"Slow down and enjoy life. It's not only the scenery you miss by going to fast - you also miss the sense of where you are going and why."
~Eddie Cantor
“Santai saja, nikmati hidup. Bukan hanya pemandangan yang Anda liwatkan jika tergesa-gesa begitu, (tetapi) juga kehilangan perasaan (akan) kemana dan kenapa” demikian Eddie Cantor. Dinyana, kini kita hidup serba tergesa-gesa, didalam dunia yang serba instant. Tergopoh-gopoh semua inginnya instant.
Jika dulu petani memerlukan waktu sembilan bulan untuk bisa panen, kini paling lama sembilan minggu hasil panen bahkan sudah habis. Jika dulu peternak ayam perlu waktu tiga bulan baru bisa menjual, kini ini kurang dari tiga minggu hasilnya bahkan sudah habis terpotong rupa-ragam biaya. Teknologi percepatan merambah hingga memacu teknik pengadaan pangan demi asupan gizi tubuh kita.
Teknologi juga berhasil memaksa pebisnis untuk menata ulang dunianya. Industri dibidang pers bahkan terlihat gamang mengikuti. Peralatan baru yang dipasang kemarin, diminggu berikutnya telah tertinggal oleh fitur-fitur yang lebih canggih. Pengusaha konvensional perlahan tersingkir tergantikan pebisnis muda yang konon lebih mumpuni memanfaatkan teknologi.
Industri Pers bahkan kian terpapar oleh geliat Sosial Media. Setiap pemilik gadget kini bisa meng-APLOT dan bisa men-DONLOT apa saja, tak hirau dengan konsekuensinya. Informasi kini didominasi Sosial Media, ratingnya bahkan menggusur Pers resmi terdaftar.
Seolah lupa tatanan sosial, Sosial Media masuk menerobos sendi-sendi kehidupan, mengoyak privasi kehidupan pribadi yang seyogianya dijaga untuk terjaga. Teknologi telah mengubah perilaku manusia. Menjurus ke wilayah aspek sosial hingga terasa menciderai tatanan moral sosial adat ketimuran.
Apa daya kemajuan adalah kemajuan!
Etika dan Moral seolah telah terpinggirkan. Banyak yang menyayangkan tetapi tak sudi mempersengketakannya. Khawatir berurusan dengan orang-orang yang sekonyong-konyong mengaku pakar teknologi, pakar komunikasi, pakar informasi, bahkan ada yang mengaku sebagai pakar teknologi komunikasi informasi, pakar Sosial Media. Pakar yang umumnya berpendapat memberatkan, menyayat bagai sembilu, tanpa tedeng aling-aling!
Sosial Media seolah menjadi panggung kesewenangan, menjurus kearah peningkatan pemalsuan informasi hingga pemalsuan indentitas.
Baru-baru timbul wacana, bahwa dampaknya telah mengancam kedaulatan Negara, akan dikenai Undang - Undang Anti Terorisme. Penguasa linglung sempoyongan, seolah kalap, memperlakukan rakyatnya bagai teroris. Konon katanya, wacana ini bertujuan untuk menghempang daya rusak dampak negatif Sosial Media.
Darurat HOAKS!
Hiruk-pikuk tentang perilaku anak bangsa di Sosial Media membuat orang-orang tidak lagi melihatnya dalam konteks bebas terbatas. Semua lepas beredar sesuka-suka. Bahkan membangkang untuk dikelola, walau jika itu untuk tujuan menjaga aspek sosial kehidupan.
Kini bukan lagi si sumber hoaks yang ditekuk, penegak hukum sepertinya lebih suka mentelikung si penyebar yang umumnya amatiran lebih mudah terdeteksi. Terancam pidana menyebar hoaks! Ancaman hoaks, yang diduga beralasan benar, walau memalukan.
Pelanggaran!
Setiap orang kini merasa bebas meng-APLOT kehidupannya, melalui facebook, twitter, instagram, bahkan video Vlog. Online ber-durasi dua tiga menit, dan diminati. Semua follower ikut menikmati kehidupannya. Bahkan mungkin menganggap seperti begitu itulah kehidupan pribadinya. Meniru, persis yang dipertontonkan. Menduplikasinya, mengubah tatanan cara bicara, amboi bergaya!
Sosial Media sukses menembus batas aspek kehidupan sosial. Seolah memaksa kehidupan riel nyata mengikuti tayangannya. Yang terpapar, terlihat canggung kala mentas mengikuti. Ketahuan, beda kehidupan!
