Selasa, 31 Maret 2020

Servant Leadership

something nice that you should know
Click the link below to find out:

https://www.linkedin.com/learning-login/share?forceAccount=false&redirect=https%3A%2F%2Fwww.linkedin.com%2Flearning%2Fken-blanchard-on-servant-leadership%3Ftrk%3Dshare_ent_url

Jumat, 27 Maret 2020

BULAT LONJONG VS BULAT BUNDAR

Ini adalah tentang kebenaran yang dianggap “kontroversial” karenanya layak untuk diuji;
Bahwa, berpikir positif bukan jaminan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi bekerja keras mewujudkannya adalah cara terbaik”. Karena sejatinya; “berpikir positif hanya akan membawa Anda ke jurang kekecewaan jika tidak berusaha mewujudkannya, karena hidup bukan angan-angan. Bagaimana pun berpikir positif memerlukan keterampilan dan kerja keras. Itu yang Anda perlukan”.

Mari mulai dengan ilustrasi sederhana:

“Anda penasaran karena sulit melupakan mimpi Anda. Bertanya kesana-kemari mencari tahu maknanya apa. Beberapa orang menyarankan untuk mempercayai naluri Anda, alasannya mimpi adalah gambaran tentang sesuatu yang nyata, perlu bersabar untuk mewujudkannya, perlu waktu dan harus bekerja keras. Sebagian orang akan menggali potensi kompetensi Anda dan menyarankan untuk meningkatkannya. Lainnya berkata agar Anda sadar akan realita, itu hanya mimpi penghias tidur saja. Tidak perlu diingat-ingat karena akan berubah seiring perubahan warna sprei tilam dan sarung bantal Anda. Hei…bangunlah, jangan kau mau terbawa mimpi!”

Semuanya benar, karena mereka mengungkapkan apa yang di dalam pemikirannya. Itu adalah tentang mimpi Anda, sesuatu yang Anda idam-idamkan, diperlukan tekad dan kerja keras serta fokus.

Intinya adalah kompetensi dan kapasitas.

"Nobody is superior, nobody is inferior, but nobody is equal either. People are simply unique, incomparable.You are you, I am I."~osho

Apakah Anda termotivasi melakukannya? Anda tidak perlu menjawabnya, hanya Anda perlu menunjukkan dengan berusaha, itu yang menjadi bukti pertanda bahwa Anda tengah fokus berusaha mewujudkannya.

Anda perlu berlatih memprogram ulang cara Anda berpikir:

1. Perhatikan Hal-hal Kecil
Hal-hal kecil jangan diabaikan karena banyak peristiwa penting gagal oleh karena hal-hal kecil yang bahkan tidak dipertimbangkan. Ibarat tekanan angin pada roda ban, jika kurang kendaraan bisa berkurang kecepatannya dan menjadikan bensin boros.

2. Jangan Terlalu Khawatir
Lepaskan diri Anda dari tekanan rasa khawatir jika tidak Anda akan kehabisan waktu, lebih baik memanfaatkan waktu untuk mencari solusi. Rasa khawatir tidak akan mengubah apa pun bahkan cenderung menimbulkan rasa khawatir lainnya. Fokuslah mencari solusi yang paling dimungkinkan untuk dilaksanakan. Tertawakan rasa khawatir yang timbul. Tersenyumlah, ambil manfaatnya, itu bisa mengubah beban berat menjadi terasa ringan. Tertawalah, itu akan membuat energi positif memenuhi ruang semangat membuat Anda fokus pada aktivitas yang dilakukan.

3. Menyerah
Anda tidak perlu memaksakan diri berusaha membuat segalanya lebih baik. Mustahil bisa memperbaiki segalanya, menyerahkan pada kehendak semesta terkadang malah menjadikannya lebih baik. Menyerah adalah bentuk pengakuan diri akan keterbatasan diri sendiri, itu yang melahirkan perspektif bahwa kehidupan ini tidak seluas yang Anda pikirkan.

Selanjutnya, Anda perlu berlatih memprogram ulang cara berpikir bagaimana Kebijaksanaan Anda akan mengisi dan mewarnai kehidupan Anda.

Mari lihat ilustrasi lainnya:

Konon di suatu masa, seorang pemilik toko kelontong hidup berdua dengan putrinya. Modal toko kelontongnya dipinjam dari orang kaya di kampung sebelah. Dikenal suka membantu walau dengan berbunga tinggi. Pemilik toko kelontong biasanya tidak kesulitan mengembalikan, tetapi kemarau panjang menjadikan panen petani menurun dan peternak gagal menggemukkan sapi peliharaannya. Kering dan gersang. Petani dan peternak itulah yang menjadi pelanggannya mereka kesulitan membayar hutang belanjaannya, imbasnya pemilik toko kelontong gagal membayar hutang modalnya.

Si orang kaya bersama centengnya mendatanginya, dihadapan pelanggannya berkata keras jika jumlah hutangnya sudah menggunung, sepertinya seluruh harta dan nyawanya jika pun laku dijual tidak akan cukup mengembalikannya.

Semua yang mendengar diam. Si pemilik toko kelontong menyahuti perlahan bahwa dia telah membicarakan permintaan si orang kaya yang ingin menikahi putrinya. Tawaran yang sudah lama ditolak karena rasa malu, tetapi merasa terlanjur telah dipermalukan, si pemilik toko kelontong melanjutkan bahwa, tawarannya diterima dengan syarat hutang tokonya dihapuskan. Syarat yang kedua, si orang kaya tidak memanggilnya “bapak mertua” karena usianya jauh lebih mudah. Lebih pantas jika dia yang memanggil “bapak mantu”.

Tawaran baik tetapi terdengar menyepelekan. Si orang kaya mencibir dan berkata bahwa tak perlu berlama-lama memutuskannya. Akan dia masukkan dua batu kerikil ke dalam kantong kulit yang dibawanya. Satu kerikil hitam bulat lonjong, yang kedua kerikil putih bulat bundar. Keduanya diambil dari batu-batu yang berserakan di jalanan depan toko kelontong itu. Putri pemilik toko kelontong akan dipanggil mengeluarkan salah satu dari dalam kantong.

