Minggu, 02 Juli 2017

HANCURKAN Versi Lama Diri Anda!

Untuk maju Anda perlu berubah dan untuk berubah Anda perlu berpikir radikal. Tak ubahnya produk handphone atau ibarat android yang diproduksi bertahap sesuai jenjang kemajuan teknologi.

Anda perlu menghancurkan versi diri Anda yang lama agar diri Anda - versi yang terbaru, bisa bertumbuh berkembang bertunas dan berbuah.

Tinggalkan Kepastian Nikmatilah Ketidakpastian
Ibarat terlahir kembali, diri Anda akan diperbaharui dan menjadi versi terbaik dari diri Anda. Hakikatnya Anda membangun jarak membangun batas pemisah batas kesenjangan antara diri Anda dengan orang-orang dan lingkungan sekitar Anda.

Upaya ini akan ditentang ditolak oleh versi diri Anda yang lama, untuk itu jangan lemah! Hajar maju terus dan tinggalkan versi lama Anda.

Anda harus bisa meninggalkan nuansa kepastian yang tertanam pada versi diri Anda yang lama, bergerak maju menyongsong wahana ketidakpastian dari versi diri Anda yang baru.

Sejatinya tidak ada yang pasti.
Dan semakin Anda sadar akan hal ini, semakin Anda terpacu untuk memperbaiki diri.

Takut? Akui saja!
Jika Anda takut, berarti masih sehat wala’afiat! Takut akan hal baru – sesuatu tentang yang baru, itu wajar. Apalagi jika itu adalah wahana ketidakpastian akan versi terbaru diri sendiri, maka walau takut – akui saja takut,,,!

Dan malengganglah menjinakkannya.
Si-Takut itu pun akan takut berurusan dengan hasrat Anda – hasrat untuk berubah mengikutkan versi terbaru diri Anda.

Jangan biarkan rasa takut menjadi tembok penghalang ruang gerak Anda, tinggalkan zona kenyamanan Anda sebelum Anda dininabobokkan olehnya.

Jadilah berani.
Tak apa jika salah – karena itu nantinya akan mengarahkan Anda ke arah pintu benar!

Prioritaskan Hasil – Jangan Terjebak oleh Studi!
Tuntutlah ilmu hingga ke liang lahat – itu pepatah tua yang tak lekang oleh waktu. Jangan pernah berhenti membaca membuka gerbang wahana baru. Jangan lelah mengamati Mentor menjelaskan.

Orang pandai tak sudi berhenti belajar, dan versi terbaru diri Anda perlu asupan pengetahuan muktahir.

Pendidikan formal membuat hidup Anda menjadi lebih hidup tetapi pengalaman hidup membuat Anda mandiri.

Jangan biarkan hasil akhir pendidikan formal sekolah menghambat pembelajaran realitas hidup menuju versi terbaru diri Anda.

Tiap kita punya keterbatasan melahap semua ilmu pengetahuan sekolah tetapi itu semua tidak akan berarti jika tanpa hasil.

Dan dunia hanya mencatatkan hasil.

Hentikan Kepuasan Instan!
Tiap kita senang akan hal yang instan, yang mudah dicerna dan enak dipandang, diduga itu yang menyebabkan kebanyakan kita doyan nonton televisi.

Berhematlah, jangan boros menghabiskan waktu jongkok seharian melototin televisi, bisa habis enerji penglihatan Anda. Bisa habis enerji pendengaran Anda.

Ludes perhatian untuk tujuan tak bertujuan.

Lebih baik dimanfaatkan meng-instal ide pemikiran gagasan baru yang potensil menghasilkan yang riel.

Belajarlah menunda kesenangan instan!
Go ahead and made mistakes!

"Would you like me to give you a formula for...success? It's quite simple, really. Double your rate of failure... You're thinking of failure as the enemy of success. But it isn't at all...You can be discouraged by failure - or you can learn from it. So, go ahead and make mistakes. Make all you can. Because, remember that's where you'll find success. On the far side of failure."
~Thomas J. Watson, Sr.
~salam SukseS selalu!

