Kamis, 02 Mei 2019

MANTRA SAKTI SEMANGAT DIRI

“If you understand others you are smart. If you understand yourself you are illuminated. If you overcome others you are powerful. If you overcome yourself you have strength.’’
~Lao Tzu


Ada banyak faktor yang membedakan kehidupan orang-orang sukses dengan yang tidak sukses, misalnya bagaimana cara memanfaatkan kekuatan pesona pribadinya. Yang sukses akan memaksimalkan penggunaan kekuatan kepribadiannya. Walau dalam upaya mewujudkan kesuksesannya mungkin mereka telah berkali-kali mengalami kegagalan, tetapi mereka tidak berhenti, terus berusaha, tidak takut gagal. Tidak lelah memacu potensi diri menemukan cara terbaik hingga gemilang mencapai sukses keberhasilannya.

Berbanding terbalik dengan orang-orang yang tidak sukses. Pada dasarnya mereka ini juga memiliki bekal kemampuan yang memadai, namun terjebak oleh ketidakmampuannya menolak kata berhenti. Hari-harinya didominasi oleh jebakan rangkaian tanya, yang intinya mempertanyakan: "Bagaimana jika nanti begini.…? Bagaimana jika nanti begitu.…?”. Digayuti pertanyaan yang cenderung negatif. Mereka tidak lelah menghujani dirinya dengan perilaku negatif. Cenderung merendahkan sendiri kemampuannya, hingga kian melemah, tak lagi kukuh mewujudkan impiannya. Menjadi gontai tidak berdaya, akhirnya memilih mempersembahkan hidupnya keharibaan bos-bos culas nan curang, patuh sepenuhnya. Melayani keinginan yang terkadang bertentangan dengan kaidah tatanan sosial.

Mereka gagal menemukan rahasia kekuatan luar biasa yang tersembunyi di dalam dirinya. Kebanyakan mereka merasa bahwa memanfaatkan kekuatan ini hanyalah fantasi.

Harus diakui, mencapai sukses keberhasilan bukan perkara mudah. Diperlukan semangat juang. Baru-baru seorang teman memberikan Mantra Sakti ke saya, konon katanya mantra ini sangat bermanfaat dan mujarab untuk menggugah semangat diri kita sendiri.

Sebagai berikut:
“Datanglah kebaikan hidup, wujudkan harapanku. Kuyakin engkau mengenalku karena engkau tercipta untukku. Patuhilah penciptamu karena Dia itu Allahku, sang Penentu takdirku, yang memerintahkanku untuk menguasaimu.

Wahai kebaikan hidup, dengarlah sabdaku: “Iya Allah, sang pemilik hidup, penuhilah aku dengan kekuatan ilahi, karena begitu banyak hal tentang hidup yang aku tidak mengerti. Ampunkanlah dosa dan kesalahanku, karena aku tidak pernah tahu apa yang menjadi kehendakku, karenanya aku berserah kepada Mu. Maka jadilah kehendak Mu.

Berkatilah orang-orang yang menyayangiku, relasi kerabat serta para sahabat, bekalilah mereka dengan hikmad dariMu. Terpujilah Engkau. Aku percaya akan kekuatan Mu, bahkan ketika imanku melemah Engkaulah yang menguatkan. Biarlah kemulian Mu mewujudkan keinginanku. Dan jika itu berlebihan, biarlah kasih karunia Mu membetulkannya. Jadilah kehendakMu.

Baharukanlah aku karena aku adalah milik Mu. Biarlah segala pencobaan kian menguatkan imanku yang selalu meragu: "bagaimana-jika dan setelahnya bagaimana?”. Kuatkanlah aku menghempang daya rusak dari pemikiran yang melemahkan seperti itu. Maka apa pun itu, aku yakin itulah jalan ku untuk semakin berkemampuan memuliakan Mu. Terpujilah Engkau. Amin!”


Kini Anda berada di jalan menuju impian Anda, dan akan mencapainya.

