Rabu, 03 Juli 2019

MISKIN CITRA DIRI (3): MEMBANDING-BANDINGKAN DIRI

"Tanya pak! Maaf, bagaimana caranya agar saya bisa mengetahui orang-orang yang miskin citra dirinya? Apakah ada kiat-kiat tertentu yang perlu diterapkan agar saya bisa terhindar dari lingkup pergaulan orang-orang yang miskin citra dirinya? Mohon penjelasannya, sebelumnya diucapkan terima kasih."

Ini adalah bagian yang ke-3.
 Hotman's Collections

Sudah menjadi kodrat jika kita kerap membanding-bandingkan diri kita dengan orang-orang lain, dan perbandingan yang dilakukan itu cenderung tidak sebanding, tidak selaras bahkan jauh dari rasa keadilan. Secara tidak langsung itu akan membuat kita menjadi terhalang melangkah, meragu dan khawatir untuk melakukan sesuatu yang kita sukai.

Mungkin tentang ini pun Anda tidak setuju, atau akan mendebatnya. Namun jauh di dalam lubuk hati, sanubari Anda akan membenarkannya, karena pikiran seperti itu sering timbul dan membebani. Ada perasaan tertindas timbul di dalam pikiran: “apakah saya mampu seperti dia? Apakah saya bisa se-brillian dia?”

Mungkin sering timbul selepas Anda menghadiri pesta perayaan keberhasilan seseorang, atau mungkin saat mendengarkan terstimoni pengakuan orang-orang sukses, yang mungkin malah telah beralih profesi menjadi seorang Influencer, Coach, Mentor atau Trainer. Menjelaskan rinci tentang bagaimana caranya dia berjuang menggapai sukses keberhasilannya. Pemikiran tertindas seperti itu, juga sering timbul selepas mengikuti pelatihan atau seminar tentang pengembangan potensi kemampuan diri.

Apakah saya bisa menjadi hebat sehebat dan selincah orang-orang yang kini berprofesi sebagai Coach, Mentor dan atau Trainer itu?

Sejenak mungkin timbul pemikiran untuk berjanji berusaha, berjuang keras dan fokus mencapai sukses keberhasilan, persis mengikutkan cara-cara seperti yang dipaparkan pada pelatihan itu. Hingga tiba-tiba terhenyak sadar, saya tidak akan pernah bisa sukses seperti kegemilangan yang dicapainya. Terkadang sadar, persis kala ketika terkendala oleh sesuatu batu sandungan yang membuat banyak hal menjadi tertunda mungkin malah menjadi terhenti. Menjadi khawatir, terombang-ambing, perasaan meragu, hidup menjadi dipenuhi pikiran negatif.

Ini tentang sisi negatif, imbas dari tindakan membanding-bandingkan diri.

Kelelahan serta kebuntuan langkah-langkah memaksa timbulnya pemahaman bahwa perbandingan yang dilakukan tidak sebanding.

Ini tidak adil.

Terutama karena testimoni atau pengakuan dan kesaksian yang disampaikan oleh para Coach, Mentor atau Trainer itu bisa dicapai setelah selama puluhan tahun dia bertarung memperjuangkan karirnya. Sungguh tidak adil.

Seiring perjalanan waktu, situasi memaksa diri untuk memaknai bahwa Anda tidak perlu melakukan tiap-tiap hal persis seperti yang diajarkan oleh para Coach, Mentor, atau Trainer itu. Bahkan tidak perlu mengikuti gaya hidup mereka, tidak perlu berprilaku seperti yang diajarkan itu.

Karena, bagaimanapun tingkat kedewasaan serta perkembangan kemampuan pribadi diri setiap orang didalam meningkatkan kematangan dirinya berbeda pada setiap orang. Masing-masing tergantung pada situasi lingkungan pergaulan sehari-hari. Dan itu juga akan terus berubah-ubah, berubah dan berubah-ubah lagi, terkadang karena dipaksa situasi atau berubah seiring perubahan lingkungan pergaulan.

Sisi positif, umumnya timbul dan disadari belakangan terutama karena waktu yang berjalan ikut turut berkontribusi memampukan diri. Menggiring ke arah lahirnya pemikiran akan kesadaran, bahwa yang bisa melakukan hal-hal untuk mengembangkan diri adalah diri sendiri. Hanya oleh diri sendiri, bukan oleh orang lain, bukan oleh Coach, bukan oleh Mentor atau Trainer, karenanya Anda tidak perlu berubah menjadi persis seperti mereka.

Menyadari kesalahan karena telah membanding-bandingkan diri secara tidak adil dan itu akan melahirkan semangat perubahan bagaimana melakukan hal-hal pembinaan diri.

