Senin, 07 Mei 2018

TONTON TANGGAPAN ANDA!

"The difference between a successful person and others is not a lack of strength, not a lack of knowledge, but rather a lack of will."
~Vince Lombardi

Suka tidak suka kita harus berterima bahwa hidup kita sangat diwarnai oleh pendapat orang lain tentang kita, jika menyenangkan kita akan senang dan betah berlama-lama menikmatinya, tetapi ketika terdengar serasa memojokkan kita terpancing membela diri dan membangun jarak dengan orang itu. Untuk orang yang tidak sependapat kita terdorong untuk bersitegang dengannya. Itu kenyataan dan tidak terbantahkan.

Kita terkadang berubah menjadi seseorang yang bisa meracuni lingkungan dunia sekitar kita terutama ketika kita percaya bahwa ada sesuatu yang terjadi dan itu akan merugikan kita. Apakah akan merugikan secara materil keuangan maupun moralitas - menganggap ada peristiwa tertentu yang merugikan nama baik atau bahkan merugikan secara mentalitas.

Sesuatu peristiwa yang membangkitkan reaksi hebat terkadang bahkan kita kaget akan rentetan peristiwa akibat yang ditimbulkannya. Dalam situasional tertentu rentetan peristiwa yang terjadi bahkan bisa kian membuat kita terpojok dan semakin merugikan. Namun kita berharap reaksi yang timbul dan rentetannya akan menggiring pendapat yang menguntungkan, jika semula memojokkan akan berbalik menjadi mendukung. Kita bahkan terkadang harus membayar sesuatu biaya demi mendapat dukungan yang diharapkan. Dan itu tidak terbantahkan.
Dalam banyak hal kita kerap gagal tidak mampu membedakan perkataan dengan perlakuan. Cenderung menganggap bahwa bagaimana perkataan orang lain tentang kita, akan menjadikan orang itu memperlakukan kita secara sedemikian pula. Seolah perkataan negatif akan menjadikan orang lain memperlakukan diri kita secara negatif juga.
Kita lupa bahwa reaksi orang lain terhadap kita didasarkan pada perkataan serta perlakuan kita terhadap orang itu, dan reaksinya umumnya akan didasarkan pada persfektif orang itu terhadap kita.
Kita kerap gagal paham ketika seseorang menyampaikan pendapatnya tentang kita. Memaparkan persfektifnya tentang diri kita. Menerangkan kekecewaan hatinya terhadap kita atau bahkan sakit hatinya. Kita gagal membangun pemahaman bagaimana memaknai arti tujuan mendalam hingga membuat orang itu menjelaskan pengalamannya tentang kita. Kita cenderung tidak memberinya ruang waktu yang cukup untuk secara rinci menjabarkan alasan pemaparannya - dari sudut persfektif pribadinya.
Reaksi kita kerap cenderung tidak menyelesaikan masalah. Seyogianya ditanggapi dengan persfektif juga bukan malah menimbulkan permasalahan baru. Kita harus tanggalkan pemikiran bahwa kita lebih hebat dari orang itu. Kita harus tanggalkan pemikiran bahwa orang itu berperilaku buruk atau tidak berniat baik terhadap kita dengan penjelasannya. Perlu berpikir sebelum kita menanggapi pendapat seseorang tentang diri kita. Perlu berperilaku dewasa ketika kita memaparkan persfektif sudut pandang kita.
Tidak gampang untuk mengabaikan pendapat seseorang tentang kita. Walau Pakar menyarankan untuk tidak mendengarkan tiap pendapat orang-orang terutama karena cenderung subyektif dan tidak obyektif serta sangat pribadi. Tetapi bahkan sang Pakar tak akan bisa mengabaikan jika itu ditujukan tentang dirinya. Sejatinya, perlu paham diri sendiri untuk bisa paham orang lain.
“Learning is the beginning of wealth. Searching and learning is where the miracle process all begins. The great breakthrough in your life comes when you realize it that you can learn anything you need to learn to accomplish any goal that you set for yourself. This means there are no limits on what you can be, have or do”.~Albert Einstein