Mungkin terdengar luar biasa, tetapi yakinilah Anda telah membukakan semua keinginan mukjizat hati Anda. Hanya perlu percaya Anda telah menciptakan kehidupan yang Anda inginkan!

~Salam semangat selalu!
Ecommercegy

Selasa, 23 April 2019

RAHASIA BAHASA TUBUH

“If you understand others you are smart. If you understand yourself you are illuminated. If you overcome others you are powerful. If you overcome yourself you have strength.’’
~Lao Tzu


Apakah Anda menilai orang melalui kesan pertama? Bagaimana kesan pertama timbul? Jamak diakui bahwa kesan pertama timbul atau ditentukan melalui korespondensi bahasa tubuh seperti ekspresi tubuh yang dikomunikasikan.

Oleh John C Mawxell dikatakan bahwa,: "Orang mungkin mendengar kata-kata Anda, tetapi mereka merasakan (kenyataan) sikap Anda."

Untuk tujuan meningkatkan hubungan atau untuk tujuan menjalin komunikasi yang baik, adalah penting untuk kita membiarkan orang-orang mengetahui tentang kebenaran yang dipancarkan oleh bahasa tubuh kita. Karena bahasa tubuh bisa membuat urusan menjadi lancar, membuat masalah terselesaikan dengan baik, atau urusan menjadi selesai lebih cepat. Bahkan bisa menghindarkan kita dari bahaya yang mengancam.

"The quickest way to change your emotional state is to change your body language."
~Tony Robbins


Cara tercepat menguasai diri adalah dengan berusaha mengubah keadaan emosi diri dengan mengendalikan bahasa tubuh. Apalagi kita bisa dengan mudah terbawa oleh emosi diri, dan itu timbul dari gerakan yang terkait dengan gerakan di tubuh kita, dan itu mudah terlihat.

Mari lihat postur tubuh orang yang sedang emosi perbandingkan dengan postur tubuh orang yang sedang berbahagia. Kedua-duanya bisa juga diperbandingkan lagi dengan orang-orang yang sedang gundah gulana. Mudah mengetahuinya!

Perlu latihan khusus berkesinambungan jika ingin berhasil menyembunyikannya, terutama karena perbedaan itu tidak hanya pada tampilan fisik saja, tetapi juga oleh otak. Aktor-aktor panggung teater, bintang film ternama, public figur, politikus-politikus, orang-orang yang bertugas ditengah bencana kemanusiaan, dan lain-lain, umumnya dituntut untuk bisa berhasil menyembunyikan suasana hatinya.

Misalnya seorang aktor, ia akan dituntut untuk bisa mengendalikan mood suasana hatinya, sedari di panggung hingga tampil dihadapan penggemarnya. Sambutan penggemar yang membludak hingga sorotan kamera serta pers media terkadang bisa menjadi momok yang menakutkan. Public figur kerap dikerangkeng situasi dan kondisi, dan tidak mudah untuknya bisa melarikan diri dari kenyataan. Mental terbebani, beberapa malah menjadikan botol alkohol sebagai pelariannya, atau malah terjerat jejaring Narkotika.

Terkadang harus diakui, postur tubuh yang buruk diperlihatkan oleh orang yang dipenuhi genangan luapan emosi dan atau endapan pikiran negatif. Itu mudah terlihat dalam diri orang yang dipenuhi kebohongan demi kebohongan. Andai saja ada pembohong yang jujur, ia pastinya akan mengakui hal itu.

Tetapi postur tubuh orang-orang yang baik, atau orang-orang yang dipenuhi kewaspadaan tentang hal-hal baik untuk tujuan yang baik, pada dasarnya menghasilkan kondisi postur tubuh yang lebih positif. Pastinya Anda kini tahu hal yang dimaksudkan!
~Salam postur tubuh!
joinmySFIteam

Rabu, 17 April 2019

BIJAKLAH BERSOSIAL MEDIA

"Slow down and enjoy life. It's not only the scenery you miss by going to fast - you also miss the sense of where you are going and why."
~Eddie Cantor


“Santai saja, nikmati hidup. Bukan hanya pemandangan yang Anda liwatkan jika tergesa-gesa begitu, (tetapi) juga kehilangan perasaan (akan) kemana dan kenapa” demikian Eddie Cantor. Dinyana, kini kita hidup serba tergesa-gesa, didalam dunia yang serba instant. Tergopoh-gopoh semua inginnya instant.