Ini adalah tentang pikiran positif yang timbul belakangan setelah kelelahan karena membanding-bandingkan diri.

Menyadari bahwa rumor tentang keberhasilan mereka adalah benar-benar telah terbukti, tetapi itu adalah sukses keberhasilan mereka. Bahkan Anda telah turut serta terlibat membantunya menjadi kian semakin sukses karena Anda membeli ticket masuk untuk sekedar hadir mendengarkan testimoni kesaksian mereka tentang sukses keberhasilannya.

Menyadari waktu menjadi terbuang percuma karena berusaha menjadi seperti orang-orang yang menyampaikan testimoni tentang sukses keberhasilannya. Semestinya Anda cukup memetik nilai-nilai sisi positifnya saja, mencari tahu bagaimana mereka memelihara semangat juang. Bukan malah berusaha menjadi seperti mereka. Cukup mencari tahu kiat atau bagaimana sesuatu itu dilakukan. Seyogianya Anda bisa lebh cepat sukses apalagi dengan tambahan perbendaharaan trik-trik berikut kiat sukses.

Mungkin karena tiap Anda cenderung melebih-lebihkan pengalaman orang lain, dan menjadikan Anda men-degradasi peringkat kesuksesan diri sendiri. Mungkin Anda perlu mengetahui bahwa kemampuan diri tidak terkait dengan pengalaman. Tetapi pengalaman bisa meningkatkan keahlian.

Mari  simak contoh-contoh berikut:

Misalnya, beratus juta orang China lebih ahli berkendara di sisi kanan jalan, karena pengalaman mereka sehari-hari. Sebaliknya, berjuta-juta orang Indonesia lebih ahli berkendara di sisi kiri jalan, juga karena pengalaman mereka sehari-hari. Tetapi situasi itu tidak bisa diartikan bahwa orang China dan orang Indonesia lebih mahir berkendara dibandingkan kelompok lain. Ini hanya tentang pengalaman yang berbeda.

Contoh lain lagi: satu miliar orang China bisa dengan mudah melakukan sesuatu karena buku pedoman petunjuk penggunaan peralatan yang dipergunakan menggunakan huruf kanji tulisan China. Disisi lain hanya ada ratusan juta orang-orang dari seluruh dunia bisa dengan mudah melakukan sesuatu karena buku pedoman petunjuk penggunaan peralatan yang dipergunakan menggunakan huruf latin dan dalam bahasa Inggris. Situasi ini tidak malah menjadikan orang China lebih banyak yang mahir menggunakan alat peralatan sejenis itu dibandingkan dengan orang-orang dari seluruh dunia. Ini hanya tentang memiliki pengalaman yang berbeda.

Mari lihat contoh lain lagi. Kala ketika Anda memeriksakan kesehatan diri ke Rumah Sakit, Anda ditemui dokter dan sekelompok perawat dan semua mereka berseragam putih-putih. Secara perlahan salah satu dari mereka menjelaskan hasil pemeriksaan yang dilakukan, memberi saran agar disiplin menjaga kesehatan. Bahwa jenis makanan tertentu dan beberapa jenis minuman softdrink harus dihindarkan, karena implikasinya bisa mengganggu sistem antibodi kesehatan tubuh.

Anda menjadi tertegun kagum, terbersit bayangan penilaian Dokter itu brillian dan hebat, tentu hidupnya jauh lebih sehat dari Anda, maka harus dipercaya. Anda menjadi merasa tertekan karena menjalani hidup mengabaikan kesehatan dengan cara “bodoh”.

Sejatinya bayangan Anda itu sama sekali tidak terkait.

Ini adalah tentang pengalaman.

Bahwa dokter itu bisa menjadi seperti itu mungkin karena telah bertahun-tahun kuliah di Fakultas kedokteran. Telah bertahun-tahun mempelajari buku-buku tebal tentang obat-obatan dan tentang penyakit. Telah banyak menghadapi berbagai test uji kemampuan diri untuk sekedar mendapatkan posisi dalam pekerjaannya. Telah bertahun-tahun berlaku disiplin menjalani karir hingga akhirnya dipercaya menangani pasien, seperti Anda.
Ini adalah tentang memiliki pengalaman yang berbeda.

Mungkin Anda mahir menangani profesi sebagai pebisnis profesional. Dan peluang Anda sukses, tergantung pada minat Anda mengasah bakat dan ketrampilan dibidang yang dikuasai. Jangan Anda lalu berkecil hati jika kemudian mendapati diri menjadi seorang pasien. Seorang pesakitan. Jangan lalu menjadi tertekan dan merasa diri sangat “bodoh” hanya karena tidak  disiplin menjaga kesehatan.