Jumat, 23 Juni 2017

YANG TIDAK SEMPURNA ITU YANG SEMPURNA

Kala memulai bisnis kita terdorong untuk diam-diam menahan diri tidak memberitahukannya ke orang-orang terdekat. Ntah malu tak percaya diri yang pasti: “kerap menunggu saat yang tepat - alasan belum siap”. Menunggu sampai ada produk dulu atau ada hasil dulu dan berbagai alasan yang membenarkannya. Dan itu salah!

Kita kerap mengabaikan lingkungan padahal banyak bisnis yang menggurita dari lingkungan mulut-ke-mulut, melebar memanjang ke jaringan komunitas, dan sukses.

Menunggu juga terjadi kala mulai produksi. Kerap tergoda:”menunggu saat yang tepat merilisnya ke pasar”. Ntah karena kurang percaya diri kita terus berusaha menyempurnakan kualitas, mempercantik disain, memantau pasar dan jaringan sistim penjualannya, mencari hasil survey pasar seolah tak PEDE dengan harga jual yang ditetapkan, de-el-el.

Ingin terlihat punya produk produk andalan. Terbayang impian bakal terjual – untung sekian.
Dan, menjadi terlambat. Kecewa!

Apalagi jika ada produk yang nyaris serupa lebih dahulu mencuba menembus pasar dan sepi peminat, remuk gairah usaha. Lemas sendiri, goyah tak kukuh – letoy tak berdaya!

Tetapi, kala sambutan pasar geliat bergelora, mencengangkan, sesak berubah warna berganti sesal menjadi: Mengapa telat dirilis? Mengapa selama ini ditahan-tahan? Kenapa pula harus diubah-ubah, dan diubah lagi? Mengapa tak langsung dijual?

Modal gosong, hangus hanya karena si sempurna yang tak kunjung sempurna – sesal tak guna!

Tak juga sempurna-sempurna, kenapa kah? Diduga, itu karena asumsi Anda belaka!. Asumsi Anda yang salah tentang makna sempurna, tentang bagaimana keinginan orang, tentang bagaimana pendapat orang. Asumsi Anda yang tak benar tentang apa kata dunia? tentang orang-orang, tentang pasar, tentang produk.

Dan itu yang menghalangi si sukses menghampiri.

Pengusaha yang sukses menjadikan launching rilis produk untuk menjaring keinginan pasar. Untuk menjaring ide cara bagaimana bikin produk andalan. Bagaimana agar merek produknya populer dan menjadi sebutan untuk produk sejenis. Semisal; tiap pasta gigi populer sebagai “Pepsodent” – menjadi merek sepanjang masa.

Seyogianya, Anda tak perlu takut produknya dianggap tak sempurna, tetapi jadikanlah ketidaksempurnaan itu untuk menarik minat orang-orang menyempurnakannya. Seperti; Facebook - Mark Zuckerberg, berawal dari proyek anak sekolahan berubah seketika menjadi teknologi raksasa. Kini, mengubah wajah dunia!

Ketidakpastian iklim dunia bisnis seyogianya disesuaikan dengan ritme operasional dan itu adalah tindakan sempurna daripada mengandalkan asumsi pribadi yang cenderung sesat.

Peradaban bertitah, “jangan kendalikan tiap hal!” karena banyak hal diluar batas kemampuan kita. Walau kita mumpuni menyusun stratejik usaha tetapi itu adalah rencana, realitasnya ada banyak ragam hal yang tak bisa diprediksi. Apalagi dunia usaha – ia punya aturan sendiri.

Stop mengubah-ubah produk tetapi rilislah segera, karena tidak akan pernah ada produk yang tersia-sia. Dengan caranya, mekanisme PASAR akan menentukan peminat atawa penggunanya!

"Would you like me to give you a formula for...success? It's quite simple, really. Double your rate of failure... You're thinking of failure as the enemy of success. But it isn't at all...You can be discouraged by failure - or you can learn from it. So, go ahead and make mistakes. Make all you can. Because, remember that's where you'll find success. On the far side of failure."
~Thomas J. Watson, Sr.
Yang Tidak Sempurna Itu Yang Sempurna!!
~salam SempurnA selalu!

Jumat, 16 Juni 2017

Temukan Potensi DIRI dan Jadilah Diri Sendiri!

Sedari kita kecil lingkungan telah membanding-bandingkan diri kita dengan diri anak orang lain, dan kita menjadi terbiasa untuk terlihat lebih tangguh, lebih pintar dan lebih rapi. Menjadi anak baik dan harus menjadi juara - dalam tiap hal. Kebanggaan orang tua!

