Selasa, 10 Maret 2020

PENDONGENG LUAR BIASA

"What you Think, You Create. What you Feel, You Attract. What you Imagine, You Become."~Unknown

Kau akan menciptakan (sesuatu) apa yang kau pikirkan. Kau akan menanggapi (hal) apa yang kamu rasakan. Kau akan menjadi (seperti) apa yang kau bayangkan. Ini adalah tentang konsep dasar hukum tarik-menarik yang diakui kedashyatannya.

Bahwa apapun kejadian yang menimpamu, sejatinya itulah yang kau inginkan. Jika ternyata itu kejadian buruk itu karena keinginanmu yang mendasari hingga terjadi sedemikian itu. Jika kau ingin sebaliknya, maka kau harus bisa berpikir positif untuk memancing terjadinya hal-hal yang menyenangkanmu.

Peristiwa seru yang mengisi perjalanan hidupmu, yang membanggakan, suatu peristiwa yang kelak bisa kau ceriterakan. Karena manusia adalah pendongeng luar biasa yang menyukai kisah hidupnya sendiri. Tetapi kau bukanlah kisahmu..

Bahkan ada peristiwa dalam hidupmu, dimana kau sama sekali tidak punya hak menceriterakannya yakni saat kelahiranmu serta detik-detik kematianmu.

Jika pun kau mendengar kisah tentang kelahiranmu, itu kisah yang diceriterakan oleh orang yang mengetahuinya. Misalnya ibu-bapamu atau bidan yang membantu persalinan ibumu, yang menceriterakannya menurutkan versinya maka bisa jadi akan ada dua kisah tentang kelahiranmu, karena semua orang adalah pendongeng dan menyukai kisahnya sendiri.

Tetapi walau demikian kau bukanlah kisahmu, karena kau tidak akan pernah bisa menceriterakan kisah selengkapnya tentang segala peristiwa yang kau alami.

Apalagi kisah ceritera tentang kematianmu adalah peristiwa terpenting yang tidak akan pernah kau ketahui bahwa itu benar-benar terjadi menimpamu.

Anda boleh membantah kebenarannya! Namun sejarah peradaban mencatat manusia adalah pendongeng luar biasa bahkan tiap orang berminat mendengarkan kisah tentang orang satu lainnya. Semua punya keinginan yang sama hingga bersama menciptakan kegiatan berkala agar bertemu saat arisan perkumpulan, reuni, aniversari peringatan ke-seratus, kegiatan napak tilas, dan lain-lain.

Walau dengan thema, sub-thema yang berbeda, tetapi tujuannya nyaris sama, yakni agar setiap orang punya kesempatan bertemu untuk berbagi kisah tentang peristiwa apa saja. Semuanya kangen mendengar kisah kehidupan sesamanya, ada yang takjub, kagum terheran-heran, banyak juga yang mencemooh tetapi konsentrasi mendengarkan tersedot ke dalam ranah peristiwa yang terjadi disaat itu.

Manusia adalah pendongeng.  Ada yang kangen mendengar pidato tokoh, ada yang bahkan berusaha agar kembali bisa berpidato, bila perlu bikin acara sendiri agar bisa pidato mengenang saat kejayaannya.

Banyak yang berharap dapat kesempatan berbagi kisah tentang apa saja, ada juga yang harus memaksakan diri tetapi banyak yang harus dipaksa menjelaskan hal-hal yang terjadi. Ada yang yang sukarela, beberapa lainnya bahkan harus dibayar untuk sekedar memberikan testimoni. Semua berusaha berceritera tentang bagaimana kehidupan ini mewarnai dunia ini. Orang tua, tokoh, pastur, pendeta, ulama, guru sekolah, artis, aktor hingga produser film serta politisi semuanya adalah pendongeng kategori modern.

Jika narasi kata dianggap kurang memadai menggambarkan kejadian beberapa bahkan membayar agar disajikan dengan gambar-gambar illustrasi, rekaman suara atau bahkan membuat film yang menyerupai. Ini adalah bukti pertanda nyata bahwa manusia adalah pendongeng. Semua orang menyukai film, acara talk-show radio dan televisi hingga testimoni. Dan semuanya bersikeras berceritera menurutkan versinya karena setiap orang menyukai kisah ceriteranya sendiri.

Maka tak heran jika kisah tentang virus penyakit “corona-corvid19” bisa berubah menjadi kisah ceritera tentang “karena dan oleh karena” setiap orang menceriterakannya ke orang satu lainnya menurutkan versinya. Benar-benar virus cilaka. Cilaka 12 jika terpapar.

Mari lihat kisah lainnya:

Ini adalah kisah tentang hantu penasaran. Kejadiannya saat saya berusia belasan tahun. Sering sekali memanjat pohon beringin besar yang tumbuh rimbun di pinggir sungai di kampung. Airnya yang jernih mengalir tenang, kedalaman hanya sebatas paha orang dewasa. Menjelang sore hari kerap digunakan ibu-ibu dan wanita untuk mandi selepas mencuci pakaian. Semua orang mengetahuinya.