Ketentuannya; jika yang dia keluarkan kerikil hitam bulat lonjong, hutang hapus, putrinya dinikahi; jika kerikil putih bulat bundar hutang hapus tetapi putrinya tidak dinikahi. Jadi jika putrinya bersedia dinikahi itu adalah keputusannya sendiri bukan oleh si pemilik toko kelontong. Orang-orang yang mendengar riuh berpendapat, ketentuan itu adil.

Si orang kaya berjalan ke jalanan, memungut dua kerikil. Putri si pemilik toko kelontong diam-diam mengintip, mengetahui jika si orang kaya sengaja memasukkan dua kerikil hitam bulat lonjong. Nalurinya mengingatkan bahwa hanya ada tiga pilihan tersedia untuknya, yakni:

1, Menolak mengeluarkan kerikil dari dalam tas.

2. Mengeluarkan keduanya, orang-orang akan menghakimi keculasan si orang kaya, namun mempertimbangkannya lagi, bagaimana pun si orang kaya sudah banyak membantu ayahnya.

3. Mengeluarkan salah satu konsekuensi dinikahi, hutang bapaknya hapus.

Si orang kaya berseru memintanya mendekat untuk memasukkan tangannya ke dalam tas kulit dan mengeluarkan satu kerikil. Orang-orang diam ditempat, masing-masing memelihara sendiri pendapatnya.

Putri si pemilik toko kelontong mendekat, tangannya masuk mengeluarkan satu kerikil tetapi tak sengaja menjatuhkannya ke tumpukan kerikil yang berserakan di jalanan. Seolah kaget dia berseru; “Maaf, saya tidak sengaja”. Dia meminta si orang kaya memeriksa tasnya, katanya: “dari kerikil yang tertinggal, pastinya Anda bisa mengetahui warna kerikil yang tadi terjatuh”.

Orang-orang riuh berpendapat, ada yang berkata itu kerikil putih, lainnya berkata itu kerikil hitam. Si orang kaya termangu, pastinya dia tahu kerikil yang tersisa. Memahami jika putri si pemilik toko kelontong tidak ingin mempermalukannya serta tidak ingin menyinggung perasaan bapaknya. Pasti dia  mengetahui situasi keuangan bapaknya.

Si orang kaya kemudian melirik sebentar ke dalam tas kulitnya, memilih untuk tidak mengekspos warna kerikil yang tersisa. Dia simpan rahasia itu untuk dirinya. Kemudian berseru, bahwa sejak saat itu hutang si pemilik toko kelontong telah hapus dan putrinya tidak akan dinikahi. Bersama centengnya berlalu meninggalkan toko kelontong itu.

Orang-orang gaduh berkerumun, masing-masing bersitegang kukuh menjaga pendapat dan pemahamannya sendiri.

Pesan moral yang dituju adalah, Anda bisa mengatasi sesulit apapun permasalahan yang terjadi, hanya saja Anda harus berpikiran positif. Setiap hal pasti ada hal ihwal muasal penyebabnya karenanya jangan menyerah pada pilihan yang ditetapkan orang lain untuk dilakukan. Anda juga memiliki pilihan, hanya saja Anda perlu meyakini orang-orang pastinya bisa menerimanya setidaknya mempertimbangkan karena setiap orang akan bisa menerima pilihan yang berbeda.

Anda hanya perlu berpikiran positif dan berdamai dengan masa lalu Anda. Jangan terganggu dengan apa yang dipikirkan orang-orang tentang Anda. Waktu akan bekerja dengan caranya, menyembuhkan segalanya, hanya saja Anda harus bertanggung jawab terhadap hidup Anda. Itulah kebahagiaan sejati.

Berhentilah membanding-bandingkan hidup Anda dengan orang lain dengan cara jangan pernah mau menilai orang lain. Karena Anda tidak tahu apa saja yang telah dilalui orang lain dalam hidupnya. Berhentilah memikirkan segalanya apalagi berusaha membuat segalanya lebih baik menurut versi Anda.

Tersenyumlah dan bebaskan dirimu dari hal-hal yang bukan tanggung jawabmu.

~salam sukses selalu



Selasa, 10 Maret 2020

PENDONGENG LUAR BIASA

"What you Think, You Create. What you Feel, You Attract. What you Imagine, You Become."~Unknown

Kau akan menciptakan (sesuatu) apa yang kau pikirkan. Kau akan menanggapi (hal) apa yang kamu rasakan. Kau akan menjadi (seperti) apa yang kau bayangkan. Ini adalah tentang konsep dasar hukum tarik-menarik yang diakui kedashyatannya.

Bahwa apapun kejadian yang menimpamu, sejatinya itulah yang kau inginkan. Jika ternyata itu kejadian buruk itu karena keinginanmu yang mendasari hingga terjadi sedemikian itu. Jika kau ingin sebaliknya, maka kau harus bisa berpikir positif untuk memancing terjadinya hal-hal yang menyenangkanmu.

Peristiwa seru yang mengisi perjalanan hidupmu, yang membanggakan, suatu peristiwa yang kelak bisa kau ceriterakan. Karena manusia adalah pendongeng luar biasa yang menyukai kisah hidupnya sendiri. Tetapi kau bukanlah kisahmu..

Bahkan ada peristiwa dalam hidupmu, dimana kau sama sekali tidak punya hak menceriterakannya yakni saat kelahiranmu serta detik-detik kematianmu.

Jika pun kau mendengar kisah tentang kelahiranmu, itu kisah yang diceriterakan oleh orang yang mengetahuinya. Misalnya ibu-bapamu atau bidan yang membantu persalinan ibumu, yang menceriterakannya menurutkan versinya maka bisa jadi akan ada dua kisah tentang kelahiranmu, karena semua orang adalah pendongeng dan menyukai kisahnya sendiri.

Tetapi walau demikian kau bukanlah kisahmu, karena kau tidak akan pernah bisa menceriterakan kisah selengkapnya tentang segala peristiwa yang kau alami.

Apalagi kisah ceritera tentang kematianmu adalah peristiwa terpenting yang tidak akan pernah kau ketahui bahwa itu benar-benar terjadi menimpamu.

Anda boleh membantah kebenarannya! Namun sejarah peradaban mencatat manusia adalah pendongeng luar biasa bahkan tiap orang berminat mendengarkan kisah tentang orang satu lainnya. Semua punya keinginan yang sama hingga bersama menciptakan kegiatan berkala agar bertemu saat arisan perkumpulan, reuni, aniversari peringatan ke-seratus, kegiatan napak tilas, dan lain-lain.