Jika dulu petani memerlukan waktu sembilan bulan untuk bisa panen, kini paling lama sembilan minggu hasil panen bahkan sudah habis. Jika dulu peternak ayam perlu waktu tiga bulan baru bisa menjual, kini ini kurang dari tiga minggu hasilnya bahkan sudah habis terpotong rupa-ragam biaya. Teknologi percepatan merambah hingga memacu teknik pengadaan pangan demi asupan gizi tubuh kita.

Teknologi juga berhasil memaksa pebisnis untuk menata ulang dunianya. Industri dibidang pers bahkan terlihat gamang mengikuti. Peralatan baru yang dipasang kemarin, diminggu berikutnya telah tertinggal oleh fitur-fitur yang lebih canggih. Pengusaha konvensional perlahan tersingkir tergantikan pebisnis muda yang konon lebih mumpuni memanfaatkan teknologi.

Industri Pers bahkan kian terpapar oleh geliat Sosial Media. Setiap pemilik gadget kini bisa meng-APLOT dan bisa men-DONLOT apa saja, tak hirau dengan konsekuensinya. Informasi kini didominasi Sosial Media, ratingnya bahkan menggusur Pers resmi terdaftar.

Seolah lupa tatanan sosial, Sosial Media masuk menerobos sendi-sendi kehidupan, mengoyak privasi kehidupan pribadi yang seyogianya dijaga untuk terjaga. Teknologi telah mengubah perilaku manusia. Menjurus ke wilayah aspek sosial hingga terasa menciderai tatanan moral sosial adat ketimuran.

Apa daya kemajuan adalah kemajuan!

Etika dan Moral seolah telah terpinggirkan. Banyak yang menyayangkan tetapi tak sudi mempersengketakannya. Khawatir berurusan dengan orang-orang yang sekonyong-konyong mengaku pakar teknologi, pakar komunikasi, pakar informasi, bahkan ada yang mengaku sebagai pakar teknologi komunikasi informasi, pakar Sosial Media. Pakar yang umumnya berpendapat memberatkan, menyayat bagai sembilu, tanpa tedeng aling-aling!

Sosial Media seolah menjadi panggung kesewenangan, menjurus kearah peningkatan pemalsuan informasi hingga pemalsuan indentitas.

Baru-baru timbul wacana, bahwa dampaknya telah mengancam kedaulatan Negara, akan dikenai Undang - Undang Anti Terorisme. Penguasa linglung sempoyongan, seolah kalap, memperlakukan rakyatnya bagai teroris. Konon katanya, wacana ini bertujuan untuk menghempang daya rusak dampak negatif Sosial Media.

Darurat HOAKS!

Hiruk-pikuk tentang perilaku anak bangsa di Sosial Media membuat orang-orang tidak lagi melihatnya dalam konteks bebas terbatas. Semua lepas beredar sesuka-suka. Bahkan membangkang untuk dikelola, walau jika itu untuk tujuan menjaga aspek sosial kehidupan.

Kini bukan lagi si sumber hoaks yang ditekuk, penegak hukum sepertinya lebih suka mentelikung si penyebar yang umumnya amatiran lebih mudah terdeteksi. Terancam pidana menyebar hoaks! Ancaman hoaks, yang diduga beralasan benar, walau memalukan.

Pelanggaran!

Setiap orang kini merasa bebas meng-APLOT kehidupannya, melalui facebook, twitter, instagram, bahkan video Vlog. Online ber-durasi dua tiga menit, dan diminati. Semua follower ikut menikmati kehidupannya. Bahkan mungkin menganggap seperti begitu itulah kehidupan pribadinya. Meniru, persis yang dipertontonkan. Menduplikasinya, mengubah tatanan cara bicara, amboi bergaya!

