Karenanya, jika semisal Anda bertugas MENGAWASI
dan diharuskan untuk membuat daftar PENGAWASAN, lakukanlah dengan cara-cara
yang benar demi untuk tujuan keperluan yang benar. Didasari alasan yang benar.
Disamping catatan kesalahan yang bisa
ditemukan, catatkan juga hal-hal benar yang tentunya bisa disyukuri
keberadaannya. Karena, suatu kesalahan paling fatal pun kerap mengandung hal
positif serta kemanfaatannya.
KISAH BERAT GELAS KACA:
Alkisah seorang profesor perlahan
memutari kelas sembari menerangkan “Manajemen Krisis” dan tentang “Stress” serta
prinsip keilmuan yang terkait.
Sesaat kembali tiba di mejanya, sang
professor mengangkat Gelas berisi air putih minumannya, menatap tajam seisi
ruangan, jauh menerawang tembus pandang ke hitam bola mata para kandidat doktor
siswanya.
Sekujur ruangan terdiam, hening,
merenung ternanti-nanti. Semua mata memandang tajam ke arah Gelas, tertuju
dipenuhi pertanyaan, mereka-reka, menebak kemungkinan apa yang akan
dipertanyakan?
Apakah akan bertanya lagi tentang: “gelas setengah kosong atawa gelas setengah
berisi?” atau mungkin tentang: “gelas-gelas
kaca?”
Berdehem, Profesor datar bersuara: “berapa berat gelas yang saya angkat ini?”
Bagaikan bunyi klakson di terminal Pasar Senen, riuh ramai, tiap siswa bertaruh
akan tebakan terbaiknya. Sedari dua ons, tiga empat ons hingga setengah kilo,
dan lain-lain direka tak putus.
Tak satu pun yang mengena, sepertinya tepatnya
begitu itu!
Berdehem dan berdehem lagi hingga seisi
kelas kembali senyap, Professor berkata: “dari sudut pandang saya, berat persisnya
bukan lah masalah utama, karena akan sangat tergantung pada berapa lama saya
mampu mengangkatnya”.
“Jika hanya untuk satu atawa dua tiga menit saja, itu ringan.
Tetapi jika bertahan lima tahun - penuh satu periode, tentunya akan menjadi
sangat berat. Semakin lama, kian semakin terbebani oleh beratnya. Bisa sakit sekujur
lengan tangan hanya karena terbebani – walau hanya oleh air segelas saja”.
Beban hidup pun demikian itu. Tekanan kekhawatiran hidup tidak
tergantung pada seberat apa beban hidup, tetapi akan sangat tergantung pada
seberapa lama Anda kuat menanggungkannya.
Jika Anda memikirkannya hanya satu dua
tiga waktu saja, akan dipahami bahwa itulah beban yang harus dihadapi. Waktu
yang tersisa akan Anda habiskan untuk mencarikan jalan keluar bagaimana cara
mengatasinya.
Tetapi, jika Anda menghabiskan seluruh
waktu untuk memikirkannya, kenapa begini kenapa begitu? bagaimana kini ini,
bagaimana pula nanti? Beban itu akan kian semakin terasa berat membebani,
perlahan berubah menjadi beban yang paling terberat dalam hidup Anda.
Pikiran dipenuhi hal yang makin
menjauhkan Anda dari langkah-langkah yang bisa mengatasinya. Terbuang percuma waktu
habis tersita menyesalkan meratap hingga kemudian mencari cara bagaimana menyalahkan
orang-orang yang menurut Anda menjadi durjana penyebab beban yang membuat hidup
menjadi seberat itu.
Hilang semangat untuk mengatasi, Anda
malah fokus menjatuhkan orang-orang yang menurut Anda adalah yang menjadikan susah
memberantakkan hidup Anda.
Seyogianya, apa pun yang menyulitkan
jangan dipikirkan sepanjang hari, jangan bebani pikiran hingga keesokan
harinya. Jika itu terjadi pagi hari, sebelum jam makan siang pastikan Anda telah
melupakannya.
Pastikan beban pikiran yang mengganjal
tidak dibawa pulang ke rumah.
Sisi baiknya, beban pikiran itu adalah
pemicu semangat yang menjadikan hidup menjadi kian semakin lebih hidup lagi.
Tetapi tidak semua orang memahaminya.
Jika tangan Anda sudah merasa berat
itulah saatnya untuk Anda meletakkan kembali gelas air itu. Lelah pikiran akan
menjadikan stress hingga mengalami kelelahan mental – depressi.
Kelola pikiran Anda, kalahkan pikiran
negatif dengan menambah perbendaharaan pikiran yang positif.
Hidup ini terlalu berharga jika rusak
hanya karena omongan segelintir orang.
~Salam Jawahir selalu!
Disadur dari : Dr. Steve G. Jones, Founder, Dream Life Mastery