Walau dengan thema, sub-thema yang berbeda, tetapi tujuannya nyaris sama, yakni agar setiap orang punya kesempatan bertemu untuk berbagi kisah tentang peristiwa apa saja. Semuanya kangen mendengar kisah kehidupan sesamanya, ada yang takjub, kagum terheran-heran, banyak juga yang mencemooh tetapi konsentrasi mendengarkan tersedot ke dalam ranah peristiwa yang terjadi disaat itu.

Manusia adalah pendongeng.  Ada yang kangen mendengar pidato tokoh, ada yang bahkan berusaha agar kembali bisa berpidato, bila perlu bikin acara sendiri agar bisa pidato mengenang saat kejayaannya.

Banyak yang berharap dapat kesempatan berbagi kisah tentang apa saja, ada juga yang harus memaksakan diri tetapi banyak yang harus dipaksa menjelaskan hal-hal yang terjadi. Ada yang yang sukarela, beberapa lainnya bahkan harus dibayar untuk sekedar memberikan testimoni. Semua berusaha berceritera tentang bagaimana kehidupan ini mewarnai dunia ini. Orang tua, tokoh, pastur, pendeta, ulama, guru sekolah, artis, aktor hingga produser film serta politisi semuanya adalah pendongeng kategori modern.

Jika narasi kata dianggap kurang memadai menggambarkan kejadian beberapa bahkan membayar agar disajikan dengan gambar-gambar illustrasi, rekaman suara atau bahkan membuat film yang menyerupai. Ini adalah bukti pertanda nyata bahwa manusia adalah pendongeng. Semua orang menyukai film, acara talk-show radio dan televisi hingga testimoni. Dan semuanya bersikeras berceritera menurutkan versinya karena setiap orang menyukai kisah ceriteranya sendiri.

Maka tak heran jika kisah tentang virus penyakit “corona-corvid19” bisa berubah menjadi kisah ceritera tentang “karena dan oleh karena” setiap orang menceriterakannya ke orang satu lainnya menurutkan versinya. Benar-benar virus cilaka. Cilaka 12 jika terpapar.

Mari lihat kisah lainnya:

Ini adalah kisah tentang hantu penasaran. Kejadiannya saat saya berusia belasan tahun. Sering sekali memanjat pohon beringin besar yang tumbuh rimbun di pinggir sungai di kampung. Airnya yang jernih mengalir tenang, kedalaman hanya sebatas paha orang dewasa. Menjelang sore hari kerap digunakan ibu-ibu dan wanita untuk mandi selepas mencuci pakaian. Semua orang mengetahuinya.

Kepada teman-teman sepermainan, saya selalu berceritera bahwa pohon beringin itu ada hantunya. Bercambang lebat hitam putih dengan kepala botak plontos, besar sekali, harus hati-hati jika tidak bisa celaka, hingga teman-teman ketakutan ikut-ikutan memanjat. Nongkrong sendirian di celah cabang pohon bebas memandangi keindahan seluk beluk warisan semesta alam yang terpampang dibawahnya.

Semuanya bercengkerama, tertawa lepas, dan sI hantu tekun melotot dengan jantung berdegup, berdebar tidak karu-karuan. Hingga suatu ketika, sI hantu menjerit berteriak karena terpeleset jatuh, tergantung kaki keatas tersangkut pada akar-akar beringin besar yang banyak menjuntai. Orang-orang berkerumun datang berusaha menurunkan.

Sejak itu, kisah ceritera hantu perlahan sirna apalagi orang-orang tua kampung sepakat memotong habis cabang batang pohonnya hingga terlihat menjadi terang benderang. Tiap kali si hantu naik memanjat naik, tidak lagi ada celah batang pohon untuk nongkrong.

Seiring waktu, air sungai mulai keruh kuning dan semakin dangkal hingga akhirnya mengering, banjir saat musim tertentu tetapi si hantu sudah puluhan tahun tidak lagi pernah kesana. Sudah tidak ada orang yang menceriterakan kisah tentang hantu tersangkut di akar pohon, mungkin sudah tidak ada yang menyukai kisahnya.

Manusia adalah pendongeng luar biasa.

Dia bisa menceriterakan kisah tentang apa saja, tetapi perlahan dia akan terdorong menceriterakan kisah tentang dirinya sendiri. Ini adalah kodrat mutlak yang dianggap erat melekat pada setiap orang. Tak heran jika kemudian ceritera itu juga yang akan membatasinya bahkan menjadi batas perjalanan kehidupannya membelenggu memenjarakan dirinya. Penjara yang dia ciptakan sendiri untuk dirinya sendiri.

Walau jika diawal-awal orang-orang bisa menyajikan kisah ceritera hebat dramatis, namun, akan tiba saatnya dimana kisahnya menjadi tak lagi relevan dan kemudian dia terdorong untuk menceritakan kisah ceritera tentang dirinya sendiri. Dikala itu terjadi, dia tengah membangun penjaranya sendiri. Penjara yang kekal abadi.

Kisah ceritera itu perlahan-lahan akan memimpin dirinya, mengaturnya maju mundur dan melumpuhkan segala hal menyangkut diri dan kehidupannya. Dan itu yang akan menjadi beban di sisa perjalanan hidupnya.

Anda boleh membantah kebenarannya, tetapi itu yang sebenarnya. Kisah ceritera tentang diri sendiri diawal-awal akan membawanya melanglang buana kesana kemari seakan benar-benar bebas tidak terbatas. Seakan-akan sangat hebat, tetapi pada akhirnya kisah itu kemudian akan membatasi kebebasan dirinya, akhirnya memberhentikannya.

Mungkin dirinya akan berdalih jika kisah tentang kehidupannya adalah lampiran dari sejarah perjalanan sukses keberhasilannya. Tetapi tidak semua orang hidup dengan pemahaman segampang itu. Orang-orang mungkin akan bisa menerima dengan dasar alasan pembenaran berdasarkan macam rupa alasan, namun bagian terbesar lainnya pasti akan menolaknya.