Menjelang dewasa kita diklasifikasikan menjadi anak remaja. Jika terlihat rada dewasa, kita dianggap menyimpang – tak patut, anak siapa itu? Jika terlihat sok jagoan, kita dinilai membahayakan – siapa orang tuanya? Jika masih cengeng dianggap kekanak-kanakan, kita dipaksa bercermin – lihat, kau itu sudah besar. Jangan bikin malu orang tua!

Tanpa tuntunan berbatas pasti – seolah semua harus sesuai kehendak orang tua. Dan oleh lingkungan itu dianggap alamiah.

Dan kemudian kita, telah pula mewariskan hal serupa. Akankah kelak anak-anak kita mewariskannya ke anak cucu mereka?

Peradaban bertitah, demi untuk kebaikan dan tatanan kehidupan, ajaran pengajaran orang tua tak boleh dinilai salah.

Jika ada pendapat bahwa itu-ini menyimpang, namun ‘nilai’ tak boleh disimpulkan ‘telah menyimpang’. Itu bukan salah lingkungan,  itu salah orang tuanya. Jika diingatkan bahwa – haram untuk kita menyalahkan orang tua, maka ditukar jawab - dasar anak kurang ajar. Bukan salah bunda mengandung tetapi keadaanlah yang memaksa. Titik!

Maka itu;

Jangan Kendalikan Tiap Hal:
Kita akan frustasi jika gagal mengendalikan sesuatu diluar batas kemampuan, enerji habis tersia-sia, menyiksa diri seolah kita ingin dianggap lebih sempurna.

Ketahuilah, tidak setiap saat kita harus mengemudikan hidup, ada kalanya kita menjadi penumpang. Walau hebat menyusun rencana namun ada banyak hal yang tidak bisa diprediksi.

Sadarilah bahwa tiap hal ada aturan mainnya.

Jangan Salahkan Orang:
Jangan terbiasa menyalahkan orang lain. Jika terus-menerus berlaku semberono begitu, itu akan merusak dan menyakiti orang-orang disekitar kita. Melemparkan tanggungjawab ke orang lain tidak akan membuat kita menjadi lebih baik.

Sejatinya tak seorang pun bisa disalahkan untuk bertanggungjawab atas tindakan kita.
Maka, bertanggungjawab-lah!

Jangan Hanya Cinta Harta:
Anggapan bahwa banyak uang banyak harta akan membuat orang-orang kagum - itu tidak selamanya betul. Kilauan harta tidak selamanya menghadirkan kepuasan sejati, banyak yang malah stress, tersiksa cemas berkepanjangan.

Memusatkan hidup dalam bayang-bayang kilau harta kekayaan akan menghantarkan kita ke lorong pencarian tak berujung. Melelahkan!

Uang bukan segalanya walau diperlukan untuk tiap hal! Uang hanya akan lebih bermakna jika digunakan meringankan beban hidup sesama.


Hindarkan Lingkungan Beracun:
Lingkungan orang-orang pesimis akan menghisap kemampuan pola pikir kita. Orang-orang pesimis tidak akan peduli dengan gagasan pendapat kita terkecuali kala butuh akan sesuatu.

Lingkungan negatif akan menggerus mentalitas positif kita tetapi percaya diri akan menghalau ekses pengaruh negatifnya.

Hindarkanlah sebisanya.

Jangan Tunda Ambisi Sukses:
Jangan mencari-cari alasan untuk terus menunda-nunda melaksanakan sesuatu. Mengubah-ubah rencana bukan alasan pembenaran. Stop buang enerji untuk alasan sia-sia.

Jangan biarkan kesempatan menguap.

Jangan Malu mengKritisi Diri:
Dialog yang terjadi dibenak kita (self-talk) jangan dikesampingkan walau jika itu lucu, semisal: “Bermimpilah hingga ke bulan jika pun jatuh ke langit masih disekitar bintang-bintang”.

Mengkritisi diri sendiri akan menyempurnakan ego pribadi namun jangan lakukan jika hanya karena takut akan penilaian orang lain. Kesampingkan dialog yang tidak konstruktif.