Ketahuilah, ini tentang pengalaman.

Sebaiknya luangkan waktu untuk meneliti apa sesungguhnya bakat Anda. Sebagai manusia Anda ditugasi untuk mengembangkannya potensi diri. Perlu paham bahwa setiap orang dibekali ketrampilan serta kemampuan dan talenta yang unik. Karenanya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk sukses mencapai keberhasilan. Anda perlu memahami bahwa talenta Anda itu yang bisa menjadi bekal awal meningkatkan kemampuan, makanya digunakan, atau akan hilang menjadi tersia-sia.

Semuanya tergantung Anda.
 Hotman's Collections

Mari renungkan ceritra berikut:

Alkisah, tiga orang murid (A, B, dan C) terpilih mendapat pembagian “talenta” dari sang Guru, yang dikenal sebagai Guru yang pengasih dan penyayang tetapi sangat pemarah.

Si “A” mendapat satu talenta; si “B” mendapat dua talenta, dan si “C” mendapat lima talenta.

Ketika tiba waktunya, sang Guru tiba dan mulai memeriksa apa saja yang telah dilakukan oleh ketiga orang murid-muridnya itu dengan talenta-talenta yang didapatnya.

Dengan kerendahan hati si “C” melaporkan:
bahwa segera setelah mendapat pembagian lima talenta, ia segera memanggil orang-orang dan membagikan masing-masing satu “talenta” kepada lima orang. Kini kelima orang itu telah pula memiliki talentanya masing-masing. Dengan demikian dapat diartikan bahwa kini si “C” telah memiliki sepuluh talenta. Kagum sang Guru kemudian memberikan lebih banyak lagi tambahan “talenta” kepadanya.

Berikutnya giliran si “B” yang melapor:
bahwa setelah mendapat pembagian dua talenta, dia lalu berpikir dalam-dalam, kemudian memutuskan untuk memberikan satu talenta kepada satu orang lainnya. Satu talenta lagi dia pergunakan sendiri mengembangkan potensi kemampuan dirinya sendiri. Dengan rasa kagum, sang Guru kemudian memberikan lagi tambahan talenta kepadanya, dan berpesan agar dipergunakan untuk mengembangkan potensi dirinya termasuk potensi kemampuan orang-orang yang dianggapnya layak dan berkenaan.

Selanjutnya si “A” melapor:
Dengan mimik wajah garang, ia lantang berkata bahwa sang Guru yang dia kenal sangat pemarah itu telah dia anggap berlaku kejam terutama karena hanya memberikan satu talenta saja kepadanya. Karenanya, talenta yang satu itu, telah dia kuburkan dalam-dalam hingga dia merasa tidak punya kewajiban untuk mempertanggungjawabkannya.

Serasa kecut, sang Guru tersenyum simpul, kemudian meminta si “A” untuk menggali kembali dan mengambil “talenta” itu, oleh sang Guru kemudian diberikan kepada orang satu lainnya.

Mungkin Anda telah akrab dengan kisah ini. Kisah yang bagus untuk direnungkan.

Intinya adalah bahwa, tiap kita masing-masing telah dibekali “talenta”, selanjutnya tergantung Anda memanfaatkan “talenta” milik Anda.

Mereka yang menggunakannya untuk menggali dan mengembangkan potensi kemampuan dirinya sendiri, akan mendapatkan lebih banyak lagi “talenta” jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang mensia-siakannya dengan percuma.

Mereka-meraka yang mengembangkan potensi kemampuan dirinya dengan “talenta” yang dimilikinya, akan terlihat lebih sukses jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang menguburkan “talenta” miliknya, yang sama sekali tidak memetik manfaat darinya.

Ini adalah tentang pilihan.

Dan apa pun pilihan Anda, semuanya tergantung Anda.

Bagian pembahasan selanjutnya disajikan pada  bagian yang ke-4.

~salam citra selalu!

MISKIN CITRA DIRI (2): ANGGAPAN BODOH

"Karenanya Anda perlu berjuang menemukan kebahagiaan diri. Caranya adalah berusaha menemukan bakat Anda, mengasahnya agar terampil. Karena keahlian itu yang bisa membuat Anda tidak lelah mengembangkannya sampai kemudian bisa menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian. Kelak ketika diperadilkan, Anda akan mendapat Nilai Jenius."

Tidak dinilai “bodoh”.

