"The pessimist sees the difficulty in every
opportunity. The optimist, the opportunity in every difficulty."
~L. P. Jacks
ALASAN YANG TEPAT:
Alasan yang tepat kerap dikenal sebagai
‘komitmen’. Konon dianggap bak stempel perlambang jati diri, acap diikrarkan di
awal memulai sesuatu hubungan. Memulai sesuatu dengan ‘alasan yang tepat’ berarti
berpegang pada suatu komitmen yang jelas. Tetapi hindarkan tiap ‘komitmen’ yang
dibangun dengan alasan yang tidak tepat – walau itu jelas. Cara menentukan ‘alasan
yang tepat’ tak pula mudah bahkan tak semudah membuat sesuatu alasan.
Konon suatu ‘komitmen’ tidak memerlukan
sesuatu alasan apa pun karena itu adalah ukuran kadar nurani. Semisal berkomitmen
menghormati seseorang, tak diperlukan alasan untuk kita berlaku sedemikian itu.
Kita hanya perlu menunjukkan bahwa kita sungguh sangat menghormatinya, entah
apa ‘alasan yang tepat’ sama sekali tidak diperlukan.
Ada juga yang berpendapat bahwa
‘komitmen’ adalah gambaran jati diri bak ukuran kejujuran seseorang – apakah dapat
diandalkan. Orang yang kerap lupa akan jati dirinya tak akan lupa membanggakan
orang satu lainnya, biasanya ia dipenuhi sekarung komitmen, dan hanya dia
seorang yang tahu komitmen yang mana yang dia pernah penuhi. Kerap berseru
bahwa tindakan jauh lebih penting dibandingkan alasan tetapi selalu membopong berkarung-karung
‘alasan’ – terkenal sebagai mister sejuta kata.
BERBAGI KESEMPATAN:
Hanya orang tua yang rela berbagi kesempatan
dengan anaknya dan kita tidak diperkenankan mengakui semua orang adalah orang
tua kita. Kita hanya diberi hak untuk memiliki seperlunya – cukup dua saja.
Sebaliknya, kerelaan ‘berbagi kesempatan’
dengan tiap orang tak akan menjadikan kita menjadi orang tua dari setiap orang,
tetapi tindakan berbagi kesempatan diharapkan akan melahirkan berbagai rupa kesempatan lainnya untuk
banyak orang.
Kerelaan ‘berbagi’ menjadi
jalan untuk kita bisa lebih menghargai nilai-nilai kehidupan bahwa tiap orang
berkemampuan mengelola sendiri kesempatan dirinya untuk sukses. Sejatinya tiap
orang hanya memerlukan ‘kesempatan’.
BERSAING BAIK-BAIK MENJADI YANG
TERBAIK:
Bersaing adalah peradaban tertua bahkan
kehidupan ini pun diduga tercipta adalah oleh karena persaingan – bersaing menjadi
yang terbaik. Diri kita sekalipun tak kunjung lepas dari hal persaingan yang
kadang bahkan gamang untuk sekedar bisa menjelaskannya. Konon katanya, istilah
‘Niat & Kesempatan’ pun terlahir dari sesuatu persaingan didalam diri kita ditempat
mana keduanya bersemayam. Adalah cukup alasan untuk kita bisa mempersiapkan diri
'bersaing baik-baik menjadi yang terbaik’ dengan tetap menjunjung prinsip
saling menghormati.
Tiap kita terinspirasi oleh orang satu lainnya,
hingga berminat mendalami bahkan kemudian bersaing dengan inspirator kita, maka
peliharalah persaingan itu untuk bisa menjaring ragam inspirasi-inspirasi
lainnya.
Bersaing baik-baik untuk menjadi yang
terbaik adalah langkah terbaik memaksimalkan pencapaian rekor pribadi selama
kita hidup.
ANTUSIAS AKAN KEBERHASILAN ORANG LAIN:
Bersorak untuk kemenangan orang lain
hanya akan ditemukan pada orang-orang yang memegang teguh sportifitas
persaingan – jamaknya seperti itu. Mengakui keberhasilan orang lain memang tak
mudah, tetapi itu adalah bentuk penghargaan kita akan nilai-nilai perjuangan.
Betapa sesuatu itu harus diperjuangkan dan kita jujur mengakuinya.
Antusias akan keberhasilan orang lain bertujuan
mengapresiasi pencapaian penciptaan sesuatu keberhasilan. Bersyukur mensyukuri
keberhasilan orang lain akan menebalkan keyakinan bahwa kita tidak akan pernah
berhasil tanpa orang lain. Kelak orang lain pun akan bersorak mensyukuri
keberhasilan Anda.
~Salam antusias!