Sulit untuk membedakan mana pendapat negatif dan yang mana perlakuan negatif, keduanya terkadang sumir, apalagi terjadi bersamaan. Tetapi terkadang itu hanya persfektif kita yang cenderung reaktif akan persfektif orang itu. Terkadang untuk tujuan menegur agar lebih baik ditanggapi secara salah, kecewa menjadi sakit hati, terpojok tidak mendapat dukungan, sulit untuk memahami secara jernih. Cenderung reaktif berlebihan. Hingga kita kehilangan orang yang benar-benar sayang, yang menginginkan kita bisa lebih baik lagi. Kehilangan sahabat, sanak keluarga hanya karena reaktif dan berlebihan.
Tiap kita terkadang membuat kesalahan, jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak kita setujui kita cenderung menafsirkan itu sebagai serangan pribadi, seolah menentang, seolah menjadi ancaman. Andai kita belajar mendengarkan dan berupaya memahaminya itu akan lebih produktif.
Terkadang pendapat itu baik walau terdengar buruk. Perlu bijak memahaminya. Ketika kita berpikir lebih baik, hidup kita akan menjadi lebih baik. Dan itulah yang perlu kita ingat dan kita ulang-ulangi untuk diri sendiri!
~salam belajar selalu!
Tripleclicks.com

"There's no feeling quite like the one you get when you get the truth: You're the captain of the ship called you. You're setting the course, the speed and you're out there on the bridge, steering."
~Carl Frederick

Senin, 30 April 2018

MENYESALI PILIHAN MENYESATKAN

“The is no sudden leap into the stratosphere....There is only advancing step by step, slowly and tortuously, up the pyramid toward your goals....”
~Ben Stein

“Andai dulu saya tidak berhenti, andai dulu saya teruskan hingga batas kemampuan saya, berjuang semampunya dengan apa adanya...dst...”, patahan kata-kata menyedihkan terdengar saat acara selamatan merayakan keberhasilan. Terkesan menyesali keadaan; “semestinya saya yang duduk di panggung kebesaran itu, seharusnya pesta ini adalah pesta keberhasilan saya - bukan dia! Tetapi kenyataan berkata lain oleh karena saya tidak punya ini dan itu sehingga tidak bisa begini begitu, bla...bla...bla!”.

Situasi sedemikian itu jamak kita dengar kala seseorang menyesali ketidakmampuannya, menyesali akibat langsung dari akumulasi ketakutannya, menyesali kenapa tidak melanjutkan upayanya.
Menyesali mengapa harus terhenti ditengah jalan hanya karena kurang percaya diri meneruskan sesuatu yang dirintisnya. Mengapa tidak dilanjutkan hingga sampai ke puncak kejayaan. Usaha serba tanggung! Alasan demi alasan bercucuran diperdengarkan dengan mimik gundah gulana, tetapi dunia hanya ingin mendengar keberhasilan.

Ketahuilah, tidak ada tempat untuk mendengar alasan kegagalan - dalam bentuk apapun. Peradaban manusia hanya mencatatkan keberhasilan, kegagalan demi kegagalan hanya akan menjadi bagian dari tahapan proses pencapaian keberhasilan. Tidak ada waktu untuk mengenangnya. Berbagai kalimat tertangkap mengarah pada peristiwa yang menyesakkan hati dan begitu sangat disesali.

Sesal kemudian tidak ada guna!