Bagaikan opera kejar tayang, setiap hal di-APLOT. Sedari kegiatan sehari-hari hingga angan-angannya. Menjurus kearah pencitraan. Citra bicara, pakaian, kesederhanaan, citra kepemimpinan. Diatur konsultan pencitraan berbayar.
Beberapa bergumam perlahan: “Iya,,,, ampun, tetap saja planga-plongo! Dasar jangkrikkkkk!!!
Lainnya menyayangkan ulah si konsultan: “Tega nian memaksakannya akting berlagak bagai bukan dirinya!”
Dan penjilat serempak: “Mantap, revolusi foromfom-fom! Hidup sederhana. Dialah pemimpin bangsa. Dialah titisan raja diraja dari segala raja-raja, keturunan para raja bahkan sebelum para raja-raja itu lahir dan menjadi raja”.
Oops…, informasi membentur kelalaiannya! Menyengat bau ke seantero persada. Kemampuan literasi menyeruak mempertontonkan kompetensi. Kapasitas berkomunikasi menjadi ujian otentitas realitas. Fitur-fitur teknologi gagal mengelabui. Jika kapasitas bermasalah, akan selamanya menjadi masalah, dan dipermasalahkan.
Tak bergeming, Sosial Media melenggang menjurus ke arah pemalsuan indentitas. Bahkan hingga kepalsuan palsu dari indentitas palsu tak pelak turut dipalsukan, menjadi palsu, sepalsu-palsunya palsu. Pemuja bayaran, hiruk pikuk acuh tak acuh!
Yang kecewa sebisanya berusaha menghindari amarah diri. Yang marah, bergegas melaporkan “upaya pemalsuan indentitas palsu yang dipalsukan”. Kecewa menggantang asap, sia-sia! Tidak ditemukan adanya pelanggaran. Yang sehat, tegak menjaga marwah. Tak goyah diterpa isu palsu yang kerap didelik secara palsu.
Tak ayal penyedia layanan Sosial Media disemprit, diminta mengatur, membuat ketentuan demi privasi pengguna. Namun, pengguna kian giat menayangkan rupa-ragam hal yang merusak kepribadian. Hendak dikata apa?
Mungkin bukan Sosial Media yang dipersalahkan, mungkin kapasitas pengguna yang ditaraf bermasalah! Mungkin aturannya yang kebablasan. Mungkin ini-itu, dimungkinkan. Mungkin!
Setiap kali seseorang meng-APLOT tayangan kehidupan pribadinya, ia tengah berusaha mempermalukan dirinya. Menirukan reporter, atawa artis, dll, memberitakan kehidupan keluarganya, atau teman-temannya. Bahkan tak luput acara berkabung ikut di-APLOT jenazah secara tanpa sensor. Jauh dari kaidah adat ketimuran. Terkesan tidak senonoh. Online live streaming dari TKP berita peristiwa kriminal, si korban ditayangkan tanpa sensor. Miris jadinya.
Dan Anda setia menikmatinya, ikut mempermalukan diri. Anda mungkin menilai tindakannya terkesan suka-suka, namun itu tengah menilai perilaku diri sendiri. Yang meng-APLOT bangga mendapat LIKE. Bersikukuh benar. Dan itu adalah perspektif yang mengasosiasikan penilaian diri sendiri persis sama dengan pendapat orang lain. Atau mungkin Anda membantah pendapat yang mencegahnya, artinya Anda tengah berusaha mensabotase diri sendiri.
Sengketa dalam berpendapat menimbulkan pertikaian pendapat. Sosial Media berhasil melahirkan kawanan yang sependapat, yang saling mendukung. Walau konon hanya sebatas di Sosial Media. Namun, perilaku sabotase diri adalah naluriah kawanan, yang timbul seketika untuk melindungi kawanannya. Dan itu, menjadi cerminan persfektif Anda melihat dunia.
Mungkin Anda berulang-ulang membantah bahwa itu hanya di Sosial Media, namun realitasnya telah banyak kawanan yang aktif berinteraksi tatap muka secara berkala.
Yang menentang “perilaku sabotase diri” turut melakukan hal yang kurang lebih sama, walau dengan cara-cara yang dianggap lebih positif. Memanfaatkan Sosial Media untuk membangun empati dan simpati sosial. Kegiatannya meluas hingga memberikan bantuan ke orang-orang yang terpapar bully Sosial Media. Dan melakukan bhakti sosial membantu sesama satu lainnya. Berusaha mengembalikan tatanan aspek sosial kehidupan, dan memulainya dalam bingkai gotong royong.
Bijaklah bersosial media, manfaatkan dengan bijaksana. Jika takut dihakimi berhentilah menghakimi. Sederhananya begitu itulah!
