Minggu, 15 November 2015

Cara Terbaik Membebaskan Diri dari Kepenatan Pikiran

"To make mistakes is human; to stumble is commonplace; to be able to laugh at yourself is maturity."
~William Arthur Ward

Pekerjaan mudah yang sulit adalah ‘bertanya’ dan pekerjaan sulit yang mudah adalah ‘berpikir’. Tidak mudah menjelaskan detil dari keduanya, tidak heran jika Anda kini turut bertanya ‘saya ini sedang apa kah?’ dan itu tidak memerlukan jawaban. Konon, jika sesuatu pertanyaan diajukan secara cerdas cermat, itu otomatis akan merupakan jawaban yang tepat. Maka jika terjadi sesuatu ‘tanya-jawab’, itu merupakan upaya mempertemukan tingkat kecerdasan si bodoh dengan tingkat kebodohan si cerdas. Membingungkan bukan, ‘kenapa bisa begitu?’.

Diyakini gumpalan pertanyaan berkhasiat membebaskan diri dari kepenatan beban pikiran. Silahkan percaya setelah Anda membaca habis hingga ke titik terakhir.

1. Berapa lama lagi Anda akan hidup?

2. Pernah kah Anda mencari tahu berapa lama lagi usia Anda?

3. Jika ternyata usia Anda begitu singkat, mengapa masih saja melakukan hal-hal yang tidak Anda sukai?

4. Mengingat usia Anda, masih ada lagi kah yang belum Anda lakukan?

5. Jika semua hal sudah Anda lakukan, cuba diingat – ingat lagi, barangkali masih ada yang belum selesai, apa lagi kah?.

6. Barangkali Anda belum mengubah surat wasiat terakhir Anda, bagaimana agar pembagian warisan bisa membahagiakan semua?

7. Andai kebahagian adalah mata uang yang berlaku internasional dan bisa digunakan sebagai alat tukar, harus kerja apa agar Anda bisa kaya?

8. Apakah Anda yakin membahagiakan tiap orang adalah tugas pekerjaan Anda dan kini ini Anda tengah berusaha melakukannya – terakhir kalinya?

9. Jika usia hidup rata-rata manusia hanya 78 tahun saja, bagaimana Anda akan menjalani nya? Bagaimana jika 1.058 tahun?.

10. Apakah diperlukan titel gelar untuk itu?, jika ternyata tidak, kenapa Anda harus lelah mendapatkannya? Kenapa tidak meminta nya saja – barangkali Anda akan ditanya - mau titel gelar apakah?

11. Yakin kah Anda bahwa Anda benar-benar telah melakukan hal-hal yang benar saja atau malah hanya melakukan hal-hal yang salah?

12. Katakanlah Anda memiliki beberapa sahabat, kala dalam satu jamuan terjalin perbincangan dan dalam pada itu beberapa diantaranya mengkritik secara tidak senonoh salah seorang diantaranya tanpa tahu bahwa orang itu adalah sahabat karib terdekat Anda, dan Anda tidak bisa membenarkan itu terjadi, akan kah Anda menghentikan jamuan itu atau mengusir sahabat pengkritik itu atau malah mengajak pergi si orang yang dikritik?.

13. Jika Anda dipersilahkan menasihati Anak yang baru lahir, nasihat apa gerangan yang Anda akan sampaikan?

14. Jika Anda menghalalkan segala cara demi menyelamatkan orang yang Anda kasihi, pernahkah Anda terpikir bahwa itu akan melanggar hukum?

15. Apakah Anda pernah melihat didalam kegilaan tindakan seseorang ada terselip kreativitas unik yang bisa menguntungkan Anda?

16. Apakah Anda tahu bahwa Anda telah melakukan sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan orang?

17. Pernahkah Anda mencari tahu bahwa hal-hal yang membuat Anda berbahagia malah telah membuat orang lain tidak berbahagia?

18. Ketika Anda benar-benar sangat ingin melakukan sesuatu tetapi demi sesuatu lainnya Anda tidak tega melakukannya, kecewa kah Anda?