Ini adalah bagian yang ke-2.
Hotman's Collection


ANGGAPAN BODOH:
Sejarah peradaban mencatatkan bahwa permasalahan utama dalam tatanan sosial kehidupan adalah bahwa orang-orang bodoh sering dianggap sebagai bagian kelompok mayoritas.

Konon katanya, orang-orang seperti Anda dan saya hanya sedikit jumlahnya, karena Orang Jenius itu tak banyak jumlahnya.

Anggapan seperti begini ini, dashyat menghunjam menembus pertahanan diri dari setiap orang yang mendengar, hingga kian semakin menghancurkan jatidiri. Tertanam dalam-dalam jauh di dalam alam pikiran, menggerogoti “rasa percaya diri” hingga sampai ke titik yang paling nadir. Menyerang, meluluhlantakkan kepribadian, dashyat bergetar menaklukkan kedigdayaan keperkasaan diri. Menimbulkan pikiran Negatif, dan itu yang akan membuat citra diri menjadi kian semakin terlihat buruk, semakin renta dan menjadi miskin. Miskin citra diri!

Tolong dibaca lagi dengan cara seksama, perlahan-lahan!

Anda boleh tidak setuju. Atau mungkin Anda berkehendak akan mendebat dengan mengusung sekapal alasan beserta penjelasan dengan contoh-contoh, dilengkapi dengan kliping-kliping berita surat kabar yang memuat bantahan serta sanggahan. Dan saya bisa memahami itu, karena tidak ada orang yang mau berterima jika dianggap ‘bodoh’.

Nenek bilang itu berbahaya!

Tetapi, saya akan lebih setuju mendukung pengakuan bahwa jauh di dalam lubuk hati sanubari Anda, pastinya Anda mengakui hakikat kebenarannya, karena itu kenyataan, dan itu yang benar-benar terjadi.

Bahkan mungkin anggapan itu yang telah memaksa situasi kehidupan di dunia agar setiap orang diperintahkan untuk belajar sedari sejak lahir hingga sampai ke liang lahat.

Mungkin juga begitu.

Dan itu bukan kata saya, tetapi tentang itu telah rapi tertulis pada lembaran-lembaran dari setiap kitab-kitab kuno bukti sejarah peradaban dunia.

Pastinya kini Anda bisa paham apa yang dimaksudkan.

Pembahasan selanjutnya disajikan pada bagian yang ke-3.

~Salam citra selalu!

MISKIN CITRA DIRI Bagian (1)

"Tanya Pak! Maaf, bagaimana caranya agar saya bisa mengetahui orang-orang yang miskin citra dirinya? Apakah ada kiat-kiat tertentu yang perlu diterapkan agar saya bisa terhindar dari lingkup pergaulan orang-orang yang miskin citra dirinya? Mohon penjelasannya, sebelumnya diucapkan terima kasih."

Pertanyaan yang menggelegar serasa menghunjam keangkuhan diri orang per orang. Pertanyaan itu mengemuka di sessi interaktif dalam kegiatan pelatihan mentor atau “TOT”, persis disaat giliran saya yang memandu. Harus diakui pertanyaan ini berhasil memaksa saya untuk kembali membuka catatan tentang materi pengembangan diri. Materi yang selalu menarik minat karena menyangkut hal-prihal tentang diri sendiri. Suatu bidang yang sangat luas, dan akan kian semakin meluas jika tanpa pembatasan, hingga akhirnya dipertimbangkan untuk disajikan kedalam lima bagian.

Ini adalah bagian yang pertama.

Mari kembali ke pertanyaan diatas: “apa yang Anda bisa temukan?” Saya setuju jika Anda berpendapat bahwa itu adalah pertanyaan yang bunyinya ekstrim. Pertanyaan yang terkesan menyudutkan, seolah-olah orang yang bertanya berkehendak atau tengah sedang menghakimi sesama satu lainnya.

Namun, jika Anda bisa sedikit saja memberi perhatian, Anda akan bisa maklum dengan berlapang dada. Bahkan mungkin Anda, pastinya akan berterima kasih kepada si penanya itu, karena telah berupaya sedemikian rupa mempertanyakan sesuatu yang mungkin mengganjal di pikirannya.

Bagaimanapun, itu adalah satu kata tanya. Dan itu membutuhkan jawaban, walau jika itu tentang sesuatu hal yang terkesan tidak lazim, bahkan oleh kelompok tertentu dianggap tabu diharamkan, khawatir merusak tatanan pergaulan sosial. Tetapi perlu jujur mengakui, itu bermanfaat mengusung kemanfaatanya untuk sesama lainnya, seperti Anda dan saya.

