Dunia
kini dipenuhi berbagai bunyi-bunyian, itu adalah gangguan, itu yang membuat hubungan
komunikasi secara umum menjadi terpengaruh hingga bahkan menjadi terganggu,
secara online pun bukan jaminan lebih berkualitas.
Sekilas
terbayang kisah nyata:
“Beberapa saat yang lalu saya ngopi bareng
bersama teman. Si teman menanyakan kegiatan saya disaat libur panjang Oktober
2020 yang lalu. Saya menceriterakannya, terlihat dia memperhatikannya. Tersenyum
sembari mengangguk-angguk, sekilas saya melihat dia tengah melihat-lihat konten
di ponselnya. Saya sadar dia ternyata tidak benar-benar mendengarkan tetapi asyik
dengan ponselnya. Sejurus saya terdiam, agak lama, hingga kemudian terdengar
dia perlahan berkata, 'maaf, saya tidak terlalu mendengarkan.”
Mungkin
Anda pernah mengalami hal yang sama. Ditanya, tetapi jawabannya tidak didengar.
Mendengarkan secara aktif bukan cuma sekedar mendengar, tetapi benar-benar memperhatikan
maksud yang disampaikan orang yang sedang berbicara. Dengarkan selengkapnya, jika
ada gangguan - sekecil apa pun itu, Anda teralihkan, itu berarti Anda tidak
mendengarkannya secara aktif.
Saya terbayang
jika saya juga sering melakukan hal yang kurang lebih sama. Saat seseorang menjelaskan
sesuatu, saya teralihkan oleh suatu hal lainnya. Teralihkan oleh sesuatu yang sulit
menjelaskan awal musababnya. Terjadi begitu saja, tanpa ada kekuatan yang bisa menghentikannya.
Mungkin orang-orang pun kerap mengalami hal yang sama hingga perilaku serupa
dianggap wajar. Apalagi di era teknologi dewasa ini, kekacauan bunyi-bunyian
bahkan tak lagi terlalu dipermasalahkan.
Sering
sekali dering ponsel orang-orang terdengar bernada sama. Jamak terjadi ditengah
suasana hening mendengarkan penjelasan seseorang, ponsel berbunyi: “kring,,,,,tete..o..tet
...kring... tete..o...tet...!” Semua saling melotot, seolah mengingatkan agar yang
bersangkutan segera mengangkat ponselnya. Sejurus kemudian terlihat semua orang
bergegas memeriksa ponselnya masing-masing, ternyata, ponsel orang yang sedang
berbicara. Pelanggaran! Semua tersenyum, terkesan lumrah, walau sewajarnya
harus dihindarkan sesuai etika pergaulan.
Seolah
tidak lelah, konselor saya sering mengingatkan saya agar meningkatkan kemampuan
mendengarkan secara aktif, tetapi ternyata hal itu tidak sesederhana penjelasannya.
Serasa sulit untuk tidak otomatis menyambar ponsel berdering saat tengah mendengar seseorang
berbicara. Tanpa terkendali seketika merespon; Hello...I am fine, thanks.
Hmh..and how are you! Etc.
Oleh
konselor, saya diingatkan agar berusaha fokus ketika seseorang mengajak
berbicara. Jangan terlalu mudah teralihkan oleh apa pun. Walau telah berusaha sebisanya,
namun masih harus belajar lebih keras lagi. Mungkin Anda juga perlu mempertimbangkan
untuk belajar meningkatkannya, demi untuk kebaikan bersama.
Perlu
disiplin untuk bisa berhasil menerapkannya.
Seharusnya
ini mudah. Bahkan ketika saat rapat dibuka pun, hal ini kerap diingatkan agar peserta
mematikan ponselnya atau agar disetel tanpa bunyi. Namun tetap saja, karena getaran
ponsel “perrrrrtttt.....” apalagi jika diletakkan diatas meja, kerap terasa mengganggu.
“Mendengarkan
secara aktif” dapat diartikan bahwa kita fokus memperhatikan. Ini adalah bagian
dari suatu proses panjang pertumbuhan kepribadian diri. Konon katanya,
kemampuan “mendengarkan secara aktif” adalah pertanda kesehatan mental kita
berkembang baik. Namun, jika sekiranya pun gagal fokus bukan berarti Anda dianggap
tengah punya gangguan mental. Bukan itu!
Maksudnya
adalah bahwa kita aktif mengikuti pembicaraan, apalagi tidak ada orang yang
senang jika didiamkan. Walau sekedar menganggukkan kepala pun, Anda dimaknai mengikuti
alur pembicaraan. Beberapa bahkan mengeluarkan kata-kata lirih seperti; “hmh...
atau sip...uhs...., mungkin agar dianggap tekun mendengarkan.