Sosial Media sukses menembus batas aspek kehidupan sosial. Seolah memaksa kehidupan riel nyata mengikuti tayangannya. Yang terpapar, terlihat canggung kala mentas mengikuti. Ketahuan, beda kehidupan!

Bagaikan opera kejar tayang, setiap hal di-APLOT. Sedari kegiatan sehari-hari hingga angan-angannya. Menjurus kearah pencitraan. Citra bicara, pakaian, kesederhanaan, citra kepemimpinan. Diatur konsultan pencitraan berbayar.

Beberapa bergumam perlahan: “Iya,,,, ampun, tetap saja planga-plongo! Dasar jangkrikkkkk!!!

Lainnya menyayangkan ulah si konsultan: “Tega nian memaksakannya akting berlagak bagai bukan dirinya!”

Dan penjilat serempak: “Mantap, revolusi foromfom-fom! Hidup sederhana. Dialah pemimpin bangsa. Dialah titisan raja diraja dari segala raja-raja, keturunan para raja bahkan sebelum para raja-raja itu lahir dan menjadi raja”.

Oops…, informasi membentur kelalaiannya! Menyengat bau ke seantero persada. Kemampuan literasi menyeruak mempertontonkan kompetensi. Kapasitas berkomunikasi menjadi ujian otentitas realitas. Fitur-fitur teknologi gagal mengelabui. Jika kapasitas bermasalah, akan selamanya menjadi masalah, dan dipermasalahkan.

Tak bergeming, Sosial Media melenggang menjurus ke arah pemalsuan indentitas. Bahkan hingga kepalsuan palsu dari indentitas palsu tak pelak turut dipalsukan, menjadi palsu, sepalsu-palsunya palsu. Pemuja bayaran, hiruk pikuk acuh tak acuh!

Yang kecewa sebisanya berusaha menghindari amarah diri. Yang marah, bergegas melaporkan “upaya pemalsuan indentitas palsu yang dipalsukan”. Kecewa menggantang asap, sia-sia! Tidak ditemukan adanya pelanggaran. Yang sehat, tegak menjaga marwah. Tak goyah diterpa isu palsu yang kerap didelik secara palsu.

Tak ayal penyedia layanan Sosial Media disemprit, diminta mengatur, membuat ketentuan demi privasi pengguna. Namun, pengguna kian giat menayangkan rupa-ragam hal yang merusak kepribadian. Hendak dikata apa?

Mungkin bukan Sosial Media yang dipersalahkan, mungkin kapasitas pengguna yang ditaraf bermasalah! Mungkin aturannya yang kebablasan. Mungkin ini-itu, dimungkinkan. Mungkin!

Setiap kali seseorang meng-APLOT tayangan kehidupan pribadinya, ia tengah berusaha mempermalukan dirinya. Menirukan reporter, atawa artis, dll, memberitakan kehidupan keluarganya, atau teman-temannya. Bahkan tak luput acara berkabung ikut di-APLOT jenazah secara tanpa sensor. Jauh dari kaidah adat ketimuran. Terkesan tidak senonoh. Online live streaming dari TKP berita peristiwa kriminal, si korban ditayangkan tanpa sensor. Miris jadinya.

Dan Anda setia menikmatinya, ikut mempermalukan diri. Anda mungkin menilai tindakannya terkesan suka-suka, namun itu tengah menilai perilaku diri sendiri. Yang meng-APLOT bangga mendapat LIKE. Bersikukuh benar. Dan itu adalah perspektif yang mengasosiasikan penilaian diri sendiri persis sama dengan pendapat orang lain. Atau mungkin Anda membantah pendapat yang mencegahnya, artinya Anda tengah berusaha mensabotase diri sendiri.