Memaksakan Diri Demi Mengesankan Orang Lain:
Tak heran jika kemudian akan menyesali keadaan karena ketika kita menghabiskan waktu untuk menyenangkan orang lain kita cenderung memaksakan diri untuk tampil mengesankan. Bahkan kita memaksakan diri berkonsentrasi hanya demi agar bisa menyenangkan orang lain. Menciptakan diri kita menjadi sedemikian rupa demi memenuhi persepsi orang lain tentang "siapa kita" atau tentang menjadi, seseorang yang paling diinginkan. Dan kita menjadi lupa dengan diri kita sendiri bahkan menjadi gamang sendiri. 
Kita menjadi kuatir akan penilaian orang lain - tentang diri kita. Kita memaksa diri untuk menjalani hidup dengan memainkan peranan sandiwara, seolah menjadi seseorang yang bukan diri kita sendiri. Bahkan mungkin kita akan terpaksa mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan nurani hati, karena sejatinya, kita itu mengenal siapa kita yang sesungguhnya.

Seyogianya kita tak perlu takut akan penilaian orang lain. Kita tidak harus sempurna hanya untuk membuat orang lain terkesan. Biarkan orang - orang itu terkesan dengan cara bagaimana kita mampu mengatasi ketidaksempurnaan kita.

Menjadi diri sendiri akan lebih mengesankan.

Cepat Merasa Puas:
Merasa puas adalah perilaku buruk, itu adalah penyakit yang tidak perlu dipelihara. Jangan biarkan diri kita terlena oleh puja dan puji dari orang-orang yang meneriakkan keberhasilan kita. Kita tidak perlu memiliki sifat buruk yang ditularkan oleh orang lain. Jangan cepat berpuas diri. 

Tahapan lanjutan setelah pencapaian keberhasilan adalah mempertahankannya, walau itu adalah merupakan opsi pilihan tetapi kita memiliki kewajiban untuk memelihara tingkat kesabaran kita, meneliti ulang hal apa saja yang memerlukan perhatian demi mempertahankan keberhasilan itu sendiri. Ini tentang kredibilitas kita.
Kita tak perlu larut dalam hingar bingar puja puji. Kita bahkan tak salah untuk mencuci pelopak mata kita dengan air mata keberhasilan, setidaknya untuk bisa menjernihkan sudut penglihatan sehingga kita bisa melihat kemungkinan visi yang didepan dengan lebih jelas lagi.

Jangan cepat merasa puas.

Menjadi Malas dan Bermalas-malas:
Tiap kita berhutang pada kehidupan, dan dunia menunggu kesediaan kita untuk bangkit menunaikannya. Maka mulailah berusaha, walau itu dengan secara sederhana yakni dengan cara berhenti melamun dan bermalas-malas. Kendalikan hidup kita, ambil alih kendali tanggungjawab akan hidup kita. Malas adalah palang penghalang kita untuk segera bersiap melakukan sesuatu dan ini menyerang tiap orang, menghantui siapa saja.

Tiap kita dihantui pemikiran bahwa kita tidak punya cukup banyak waktu, dan ada saja orang yang tidak sabar mengartikannya sebagai sesuatu tindakan yang harus segera dan segera hingga tergopoh-gopoh. Gegabah dan tidak perhitungan.
Menunggu untuk sesuatu alasan menjadi kebutuhan dan itu bukan berarti malas tetapi untuk sesuatu yang didasarkan pada perhitungan mendasar.

Menunggu untuk alasan jelas tidak sama dengan bermalas-malasan.

Perlu Melakukan Penyesuaian:
Tiap saat diperlukan penyesuaian apalagi jika kita memelihara prinsip bahwa "tiap hari adalah hari pertama dalam hidup kita sekaligus menjadi hari terakhir dari sisa hidup kita". Hingga kita tidak punya alasan menunda-nunda bahkan tidak perlu ada penjelasan untuk sesuatu penyesalan.

Membuat penyesuaian sedari sekarang akan membuat hidup kita menjadi lebih baik, kita menjadi bisa berpikir lebih jernih dan mengisi kehidupan ini dengan lebih bebas tanpa terbebani persepsi orang lain. Lakukan penyesuaian untuk tidak sesat ditengah perjalanan kehidupan.
Hidup adalah pilihan.

