"Only you can hold yourself back, only you can stand in your own way...Only you can help yourself."
~Mikhail Strabo

~Mikhail Strabo
Istilah Wabi-Sabi dikenal sebagai cara Jepang untuk menyatakan keindahan sesuatu hal ada pada sesuatu hal yang tidak sempurna. Bahwa ketidaksempurnaan pun memiliki keindahan tersendiri. Demikian juga hidup, jika pun dirasa tidak sempurna tetapi penting untuk diterima dan dirasakan agar bisa disempurnakan.
Semua kita tahu bahwa temuan-penemu hebat diawal mulanya ditentang, bahkan oleh beberapa pihak malah dijadikan lelucon, dianggap tidak sempurna. Tetapi ketika ketidaksempurnaan itu bisa diterima, akan terlihat ada keindahan terkandung didalamnya hingga tiap pihak berminat mempelajari dan meningkatkan kualitasnya.
Banyak produk diketahui diremehkan pada awalnya, beberapa malah dianggap gagal pada proses produksi. Bahkan mesin komputer di era-era awal diperkenalkan ke publik, diperlakukan bagai produk gagal. Sistim internet pun dianggap sebagai suatu yang sia-sia terutama karena sistim serta kapasitas jaringan telekomunikasi di Era itu. Tetapi ketika ketidaksempurnaan itu bisa diterima, banyak pihak yang kemudian tertarik untuk ikut terlibat meningkatkannya, hingga kita mengenal internet yang sekarang ini dinilai memudahkan hidup. Kini nyaris semua bidang memanfaatkannya, jika belum tersentuh malah dianggap “jadul” dan tidak mendunia. Wabi-sabi, keindahan dibalik ketidaksempurnaan.
Ketika kita ketahui orang terdekat kita membuat kesalahan, itu akan menjadikannya gugup, goyah tak percaya diri, seolah dunia mentertawakannya. Kita seyogianya tak perlu khawatir dan kita harus menyampaikannya, bahwa adalah wajar jika berbuat kesalahan, akan ada banyak waktu untuknya melanjutkannya dan tidak lagi membuat kesalahan yang sama. Harus disemangati untuk meningkatkan kemampuannya.
Terkadang, pada situasi tertentu, terlihat seseorang yang membuat kesalahan malah terbahak mentertawakan dirinya, dan itu membuat orang lain menjadi canggung untuk marah, bahkan malah memilih menganggap kesalahannya sebagai sesuatu yang tidak serius. Beberapa bahkan merasa geli dan memberitahukannya cara sebenar agar terhindar dari kesalahan berikutnya.
Walau hal itu tidak dijamin berlaku untuk tiap situasi, tetapi orang lain cenderung memperlakukan kesalahan yang kita perbuat dengan cara yang sama bagaimana kita memperlakukannya. Karenanya, kita harus bisa menjaga suasana hati kita agar orang lain terpancing berlaku sama.
Mari baca ulang otobiograpi para penemu, terlihat bahwa mereka mempelajari hal baru dan berani melakukan sesuatu atasnya, maka wajar jika mereka kerap membuat kesalahan. Hidupnya seolah akrab dengan kegagalan. Kesalahan demi kesalahan mewarnai perjuangannya terutama karena melakukan sesuatu hal yang belum diketahui. Pada akhirnya kesalahan akan menemukan kebenarannya. Dan kesalahan-kesalahan itu menjadi terkondisikan, menjadi terbiasa hingga akhirnya mampu meningkatkan keterampilannya dan terhindar dari kegagalan. Wabi-Sabi! Mari ubah ketidaksempurnaan diri dengan memperlakukan diri kita sama dengan orang-orang yang berjuang mengubah ketidaksempurnaannya.
Banyak yang percaya bahwa kesuksesan akan menular ke orang satu lainnya! Meski tidak sepenuhnya benar, tetapi tiap orang cenderung meniru sifat positif orang satu lainnya demi untuk meminimalkan ketidaksempurnaan dirinya.
Sejatinya banyak yang berpendapat bahwa kita adalah mahluk sempurna. Meski tidak sepenuhnya tidak benar tetapi tidak satu pun yang berminat mempermasalahkannya. Karena sesungguhnya tidak ada mahluk yang sempurna.
Apalagi jika kita mengakui bahwa keindahan ada pada setiap ketidaksempurnaan, dan tiap orang yang paham akan hal itu, akan terlihat membangun minatnya untuk menjadikannya kian semakin sempurna.
"Think little goals and expect little achievements. Think big goals and win big success."
~Davis Joseph Schwartz
Belajar menjadi satu-satunya cara yang tersedia dan dipersyaratkan untuk kita bisa berkontribusi menikmati hidup, terutama agar kita diperlukan dalam kehidupan ini.~Davis Joseph Schwartz
~Salam wabi-sabi selalu!