Sengketa dalam berpendapat menimbulkan pertikaian pendapat. Sosial Media berhasil melahirkan kawanan yang sependapat, yang saling mendukung. Walau konon hanya sebatas di Sosial Media. Namun, perilaku sabotase diri adalah naluriah kawanan, yang timbul seketika untuk melindungi kawanannya. Dan itu, menjadi cerminan persfektif Anda melihat dunia.

Mungkin Anda berulang-ulang membantah bahwa itu hanya di Sosial Media, namun realitasnya telah banyak kawanan yang aktif berinteraksi tatap muka secara berkala.

Yang menentang “perilaku sabotase diri” turut melakukan hal yang kurang lebih sama, walau dengan cara-cara yang dianggap lebih positif. Memanfaatkan Sosial Media untuk membangun empati dan simpati sosial. Kegiatannya meluas hingga memberikan bantuan ke orang-orang yang terpapar bully Sosial Media. Dan melakukan bhakti sosial membantu sesama satu lainnya. Berusaha mengembalikan tatanan aspek sosial kehidupan, dan memulainya dalam bingkai gotong royong.

Bijaklah bersosial media, manfaatkan dengan bijaksana. Jika takut dihakimi berhentilah menghakimi. Sederhananya begitu itulah!

Salam bijak selalu!
JoinMySFIteam

Kamis, 11 April 2019

TIPIKAL PEMIMPIN

"Folks are usually about as happy as they make their minds up to be"
~Abraham Lincoln

Pemimpin seyogianya adalah orang yang berpengaruh, sederhananya begitu. Permasalahan acap timbul kala ketika seorang pemimpin berusaha berlagak menjadi se-SEORANG yang bukan jati dirinya.

Karenanya mari kita kenali tipikal-tipikal pemimpin. Apalagi Anda adalah pemimpin atawa kelak akan menjadi pemimpin. Pahami, agar Anda tampil alamiah sebagaimana aselinya sejatinya diri Anda. Jika Anda tampil bagai seseorang yang tidak mencerminkan diri Anda sendiri, percayalah orang-orang akan tahu, Kredibilitas Anda akan berkurang. Mungkin akan mendapat perlawanan dalam berbagai bentuk cara perlawanan yang memungkinkan. Mungkin orang-orang akan mengambil tindakan dengan cara yang berlawanan, mungkin tujuannya untuk menyadarkan. Anda terdikte dan terlihat mudah didikte!


Pemimpin mempengaruhi peradaban, berdampak terhadap hidup miliaran orang. Tiap rejim meninggalkan catatan keberhasilan dan kegagalannya, dan itu tipikalnya. Tipikal tertentu terlihat berhasil pada situasi tertentu dilain waktu malah gagal. Tiap orang bebas menilai tipikal yang bagaimana yang dianggap terbaik bahkan bebas berpendapat jika tipikal tertentu dianggap otoriter. Penilaiannya terkesan pribadi atau terpengaruh oleh kepentingan dan tujuan tertentu.
Disadur dari Paul Macetta tipikal kepemimpinan, sebagai berikut:

1. Pemimpin OTORITER:
Dikenakan kepada pemimpin yang memusatkan segala sesuatunya pada kekuasaan dirinya seorang. Ia menetapkan tujuan, membuat aturan ketentuan hingga prosedur yang harus dijalankan. Tipikal ini bisa merubah wajah dunia, seperti Nazi Hitler.

Dalam bisnis skala kecil, kewenangan terpusat ditangan pemilik, mutlak seorang diri mengontrol bahkan menetapkan visi dan cara mencapainya. Demikian, hingga skala serta rentang kendali memaksanya mendelegasikan bidang-bidang tertentu.
Pengikutnya bisa bertanya mengapa, namun keputusan mutlak ditangannya seorang. Tipikal ini cenderung tampil sebagai diktator, suka memerintah dan senang mengendalikan.