Salam bijak selalu!
~Eddie Cantor
“Santai saja, nikmati hidup. Bukan hanya pemandangan yang Anda liwatkan jika tergesa-gesa begitu, (tetapi) juga kehilangan perasaan (akan) kemana dan kenapa” demikian Eddie Cantor. Dinyana, kini kita hidup serba tergesa-gesa, didalam dunia yang serba instant. Tergopoh-gopoh semua inginnya instant.
Jika dulu petani memerlukan waktu sembilan bulan untuk bisa panen, kini paling lama sembilan minggu hasil panen bahkan sudah habis. Jika dulu peternak ayam perlu waktu tiga bulan baru bisa menjual, kini ini kurang dari tiga minggu hasilnya bahkan sudah habis terpotong rupa-ragam biaya. Teknologi percepatan merambah hingga memacu teknik pengadaan pangan demi asupan gizi tubuh kita.
Teknologi juga berhasil memaksa pebisnis untuk menata ulang dunianya. Industri dibidang pers bahkan terlihat gamang mengikuti. Peralatan baru yang dipasang kemarin, diminggu berikutnya telah tertinggal oleh fitur-fitur yang lebih canggih. Pengusaha konvensional perlahan tersingkir tergantikan pebisnis muda yang konon lebih mumpuni memanfaatkan teknologi.
Industri Pers bahkan kian terpapar oleh geliat Sosial Media. Setiap pemilik gadget kini bisa meng-APLOT dan bisa men-DONLOT apa saja, tak hirau dengan konsekuensinya. Informasi kini didominasi Sosial Media, ratingnya bahkan menggusur Pers resmi terdaftar.
Seolah lupa tatanan sosial, Sosial Media masuk menerobos sendi-sendi kehidupan, mengoyak privasi kehidupan pribadi yang seyogianya dijaga untuk terjaga. Teknologi telah mengubah perilaku manusia. Menjurus ke wilayah aspek sosial hingga terasa menciderai tatanan moral sosial adat ketimuran.
Apa daya kemajuan adalah kemajuan!
Etika dan Moral seolah telah terpinggirkan. Banyak yang menyayangkan tetapi tak sudi mempersengketakannya. Khawatir berurusan dengan orang-orang yang sekonyong-konyong mengaku pakar teknologi, pakar komunikasi, pakar informasi, bahkan ada yang mengaku sebagai pakar teknologi komunikasi informasi, pakar Sosial Media. Pakar yang umumnya berpendapat memberatkan, menyayat bagai sembilu, tanpa tedeng aling-aling!
Sosial Media seolah menjadi panggung kesewenangan, menjurus kearah peningkatan pemalsuan informasi hingga pemalsuan indentitas.
Baru-baru timbul wacana, bahwa dampaknya telah mengancam kedaulatan Negara, akan dikenai Undang - Undang Anti Terorisme. Penguasa linglung sempoyongan, seolah kalap, memperlakukan rakyatnya bagai teroris. Konon katanya, wacana ini bertujuan untuk menghempang daya rusak dampak negatif Sosial Media.
Darurat HOAKS!
Hiruk-pikuk tentang perilaku anak bangsa di Sosial Media membuat orang-orang tidak lagi melihatnya dalam konteks bebas terbatas. Semua lepas beredar sesuka-suka. Bahkan membangkang untuk dikelola, walau jika itu untuk tujuan menjaga aspek sosial kehidupan.
Kini bukan lagi si sumber hoaks yang ditekuk, penegak hukum sepertinya lebih suka mentelikung si penyebar yang umumnya amatiran lebih mudah terdeteksi. Terancam pidana menyebar hoaks! Ancaman hoaks, yang diduga beralasan benar, walau memalukan.
Pelanggaran!
Setiap orang kini merasa bebas meng-APLOT kehidupannya, melalui facebook, twitter, instagram, bahkan video Vlog. Online ber-durasi dua tiga menit, dan diminati. Semua follower ikut menikmati kehidupannya. Bahkan mungkin menganggap seperti begitu itulah kehidupan pribadinya. Meniru, persis yang dipertontonkan. Menduplikasinya, mengubah tatanan cara bicara, amboi bergaya!
Sosial Media sukses menembus batas aspek kehidupan sosial. Seolah memaksa kehidupan riel nyata mengikuti tayangannya. Yang terpapar, terlihat canggung kala mentas mengikuti. Ketahuan, beda kehidupan!
Bagaikan opera kejar tayang, setiap hal di-APLOT. Sedari kegiatan sehari-hari hingga angan-angannya. Menjurus kearah pencitraan. Citra bicara, pakaian, kesederhanaan, citra kepemimpinan. Diatur konsultan pencitraan berbayar.
