkan
kepuasan sejati, banyak yang malah stress, tersiksa cemas berkepanjangan.
Memusatkan hidup dalam bayang-bayang kilau harta
kekayaan akan menghantarkan kita ke lorong pencarian tak berujung. Melelahkan!
Uang bukan segalanya walau diperlukan untuk tiap
hal! Uang hanya akan lebih bermakna jika digunakan meringankan beban hidup sesama.
Hindarkan Lingkungan Beracun:
Lingkungan orang-orang pesimis akan menghisap
kemampuan pola pikir kita. Orang-orang pesimis tidak akan peduli dengan gagasan
pendapat kita terkecuali kala butuh akan sesuatu.
Lingkungan negatif akan menggerus mentalitas
positif kita tetapi percaya diri akan menghalau ekses pengaruh negatifnya.
Hindarkanlah sebisanya.
Jangan Tunda Ambisi Sukses:
Jangan mencari-cari alasan untuk terus menunda-nunda
melaksanakan sesuatu. Mengubah-ubah rencana bukan alasan pembenaran. Stop buang
enerji untuk alasan sia-sia.
Jangan biarkan kesempatan menguap.
Jangan Malu mengKritisi Diri:
Dialog yang terjadi dibenak kita (self-talk) jangan dikesampingkan walau jika
itu lucu, semisal: “Bermimpilah hingga ke bulan jika pun jatuh ke langit masih disekitar
bintang-bintang”.
Mengkritisi diri sendiri akan menyempurnakan
ego pribadi namun jangan lakukan jika hanya karena takut akan penilaian orang
lain. Kesampingkan dialog yang tidak konstruktif.
Temukan potensi diri dan jadilah diri
sendiri.