Sebagian orang-orang kemudian tercatat telah terlambat menyadari keteledoran yang terjadi. Terlambat menyadari jika mereka benar-benar telah dibohongi. Akan kerap terjadi kegamangan besar, karena orang-orang akan kian berminat mengintip dan melihat dengan kepala sendiri memastikan ketidakmampuannya. Dan dirinya ternyata benar-benar tidak punya kapasitas, tidak bisa apa-apa tentang sesuatu apa pun itu yang dia ceriterakan. Dia hanya mampu menceriterakan kisah ceritera tentang sesuatu yang sedapatnya dia rangkai-rangkai berdasarkan penuturan orang-orang di sekitarnya.

Tidak akan nyambung dibawa kemanapun.

Mereka akhirnya memberinya gelar stigma honoris causa bahwa dia adalah mister pendongeng luar biasa yang pernah menghiasi perjalanan kehidupan anak bangsa didalam upayanya mengisi kemerdekaan hasil sumbangsih darah perjuangan anak bangsa dari era terdahulu.

Sejarah bangsa akan mencatatkannya sebagai pemimpin pendongeng luar biasa.

~salam dongeng selalu

Jumat, 21 Februari 2020

MELIHAT TETAPI MENGAKUI TIDAK MELIHATNYA

Baru-baru saya terima email dari teman netizen dari dunia maya yang isinya awalnya biasa saja, tetapi selepas membaca beberapa kali, saya semakin terangsang untuk mencuba mencari tahu apa intisari tulisannya dan berusaha memahaminya, ternyata memang sangat berharga.

Hello Hotman, Saya harus membagikan kisah kiriman dari teman, semoga akan membuat hari-hari Anda semakin lebih menyenangkan.

Kisah tentang seorang pria gagah yang menikahi seorang gadis jelita. Mereka hidup bahagia. Hingga suatu ketika, oleh dokter disampaikan bahwa istrinya menderita kanker kulit stadium akut. Perlahan-lahan tubuhnya akan dipenuhi bercak-bercak hingga kemudian melepuh menggerogoti kecantikannya hingga akhir hayatnya.

Sang dokter mengingatkannya untuk berupaya mendampingi istrinya menghadapi goncangan beban mental mengharungi sisa hidupnya. Si lelaki bingung tidak paham apa yang terjadi hingga memilih untuk tidak perlu berkata suatu apa.

Dalam keterbatasannya tentang kanker kulit yang diderita istrinya, lelaki itu belajar sendiri memahaminya. Setiap waktu dia berusaha tampil didepan istrinya seolah tidak tahu penyakitnya, bahkan seolah tidak perduli akan perubahan phisik istrinya. Lelaki itu berjuang membangun pengertian dalam dirinya bahwa tiap hal akan ada waktunya, apa pun itu akan tiba saatnya.

Suatu ketika, si suami harus bertugas ke suatu wilayah tertentu. Perjalanan jauh yang membutuhkan waktu yang lama. Selang beberapa waktu, istrinya dikabari bahwa suaminya mengalami kecelakaan, diminta datang ke tempat perawatannya. Disana, oleh orang yang merawatnya, disampaikan bahwa kecelakaan itu fatal, dan itu akan membuat suaminya rabun dan perlahan-lahan kehilangan penglihatannya.

Selepas perawatannya, suami istri itu pulang, kembali mengisi hari-harinya tanpa terbebani sesuatu apa, kehidupan berjalan layaknya seperti keluarga lainnya.

Seiring waktu, si istri mulai merasakan kehilangan kecantikannya, mentalnya terbebani kanker kulit yang dideritanya. Perasaannya terguncang. Saat bersamaan si suami pun terlihat mulai kesulitan melangkah kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan yang dialaminya.

Walau si istri terbebani kanker kulit yang menggerogoti kecantikannya, namun demi melihat suaminya kesulitan dalam penglihatannya, dia memaksakan dirinya untuk mendampingi menuntun suaminya. Dengan sabar ditemaninya kemana pun. Dia yakin suaminya tidak mengetahui bercak-bercak kulitnya dan tidak akan malu karenanya. Dan suaminya pun bangga dengan ketabahan istrinya mendampinginya, kemana pun mereka berdua melangkah bersama.

Oleh waktu si istri pun meninggal. Walau dokter telah memberitahu sebelumnya, namun kematiannya memukul batin suaminya. Tahapan kegiatan ritual, seremonial sewajibnya diselesaikan dengan baik, kemudian si suami memutuskan untuk pergi meninggalkan kota yang memberinya kebahagiaan dan menorehkan duka mendalam.

Selepas acara, dia bergegas melakukan persiapan. Segala apa yang dimilikinya diserahkan ke tetangga dan kerabatnya. Walau tidak jelas memutuskan akan pergi kemana, namun tekadnya bulat akan pergi menjauh, membawa duka hatinya. Orang-orang sekitar berusaha mengingatkan, namun dia kukuh akan pergi mengusung kenangan hidupnya.

Tidak jelas akan menetap dimana nantinya, tetapi menurutnya dia akan menjauh, menjauhi kedukaan hatinya.

Kerabat terdekatnya emosi mengingatkannya, “bagaimana kau akan berjalan tanpa ada yang menuntun? selama ini istrimu yang menuntunmu, tanpanya akan seberapa jauh kau bisa pergi?” Dia diminta berpikir mempertimbangkan kembali rencananya.

Namun, si suami yang menduda hanya mendengarkan penuh perhatian. Menarik nafas dalam-dalam, berdiri melangkah perlahan, dia menatap satu demi satu wajah kerabat dan tetangga yang dikasihinya.

Dia menjawab dengan membuka tabir perjalanan hidupnya, “Saya ini tidak buta. Itu yang sebenarnya. Namun kecelakaan yang dulu terjadi, itu benar-benar terjadi, dan mengharuskannya beristirahat untuk waktu lama. Tentang rabun kebutaannya, itu adalah tindakan yang harus dia lakoni. Dia yang meminta orang yang merawatnya untuk menyampaikannya ke istrinya. Dia tidak ingin istrinya mengetahui jika dirinya akan melihat keburukan yang diakibatkan kanker kulit yang dideritanya, karena itu yang akan membuat perasaannya lebih sakit dibandingkan penyakitnya. Dia harus melakoni kebutaan agar istrinya bersedia menemani menuntunnya kemana pun, dan mengabaikan kanker kulit yang membebaninya. Saya hanya ingin membuatnya bahagia menemani saya menjalani sisa hidupnya. Tergetar dia akhiri penjelasannya. Saya hanya ingin membuatnya bahagia”. Semua yang mendengarkan terdiam tak sudi berkata suatu apa.