19. Apakah ada rahasia yang ingin Anda sampaikan ke tiap orang?

20. Andai saja Anda dibebaskan memilih ibu bapa Anda, menjadi anak turunan siapa yang Anda inginkan, dan mengapa harus itu?

21. Kala tengah di dalam lift, telah berkali–kali terbukti cukup sekali penjet Anda akan tiba di lantai yang dituju. Apakah Anda benar-benar yakin hal itu akan terus begitu, atau malah terdorong berulang-ulang memenjet tombol itu agar tidak keliru?

22. Andai diperbolehkan memilih, apakah Anda lebih suka memilih menjadi seorang berpredikat jenius tetapi mengkhawatirkan tiap orang atau akan lebih memilih berpredikat bodoh tetapi menyenangkan?

23. Penah kah Anda bertanya ke diri sendiri, mengapa Anda menjadi seperti sekarang ini? Masih bisa kah Anda berubah?

24. Dari sekian banyak orang yang Anda kenal, tipikal orang yang bagaimana yang benar-benar Anda inginkan menjadi sahabat karib Anda?

25. Pernahkah Anda merasa sangat menderita ditinggal pergi seorang sahabat dan menjadi penyendiri sepeninggalnya bukan malah membangun persahabatan baru dengan orang–orang di sekitar Anda?

26. Dari tiap hal yang Anda sesali yang mana yang paling Anda syukuri?

27. Kenapa Anda kerap menyesali kenangan lama Anda dari pada membangun ulang bagian–bagian awal kenangan yang baru untuk kelak menambah lembar kenangan yang sudah ada?

28. Kenapa Anda selalu menuntut kebenaran akan tiap hal tanpa Anda yakin akan mampu menerima konsekuensinya tanpa mencemooh? Sekuat apakah batin Anda menerima kekecewaan?

29. Dari tiap hal yang Anda takuti, ketakutan yang bagaimana yang benar-benar terjadi dan menjadi kenyataan; Kenapa Anda masih takut jika itu akan terulang kembali? bukankah Anda telah berpengalaman akan hal yang seperti itu?

30. Masih ingat kah Anda akan kemarahan Anda di bulan lalu? Kepada siapa? dan perihal apakah itu?

31. Kenapa kebencian yang membekas di hati Anda perlu untuk diingat dan dikenang tiap detil nya?

32. Apakah Anda ingat masa kecil Anda yang bahagia? saat kapan kenangan istimewa itu? Masih adakah keinginan Anda untuk mengulangi nya?

33. Kapan terakhir kali Anda merasa sangat hidup dan bersemangat penuh?

34. Jika saat-saat seperti itu tidak Anda alami kini, lalu kapan? Sudahkah Anda berusaha mendapatkan kembali saat-saat seperti itu? Benarkah Anda merasa berbahagia disaat seperti itu?

35. Jika saat–saat berbahagia seperti itu belum tercapai, apakah Anda merasa kehilangan sesuatu? Apa gerangan itu?

36. Apa kah Anda pernah berbicara ke seseorang semisal sesuatu kata – tentang hal apa saja, kemudian Anda melengos pergi begitu saja tak lagi menghiraukannya dan Anda merasa bahwa si orang tersebut tidak pantas untuk ikut membicarakannya? Hal apa itu? Dan kepada siapa kah itu?

37. Tiap Agama pastilah mengajarkan kasih sayang serta cinta kasih terhadap sesama, tetapi tiap para penganutnya tak lelah berperang dan saling membenci satu sama lainnya seakan menjauh dari prinsip cinta kasih yang diajarkan itu? Apa gerangan penyebabnya? – apa ada alasan lainkah?

38. Kenapa tiap orang dipenuhi keraguan ketika tahu mana yang baik dan mana yang jahat hingga tiap orang ketika hendak menyampaikan pendapatnya memerlukan dukungan pendapat orang satu lainnya?

39. Mari lamunkan undian berhadiah, jika saat ini Anda diumumkan sebagai pemenang senilai sejuta dolar, akan kah Anda keluar dari pekerjaan Anda yang sekarang?

