Rabu, 04 Desember 2019

JAWAHIR-AWAS ADA YANG MENGAWASI


Ketahuilah, setiap orang punya kebiasaan untuk mengawasi. Tetapi terkadang rada berlebihan dan menjadi tidak sehat, terutama ketika dilabeli dengan alam pikiran ketidaksukaan. Menjadi bias, sumir tidak terukur.

Karenanya, jika semisal Anda bertugas MENGAWASI dan diharuskan untuk membuat daftar PENGAWASAN, lakukanlah dengan cara-cara yang benar demi untuk tujuan keperluan yang benar. Didasari alasan yang benar.

Disamping catatan kesalahan yang bisa ditemukan, catatkan juga hal-hal benar yang tentunya bisa disyukuri keberadaannya. Karena, suatu kesalahan paling fatal pun kerap mengandung hal positif serta kemanfaatannya.

KISAH BERAT GELAS KACA:
Alkisah seorang profesor perlahan memutari kelas sembari menerangkan “Manajemen Krisis” dan tentang “Stress” serta prinsip keilmuan yang terkait.

Sesaat kembali tiba di mejanya, sang professor mengangkat Gelas berisi air putih minumannya, menatap tajam seisi ruangan, jauh menerawang tembus pandang ke hitam bola mata para kandidat doktor siswanya.

Sekujur ruangan terdiam, hening, merenung ternanti-nanti. Semua mata memandang tajam ke arah Gelas, tertuju dipenuhi pertanyaan, mereka-reka, menebak kemungkinan apa yang akan dipertanyakan?

Apakah akan bertanya lagi tentang: “gelas setengah kosong atawa gelas setengah berisi?” atau mungkin tentang: “gelas-gelas kaca?”

Berdehem, Profesor datar bersuara: “berapa berat gelas yang saya angkat ini?” Bagaikan bunyi klakson di terminal Pasar Senen, riuh ramai, tiap siswa bertaruh akan tebakan terbaiknya. Sedari dua ons, tiga empat ons hingga setengah kilo, dan lain-lain direka tak putus.

Tak satu pun yang mengena, sepertinya tepatnya begitu itu!

Berdehem dan berdehem lagi hingga seisi kelas kembali senyap, Professor berkata: “dari sudut pandang saya, berat persisnya bukan lah masalah utama, karena akan sangat tergantung pada berapa lama saya mampu mengangkatnya”.

“Jika hanya untuk satu atawa dua tiga menit saja, itu ringan. Tetapi jika bertahan lima tahun - penuh satu periode, tentunya akan menjadi sangat berat. Semakin lama, kian semakin terbebani oleh beratnya. Bisa sakit sekujur lengan tangan hanya karena terbebani – walau hanya oleh air segelas saja”.

Beban hidup pun demikian itu. Tekanan kekhawatiran hidup tidak tergantung pada seberat apa beban hidup, tetapi akan sangat tergantung pada seberapa lama Anda kuat menanggungkannya.

Jika Anda memikirkannya hanya satu dua tiga waktu saja, akan dipahami bahwa itulah beban yang harus dihadapi. Waktu yang tersisa akan Anda habiskan untuk mencarikan jalan keluar bagaimana cara mengatasinya.

Tetapi, jika Anda menghabiskan seluruh waktu untuk memikirkannya, kenapa begini kenapa begitu? bagaimana kini ini, bagaimana pula nanti? Beban itu akan kian semakin terasa berat membebani, perlahan berubah menjadi beban yang paling terberat dalam hidup Anda.

Pikiran dipenuhi hal yang makin menjauhkan Anda dari langkah-langkah yang bisa mengatasinya. Terbuang percuma waktu habis tersita menyesalkan meratap hingga kemudian mencari cara bagaimana menyalahkan orang-orang yang menurut Anda menjadi durjana penyebab beban yang membuat hidup menjadi seberat itu.

Hilang semangat untuk mengatasi, Anda malah fokus menjatuhkan orang-orang yang menurut Anda adalah yang menjadikan susah memberantakkan hidup Anda.

Seyogianya, apa pun yang menyulitkan jangan dipikirkan sepanjang hari, jangan bebani pikiran hingga keesokan harinya. Jika itu terjadi pagi hari, sebelum jam makan siang pastikan Anda telah melupakannya.

Pastikan beban pikiran yang mengganjal tidak dibawa pulang ke rumah.

Sisi baiknya, beban pikiran itu adalah pemicu semangat yang menjadikan hidup menjadi kian semakin lebih hidup lagi. Tetapi tidak semua orang memahaminya.

Jika tangan Anda sudah merasa berat itulah saatnya untuk Anda meletakkan kembali gelas air itu. Lelah pikiran akan menjadikan stress hingga mengalami kelelahan mental – depressi.

Kelola pikiran Anda, kalahkan pikiran negatif dengan menambah perbendaharaan pikiran yang positif.

Hidup ini terlalu berharga jika rusak hanya karena omongan segelintir orang.

~Salam Jawahir selalu!

Disadur dari : Dr. Steve G. Jones, Founder, Dream Life Mastery