Apa yang Anda bisa dapatkan dari kisah ini?_________________

Pastinya Anda pun pernah harus terpaksa berpura-pura rabun buta hingga tidak melihat sesuatu kejadian peristiwa tertentu demi untuk menyelamatkan seseorang dari beban rasa malu. Mungkin pernah berpura-pura buta untuk menyelamatkan diri Anda sendiri dari beban rasa malu.

Atau mungkin memaksakan diri mengaku rabun buta, bahwa Anda benar-benar melihatnya tetapi mengakui apa yang Anda lihat itu benar-benar tidak jelas. Anda mengakui melihat pelaku kejahatan tetapi tidak meyakini persis rupa wajah si pelaku. Akankah Anda terbebani? Jika mengetahui pelakunya tetapi tidak meyakini apakah orang itu yang Anda ketahui itu?

Pembelajaran apa yang bisa didapatkan dari kisah ini?__________

Konon katanya, ini adalah tentang keterpaksaan yang harus dijalani demi menerima kebenaran terjadinya berbagai kejadian peristiwa yang mewarnai kehidupan ini. Dimana kita dipaksa situasi harus memilih membutakan diri sendiri. Tak ubahnya bagaikan lidah yang kerap tergigit oleh gigi sendiri tetapi bertahan menyatu berdampingan di dalam rongga mulut yang sama tanpa bisa berbuat sesuatu apa.

Apakah itu yang  dimaksudkan dengan tindakan memaafkan? Atau mungkin itu yang disebut sebagai upaya memelihara kesatuan persatuan? Entahlah! Terserah Anda memaknainya sebagai apa. Anda pun bebas menjabarkannya.

Yang pasti, Anda bisa meyakini, bahwa: ”Jika sendiri, Anda hanya akan bisa ‘berkata-kata’, namun jika bersama orang satu lainnya, Anda bisa ‘berbicara’; Jika sendiri, Anda hanya bisa ‘menikmati’, namun jika bersama orang satu lainnya, Anda bisa ‘merayakan’; Jika sendiri, Anda hanya bisa ‘tersenyum’, namun jika bersama orang satu lainya, Anda bisa ‘tertawa’”. Bukti pertanda bahwa setiap orang memerlukan orang satu lainnya.

Tanpa kehadiran orang satu lainnya, kita ini bukan siapa-siapa.

Anda bebas mendebat kebenarannya!

~Salam 2020!

Selasa, 31 Desember 2019

REFLEKSI AKHIR TAHUN, SELASA, 31-12-2019

KIAT MEMBANGUN IMPIAN SENDIRI

Alkisah penguasa tertinggi di Nagari TaeKlan diduga telah berlaku serampangan mengelola Nagari, kebijakannya cenderung kian menjauh dari kepentingan anak bangsa. Inkonsisten. Bahkan konsisten inkonsisten.

Pagi berkata: “engkau begini-engkau begitu” Sore berubah: “karena engkau begini-ini maka begitu-itu”. Lelah sendiri membantah sendiri dirinya sendiri. Bagai salah asuhan konsisten inkonsisten tertekan “janji-janji” mangkrak tak jelas memalukan orang-orang yang punya kemaluan.

Kerap bersandar pada tuduhan radekil radikangkang, terpapar virus “dungu tingkat akut” hingga lucu dan dungu saling mencemari satu sama lainnya. Tak lagi jelas mana “Planga” mana pula yang “Plongo”.

Tentang hal ini, kelak Anda akan menerima catatan sejarah dengan alasan ala kadarnya. Karena kecenderungan “konsisten inkonsisten” menjadi bukti pertanda “kapasitas terbatas”.

Telat loading!

Mari berpindah ke diri Anda sendiri:
“Apakah Anda benar-benar konsisten?
Apakah Anda kukuh dalam berpendapat?
Apakah Anda konsisten untuk inkonsisten hingga Anda kerap beradu argumen dengan pendapat Anda sendiri?”

Anda bebas mengaku. Apalagi jika Anda sudah tidak yakin apakah saldo simpanan ingatan Anda menipis, atau telah habis tergerus serapah deretan “NawaCincai”.

Tergantung Anda! Artikel ini tidak ditujukan untuk menghakimi. Hanya refleksi Selasa di HARI TERAKHIR 31-12-2019, menjelang pergantian Tahun.

Sekiranya merasa terhakimi, mungkin itu dikarenakan masih ada sisa residu ingatan, mungkin dari upload yang paling terakhir, mungkinkah?

Lanjut. Mari ulas seputar diri Anda sendiri.
Sekarang saya akan ajak Anda ke dalam suasana situasi masa kecil.

Kala Anda masih kecil, bercita-cita menjadi Insiniur Kehutanan. Tiap ditanya akan menjadi apa? Kukuh berkata kelak besar akan menjadi Insiniur Hutan. Menjaga hutan dan seisinya.

Seiring waktu, Anda berubah. Setelah dewasa, Anda malah berprofesi sebagai pengusaha meubel kayu, menebangi pohon-pohon, merusak cabang dan ranting-rantingnya, memotong-motong membelah menjadikannya Kursi, Meja, Lemari, Buffet, Meja Rias, Sofa, dll. Menjaga dengan cara merusaknya. Anda  itu sudah terlatih agar konsisten untuk inkonsisten.

Berpikirlah, pikirkan apa yang Anda pikirkan itu.
Setidaknya bantu diri Anda memikirkan dirinya atau periksakan ke analis paradoksial. Akan sial jika Anda sendiri tidak tahu apa yang Anda inginkan.

Pastinya, Anda kini paham apa yang dimaksudkan dengan kerumitan berpikir, akan selamanya mengganggu Anda memikirkan diri Anda sendiri di sisa perjalanan hidup Anda.

Mari tafakur sejenak!
Kembali lagi ke pertanyaan itu: “Sesungguhnya, apa yang hendak Anda tuju dalam hidup ini?”

Geli juga mendengarnya. Anda betul.
Saya juga Geli menuliskan: “Apakah Anda benar-benar tahu apa tujuan yang benar-benar Anda inginkan di sisa perjalanan hidup Anda?”

Andai diijinkan Anda mempertanyakan hal yang sama kepada sejuta orang, mungkin Anda akan terkesima mendapati 99% mengaku tahu dan mengerti tujuan hidupnya, tetapi tidak sampai 1% yang paham apa yang diketahuinya, tentang apa itu – tujuan hidupnya.