Beberapa bergumam perlahan: “Iya,,,, ampun, tetap saja planga-plongo! Dasar jangkrikkkkk!!!
Lainnya menyayangkan ulah si konsultan: “Tega nian memaksakannya akting berlagak bagai bukan dirinya!”
Dan penjilat serempak: “Mantap, revolusi foromfom-fom! Hidup sederhana. Dialah pemimpin bangsa. Dialah titisan raja diraja dari segala raja-raja, keturunan para raja bahkan sebelum para raja-raja itu lahir dan menjadi raja”.
Oops…, informasi membentur kelalaiannya! Menyengat bau ke seantero persada. Kemampuan literasi menyeruak mempertontonkan kompetensi. Kapasitas berkomunikasi menjadi ujian otentitas realitas. Fitur-fitur teknologi gagal mengelabui. Jika kapasitas bermasalah, akan selamanya menjadi masalah, dan dipermasalahkan.
Tak bergeming, Sosial Media melenggang menjurus ke arah pemalsuan indentitas. Bahkan hingga kepalsuan palsu dari indentitas palsu tak pelak turut dipalsukan, menjadi palsu, sepalsu-palsunya palsu. Pemuja bayaran, hiruk pikuk acuh tak acuh!
Yang kecewa sebisanya berusaha menghindari amarah diri. Yang marah, bergegas melaporkan “upaya pemalsuan indentitas palsu yang dipalsukan”. Kecewa menggantang asap, sia-sia! Tidak ditemukan adanya pelanggaran. Yang sehat, tegak menjaga marwah. Tak goyah diterpa isu palsu yang kerap didelik secara palsu.
Tak ayal penyedia layanan Sosial Media disemprit, diminta mengatur, membuat ketentuan demi privasi pengguna. Namun, pengguna kian giat menayangkan rupa-ragam hal yang merusak kepribadian. Hendak dikata apa?
Mungkin bukan Sosial Media yang dipersalahkan, mungkin kapasitas pengguna yang ditaraf bermasalah! Mungkin aturannya yang kebablasan. Mungkin ini-itu, dimungkinkan. Mungkin!
Setiap kali seseorang meng-APLOT tayangan kehidupan pribadinya, ia tengah berusaha mempermalukan dirinya. Menirukan reporter, atawa artis, dll, memberitakan kehidupan keluarganya, atau teman-temannya. Bahkan tak luput acara berkabung ikut di-APLOT jenazah secara tanpa sensor. Jauh dari kaidah adat ketimuran. Terkesan tidak senonoh. Online live streaming dari TKP berita peristiwa kriminal, si korban ditayangkan tanpa sensor. Miris jadinya.
Dan Anda setia menikmatinya, ikut mempermalukan diri. Anda mungkin menilai tindakannya terkesan suka-suka, namun itu tengah menilai perilaku diri sendiri. Yang meng-APLOT bangga mendapat LIKE. Bersikukuh benar. Dan itu adalah perspektif yang mengasosiasikan penilaian diri sendiri persis sama dengan pendapat orang lain. Atau mungkin Anda membantah pendapat yang mencegahnya, artinya Anda tengah berusaha mensabotase diri sendiri.
Sengketa dalam berpendapat menimbulkan pertikaian pendapat. Sosial Media berhasil melahirkan kawanan yang sependapat, yang saling mendukung. Walau konon hanya sebatas di Sosial Media. Namun, perilaku sabotase diri adalah naluriah kawanan, yang timbul seketika untuk melindungi kawanannya. Dan itu, menjadi cerminan persfektif Anda melihat dunia.
Mungkin Anda berulang-ulang membantah bahwa itu hanya di Sosial Media, namun realitasnya telah banyak kawanan yang aktif berinteraksi tatap muka secara berkala.
Yang menentang “perilaku sabotase diri” turut melakukan hal yang kurang lebih sama, walau dengan cara-cara yang dianggap lebih positif. Memanfaatkan Sosial Media untuk membangun empati dan simpati sosial. Kegiatannya meluas hingga memberikan bantuan ke orang-orang yang terpapar bully Sosial Media. Dan melakukan bhakti sosial membantu sesama satu lainnya. Berusaha mengembalikan tatanan aspek sosial kehidupan, dan memulainya dalam bingkai gotong royong.
Bijaklah bersosial media, manfaatkan dengan bijaksana. Jika takut dihakimi berhentilah menghakimi. Sederhananya begitu itulah!
Salam bijak selalu!
