Kamis, 12 Juli 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA WABI-SABI?

"Only you can hold yourself back, only you can stand in your own way...Only you can help yourself."
~Mikhail Strabo

Istilah Wabi-Sabi dikenal sebagai cara Jepang untuk menyatakan keindahan sesuatu hal ada pada sesuatu hal yang tidak sempurna. Bahwa ketidaksempurnaan pun memiliki keindahan tersendiri. Demikian juga hidup, jika pun dirasa tidak sempurna tetapi penting untuk diterima dan dirasakan  agar bisa disempurnakan.

Semua kita tahu bahwa temuan-penemu hebat diawal mulanya ditentang, bahkan oleh beberapa pihak malah dijadikan lelucon, dianggap tidak sempurna. Tetapi ketika ketidaksempurnaan itu bisa diterima, akan terlihat ada keindahan terkandung didalamnya hingga tiap pihak berminat mempelajari dan meningkatkan kualitasnya.

Banyak produk diketahui diremehkan pada awalnya, beberapa malah dianggap gagal pada proses produksi. Bahkan mesin komputer di era-era awal diperkenalkan ke publik, diperlakukan bagai produk gagal. Sistim internet pun dianggap sebagai suatu yang sia-sia terutama karena sistim serta kapasitas jaringan telekomunikasi di Era itu. Tetapi ketika ketidaksempurnaan itu bisa diterima, banyak pihak yang kemudian tertarik untuk ikut terlibat meningkatkannya, hingga kita mengenal internet yang sekarang ini dinilai memudahkan hidup. Kini nyaris semua bidang memanfaatkannya, jika belum tersentuh malah dianggap “jadul” dan tidak mendunia. Wabi-sabi, keindahan dibalik ketidaksempurnaan.

Ketika kita ketahui orang terdekat kita membuat kesalahan, itu akan menjadikannya gugup, goyah tak percaya diri, seolah dunia mentertawakannya. Kita seyogianya tak perlu khawatir dan kita harus menyampaikannya, bahwa adalah wajar jika berbuat kesalahan, akan ada banyak waktu untuknya melanjutkannya dan tidak lagi membuat kesalahan yang sama. Harus disemangati untuk meningkatkan kemampuannya.

Terkadang, pada situasi tertentu, terlihat seseorang yang membuat kesalahan malah terbahak mentertawakan dirinya, dan itu membuat orang lain menjadi canggung untuk marah, bahkan malah memilih menganggap kesalahannya sebagai sesuatu yang tidak serius. Beberapa bahkan merasa geli dan memberitahukannya cara sebenar agar terhindar dari kesalahan berikutnya.

Walau hal itu tidak dijamin berlaku untuk tiap situasi, tetapi orang lain cenderung memperlakukan kesalahan yang kita perbuat dengan cara yang sama bagaimana kita memperlakukannya. Karenanya, kita harus bisa menjaga suasana hati kita agar orang lain terpancing berlaku sama.

Mari baca ulang otobiograpi para penemu, terlihat bahwa mereka mempelajari hal baru dan berani melakukan sesuatu atasnya, maka wajar jika mereka kerap membuat kesalahan. Hidupnya seolah akrab dengan kegagalan. Kesalahan demi kesalahan mewarnai perjuangannya terutama karena melakukan sesuatu hal yang belum diketahui. Pada akhirnya kesalahan akan menemukan kebenarannya. Dan kesalahan-kesalahan itu menjadi terkondisikan, menjadi terbiasa hingga akhirnya mampu meningkatkan keterampilannya dan terhindar dari kegagalan. Wabi-Sabi! Mari ubah ketidaksempurnaan diri dengan memperlakukan diri kita sama dengan orang-orang yang berjuang mengubah ketidaksempurnaannya.

Banyak yang percaya bahwa kesuksesan akan menular ke orang satu lainnya! Meski tidak sepenuhnya benar, tetapi tiap orang cenderung meniru sifat positif orang satu lainnya demi untuk meminimalkan ketidaksempurnaan dirinya.

Sejatinya banyak yang berpendapat bahwa kita adalah mahluk sempurna. Meski tidak sepenuhnya tidak benar tetapi tidak satu pun yang berminat mempermasalahkannya. Karena sesungguhnya tidak ada mahluk yang sempurna.

Apalagi jika kita mengakui bahwa keindahan ada pada setiap ketidaksempurnaan, dan tiap orang yang paham akan hal itu, akan terlihat membangun minatnya untuk menjadikannya kian semakin sempurna.

"Think little goals and expect little achievements. Think big goals and win big success."
~Davis Joseph Schwartz
Belajar menjadi satu-satunya cara yang tersedia dan dipersyaratkan untuk kita bisa berkontribusi menikmati hidup, terutama agar kita diperlukan dalam kehidupan ini.


~Salam wabi-sabi selalu!
  Join MyTeam!

Rabu, 04 Juli 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA MASA-MASA SULIT


Masa-masa sulit adalah masa ketika kita berpikir akankah saya bisa meliwati hal ini? Perasaan menyakitkan memaksa kita untuk belajar bersabar membentuk diri kita menjadi - diri kita yang sebenarnya.
Nyaris semua takut mengetahui kebenaran sejati - siapa kita yang sesungguhnya? Kita terlalu sering mengkedepankan perasaan dan bersembunyi dari kenyataan pahit yang menyesakkan.
Apalagi sedari dini kita diajarkan bahwa rasa sakit harus dihindarkan, tetapi kenyataan hidup pahit harus dirasakan karena itu yang membuat kita kuat menjalani hidup. Dan menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan.

Sulit menerima kala sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, tetapi itu adalah hidup kita, kita harus menanggungnya. Menghadapinya akan membawa kita ke-versi diri kita yang sesungguhnya - versi paling kuat, paling bijak serta paling jujur menjalani hidup ini.