Itu dugaan saya.
Anda bebas menduga dengan dugaan yang berbeda. Alasan perbedaannya mungkin akan Anda temukan jika menyimaknya secara seksama.

Kebanyakan orang-orang tidak tahu apa tujuannya hidup. Hanya ikut-ikutan mengerjakan yang dikerjakan orang satu lainnya. Melakukan hal-hal yang setidaknya sama. Cenderung terbius mengatakan hal yang sama dengan mengusung perkataan orang satu lainnya.

Kenapakah?
Tidak akan ada yang tahu jawabannya semua cenderung menduga-duga.
Tak ubahnya seperti Saya saat ini.

DIDUGA karena kebanyakan orang-orang berlaku seolah-olah telah merasakannya, berkata: “telah teruji” oleh peradaban manusia.

Orang-orang melakukan hal yang sama dengan harapan akan merasakan hasil yang sama dan berkecukupan. Tidak perlu bersusah payah melakukan yang berbeda jika malah menjadi sengsara?
Itu dugaan saya.

Dari jaman ke jaman, melakukan hal yang sama. Sedari bangun tidur hingga tidur lagi dan bangun lagi. Mendapati hasil yang sama. Yang itu-itu juga seperti sebelum-sebelumnya. Seperti itu-lah, dan semua baik-baik saja. Itu yang penting.

Yang sulit mengerti saban waktu terlihat menggelinding kesana-sini, seolah kehilangan arah, walau tak punya arah. Akhirnya kelelahan mengaku telah puas melakukan inti kehidupan.

Tidak ada salahnya melakukan hal yang sama seperti kebanyakan orang-orang namun ada konsekuensinya, karena apa yang tampaknya baik untuk kebanyakan orang-orang tidak otomatis berlaku sama untuk yang lainnya.

Tidak semua baik untuk kebaikan semua, seiring waktu semua berubah. Bisa dikarenakan bosan, jenuh dan lelah atau jerih hingga jera, atau karena sesal tak juga berubah walau setelah sekian lama.

Kemudian melakukan hal yang berbeda dan mendapati hasil yang berbeda, yang lebih baik dari sebelumnya. Orang-orang inilah yang dicatatkan sejarah untuk dikenal dunia, dikenang berhasil membangun impian dirinya.

Ini tentang membangun impian diri sendiri!

Mari lihat bagaimana seseorang melakukannya dan menyusunnya menjadi sesuatu yang dia sebut sebagai: “Jadwal Tujuan”.

Terlebih dahulu dicatatkannya apa saja itu tujuan hidupnya. Dari sekian banyak tujuan yang bisa dia ketahui, dipilihnya beberapa yang dia duga akan bisa dia ketahui dengan lebih baik lagi.

Tujuan ini yang lebih bagus!

Setiap hari ditelaah. Ditambahkan lagi sesuai masukan keluarga, dikoreksi lagi berdasarkan saran rekan-rekan serta pengamatan berbagai corak kehidupan orang-orang.

Terkadang bertambah, terkadang dikurangi. Ditambahkan lagi setelah beradu argumentasi dengan para profesional yang dikira lebih mengetahui.

Semakin warna-warni. Timbul keraguan hingga bertanya kesana-sini mencari arahan stratejik yang dianggap mumpuni. Kemudian diperbaharui lagi.

Orang-orang sukses mengakui daftarnya menjadi kian pendek setelah sekian waktu. Diperbaharui tiap waktu, menjadikannya fokus maju untuk meraihnya.

FOKUS akan tujuan, menjadikan tujuannya tergambarkan lebih jelas, kian semakin dimungkinkan mencapainya. Disesuaikan dengan kemampuannya disaat itu. Putaran waktu memberi pengalaman hidup yang lebih baru.

Terbarukan dari waktu ke waktu.
Kematangan berpikir meningkat. Kemampuan ekonomis keuangan membaik dan semakin meningkat.

Secara berkala, Daftar itu ditambah-dikurangkan lagi.
Kian semakin terarah, ritme kehidupan pun semakin meningkat.

Berubah menjadi  DAFTAR IMPIAN HIDUP.
Itu yang mengilhami alam bawah sadarnya untuk konsisten mengejar tujuan hidup yang diimpikannya.

Alam bawah sadar mempengaruhi pertumbuhan emosional, mempengaruhi muatan perilaku diri. PIKIRAN dipengaruhi langsung oleh kedashyatan alam bawah sadar yang mendominasi hasrat pencapaian impian hidup.

DAFTAR Tujuan itu, berfungsi bagai VISI, merangsang alam bawah sadar menggerakkan kekuatan pikiran memvisualisasikan rencana langkah, membuatnya fokus menjalankan MISI mencapainya.

Menjadikannya konsisten dalam ucapan dan tindakan.
Pastinya Anda tahu simpul kaitannya!

Daftar Tujuan itu, bagai papan reklame mengkampanyekan diri Anda. Akan kemana dengan modal berapa, akan bagaimana dengan bekal apa. Harus bagaimana?

Itu bisa disusun dengan cara apa saja, dalam bentuk apa saja yang memungkinkan Anda tiap waktu bisa melihatnya.

Berupa tulisan kata-kata mutiara dari tokoh-tokoh atau figur panutan dalam hidup Anda. Berupa poster idola, gambar rumah, mobil idaman, gadis pujaan, sepeda atau ikan dambaan hati. Tergantung keinginan Anda.

Tentukan, apa-apa saja itu? Pilih salah satu. Letakkan di tempat yang mudah terlihat, tujuannya untuk membangkitkan gelora alam bawah sadar agar fokus mendapatkannya.

Alam bawah sadar akan melamunkannya, mencipta langkah-langkah apa yang diperlukan dan langkah apa yang dimungkinkan dilakukan? Bahkan bisa menghentikan langkah-langkah apa saja yang diDuga berlawanan.

Pastinya Anda kini kian semakin mudah memahami kegunaannya. Tak soal jika membantah: “Tidak semudah itu-lah!!”. Kan perlu ini – perlu itu. Harus begini-begitu dulu setelah sebelumnya itu-ini. Rumitlah! Anda mungkin benar.

Saya duga begitu. Selama menduga-duga bukan pelanggaran Anda bebas menduga-duga tentang apa saja. Tidak akan dikenai Pasal, diduga BAB-nya takada.