40. Mana yang paling Anda sukai, memiliki sedikit pekerjaan dan selesai tepat waktu atau memiliki seabrek-abrek pekerjaan dan tak tahu kapan selesainya tetapi Anda menikmatinya.

41. Pernahkah Anda merasakan bahwa sepertinya sudah beratus-ratus kali Anda mengalami hal-hal seperti sekarang ini jauh sebelumnya?

42. Pernahkah Anda merasa seakan sedang memasuki sesuatu lorong panjang gelap gulita tanpa tahu kapan berakhir? dan hanya ide Anda yang menyinari tiap langkah Anda dan Anda sepenuhnya percaya bahwa Anda akan berhasil dan terus giat meneruskan nya?

43. Andai saja Anda tahu bahwa semua orang yang Anda kenal tiap satu daripadanya akan meninggal wafat besok, kira-kira siapa yang akan Anda kunjungi di hari ini?

44. Sudikah Anda mengorbankan usia hidup Anda sepuluh tahun lebih cepat meninggal hanya untuk menjadi orang terkenal di saat kini ini?

45. Tahukah Anda apa perbedaan antara “menjadi hidup” dengan “menjadi benar-benar hidup”?

46. Bagian yang manakah yang bikin hidup lebih hidup?

47. Apakah Anda ingat kapan Anda hendak melakukan sesuatu yang Anda yakini benar tanpa menghiraukan untung rugi akibat tindakan itu?

48. Jika Anda mengingatnya dan tersadar bahwa itu adalah salah dan Anda sudah memperbaikinya, mengapa Anda masih takut berbuat salah?

49. Jika Anda tahu tak ada seorang pun akan menilai tindakan Anda, apa yang akan Anda lakukan secara berbeda?

50. Pernahkah Anda melihat warna suara seseorang?

51. Jika Anda tidak pernah bisa melihat suara seseorang yang sedang Anda dengar, apakah Anda pernah melihat bunyi nafas Anda sendiri?

52. Sesungguhnya apa yang sungguh-sungguh Anda sukai, pernahkah Anda mengutarakannya secara terbuka?

53. Dalam lima tahun ke depan, akankah Anda ingat apa yang Anda telah lakukan sekarang ini?

54. Masihkah Anda ingat apa yang Anda telah lakukan kemarin? Bagaimana dengan yang sehari sebelumnya?

55. Katakanlah, saat sekarang ini Anda membuat keputusan atas sesuatu – tentang hal apa saja: Jika itu Anda lakukan, apakah itu murni keputusan Anda seorang atau orang lain yang memutuskan untuk Anda?

56. Cuba ingat lagi, kapan terakhir kali Anda bebas memutuskan sesuatu dan itu benar-benar keputusan Anda seorang?

57. Kapan terakhir kali Anda mempertanyakan perbuatan seseorang yang menurut Anda kurang tepat untuk dia lakukan?

58. Kapan terakhir kali Anda mempertanyakan perbuatan Anda sendiri, yang menurut Anda kurang tepat untuk Anda lakukan?

59. Hal yang paling mudah dalam hidup kita adalah mempertanyakan tindakan orang lain hingga tiap orang satu lainnya kerap terdorong berusaha melakukannya secara sempurna. Tetapi, pernahkah Anda mempertanyakan tindakan diri sendiri?

60. Konon katanya, hanya orang yang mati rasa nan tega yang tidak tega mempertanyakan tindakan dirinya sendiri. Dan ia membutuhkan itu untuk menghindar dari sebutan ‘monster’ bahkan menjadikan tindakannya sebagai perlambang sifat kejujuran nurani dari mahluk sempurna. 
Masih kah Anda sudi mengaku diri sebagai mahluk sempurna? Tega nian Anda!
~Selamat bertanya-tanya!.
Disadur dari berbagai sumber.

Selasa, 03 November 2015

eTALASe

eTALASe

Bertanya itu Mudah, Semudah Menjawab dengan kata "Lupa"

“Bertanya ke sesama serumit apapun itu adalah mudah, semudah kita memberi jawaban ‘lupa’, namun bilamana kita ‘lupa’ bertanya ke diri kita sendiri akan kah kita dinilai ‘lalai?’
Sudikah Anda dihukum karenanya? Saya pilih Remis!