Kemampuan
“Mendengarkan secara aktif” menjadi pertanda jika Anda memiliki keterampilan
berkomunikasi. Anda dianggap bisa memahami apa yang dikehendaki, hingga bahkan dinilai
mampu menyelesaikan tugas sesuai harapan pimpinan. Anda dianggap memiliki
keterampilan interpersonal yang baik.
Kemampuan
“Mendengarkan secara aktif” diperlukan ketika Anda diharuskan menemukan cara
menyelesaikan sesuatu konflik atau permasalahan. Jika kemudian Anda merasa
telah melakukannya, berarti Anda telah mengerti manfaatnya. Jika sekiranya
belum, Anda bisa melanjutkan membaca.
Bagaimana Caranya?
Sebagai
berikut:
1. Perlihatkan Anda tengah mendengar
Perlihatkan
mimik wajah serius jika Anda tekun mendengar. Sorot mata fokus tetapi tidak perlu
mengambil posisi sedang mengkeker sasaran. Anda bisa mengeluarkan kata-kata
lirih seperti; "hmm..." atau “ooh...”, menunjukkan Anda mengikuti
alur pembicaraan, memperhatikan, dianggap jika Anda mengerti hal apa yang
dibicarakan.
Sesekali
bisa bertanya meminta klarifikasi, pertanda Anda tertarik. Tersenyum jika yang
dibicarakan hal lucu atau tertawa geli, namun Anda harus menahan diri untuk tidak
menangis meraung-raung jika itu tentang hal pilu menyayat hati. Bertindaklah
yang wajar, jangan malah mengganggu.
Jaga
bahasa tubuh, usahakan agar tetap terbuka. Pertanda, Anda mengikuti alur
pembicaraan, sekaligus mendorong orang yang berbicara untuk melanjutkan hal
yang ingin dia sampaikan. Membangun kesan agar si pembicara percaya diri melanjutkan
apa yang ingin disampaikan.
2. Perlihatkan Anda memperhatikan
Artinya,
Anda perlu menyingkirkan segala potensi gangguan. Seperti, ponsel maupun ujung
kuku jari-jari tangan Anda. Sesekali lakukan kontak mata, namun jangan malah melotot.
Dengarkanlah baik-baik agar waktunya tidak malah tersia-sia.
Jika
sekiranya hendak menyanggah, Anda harus bersabar hingga dia selesai berbicara. Jika
tiap waktu Anda menyela, itu malah akan mengganggu. Kemampuan “Mendengarkan
secara aktif” bukti pertanda bahwa Anda terkesan berjiwa satria, dewasa, bahkan
walau jika berbeda pendapat pun Anda tetap bisa menguasai diri.
3. Kemukakan Umpan Balik
Tanggapi
dengan seksama, atau Anda bisa memberikan saran atau minta dia mengklarifikasi
maksud dan tujuannya yang sebenarnya. Anda bisa menanggapi hal yang sama dengan
cara yang berbeda, seperti: “saya juga merasakan hal yang sama”. Atau, “saya bisa
mengerti akan hal itu”.
Untuk bisa
leluasa berpendapat, Anda disarankan untuk meringkas hal-hal apa yang
dibicarakannya, bisa dengan cara menuliskan atau meringkasnya didalam benak kepala
Anda.
Jika
hal yang disampaikan mengenai sesuatu konflik, Anda perlu mengendalikan emosi,
apalagi jika Anda tidak sependapat dengannya. Kuasai diri, setidaknya sampai ucapannya
selesai. Itu adalah cara bijaksana menanggapi sudut pandang yang bertolak
belakang dengan sudut pandang Anda. Tingkat kedewasaan Anda dipertaruhkan ditengah
perbedaan pendapat.
4. Jangan Menilai
Anda
harus menghindari menggunakan kata-kata yang terkesan menilai seseorang berdasarkan
kata-kata yang disampaikannya. Jika Anda bisa memberikan kesempatan yang cukup untuk
seseorang mengatakan maksudnya maka Anda pun harus memberikan waktu yang cukup
kepada diri Anda sendiri untuk merenungkan tujuan pembicaraannya. Jangan
sekali-kali memotong orang yang berbicara dengan kata-kata yang argumentatif.
Anda harus tetap berprasangka baik.
5. Hargai Orang Yang Berbicara
Hargai
orang yang sedang berbicara, biarkan dia menyelesaikan kata-katanya. Jika
sekiranya sudah waktunya untuk Anda berbicara, belajarlah menyampaikannya
secara bijaksana, jangan memojokkannya tetapi tanggapilah dengan tetap menjaga
kehormatannya.
Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin bagaimana
diri Anda diperlakukan oleh orang lain.
Saling
menghormati menjadi kunci utama dalam berkomunikasi yang baik. Anda bisa mengajukan
pertanyaan terbuka untuk membantu si pembicara mengembangkan kosa katanya, jangan
malah terkesan melecehkannya. Misalnyal, jadi apa lagi yang perlu Anda lakukan?
Kata-kata seperti itu dianggap lebih lunak daripada harus berkata, “jadi kau
mau apa?”
Jika
seseorang menanggapi ucapan Anda, bersabarlah mendengarkannya, setelahnya Anda
bisa mengembangkan tanggapannya itu dengan cara mempertanyakan kembali tentang sesuatu
yang sifatnya menguatkan bahwa Anda memahami tanggapannya. Tetapi tidak
bermaksud menilainya buruk.
Kecelakaan
berkomunikasi adalah ketika Anda tidak sabar menunggu seseorang menyelesaikan kata-katanya.
Jika kemudian Anda masih berminat menanggapi tanggapannya atas kata-katanya Anda sebelumnya, Anda bisa membangkitkan kapasitas orang yang menanggapi dengan
cara unik. Misalnya, membagikan pengalaman Anda mengenai sesuatu peristiwa yang
terkait dengan tanggapannya. Merangkainya dengan kosa-kata yang lugas, tidak melebar
memanjang kemana-mana bagai mantra petaka memanggil bencana.
Membagikan
pengalaman sendiri menjadi pertanda Anda memahami tanggapannya. Namun jangan
malah menggurui atau berkata ketus bahwa yang dikatakannya tidak akan menghasilkan
apa-apa.
“Ingatlah, jangan menilai seseorang dari
kata-katanya, atau Anda bakal senantiasa dinilai orang-orang disepanjang sisa
perjalanan hidup Anda”.~Hotman Sihombing.
Jika
Anda bersabar mendengarkan seseorang hingga menyelesaikan kata-katanya, Anda
akan dianggap telah memahaminya dengan cara bersabar. Itu menunjukkan jika tingkat
kedewasaan Anda sudah mumpuni. Namun Anda perlu mewaspadai umpan balik verbal dari
hal yang sebelumnya Anda sampaikan, atau Anda akan dinilai memojokkannya.
Ikhtisar:
1. Perlihatkan jika Anda benar-benar memperhatikan hal
yang dibicarakan. Bersabar mendengarkannya dengan menyingkirkan potensi
gangguan yang mengganggu.
2. Anda bisa memberikan umpan balik tetapi bukan
malah membanding-bandingkannya. Jangan pernah menilai, simpanlah penilaian Anda
untuk diri Anda sendiri. Jangan kasih ke orang, kantongi saja.
3. Jangan menyela orang yang tengah berbicara atau
Anda akan disela orang-orang ketika sedang berbicara hingga bahkan ketika Anda
lagi sedang berdoa.
4. Tunggulah sampai orang yang berbicara selesai, sebelum
menanggapinya. Mungkin Anda bisa mengembangkan
kata-katanya dengan membagikan pengalaman diri sendiri, namun tidak untuk memojokkannya. Jangan mencela atau malah menjurus menghinanya.
5. Hindarkan kata-kata yang argumentatif, tunjukkan jika
Anda mengerti konteks yang dibicarakan.
Konon
katanya, setengah perjuangan hidup kita adalah jika kita mampu menyadari
kesalahan apa yang kita perbuat, dan kita berusaha memperbaikinya.
Sayangnya, kesalahan
yang terjadi kebanyakan berawal dari kata-kata kita sendiri, atau bermula dari
kata-kata orang lain yang kita artikan secara sembarangan hingga malah menyimpang
dari tujuan awal - yang sebenarnya.
Karenanya,
kita harus benar-benar berusaha untuk bisa memahami kata-kata orang lain dan
berharap agar orang lain berusaha memahami kata-kata kita. Para pihak, masing-masing
akan berusaha untuk saling membangun pengertian untuk bisa bagaimana agar saling
memahami satu sama lain, itu adalah merupakan cara terbaik didalam membangun
hubungan baik.
Dengan berusaha “mendengarkan secara aktif”, Anda membangun kesan
bahwa Anda tidak mengabaikan kata-kata orang satu lainnya.
“Belajar mendengarkan orang lain dengan cara yang
paling benar akan menjadi pelajaran yang paling berharga walau tidak akan
pernah mendapatkan sertifikat tanda bukti kelulusan.”~Hotman Sihombing
Disadur dari: https://dailylife.com/article/how-to-improve-your-active-listening,
September 02, 2019