Saya akan bantu Anda menduga-duga dugaan yang lebih spesifik lagi.

Patut DiDUGA, Anda itu tidak tahu berapa biaya yang dihabiskan pengusaha untuk papan reklame rumah hunian di setiap prapatan jalan. Mungkin Anda bahkan tidak menghitung berapa jumlah papan reklame yang terpampang, beriklan tentang apa saja. Sepanjang jalan hingga bahkan ke luar kota.

Patut DIDUGA, Anda bahkan tidak menerima jika tujuan iklan yang bombastis secara seperti itu diDUGA bertujuan untuk menabur benih-benih impian sang produsen merasuki alam bawah sadar Anda.

Agar, kala ketika Anda berpikir membeli Rumah, membeli mobil, sepeda motor, hendak menginap di hotel, hendak berbelanja, dan lain-lain, alam bawah sadar Anda akan otomatis menggiring Anda ke papan reklame itu.
Patut diDUGA, begitu itulah.

Mari menduga-duga lebih dalam lagi.
Cuba simak dengan seksama tulisan pada papan reklame itu. Tafakur sejenak, akan Anda temukan propaganda yang merangsang emosional.

Ini tentang “Cara-Jitu” bercocok tanam benih gagasan ide pemikiran di wahana alam bawah sadar Anda. Menyirami tanaman ide pemikiran para pelintas penikmat iklan itu. Salah satunya Anda.

Mari lihat lainnya.
Diawal era millenium, saya terkesima dengan seruan kata: “Dunia tanpa batas”. Salah satu iklan Rokok menggunakan slogan yang memuaskan jika saya menghisapnya. Tertanam di alam pemikiran: “Menembus batas”.

Produsen diduga berhasil menembus batas omzet yang diinginkannya. Pencinta lingkungan diDuga mencemooh dashyatnya efek slogan yang diduga telah sembrono mencemari kebersihan udara jagad raya. Dan perokok seperti saya merasa lebih nikmat menikmatinya daripada mencemooh.

Dashyat mukjijat iklan papan reklame, bahkan dapat diduga telah berhasil menjadikan seisi dunia terpapar radikalisme blanja-blanji konsumerisme.

Ini dugaan saya, Anda bebas menduga yang berbeda.

Mari intip alam bawah sadar pencipta impian hidup pemutar gerak roda pikiran itu. Dan kita lanjutkan ke dugaan-dugaan lainnya.

Patut diduga telah terjadi pembiaran penguasa wilayah hingga papan reklame bisa mudah terpampang bertebaran sedemikian rupa mengawal perjalanan kemana pun Anda bepergian.

Perlukah dilakukan pembatasan terhadapnya?
Papan reklame yang diduga tidak senonoh, tidak pantas jika tidak dilarang. Yang pantas pun perlu dibatasi agar jangan sampai mencemari sudut pandang. Nenek bilang itu berbahaya!

Yang diduga telah menembus batas alam bawah sadar menggerakkan orang untuk turut menghembuskan asap Rokok bahkan diduga telah diharamkan. Disamping mencemari udara se-dunia diduga merokok bisa merusak jantung serta organ tubuh lainnya.

Ini adalah tentang upaya menabur benih “cara-hidup-sehat” ke alam bawah sadar Anda. Selayaknya Anda berterima kasih ke slogan: “Dilarang merokok”.

Sedari menebar janji blanja-blanji hingga menebarkan info cara hidup sehat papan reklame adalah bagian dari upaya meraih sukses keberhasilan mencapai puncak impian.

Upaya mencapai sukses keberhasilan tidak selamanya mempersoalkan besaran biaya. Demi impian! Demi agar bisa tercetak tebal di alam bawah sadar Anda.

Mari Saya bantu Anda bertanya ke diri Anda sendiri!
Jika produsen beriklan berani menghabiskan budjet yang terkesan tidak masuk akal, kenapa Anda tidak melakukan hal yang sama? Anda pun perlu perduli akan tujuan hidup Anda.

Iklan-kan-lah diri Anda!
Jika mahal, iklan mandiri - ciptakan sendiri saja. Ini demi cita-cita Anda!

Tempelkan di dinding pintu kamar tidur. Di pintu Kulkas. Kamar mandi, di dapur, di toilet, di garasi, di ruang keluarga atau di mana saja, yang mudah Anda lihat. Gratis, tak dikenai pajak reklame untuk itu.

Ini tentang upaya menabur benih sukses di alam bawah sadar agar tercetak tebal, untuk memancing Pikiran mencipta situasi rencana, merancang langkah mencapai impian hidup Anda. Ini tentang iklan diri Anda sendiri.

Mari tafakur sejenak!

Saya akan ajak Anda kembali ke masa-masa ketika masih sekolah.
Mungkin Anda masih ingat.
Kala ketika Roster pelajaran Semester dibacakan Bapak Ibu Guru di depan kelas. Semua diminta tertib menuliskannya dengan serapi mungkin.

Jadwal Hari Senin:
Selepas Upacara Bendera, PMP di jam pertama; P-4 di jam berikutnya selepas mata pelajaran Sastra Bahasa Indonesia; Istirahat; Lanjut Aljabar; Jam Istirahat lagi; Mata pelajaran terakhir Sejarah Perjuangan Bangsa; Doa penutup, pulang.

Jadwal Hari Selasa:
Jam pertama Bahasa Inggris; Pancasila di jam berikutnya setelah pelajaran Olahraga; Istirahat; Fisika dan Ilmu Ukur; PKK /Pra-Karya; Jam Istirahat; terakhir Aljabar; Doa Pulang.

Demikian seterusnya hingga Jadwal di Hari Rabu; di Hari Kamis; di Hari Jumat; di Hari Sabtu. Oleh bapak ibu Guru kita diwanti-wanti agar rapi menuliskannya, menempelkannya ditempat yang mudah terjangkau mata. Jangan sampai ada yang salah.

Yang salah atau yang lupa, dipesankan agar menuliskannya kembali di Lembar Karton, dipotong rapi seukuran tertentu. Ditempelkan di seantero dinding rumah. Di ujung meja makan, pintu kamar bagian luar, kamar mandi, pintu lemari pakaian, rak buku. Seisi rumah dipesankan, dipastikan sudah tahu sama tahu bahkan diminta untuk membantu mengingatkan.