Bertanya sembari berpikir mustahil bisa dilakukan serentak di waktu yang bersamaan, bahkan para Ahli pemikir tidak pernah diketahui telah pernah melakukannya. Yang lajim hanyalah berpikir sebelum bertanya atau ditanya - gerangan apa lagi yang perlu dipikirkan untuk ditanya?.

‘Bertanya’ itu mudah, sama mudahnya dengan ‘menjawab’. Bahkan ada cara mudah untuk menjawab misalnya; ‘tidak tahu!’. Jika konotasinya dinilai tidak tepat ada pilihan lain lagi yakni: ‘lupa’. Lupa atau tidak tahu sejatinya sama tidak berbeda tetapi intonasi seakan menjadi plus minus bagi pihak yang menjawab. ‘Lupa’ bahkan dianggap karunia hingga tak perlu dihukum. Jika ‘lupa’ si pelupa harus dihukum ia diberi istilah pengganti misalnya; ‘lalai’. Anda boleh mendebat, kenapa begitu? Namun para Ahli hukum memutuskan bahwa ‘lupa’ bukan tindakan melawan hukum, tetapi ‘lalai’ berakibat hukum. Kadar ‘lupa’ si pelupa oleh si penghukum dinilai berapa karat; jika memenuhi kategori ‘lalai’ akan dikenai hukuman. Wah,,,pelanggaran!

‘Menjawab’ itu susah, sama susahnya dengan ‘Bertanya’ tak heran jika yang bertanya bahkan rela melupakan ‘pertanyaannya’, terutama jika itu membuat nya lelah penat menantikan ‘jawaban’. Dalam banyak peristiwa bahkan si penanya rela untuk turut serta berlelah-lelah ikut ‘mencari jawaban’. Sungguh melelahkan bukan?

Mari berlelah-lelah ‘mencari jawaban’ akan berbagai kemungkinan:

Kesatu:
“Andai ‘rasa lelah’ adalah  ‘mata uang’ yang berlaku dan bisa digunakan untuk sebagai alat tukar, Anda harus bagaimana kah?”
Jika Anda merasa ‘lelah’ maka timbangan penakar bobot ‘lelah’ yang tengah dialami akan menentukan jumlah ‘uang’ yang diperoleh. Dan ‘kelelahan’ yang dirasakan saat membelanjakannya, menjadi tambahan perolehan – demikian seterusnya. Diperlukan ‘kelelahan-senantiasa’ untuk menghasilkan ‘uang’. Sungguh sangat melelahkan bukan – dan Anda menjadi kaya.

Kedua:
“Andai penderitaan adalah ‘mata uang’ yang berlaku dan bisa digunakan untuk sebagai alat tukar, Anda harus bagaimana kah?”
Anda memiliki hak untuk membelanjakan ‘penderitaan’ Anda, nilainya sesuai timbangan penakar karat ‘penderitaan’ yang tengah Anda alami. Jika kemudian Anda menjadi senang mengetahui jumlah ‘uang’ yang diperoleh, maka rasa senang itu akan mengurangi jumlah nya. Anda akan menjadi sedih kecewa karenanya, dan itu akan menghasilkan uang yang berkelimpahan. Hati-hati ‘uang’ Anda bisa tergerus habis kalau senang. Sungguh menderita Anda - tetapi menjadi kaya.

Ketiga:
“Andai kebahagiaan adalah mata uang yang berlaku dan bisa digunakan untuk sebagai alat tukar, Anda harus bagaimana kah?”
Manakala Anda ‘bahagia’ penakar karat ‘kebahagiaan’ akan menghitung jumlah ‘uang’ yang Anda peroleh. Anda akan sangat senang karenanya, dan rasa itu akan menambah perolehan ‘uang’ - demikian seterusnya. Jika saja Anda bahagia bisa membahagiakan orang satu lainnya, Anda akan semakin bertambah kaya. Yang menderita susah tidak pernah bisa membelanjakan kesusahannya. Anda tidak perlu khawatir ‘uang’ Anda tidak akan pernah bisa berkurang, hanya dengan ‘senantiasa-senang’ Anda akan semakin kaya. Sungguh berbahagia Anda – dan kaya raya.