Kepada teman-teman sepermainan, saya selalu berceritera bahwa pohon beringin itu ada hantunya. Bercambang lebat hitam putih dengan kepala botak plontos, besar sekali, harus hati-hati jika tidak bisa celaka, hingga teman-teman ketakutan ikut-ikutan memanjat. Nongkrong sendirian di celah cabang pohon bebas memandangi keindahan seluk beluk warisan semesta alam yang terpampang dibawahnya.

Semuanya bercengkerama, tertawa lepas, dan sI hantu tekun melotot dengan jantung berdegup, berdebar tidak karu-karuan. Hingga suatu ketika, sI hantu menjerit berteriak karena terpeleset jatuh, tergantung kaki keatas tersangkut pada akar-akar beringin besar yang banyak menjuntai. Orang-orang berkerumun datang berusaha menurunkan.

Sejak itu, kisah ceritera hantu perlahan sirna apalagi orang-orang tua kampung sepakat memotong habis cabang batang pohonnya hingga terlihat menjadi terang benderang. Tiap kali si hantu naik memanjat naik, tidak lagi ada celah batang pohon untuk nongkrong.

Seiring waktu, air sungai mulai keruh kuning dan semakin dangkal hingga akhirnya mengering, banjir saat musim tertentu tetapi si hantu sudah puluhan tahun tidak lagi pernah kesana. Sudah tidak ada orang yang menceriterakan kisah tentang hantu tersangkut di akar pohon, mungkin sudah tidak ada yang menyukai kisahnya.

Manusia adalah pendongeng luar biasa.

Dia bisa menceriterakan kisah tentang apa saja, tetapi perlahan dia akan terdorong menceriterakan kisah tentang dirinya sendiri. Ini adalah kodrat mutlak yang dianggap erat melekat pada setiap orang. Tak heran jika kemudian ceritera itu juga yang akan membatasinya bahkan menjadi batas perjalanan kehidupannya membelenggu memenjarakan dirinya. Penjara yang dia ciptakan sendiri untuk dirinya sendiri.

Walau jika diawal-awal orang-orang bisa menyajikan kisah ceritera hebat dramatis, namun, akan tiba saatnya dimana kisahnya menjadi tak lagi relevan dan kemudian dia terdorong untuk menceritakan kisah ceritera tentang dirinya sendiri. Dikala itu terjadi, dia tengah membangun penjaranya sendiri. Penjara yang kekal abadi.

Kisah ceritera itu perlahan-lahan akan memimpin dirinya, mengaturnya maju mundur dan melumpuhkan segala hal menyangkut diri dan kehidupannya. Dan itu yang akan menjadi beban di sisa perjalanan hidupnya.

Anda boleh membantah kebenarannya, tetapi itu yang sebenarnya. Kisah ceritera tentang diri sendiri diawal-awal akan membawanya melanglang buana kesana kemari seakan benar-benar bebas tidak terbatas. Seakan-akan sangat hebat, tetapi pada akhirnya kisah itu kemudian akan membatasi kebebasan dirinya, akhirnya memberhentikannya.

Mungkin dirinya akan berdalih jika kisah tentang kehidupannya adalah lampiran dari sejarah perjalanan sukses keberhasilannya. Tetapi tidak semua orang hidup dengan pemahaman segampang itu. Orang-orang mungkin akan bisa menerima dengan dasar alasan pembenaran berdasarkan macam rupa alasan, namun bagian terbesar lainnya pasti akan menolaknya.

Sebagian orang-orang kemudian tercatat telah terlambat menyadari keteledoran yang terjadi. Terlambat menyadari jika mereka benar-benar telah dibohongi. Akan kerap terjadi kegamangan besar, karena orang-orang akan kian berminat mengintip dan melihat dengan kepala sendiri memastikan ketidakmampuannya. Dan dirinya ternyata benar-benar tidak punya kapasitas, tidak bisa apa-apa tentang sesuatu apa pun itu yang dia ceriterakan. Dia hanya mampu menceriterakan kisah ceritera tentang sesuatu yang sedapatnya dia rangkai-rangkai berdasarkan penuturan orang-orang di sekitarnya.

Tidak akan nyambung dibawa kemanapun.

Mereka akhirnya memberinya gelar stigma honoris causa bahwa dia adalah mister pendongeng luar biasa yang pernah menghiasi perjalanan kehidupan anak bangsa didalam upayanya mengisi kemerdekaan hasil sumbangsih darah perjuangan anak bangsa dari era terdahulu.

Sejarah bangsa akan mencatatkannya sebagai pemimpin pendongeng luar biasa.

~salam dongeng selalu