2. Pemimpin PATERNALISTIK:
Dikenakan kepada pemimpin yang bersifat kebapakan, karakteristik seorang Ayah bagai figur bapak bagi rakyatnya atau bagi karyawan jika di dunia bisnis. Karyawan diperlakukan bagai anaknya, harus patuh! Masalah timbul ketika figur Ayah bersifat keras kepala dan gagal memelihara hubungan baik dengan anak-anaknya. Ketika itu terjadi, gayanya bisa dengan cepat berubah menjadi diktator. Yang suka boleh tinggal yang tidak suka diminta pergi. Karyawan tidak nyaman, bisnis terancam.

Yang bisa menaklukkan hati sang bapak diberi berbagai kemudahan dan mendapatkan banyak hal.

3. Pemimpin DEMOKRAT:
Tipikal demokratis menjadi populer karena melibatkan orang-orang turut andil memberikan masukan, menyenangkan apalagi keputusan diambil dengan suara terbanyak. Karenanya, menjadi sulit dipertanggungjawabkan apalagi melibatkan kepentingan orang banyak terlebih tidak setiap orang mau bertanggungjawab secara semestinya. Beberapa bahkan memanipulasi kepentingannya dengan dalih untuk dan demi kepentingan bersama.

4. Pemimpin PASIF:
Dikenakan kepada pemimpin yang berperilaku santai, disebut: laissez-faire. Tipikal ini bisa menimbulkan frustrasi dikalangan pengikutnya terutama yang mendambakan interaksi imbal-balik. Ia akan berhasil jika dikelilingi oleh orang-orang yang kompeten bekerja dengan pengawasan supervisi minim. Pada rejim pemerintahan dengan pemimpin laissez-faire rakyatnya diberi kebebasan dengan sedikit pengawasan.

Masalah timbul kala ketika tiap orang saling menyalahkan tanpa kejelasan pertanggungjawaban, si pemimpin santai terkesan tidak peduli. Rakyat menjadi frustasi hingga mudah dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

4. Pemimpin TRANSAKSIONAL:
Dikenakan kepada pemimpin yang mendasarkan segala sesuatunya atas dasar berbayar. Bagai antara majikan dengan buruh. Demi uang, karena diminta mengusung ide gagasan kemudian bersedia dibayar untuk melaksanakannya. Karyawan yang kerap berlagak out-of-box kreatif dan yang suka menuntut kontra-prestasi seimbang sangat menyukainya, dan menjadi mudah diatur karena tiap sesuatunya tergantung pada bayarannya. Bela yang bayar!

5. Pemimpin TRANSFORMASI:
Diberikan kepada pemimpin yang dianggap membawa dampak positif dan yang berhasil memotivasi, yang menghadirkan peluang karyawan untuk memacu keahliannya tak henti berusaha mencapai potensi maksimal pribadinya. Dinilai berhasil meng-Inspirasi dan memastikan tercapainya tujuan perusahaan. Pengikutnya cenderung bergairah bekerja bahkan terlihat lebih cerdas.

"A leader's job is to look into the future and see the organization not as it is, but as it can become."
~Unknown

Anda bebas menentukan sendiri akan menjadi pemimpin yang bagaimana namun sejarah akan mencatatkannya.

Yang terpenting dan yang tak kalah pentingnya lagi, kala ketika Anda ditugaskan memilih pemimpin - apalagi jika itu pemimpin bangsa sekaligus petinggi tertinggi Negara - hati-hatilah!

Apapun pilihan Anda bukan kata-kata yang membenarkannya tetapi perilaku Anda yang akan mengenakannya ke-Anda.

~Salam pemimpin pemimpi!


Ingin menjadi Affiliates? belajar disini!

Senin, 08 April 2019

PERILAKU MILLENIALS JAMAN NOW

Kini kita hidup di dunia yang mewajibkan kita mendidik anak-anak dengan memperhatikan kemajuan teknologi karena teknologi telah mendefinisikan ulang cara bagaimana kita hidup, cara bagaimana kita bekerja mengejar karir, cara mendapatkan penghasilan hingga kedalam sendi-sendi kehidupan. Mengubah kebiasaan hidup bahkan pengharapan dalam hidup.