Keempat:
“Andai kekayaan Anda HARUS dipergunakan untuk meniadakan penderitaan sesama, Anda harus bagaimana kah?”
Untuk menjawab ini Anda harus benar-benar memiliki kekayaaan yang dimaksudkan. Walau saya ragu akan kesediaan Anda, namun pertanyaan ini saya tinggalkan untuk Anda seorang saja.

Kelima:
“Andai kekayaan Anda HARUS dipergunakan membahagiakan sesama, Anda harus bagaimana kah?”
Alangkah baiknya Anda, tetapi akan lebih baik lagi jika Anda menemukan jawaban yang tepat atau Anda akan dinilai ‘lalai’. Dan Anda harus terlebih dahulu yakin bahwa Anda benar memiliki kekayaaan yang dimaksudkan atau Anda akan kembali dinilai ‘lalai’ – untuk kedua kalinya. Saya memilih ‘lupa!’.
Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Salam hangat selalu!

Jumat, 23 Oktober 2015

Menguji Kemampuan Bertanya Sembari Berpikir Tengah Bertanya

“Emosi adalah karunia luar biasa yang kita punyai untuk memberitahu apa yang sedang kita pikirkan.”~Bob Doyle

Pekerjaan gampang tetapi susah adalah ‘bertanya’, dan pekerjaan sulit tanpa pernah berpikir telah dan tengah melakukannya adalah ‘berpikir’. Keduanya memiliki tingkat kesulitan yang setara, tetapi itu hanya akan tercapai bila ketika kita tengah bertanya dan berpikir mempertanyakan tanya – saya ini sedang berpikirkah atau tengah bertanyakah?. Tidak mudah menjelaskan detil keduanya, sama tidak mudahnya untuk orang bisa memahaminya. Tidak heran jika ada yang bertanya: ‘saya ini sedang apa kah?’ dan itu tidak memerlukan jawaban – percayalah!, hanya orang yang kurang kerjaan yang sudi menjawabnya.

Ada banyak pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban benar atau jawaban salah, bahkan terkadang pertanyaan yang diajukan secara tepat ndilala itu adalah jawaban yang paling tepat. Jadi untuk apa dijawab lagi? Tak heran jika Anda mencuba bolak balik membaca dan cuba meraba kemana arah postingan ini. Sebagaian barangkali merasa geli, lucu atau mungkin malah tidak peduli.

Mari sejenak menenggelamkan pikiran ke kedalaman genangan samudera pertanyaan yang oleh para penikmat sejati dinilai berkhasiat membebaskan diri dari himpitan kepenatan beban pikiran. Sebagai berikut:

Kesatu:
“Pernahkah Anda bertanya berapa lama lagi Anda akan hidup?”
Ini pertanyaan gila, sama gilanya jika Anda mengikuti kata hati Anda untuk menuntutnya agar ia juga ikut bertanya – berapa lama lagi kah? Dan akan semakin lebih gila lagi jika Anda tidak tahu berapa lama lagi persisnya. Kapan kira-kira berakhir? Ampun, berat nian!

Kedua:
“Bilamana Anda yakin, hidup Anda tak lah begitu lama lagi, mengapa Anda masih saja melakukan hal-hal yang Anda tidak sukai?”
Wah pelanggaran! Hanya orang yang tidak waras yang mau hidupnya singkat dan lebih tidak waras lagi jika ada yang mau hidup selama-lamanya. Baiklah, oleh karena Anda tidak ingin hidup selama-lamanya maka Anda senantiasa bergegas mencapai banyak hal, bekerja keras menyelesaikan segala hal. Setidaknya berharap bisa hidup senang dikala masih hidup syukur-syukur bisa menyenangkan hidup orang-orang yang Anda senangi. Itu terdengar waras dan akan lebih waras lagi jika Anda yakin tidak akan pernah bisa menyelesaikan semua hal. Akan selalu ada hal yang belum dilakukan, dan biar lah itu begitu.

