~Leo F. Buscaglia
Kekhawatiran tidak akan pernah merampas hari esok dari
kesedihannya, ia itu hanya akan mengurangi sukacita dihari ini, demikian Leo F
Buscaglia. Seolah mengingatkan, karena kita telah terbiasa untuk khawatir akan sesuatu
yang tak jelas. Kebiasaan yang merusak.
Sebagai makhluk yang dipenuhi emosi, kita kerap diganggu pemikiran
khawatir. Walau terkadang khawatir karena untuk alasan tertentu adalah bagus karena
berhasil membangun rasa takut tetapi tak bagus untuk kita membiarkannya. Seolah
khawatir lebih baik dari keyakinan diri kita sendiri. Haruskah kita membiarkannya?
Tiap kita bercita-cita untuk menjadi orang besar tetapi kita
ragu apakah paham akan arti kebesaran yang dimaksudkan, terutama karena hal itu
bukan hanya menyangkut bagaimana orang-orang memandang diri kita, tetapi
bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Njlimet - tidak semudah
mengatakannya.
Anehnya kita terlihat begitu mudah untuk tahu hal-hal
yang membuat kacau orang lain, bahkan begitu yakin mengatakan bahwa kita telah
mengindentifikasi hal-hal yang menahan langkahnya mencapai puncak kebesarannya.
Bagaimana memperbaikinya menjadi persolan tersendiri - aneh.
Diseminar-seminar pengembangan diri kerap diperdengarkan
bahwa seseorang tidak bisa mencapai puncak kejayaannya karena terganjal
beberapa hal,
Yakni:
1. Diperkosa
Pemikiran Negatif:
Kita perlu memahami bahwa hidup kita sangat dipengaruhi oleh
orang-orang disekeliling kita. Konon orang-orang yang tiap waktu mengeluh, menebarkan
ceritera negatif tentang betapa buruk hidupnya, itu bisa merontokkan daya juang
kita. Disarankan untuk kita bisa menghindarkan efek mentalitas negatif setidaknya
hingga kita mencapai tahapan dimana kita tak lagi bisa terkontaminasi.
Disarankan juga agar kita menghabiskan waktu dengan
orang-orang yang bergizi positif karena mereka antusia akan perjuangan kita,
dan itu yang akan mendorong kita mengejar impian kita.
2. Dikerangkeng Kepahitan
Masa Lalu:
Kita harus meyakini bahwa kepahitan hidup masa lalu harus
ditinggalkan agar tidak menghambat langkah menuju puncak kebesaran yang diimpikan.
Abstraksi makna kata yang menyarankan agar kita “belajar dari kepahitan masa lalu” kerap
dipahami secara salah, seolah-olah diartikan agar kita terus menyeret-nyeret
jangkar kepahitan itu - kemanapun. Agar tidak kehilangan tongkat dua kali?
Seyogianya kita bisa meninggalkannya agar bisa merangkul
masa depan yang lebih baik, bukan malah menjadikan kesialan masa lalu sebagai patokan
langkah kedepan.
Pengampunan terhadap kesialan dimasa lalu diyakini akan membinasakan
sisa-sisa kepahitan hidup dan berdamai dengannya akan melipatgandakan produktivitas.
Melepaskan beban emosional masa lalu akan menjadikan langkah kita lebih ringan.
Melupakan kepahitan masa lalu menjadi patokan apakah kita
telah berhasil memetik pelajaran berharga darinya - untuk kita terus bisa maju
melangkah.
3. DiBorgol Situasi
Kondisi:
Mengejar puncak kebesaran akan tertahan jika kita tidak
mau menerima perubahan terutama karena masa depan berarti sama dengan berubah,
dan itu tidak terelakkan.
Jangan biarkan situasi kondisi kini memborgol keinginan kita
untuk berubah. Jangan menganggap perubahan sebagai sesuatu yang buruk, tetapi
beradaptasilah dengannya. Banyak yang malah bertambah sukses setelah dipecat dari
pekerjaannya bahkan seorang salesman seperti JackMa pemilik alibaba.com sukses karena
memanfaatkan perubahan teknologi - internet.
Kita menyadari perubahan kala kita melihat lagi
kebelakang perjalanan kita bahwa memiliki pengharapan itu masih lebih baik
daripada samasekali tidak. Dan kita perlu melepaskan diri dari kungkungan
borgol keadaan hidup kita karena itu yang akan memaksa keluar keberanian kita mengembangkan
kualitas kreativitas.
Walau tidak semua perubahan berakhir baik tetapi
perubahan memberi kita kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dan
itu yang akan membuat kita menjadi lebih baik.
4. Terkungkung Keyakinan
Yang Terbatas:
Ntah disadari atau tidak, kita kerap membatasi sendiri keyakinan
kita untuk bisa sukses, seolah membangun kegagalan diri sendiri. Semisal,
pemikiran tentang: “saya tidak akan bisa melakukannya karena saya tidak tahu caranya.
Dan saya tidak cukup cerdas untuk memahaminya. Saya perlu kiat sukses tetapi saya
tidak kenal orang yang tepat untuk mengajarkan kiat jurusnya".
Banyak yang tidak yakin bahwa mereka sejatinya sangat kompeten
menangani tantangan hidupnya bahkan banyak orang yang tidak yakin jika dirinya layak
untuk hidup layak. Pilar harga diri yang terlalu tinggi telah merusak.
Ini hanyalah satu “keyakinan”. Yakni satu pemikiran yang dipikirkan
berulang-ulang secara terus-menerus. Jika kerap memikirkan hal yang negatif maka
tak heran jika yang negatif yang cenderung terjadi. Tetapi, jika kita
memikirkan yang sebaliknya maka berbagai hal positif akan mendominasi. Karena
pemikiran yang berulang-ulang secara terus-menerus diyakini akan menegaskan
pemikiran yang seperti itulah yang diharapkan terjadi.
Mungkin banyak dari kita yang telah ditinggal mati kedua orang
tua atau bahkan telah mengalami betapa pahit ketika Bangkrut, ketika kehilangan
teman atau dipecat dari pekerjaan, ketika tak punya uang, ketika reputasi
hilang, dan sebagainya. Betapa pun tragik tetapi kita bertahan meliwatinya, ini
membuktikan bahwa kita punya kapasitas melaluinya. Itu-lah sumber daya kita, kemampuan
untuk hidup lebih baik!
Manakala kita yakin bahwa kita layak mendapatkan
kehidupan yang lebih baik maka kita telah punya modal dasar untuk bergerak satu-langkah-tiap-waktu,
demikian seterusnya. Itu akan meningkatkan kepercayaan diri untuk melakukan apa
pun yang diperlukan agar hidup lebih layak.
Dan kita kompeten untuk itu!
Mulailah dengan mengenali keterbatasan diri, lakukan perubahan
atasnya. Lihatlah seberapa hebat diri kita merengkuh puncak kebesaran kita.
Anda cukup kompeten untuk menantang hidup!
Masih tak percaya juga kah?
~salam berubah!