Mari bikin hidup menjadi lebih hidup lagi.

“Learning is the beginnning of wealth. Searching and learning is where the miracle process all begins. The great breakthrough in your life comes when you realize it that you can learn anything you need to learn to accomplish any goal that you set for yourself. This means there are no limits on what you can be, have or do”.~Albert Einstein

~Salam hidup selalu!


JoinmySFIteam!

Jumat, 27 April 2018

BERHENTILAH MENUNGGU-NUNGGU!

"Have you ever thought there'd be a day when people think a different way? And on that day, what would you say, if you still thought the other way?"
~Paul McMillan

Tidak sedikit dari kita yang nyaris putus asa dalam upayanya menggali apa gerangan "bakat dan hasrat kita" yang sesungguhnya. Bahkan banyak yang berusaha mencarinya dengan berbagai cara, ada yang mengikuti bimbingan les privat demi "menemukan bakat", ada yang ikut pelatihan "uji talenta" bahkan ada yang melalui "tes bakat dan peminatan", dan lain sebagainya.
Dan kita harus appresiasi usaha penyedia jasa layanan pencarian bakat dan talenta demi mencari "hasrat kita yang terpendam", bagaimanapun itu adalah bagian dari upaya memaksimalkan potensi diri. Tersirat makna bahwa kita ingin berubah, bahwa kita tidak ingin begitu-begitu saja, bahwa kita yakin masih bisa lebih hebat lagi bahkan bisa mencapai tingkat kehidupan yang lebih makmur.

Jika pun harus mengikatkan "kereta dokar" didepan "kuda" atau bahkan kita rela jika harus "mencabut akar demi akar" demi melihat sesuatu apa yang tersembunyi di balik "batang pohon". Terdengar berlebihan mengada-ada bahkan jauh dari kewajaran tetapi terkandung didalamnya semangat demi menemukan potensi diri. Hidup adalah pencarian. Terus bergerak merealisasikannya akan lebih bisa diterima daripada menunggu dan menunggu.

Bila kita menunggu dengan memupuk harapan bahwa entah bagaimanapun nanti ini akan tiba saatnya, akan muncul "bakat terpendam" yang kita miliki, asal kita bersabar menunggu dan meyakininya masih berproses entah dimana - maka tunggu saja!. Kita akan dikategorikan sebagai seorang individu "penyabar". Tak heran jika peruntungan kita akan begitu-begitu saja, dan kita tetap bersabar. Menunggu dan bersabar menunggu, juga memiliki bobot beban tersendiri - itu juga usaha! Itu merupakan upaya menyenangkan hati dan jiwa yang gelisah. Walau tidak ada medali untuk itu!


Kala kita telah lelah menunggu berkepanjangan tanpa kejelasan, disisi lain masih terbuka kesempatan untuk menggalinya lebih dalam lagi tetapi kita tetap bersikukuh untuk bersabar menunggu itu menjadi bukti pertanda bahwa sudah tiba waktunya untuk kita melupakannya. Mulailah aktif memupuk semangat bergerak ke lain hal. Sejatinya, disamping talenta bakat dan minat, kita juga dibekali banyak hal, dibekali banyak potensi diri yang bisa dimanfaatkan untuk kejayaaan hidup demi keagungan ilahi. Dan itu tergantung pada kesediaan kita menguasainya!


Efek langsung dari kebiasaan "menunggu-nunggu" akan membuat kita bergerak memacu potensi diri setengah hati. Akan menjadikan kita tenggelam dalam rutinitas sehari-hari tanpa keinginan berubah untuk menjadi lebih berarti lagi. Kita menjadi sibuk sendiri kesana-sini mengusung ceritera akan kehebatan orang lain, sibuk sendiri membopong kepentingan orang lain tanpa kita pernah berani mengusung kepentingan sendiri. Kita hanya akan menyakiti hati orang-orang yang menyayang kita, terutama karena kita lebih suka memilih untuk mengabaikan kehebatan potensi diri kita. Dan kita telah berlaku tidak adil pada diri kita sendiri.