Ketiga:
“Jika Anda yakin telah melakukan banyak hal, yakinkah Anda bahwa semua itu adalah hal yang benar? pernah kah Anda berpikir bahwa yang Anda lakukan itu sesungguhnya hanyalah hal-hal yang tidak benar belaka?”
Waduh cilaka, Saya pilih REMIS!
Anda urus saja sendiri, oleh karena hanya Anda seorang yang tahu apa saja hal yang sudah Anda lakukan. Apakah itu benar atau tidak itu hanyalah persepsi semata.

Keempat:
“Andai kata Anda diberi kesempatan menasihati bayi yang baru lahir, apa gerangan nasihat yang menurut Anda tepat untuk Anda berikan?”
Gila, ini pertanyaan yang tidak waras! Sama tidak warasnya jika Anda tidak pernah berpikir bahwa sejatinya anak bayi itu - dengan caranya, tengah menasihati Anda? Wah,,, tambah engga waras lagi!
Baiklah, anggaplah Anda dengan bayi itu sama-sama waras oleh karena itu – dengan cara masing-masing, Anda dengan nya sepakat untuk tidak saling menasihati. Benar-benar kesepakatan waras yang tidak waras bukan? Dan lebih tidak waras lagi manakala kita kerap melakukan hal yang tidak kita sukai. Dimanakah letak kewarasan itu? maka biarlah itu menjadi tugas akhir dari mereka yang mengaku waras, hanya merekalah yang membutuhkannya.

Kelima:
“Pernahkah Anda berpikir bahwa tiap orang kerap merenggut kebahagiaan Anda atau telah membuat Anda menjadi tidak berbahagia?”
Cilaka! Jika Anda berpendapat sedemikian itu, segeralah berkemas menggali timbunan nurani Anda moga-moga masih ada remah yang tersisa. Hanya nurani yang berkuasa atas makna arti bahagia, yang menikmati getaran kebahagiaan, yang tidak pernah bermasalah dengan ketidakbahagiaan. Dan saya sepakat dengan nurani Anda. Masih ada kan? Tak masalah jika Anda menghalalkan segala cara untuk menyelamatkan nurani Anda, dan itu tidak melanggar hukum - apa pun.

Adalah mudah mempertanyakan tindakan orang lain dan itu bisa dilakukan oleh siapa pun tetapi, pernahkah Anda mempertanyakan tindakan diri sendiri? Jika kesempurnaan hanya dimiliki oleh mahluk sempurna, masih kah Anda sudi mengaku diri sebagai sempurna? Satu tanya yang menggelitik nurani. 
Demikian disadur dari berbagai sumber.
~Salam hangat selalu.

Senin, 19 Oktober 2015

Tiap Orang Bertindak Sederhana Tetapi Berpikir Sangat Rumit

Kegagalan bukan pilihan tetapi rencana realistis pertanda lebih cerdas memanfaatkan yang terbaik.

"Believe that life is worth living and your belief will help create the fact."
~William James

Tiap kali memulai bisnis kita nyaris tak pernah bertanya; saya dapat apa – berapa? Tatkala rekan kita ajak turut serta, kita cenderung dibawa tenggelam berpikir rumit. Dihadang berbagai perilaku, ada yang meminta kompensasi diawal, ada yang bersedia dengan syarat ini dan itu. Ada yang langsung jalan tak lama kembali mengusung alasan; ini susah diteruskan! Banyak saingan, produk belum dikenal, harga lebih mahal dari yang sejenis, dll.

Berbagai hal menghadang, bahkan kelayakan kita dipertanyakan. Tawaran tambahan modal tetapi mengontrol sepenuhnya untuk alasan kepastian usaha bagaikan intimidasi. Alat kelengkapan menyedot modal. Mengawali dengan menjual rugi merusak perhitungan awal dan menggerus kinerja. Tiap orang memilih bertindak sederhana tetapi berpikir serumit mungkin. Tak ada jaminan sukses, hanya keuletan dan bersikukuh itu lah modal utama.