Agar jangan lupa lagi, atau  dikenai: Distrap!

Walau lembut, pesan bapak ibu Guru terasa bagai sembilu tajam menembus telinga. Sudah puluhan tahun, terkadang tertawa geli sendiri teringat kisah buku P.R ketinggalan. Jadinya kena distrap. Wajah mendiang bapak Guru sekelebat tersenyum dalam angan.

Serasa segar teringat upaya pembinaan disiplin diri. Pelajaran berharga. Roster Jadwal Pelajaran seolah menjadi mantra pegangan untuk tidak akan pernah lupa mengerjakan P.R dan, tidak akan salah membawa buku tulis, buku bacaan pada keesokan harinya.

Pedoman berharga! Kenapa tidak Anda lakukan lagi seperti itu?

Anda bisa menempelkan “Rencana Kerja Praktis” ditempat yang mudah terlihat. Mengembangkannya dan menjadi “Rencana Lanjutan” dari setiap pencapaian tiap tahap. Sepele, tetapi menjadikan Anda konsisten berikhtiar.

Mengiklankan diri sendiri bagai menebalkan garis demarkasi pembatas pertahanan diri terhadap gangguan yang mungkin terjadi setiap saat, karena berbagai tawaran yang terdengar lebih baik terkadang hanya menyita waktu dan pikiran.

Dijejali impian orang-orang melalui iklan reklame disepanjang perjalanan hidup akan menjadikan Anda inkonsisten. Berubah tiap waktu mengikutkan perubahan impian orang-orang.

“Fall down seven times, stand up eight”~Japanese Proverb

~salam JAWAHIR 2019!

Minggu, 08 Desember 2019

JAWAHIR - RAHASIA BOTOL AIR

Seorang teman mendapat kiriman Artikel bermanfaat dari temannya dan kemudian membagikannya ke Saya. Artikel bagus yang menginspirasi.

Konon katanya, hidup ini bagaikan botol Air perlambang hal-hal bermakna bagi kehidupan. Melambangkan energi, kesehatan, kesejahteraan, kekayaan serta kebahagiaan hingga bahkan kenangan.

Orang yang bijaksana akan dengan senang hati memberikan Air sebanyak yang dia bisa berikan, waktunya habis tersita untuk berbagi ke orang-orang hingga tidak cukup waktu baginya untuk sekedar memperhatikan dirinya sendiri. Tetapi ibarat botol Air, jika pun habis, kebaikan hatinya akan mengisinya kembali hingga tak putus dia membagikannya lagi kepada orang satu lainnya.

Orang yang kurang bijaksana akan berubah menjadi serakah. Dipenuhi dengki, amarah kerap merasa bahwa dia memerlukan botol terbesar untuk diisi penuh hingga meluap tumpah. Baginya mendapat botol yang kecil, walau itu wajarnya, dianggap tidak cukup, terkadang bahkan dianggap penghinaan.

Baginya, botol terbesar adalah mutlak haknya. Untuk dia isi dan untuk dia bisa membagikannya kepada konco-konconya, untuk para anggota keluarganya, untuk kelompoknya, untuk seseorang yang menyenangkan hatinya, terutama untuk pemuja yang memuji-muji kehebatannya.

“Hidup paduka mulia raja si empunya hak segala jenis harta, mulialah sepanjang hidupnya bisa berguna mendapatkan Air untuk pemujanya, jika tidak, Tammatlah!”

Orang yang tidak bijaksana merasa tidak aman jika mendapatkan botol kecil, walau itu telah lebih dari cukup untuknya, namun akan menuntut yang lebih besar. Dan dia menyadari sejatinya dia tidak akan bisa minum semua Air yang dia telah peroleh dalam hidupnya.

Tetapi, orang yang berpikiran Positif, akan selalu merasa cukup senang, bersyukur dengan botol yang didapatkannya. Sekecil apapun botol itu, sepenuh apa pun isinya, baginya mendapatkannya adalah berkat yang perlu dan harus disyukuri.

Orang yang berpikiran Negatif, akan fokus selamanya pada ruang kosong di botol, merasa isinya tidak memadai. Diperlukan lebih banyak lagi. Tak hirau dengan orang-orang lain yang lebih membutuhkan, bahkan jatah teman pun akan dia sikat habis.

Orang kaya raya, terkenal dengan botol emas mengkilap miliknya. Terlihat mewah walau terkadang isinya kosong. Tidak ada Air kehidupan di dalamnya. Terkadang disepanjang hidupnya tak dia pernah menemukan sahabat yang menyayangnya. Persahabatannya didasarkan pada kemewahan yang melekat di dirinya. Tetapi, dia yang memiliki botol mengkilap,  menjadi impian setiap orang.

Orang miskin sudah terbiasa dengan botol yang tidak begitu banyak disukai. Walau diisi semampunya tetapi terasa manis menyegarkan. Orang miskin tak hirau akan kemiskinannya, itu keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh orang kaya.

Demikianlah kehidupan ini tercipta, kurang lebihnya iya begitu itulah.

Untuk mendapatkan kehidupan yang memuaskan tidak selamanya tergantung pada botol yang dimiliki tetapi tergantung pada isinya dan rasanya tergantung pada bagaimana Anda membuatnya. Bersyukurlah jika Anda punya Air yang diperlukan setiap harinya. Cukup alasan untuk Anda berbahagia dan membagikannya ke sesama satu lainnya.

Bilamana Anda fokus membangun hubungan persahabatan dengan sesama, maka Air Anda akan terasa manis dan menyegarkan. Tetapi, bila hanya fokus membanding-bandingkan botol Anda dengan milik orang lain, ketidakpuasan akan melanda. Sedari bangun pagi hingga menjelang tidur pikiran dipenuhi keinginan mendapatkan botol yang besar. Terasa akan sulit menemukan kebahagiaan hidup. 

Hidup itu bagaikan sebotol Air. Berbanggalah akan botol milik Anda, hiaslah dengan seksama, isilah  dengan rasa syukur bahagia, hingga isinya manis menyegarkan.

Hanya diri Anda seorang yang bisa mensyukuri apa yang Anda bisa nikmati.

--> ~Salam JAWAHIR selalu.

"If a man does not keep pace with his companions, perhaps it is because he hears a different drummer. Let him step to the music which he hears, however measured or far away."~Henry David Thoreau