Yang perlu kita lakukan adalah sebaliknya! Pikirkanlah tentang bekal apa yang diberikan kepada kita! Itulah potensi diri.
Renungkanlah, kapan terakhir kita mencuba mendapatkan sesuatu dengan cara maksimal. Apakah caranya sudah tepat? betulkah kita sudah berupaya maksimal dan habis-habisan ? Apakah kita berusaha mencari masukan pendapat dari orang lain untuk menemukan cara yang tepat? Fokus kah kita mengusahakannya?

Kebanyakan dari kita akan menjawab "sudah!" - biasanya begitu.

Kebanyakan dari kita akan menjawab "mungkin belum waktunya!". Yang lain akan berkata "tunggu saja, nanti juga dapat". Beberapa bersabar dan bersabar memelihara semangatnya "menunggu sesuatu" - entah apa, kian tak jelas saja!

Teringat ketika saya kecil, kakek saya St.Thomas pernah berkata "berhentilah mencari kesempatan berikutnya - sekarang ini waktunya". Ibu Guru saya juga pernah berbisik: "usahakan terus, sekarang ini ya, karena besok sudah lain lagi itu! Senada walau keduanya disampaikan dengan tutur kata yang tak sama. Semakin dewasa saya kian menjadi semakin paham akan makna kata "lebih baik mati suri kala ketika tengah sedang berusaha" oleh karena itu lebih berarti daripada menunggu dan menunggu hingga tak sadar diri.

Kita terlalu sering menghabiskan waktu dan energi hanya untuk melakukan sesuatu yang benar-benar "benar!" bahkan walau kita belum melakukannya. Daripada kehilangan waktu mencari cara yang sempurna akan lebih baik bergerak perlahan dan meningkatkannya ketika tengah melakukannya. L
akukan saja dengan apa adanya dulu, kemudian tingkatkan di sepanjang perjalanan usaha kita. 


Berabad-abad para pakar berpikir bahwa pikiran kita dapat mengubah bentuk dan keadaan phisik kita. Menariknya, pendapat ini dianggap menyinggung moralitas kemanusiaan. Sulit untuk menerima bahwa ekpresi wajah akan mempengaruhi situasional kondisi yang dihadapi, bahkan bisa merubah keadaan mental dan emosional kita serta lingkungan disekitar situasi yang tengah dihadapi.

Bahwa pikiran kita mengusung bentuk phisik tampak luar demikian halnya perubahan didiri kita akan juga mengakibatkan perubahan situasi disekeliling kita. Akan sangat baik jika kita terus berusaha merubah pikiran kita ke arah yang lebih baik demi terciptanya situasional yang lebih baik disekitar lingkungan kita berada. Dan itu demi kebaikan kita juga!
Dan jika kebaikan itu yang kita harapkan - lakukanlah sekarang, jangan lagi menunggu-nunggu.

Satukan emosional hati dan pemikiran jangan lagi menunggu kesempatan berikutnya tetapi manfaatkan kesempatan yang didepan mata. Bukan kesuksesan  esok hari yang diidamkan tetapi kegemilangan hari ini yang  akan lebih diminati. Bukan hubungan baik dimasa depan yang harus dipertimbangkan tetapi jagalah hubungan baik di saat kini ini. Caranya adalah dengan merawat potensi diri dan memanfaatkannya demi kebaikan dimasa sekarang, jangan menunggu-nunggu oleh karena perubahan tidak akan tiba walau bagaimanapun lelahnya kita menunggunya.
Bekerja keraslah sekarang, bukan nanti, karena nanti akan ada banyak hal lain lagi yang memerlukan kerja keras kita.