Temukan potensi diri dan jadilah diri sendiri.
a prospect become an SFI affiliate

~salam sukses selalu

Jumat, 09 Juni 2017

Pemikiran Yang Merusak

Kita dituntut keadaan untuk memilih tiap hal yang menguntungkan diri atau kelompok kita. Dipaksa situasi memilih tiap hal yang melindungi kepentingan kita. Meyakini bahwa itulah yang terbaik. Dan itu alamiah!

Ketika sesuatu keputusan membuat cemas, kita menjadi tersiksa didera rasa sesal. Serasa terjebak oleh situasi. Terbayang bagaimana perasaan orang-orang yang kita sayangi – apa kata dunia? Sesak oleh sesal. Terperangkap lingkar negatif yang menyiksa membebani hingga kesehatan menurun. Sebagian bahkan lari ke hal-hal yang kian merusak. Hidup bagai tak berdaya.

Orang Pintar tanggap dan menyediakan layanan mengobati. Bergelar aneh-aneh. Tiap kunjungan ditutup dengan resep pengharapan plus kwitansi tagihan – sekian! Istirahat yang teratur, minggu depan datang lagi. Walau patuh, tak kunjung sembuh. Hidup tak lagi normal!

Dan, itu semua berawal dari diri sendiri, ubatnya pun ada di dalam diri, dan hanya itu yang mujarab!

Caranya:

Jangan Memperbandingkan Diri:
Kita terbiasa dipaksa melakoni hidup dengan cara membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Jika tidak, kita dianggap tidak akan sukses, tidak akan kaya raya. Seolah kurang modal jika hanya hidup berbekal kehidupan sendiri.

Jangan mau dipaksa lupa bahwa tiap orang punya keunikan tersendiri. Punya bakat tersendiri bahkan rasa cemas dan hasrat pun berbeda-beda.

Maka tak adil jika kerap membanding-bandingkan diri kita dengan diri orang lain, tetapi seimbangkanlah demi menampilkan sisi terbaik diri kita.

Jangan Mau Abai:
Jangan abaikan milik sendiri. Bagaimanapun kita adalah kita dan hidup kita itu adalah diri kita. Jika pun hanya kesenangan kecil yang kita punya, nikmatilah. Penghargaan atas hidup berawal dari perlakuan kita terhadap hidup kehidupan kita. Mulailah dengan mensyukuri nilai tiap hal yang kita miliki.

Hidup itu indah maka berbanggalah atas itu. Sesukses apapun seseorang, ia terliihat seolah tak pernah cukup berkecukupan. Terus tergoda menggali, tangguh mendapatkan lebih banyak lagi – dan tak henti-henti.

Dengan bersyukur kita bisa hidup tenang dan itu membuat hidup lebih hidup lagi. Lebih peduli akan sesama.

Jangan Mau Cemas:
Jangan pupuk benih kecemasan atawa bibit kekhawatiran. Keduanya akan mewarnai hidup dengan rasa iri dengki dan benci tak berkesudahan. Hilang akal sehat karena takut gagal. Berubah menjadi amarah yang menimbulkan rasa permusuhan. Dan itu akan menghisap keahlian kita untuk hidup sukses.

Memaksanya keluar barangkali bisa dengan meditasi. Atau bisa dengan merenungkan kembali tindak ucapan kita ke orang lain. Mulailah dengan menyusun daftar kecemasan – apa saja itu? Itu akan membuat kita terbebas dan menjadi paham bahwa, sejatinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Jangan Mau Terperangkap oleh Masa:
Andai alam kesadaran kita hanya terfokus ke masa lalu dan atau ke masa depan, kita akan kehilangan momentum pengalaman di masa kini ini. Masa dimana kita hidup. Walau pengalaman pahit masa lalu kerap mengganjal tetapi jika kita tetap terfokus maka kita tak akan kehilangan kesempatan menikmati momentum di masa kini ini. Hidup tak akan berlalu begitu saja.

Tiap orang punya masa lalu, tetapi tiap orang hidup untuk masa depan.

Bahwa masa lalu kerap meninggalkan bercak yang takkan hilang – itu betul. Tetapi dengan fokus, kemampuan kita akan terpicu untuk berinteraksi dengan tiap hal di masa sekarang ini – dan menjadi berbahagia.

Berlatihlah, Nikmati hidup dimasa kini ini!
Berlatihlah, Nikmati hidup dimasa kini ini!