Kita hidup ditengah keberadaan phisik riel nyata berbasis digital. Teknologi telah menata cara bagaimana interaksi sosial antar pribadi-pribadi dilakukan bahkan bisa merenggutnya. Ucapan syukur hingga turut berbelangsungkawa menjadi jamak terdigitalisasi.

Ada anggapan bahwa kecerdasan dari teknologi adalah kecerdasan buatan. Tak heran jika ada pribadi yang menjadi korban bully karena tidak bijak berinteraksi, mungkin perceraian suami-istri juga berawal dari kebablasan berteknologi.

Makanya, jangan semua di DON-LOT dan tiap hal di AP-LOT.
We are shaped by our thoughts; we become what we think. When the mind is pure, joy follows like a shadow that never leaves."
~Buddha


Dunia bisnis pun berubah radikal, interaksi langsung antar pelanggan memaksa produsen untuk menjaga kualitas. Kemudahan interaksi antar pelanggan ini juga dimanfaatkan oleh para intermediary jasa perantara hingga pedagang. Pemangku kegiatan finansil perbankan bahkan menjamin keamanan fasilitas digital, tak perlu takut berdigital ria. Alat bayar dan metode pembayaran bahkan hingga pembatalan transaksi bisa dilakukan secara digital.

Sirkulasi transportasi berbasis digital, pulsa listrik, angkot, ojek bahkan kuda poni bayar secara digital. Perawatan alat peralatan mekanis, pindah rumah, bersih-bersih rumah hingga layanan pijat ditawarkan secara digital. Melamar pekerjaan, testing masuk sekolah, pelaporan pajak dilakukan serba digital. Semuanya kian menguatkan tendensi penggunaan teknologi adalah wajib.

Generasi millenials dianggap berhasil menjadi pegiat teknologi mendongkrak daya beli, menumbuhkan komunitas-komunitas ekslusif elegan substansil. Penggunaan merek tertentu kini tergerus oleh segmen pasar yang tercipta signifikan, dan berubah tiap waktu.

Anda yang berasal dari komunitas produsen wajib tahu tren-tren produksi atau akan tergerus terlempar keluar dan menjadi intermediary penyedia jasa. Tiap orang kini bisa seketika menjadi produsen merangkap pedagang merangkap sebagai konsumen pengguna akhir.

Konsumen millenials umumnya pintar, memilih merek sesuai pengalaman dan relevansi kebutuhan. Segmentasi pasar mengikutkan definisi ahli-ahli bisnis terdahulu kini berubah mengikutkan perubahan era teknologi.

MILLENIALS ADALAH INDIVIDUIL ENERJIK:
Mereka dikenal getol mengkutak-katik teknologi membangunnya agar relevan mengikutkan kebutuhan pribadinya atau kelompoknya. Anggapan ini tidak berlebihan karena kecerdasan buatan teknologi memaksa dunia nyata disajikan dengan basis digital. Seiring waktu hal itu akan tertanam di kehidupannya. Tiiap konten personal akan diuji relevansinya sesuai pengalaman personal dan diarahkan menjangkau kesempatan yang berubah tiap waktu. Keunikan dunia seketika berubah menjadi kian semakin unik.

MILLENIALS MEWAJIBKAN NAVIGASI DIGITAL:
Digitalisasi merangsek kedalam kehidupan sehari-hari. Ragam kebutuhan kini mengikutkan dampak digitalisasi, bahkan kalangan millenials mungkin tidak mengenal wujud nyata kebutuhannya. Mereka hanya dijejali tayangan digital dan memulai interaksi untuk kemudian membelinya.

Pebisnis kini mulai meninggalkan ruang pamer dan menggantikannya dengan digital promosi merambah hingga kesendi-sendi kehidupan pelanggannya, melalui komunitas-komunitas pengguna WA, Instagram, Facebook, Twitter, Tumbler, dll. Bahkan menyediakan ruang ganti virtual yang memungkinkan millenials memvisualisasikan dirinya dengan pakaian yang akan dibeli.