Karenanya Anda perlu berbesar jiwa. Ini bukan tentang menilai orang per orang yang punya sikap dan prilaku yang mungkin tidak sama dengan Anda. Ini adalah tentang citra diri Anda. Karenanya Anda perlu mengikuti rangkaian penjelasan berikut dan mencernanya dengan cara seksama.

Ini adalah serangkaian pembahasan tentang citra diri Anda dengan harapan bisa mendorong minat Anda untuk mengembangkan bakat kepribadian.
 Hotman's Collection

Mari mulai dengan Albert Einstein, katanya:
“Semua orang jenius. Tetapi jika Anda menilai seekor ikan dengan kemampuannya memanjat pohon, ia akan hidup seumur hidup dengan percaya bahwa itu bodoh. ”

Apa kira-kira maknanya? Pikirkanlah.

Menurut Anda: ”Ada berapa banyak orang-orang di dunia ini yang selama hidupnya bekerja atau mengerjakan banyak hal di bidang yang sama sekali tidak sesuai dengan bakat keahliannya? Bahkan mungkin bertentangan atau tidak selaras dengan bakat kehidupannya? Ada berapa banyak bakat Talenta yang tercecer di luar sana karena tidak tersalurkan dengan layak atau secara tidak semestinya?”

Mustahil Anda bisa tahu jumlahnya. Yang pasti: “Mungkin jutaan!”.

Sekarang bertanyalah ke diri sendiri: “Apakah Anda benar-benar suka dan menyukai pekerjaan Anda?”

Jika Anda benar-benar suka, mungkin sepanjang siang dan malam Anda tidak ingat waktu, tidak bosan menikmatinya sembari bekerja. Mungkin Anda akan marah jika dilarang menghentikannya. Anda benar-benar berbahagia, karena bisa punya pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan keinginan hati Anda. Begitu itulah yang semestinya.

Tetapi, mungkinkah?

Jika Anda benar-benar menyukai pekerjaan Anda, saya tidak heran jika Anda akan kompeten di bidang itu. Karena setiap orang yang menyukai bidang pekerjaannya akan benar-benar menikmati menyalurkan bakatnya. Jika Anda benar-benar menikmati, Anda akan berminat untuk secara terus-menerus menyempurnakan ketrampilan Anda dan, itu yang akan meningkatkan kepercayaan diri serta citra diri Anda.

Mungkin Anda kini bisa menangkap gambaran dari kata-kata bijak Albert Einstein diatas.

Apalagi karena Anda pasti memahami bahwa sejatinya Ikan tidak memanjat. Jika pun berusaha pasti akan gagal. Jika dipaksa malah akan terlihat lucu menggelikan, hingga binasa mati tersia-sia. Namun Ikan tidak akan pernah dihakimi, karena memanjat bukan bakat kehidupannya.

Berbeda dengan Manusia yang dianggap sebagai mahluk paling sempurna, yang memiliki ketrampilan khusus untuk beradaptasi. Klasifikasi itu memaksa harus mampu menempatkan diri atau bertahan hidup di lingkungan yang tidak selaras dengan bakat kehidupannya. Hidupnya mungkin akan susah, tetapi akan terus berjuang memperbaiki, setidaknya bertahan hidup. Bahkan walau jika itu akan membuat dirinya diadili oleh dirinya sendiri.

Karena sifat kesempurnaannya itu, memaksa dirinya untuk menghakimi sendiri, dirinya sendiri. Terkadang bahkan dipaksa mengadilinya berdasarkan pendapat orang-orang.

Karena sudah kodrat bahwa setiap manusia akan dinilai berdasarkan kemampuannya menyelesaikan tugasnya sebagai manusia. Tak soal apakah tugas itu sesuai atau tidak sesuai dengan bakatnya, atau mungkin bertentangan dengan bakat kehidupannya.

Alangkah baik jika Anda percaya bahwa mungkin poin itu yang dimaksudkan oleh Albert Einstein dengan kata-kata bijaknya itu. Atau, apakah Anda punya pendapat yang berbeda? Terserah jika Anda tidak percaya, Anda di persilahkan bertanya langsung kepada yang bersangkutan.

Karenanya Anda perlu berjuang menemukan kebahagiaan diri. Caranya adalah berusaha menemukan bakat Anda, mengasahnya agar terampil. Karena keahlian itu yang bisa membuat Anda tidak lelah mengembangkannya sampai kemudian bisa menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian. Kelak ketika diperadilkan, Anda akan mendapat Nilai Jenius.

Tidak dinilai “bodoh”.

Pastinya kini Anda bisa paham apa yang dimaksudkan.

Pembahasan selanjutnya disajikan pada bagian yang ke-2.

~salam citra selalu!