"Do not wait; the time will never be 'just right.' Start where you stand, and work with whatever tools you may have at your command, and better tools will be found as you go along."
~Napoleon Hill


Maka itu, berhentilah menunggu-nunggu! 

Bergegaslah!

~Salam lekas-lekas!
Rewardical

Minggu, 22 April 2018

MENJADI PERCAYA DIRI

"I started asking myself what I needed to do to change the outcome and turn this negative situation into something better than positive - something simply amazing. I was on my way because I had eliminated feeling fearful and stopped all the negative talk. I began to formulate a masterful plan. It was so simple; how could I have let myself fall so hard?”.
~Raven Blair Davis

Kita sering didera rasa ketakutan yang tidak beralasan terkadang bahkan tidak berdasar sama sekali, hingga kita tak sadar sudah terkalahkan oleh situasi yang tidak jelas. Jika diibaratkan tubuh, maka keberanian kita adalah otot yang harus dilatih dan diperkuat dari waktu ke waktu.

Bilamana kita terus-menerus memposisikan diri untuk menantang kemampuan kita sendiri terutama melakukan hal-hal yang belum pernah kita lakukan, selangkah demi selangkah dipastikan kita akan menemukan bahwa sesuatu yang pada awalnya menakutkan, sejatinya itu bisa diabaikan karena tidak ada yang ditakutkan.

Kita perlu melakukan hal-hal yang kita inginkan untuk memperluas zona kenyamanan kita, perlu melatih diri untuk meningkatkan nilai diri kita dengan menekankan bahwa kita terlalu kuat untuk memiliki rasa takut.

Kita perlu menguasai kayakinan kita demi menghilangkan rasa takut yang menggerogoti.

Jangan beri kesempatan kepada si takut untuk menutup kesempatan mengecap hal-hal baru. Jangan biarkan rasa takut menghantui kala kita hendak mencapai impian kita. Jangan lepaskan keindahan imajinasi hanya karena terganggu oleh rasa takut yang tidak jelas.

Sejatinya kita harus berjuang mencapai kesuksesan yang kita impikan!

Stress, takut, ragu dan khawatir merupakan hal-hal yang kita harus hindarkan dengan memperbesar kemampuan intuitif kita agar bisa membuat keputusan dengan tepat dan cepat.

Kita perlu memperkaya hubungan baik kita dengan orang-orang, lebih membuka diri agar mudah berteman baik dengan orang yang baru, dengan tetap memelihara pemikiran positif.

Menganut prinsip pintu terbuka kepada hal apa saja dan kepada siapa saja, dengan demikian peluang emas akan semakin tampak dan bermunculan kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada.

Dengan percaya diri kita telah membuka enam kekuatan super yang tidak terlihat yang sejatinya sudah ada kita miliki, yakni: imajinasi, intuisi, kehendak, ingatan, alasan dan persepsi. Selanjutnya kita cukup bertanya – apakah ini yang kita inginkan?

Ketahuilah, Percaya Diri bisa kita programkan dalam hidup kita.

“Keep your thoughts positive because your thoughts become your words. Keep your words positive because your words become your behaviour. Keep your behavior positive because your behavior becomes your habits. Keep your habits positive because your habits become your values. Keep your values positive because your values become your destiny”.
~Mahatma Gandhi.

Dengan memahaminya, kita bisa melatih diri untuk menemukan cara bagaimana mengubah kata-kata yang kita gunakan sehari-hari karena itu akan dapat mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

Banyak yang berpikir bagaimana merubah hidup mereka agar menjadi lebih baik tetapi mereka tidak tahu bahwa kata-kata sederhana yang mereka gunakan sehari-hari tidak mengarahkan mereka menuju keinginannya.

"One of the secrets to life is that anything complex can be broken down to its smaller, simpler parts."
~Keith Matthew

Dan kita perlu bijak memahaminya.

~salam bijak selalu
MySFIteam