Merek ternama sepanjang masa terlihat tergopoh-gopoh mengantisipasi atau akan tersingkir dari peradaban teknologi karena millenials tidak mengenalnya.

MILLENIALS INGINNYA SEKARANG:
Gaya millenial umumnya dikenal seperempat memaksa, tiap hal inginnya harus sekarang, penundaan dianggap batal dan beralih kebarang satu lainnya. Berbeda dengan kultur orang tua yang dididik pemahaman bahwa kebiasaan seperti itu dianggap tidak senonoh terhadap orang tua yang lebih tua.

Konsumen millenials mengidolakan layanan cepat tepat waktu, pengiriman tidak boleh terlambat. Ini membuat pebisnis tertantang hingga memelihara rantai pasokan dari produsen. Beberapa terlihat bekerjasama membangun sistim logistik terintegrasi. Layanan pergudangan hingga antar barang kini meningkat tajam - beberapa bahkan sudah menggunakan Drone pengiriman.

Teknologi telah berhasil mengubah harapan penggunanya.

Dibisnis kesehatan, penyedia layanan medis terpacu untuk menyediakan sistim otomatisasi karena harus tepat waktu, digitalisasi dikombinasikan dengan peningkatan layanan riel nyata. Dokter ahli tanpa peralatan canggih dianggap mahluk aneh dan perlu dihindari.

Lambat laun pengharapan pasien lebih didasarkan pada seberapa canggih peralatan medis yang digunakan. Keahlian para medis terlihat mulai tergerus.

MILLENIALS MEMAKSA PROAKTIF:
Layanan proaktif dianggap bernilai plus untuk menangani permasalahannya, dan jangan heran jika kemudian dinilai bawel terlalu campur-tangan dalam urusannya. Paradoks usia bagi kalangan millenials.

Didunia bisnis, penyediaan tele-marketer dan layanan customer service ditingkatkan terutama untuk menutupi kelemahan sistim otomatisasi. Pelanggan dijaga agar jangan sampai bertanya-tanya kesulitan mendapatkan tanggapan. Disisi lain perusahaan harus menahan diri agar karyawannya tidak dianggap baper campur tangan. Karyawan dilatih sebatas antisipasi kebutuhan apalagi konsumen millenials menyukai layan cepat tepat dan diskon besar.

Millenials terlihat membutuhkan campur-tangan orang lain untuk bisa menangani permasalahannya, bagaimana pun kecerdasan buatan teknologi akan menyisakan ruang dan memerlukan sentuhan yang manusiawi.

MILLENIALS MAUNYA SEMUA MUDAH:
Millenials terlihat sibuk dengan gadgetnya umumnya menginginkan berbagai kemudahan secara swalayan 24 Jam, 7 hari.

Bagi pebisnis konsumen adalah raja mendambakan kenyamanan dan berbagai kemudahan menangani sendiri hal-hal yang diinginkan tak kenal waktu, disisi lain mereka juga butuh pemdampingan jika sewaktu-waktu memerlukan bantuan. Hal yang umum dibisnis entertaintmen dan hospitality mengantisipasi karyawannya untuk membantu sebisanya, menyediakan layanan chat, obrolan online untuk melayani perilaku konsumen dari kalangan millenials.

MILLENIALS ADALAH KONSUMEN TIPIKAL BARU:
Perilaku millenials menjadi pangsa pasar bagi dunia bisnis, pebisnis dipaksa untuk melayani kebutuhan kalangan millenials yang tiap waktu berubah. Situasi ini kian semakin menebalkan kebenaran anggapan bahwa kecerdasan buatan teknologi akan menyisakan ruang yang penanganannya perlu lebih manusiawi.

“Most people fail in life not because they aim too high and miss, but because they aim too low and hit.”~Les Brown

~Salam millenials selalu!
tripleclicks