Tawaran bisnis menjadi kaya dalam 1x24 jam telah usang bahkan dicemooh. Orang semakin pintar dan lebih realistis, kita harus siap ditanya tanpa pernah siap gerangan hal apa yang akan ditanya. Norma kewajaran, aturan dan syarat kelayakan bisnis bertambah semakin menggerus enerji, menghambat minat berbisnis yang terus bertumbuh.

Modal bukan lagi masalah utama, jaringan bisnis bukan lagi tantangan, kemudahan internet berhasil melengkapi prinsip dasar HAM – persamaan hak mendapatkan penghidupan yang layak. Kini ini, Tim Kerja yang terpenting, dengan siapa Anda berbisnis. Banyak yang memilih menawarkan ke tiap orang, latar belakang bukan penghalang. Yang luwes berpikir sukses oleh kemudahan internet. Dunia tanpa batas menjadikan anak usia belum dewasa kaya raya, melampaui berjibun ilmu yang ditawarkan perguruan tinggi.

Berpromosi menjadi tergantung pada kelihaian kita, fasilitas internet hanya sarana dan kita lah pemain utama. Alat pemasaran menawarkan cara mudah berpromosi; kampanye E-mail, ber-iklan di sosial media, membuat situs Web atau Blog, ber-iklan gratis atau berbayar, dll. Pemasaran bukan lagi hak mutlak penjual, semua bisa berpromosi, menjual dan mendapat hasil. Jaringan internet menciptakan tatanan baru bahkan tipu penipu marak menggerogoti kerja keras pebisnis tulen. Hati-hati, kejujuran akan menang mengalahkan tindakan tidak terpuji.

Sebagian pebisnis takut memanfaatkan internet katanya orang lain akan diuntungkan. Pemikiran benar tetapi sesat. Membuat keuntungan menjadi terbagi adalah benar tetapi itu akan semakin lebih menguntungkan. Contoh restoran; mengurangi keuntungan dengan berbagai gaya seperti diskon untuk acara ulang tahun, rapat berkala, arisan atau fasilitas membership, dll. Tak ubahnya menjadikan pengunjung bagaikan bagian dari TIM Kerja, dan itu lebih menguntungkan.

Kontribusi lahir dari komitmen dan membawa sukses dalam bisnis - apapun. Tambahan ide gagasan serta injeksi pemikiran menjadi nilai tambah. Tiap orang dipaksa belajar memahami segala aspek berkenaan, sejatinya tiap orang ingin sukses melebihi apa yang sudah diperoleh. Membangun TIM Kerja adalah pekerjaan terbesar. Mengajarkan pengetahuan tentang bisnis dipercaya memicu gagasan baru yang melampaui ide gagasan awal. Tiap orang bertanya, ingin tahu bagaimana melakukan ini dan itu, apa saja yang menghadang dan cara menghadapinya, bagaimana kedepan. Innovasi dan kreatifitas bertumbuh. Dan tiap orang menyadari kegagalan bukan pilihan tetapi memperkaya gagasan mewujudkan mimpi menjadi nyata, dan itu yang harus ditetapkan.

"Unless commitment is made, there are only promises and hopes; but no plans."
~Peter F. Drucker

"Kecuali komitmen dibuat, hanya ada janji-janji dan pengharapan; Tetapi tidak direncanakan" demikian Peter F. Drucker. TIM Kerja memerlukan rencana kerja karena komitmen dan janji pengharapan mengharuskannya demikian. Dan itu adalah salah satu tujuan nya, lainnya akan Anda temukan, mengagumkan!

Bisnis SFI mengagumkan, kita dididik untuk berhasil dengan memberhasilkan orang satu lainnya. Menghindari kesalahan yang menghambat keberhasilan orang lain. Ingatlah, tidak ada formula tokcer untuk berhasil, lebih cerdas memanfaatkan yang lebih baik menjadi tahap awal keberhasilan.
~Salam sukses selalu!