Tidak ada saran tokcer untuk menghadapinya, namun beberapa bisa disarankan walau bukan untuk berlaku universal, Yakni:

ALIHKAN FOKUS PERHATIAN:
Perasaan menyakitkan akan menghisap kemampuan berpikir hingga mengering, lelah disergap rasa tegang tertekan terus-menerus. Fokuslah mengharapkannya terjadi, dan karena kita tidak suka maka kita akan bersiap menghadapi.
Fokus membuat kita waspada menghadapinya. Ini adalah cara harfiah, bahwa hal itu tidak kita sukai dan kita akan hadapi.

Mungkin kita bertanggungjawab atas sesuatu di masa lalu, tetapi kita juga bertanggungjawab akan pikiran kita dimasa saat sekarang ini tentang hal itu. Ini tentang pola pikir agar paham bahwa kita dibekali cara bagaimana menghadapinya.

PERTANYAKAN DIRI SENDIRI:
Kita harus bertanya ke diri sendiri mengungkapkan kisah menyakitkan apa yang tertanam di benak kita, karena itu akan mengubah alam pemikiran kita. Mungkin sulit dimengerti, tetapi hidup adalah misteri dan kita mengenal hidup adalah dari kisah kehidupan. Seperti, bahwa kita harus makan agar kuat bekerja, dan kita perlu istirahat agar bugar bekerja keesokan harinya. Dan itu menjadi nyata merubah cara kita hidup.

Kisah kehidupan pun beragam versi. Tak ubahnya ketika sekelompok orang buta untuk pertama kalinya diminta mengenal seekor gajah. Secara bergantian masing-masing diarahkan memegang bagian kaki, belalai, telinga, leher dan seterusnya, kemudian secara bersama-sama diminta menggambarkan rupa seekor gajah. Bagaikan kisah kehidupan, mereka menyatukan keping-keping informasi yang didapat dan menyadari bahwa sulit untuk menerima gambaran utuh tentang gajah itu, karena keterbatasan mereka.

Demikian juga hidup, berbagai pengalaman ikut mewarnai hingga akan sulit untuk menerima sudut pandang yang sama apalagi kita cenderung mengkedepankan apa yang dialami.
Orang yang tertimpa peristiwa kebakaran akan sedih nelangsa kehilangan harta bendanya, tetapi pebisnis melihatnya sebagai prospek bisnis proyek alat pemadam dan proyek rumah hunian baru. Tergantung sudut pandang.

Pengalaman masa lalu mempengaruhi sudut pandang dan persfektif negatif cenderung mempersempitnya apalagi menghadapi ketidakpastian. Itu perlu diseimbangkan dengan ragam informasi yang relevan tentang berbagai momen kehidupan.

Tantangan terbesar adalah mempertanyakan kisah apa ini? Akuratkah? Apalagi yang akan terjadi jika saya melupakan kepahitan ini? Ketidakpastian apalagi yang menanti?
Tak gampang melepaskan diri dari kisah masa lalu, saran terbaik adalah dengan mempertanyakan dan mengamatinya tanpa prasangka negatif. Ini adalah tentang cara terbaik agar bisa hidup lebih baik tanpa digerogoti pengalaman pahit.

JAUHI DRAMA NEGATIF:
Jauhi orang-orang yang cenderung membuat kesimpulan negatif, yang kerap spontan tidak terkendali mendramatisir sesuatu hal. Jangan terpancing akan stigma negatif jika sesuatu situasi berjalan tidak sesuai harapan.

Semisal jika seseorang datang terlambat rapat, jangan berpikir bahwa orang itu telah dengan sengaja mempermalukan. Tersenyumlah mempersilahkan, tak perlu membahasnya. Dalam banyak hal kita perlu menyesuaikan sendiri alam pemikiran kita akan situasi yang tengah terjadi.

Menjadikannya negatif tidak  bermanfaat bahkan malah membuat kita gagal memetik hal positif dari berbagai hal kejadian yang negatif.

LEPASKAN YANG TAK BISA DIUBAH:
Kita perlu berani melepaskan sesuatu hal yang tidak bisa diubah, karena ketika kita tidak lagi bisa mengubahnya kita tertantang mengubah diri sendiri. Dan itu yang akan mengubah segalanya.

Dimasa-masa sulit, manusia cenderung berasumsi bahwa bahwa esok akan lebih baik. Kala keadaan tidak juga berubah, sudut pandang masih saja menggunakan lensa berkabut, sulit menerima kenyataan. Jangan terjebak pada sudut pandang usang, lepaskan masa-masa indah yang telah berlalu dan terima kenyataan.

Ini lebih dari sekedar menerima sudut pandang bahwa seiring waktu perasaan menyakitkan akan hilang tetapi fokuslah mempertanyakan langkah apa yang sedang dilakukan. Itu yang terpenting, bukan apa yang telah dilakukan. Lepaskan fantasi keindahan, itulah bentuk kontrol diri.

Konsistenlah. Ibarat olahragawan mereka konsisten memeriksa tahap kemajuan yang diperoleh dan menjadi ritual harian. Tekad pikiran bukan hanya diperlukan dimasa-masa sulit tetapi konsisten memberi asupan giji mental, karena pikiran pun perlu pelatihan sepanjang waktu.

Belajarlah hingga ke liang lahat, karena belajar menjadi satu-satunya cara yang dipersyaratkan untuk kita bisa mengisi hidup, dan diperlukan dalam kehidupan ini.

~Salam belajar selalu!
Join mySFI Team

"Only you can hold yourself back, only you can stand in your own way...Only you can help yourself."
~Mikhail Strabo