Selasa, 02 Mei 2017

TUJUAN CERDAS

"Nothing is impossible to the willing heart."~Thomas Heywood

Kita kerap mendengar kata “tujuan cerdas” tetapi kita kerap membangun pemahaman sendiri tentangnya seolah enggan mengakui bahwa pada dasarnya kita pun tidak begitu paham akan makna pemahamannya. Oleh sekelompok pengusaha kosakata ‘Cerdas’ dimaknai sebagai makna dari kata “SMART” singkatan dari Specific; Measurable; Attainable; Relevant; Time bound. Lebih kurangnya: Jelas; Terukur; Terjangkau; Terkait; Tertentu (J4T).

Tujuan Spesifik: Tujuan harus disusun “sejelas mungkin” agar bisa menjadi suluh penerang arah bagaikan lampu yang menyinari jalan yang akan ditempuh demi untuk memicu kinerja pencapaian yang lebih tinggi. Tujuan yang tidak jelas akan membuat berbagai ketertundaan – tertunda untuk berpikir tentang hasil, tertunda untuk memikirkan kegiatan yang diperlukan, tertunda untuk tahu apa ukuran keberhasilan yang realistis.

Jabarkan Se-spesifik mungkin: Rangkaian kegiatan apa yang diperlukan, berapa lama proses waktu yang realistis. Kapan hari tanggal dimulai dan kapan selesainya, berapa biayanya dan lain sebagainya agar lebih terukur. Semisal, daripada berkata “kita harus bisa menekan biaya sepuluh persen” akan lebih terukur andai kita menyampaikannya dengan mengatakan “kita harus menekan biaya produksi sepuluh persen dalam dua belas bulan kedepan”. Dengan begitu itu, jelas ditekankan bahwa biaya produksi sudah ditetapkan untuk jangka waktu tertentu - itu pedoman. Jelas terukur serta terjangkau dan realistis untuk bisa memvisualisasikan gambaran akhirnya. Ketidakjelasan hanya akan melahirkan rasa frustasi, sama halnya dengan penetapan tujuan yang jelas terukur tetapi tidak realistis  -  itu juga bikin frustasi.
Jabarkan secara realistis, kelola kerjakan dan berhenti saat selesai, selaraskan dengan tujuan yang diinginkan. Menyeimbangkan keselarasan jangka panjang dengan pencapaian ditahapan tertentu bisa membuat kita tetap fokus akan hal apa saja yang dibutuhkan serta kegiatan apa yang akan dijalankan. Penetapan jangka waktu akan membuat kita tahu saat kapan kegiatan itu harus selesai hingga dalam proses pengerjaannya akan terlahir rasa urgensi akan pentingnya pemanfaatan tengggat waktu.

Tuliskan Tujuan Itu: Orang cerdas umumnya tekun menuliskan kegiatannya setiap hari hingga ia bisa mendapatkan gambaran apa berikutnya, menyimpannya dan melakukan cross check atas hal-hal yang dicapai. Sebagian orang mungkin menilai kegiatan itu membosankan, nyatat,,,mulu!, tetapi orang cerdas memaknainya sebagai upaya tanggungjawab mempertahankan kenyataan gambaran yang relevan dan menyelaraskannya dengan tujuan agar arahnya tidak menyimpang.
Teknik menulis dengan penggunaan kata “pasif” akan membuat pembaca teralihkan, semisal ketika menyampaikan kata “saya akan menekan anggaran produksi sepuluh persen” dan bandingkan ketika menulis “saya ingin anggaran produksi ditekan sepuluh persen dalam dua belas bulan kedepan”.
Disamping intonasi, kosakata yang digunakan pun akan membangun pengertiannya hingga kerap mewarnai pemahaman makna.

Laksanakan sesuai Rencana: Proses pelaksanaan kerap membuat kita lupa akan langkah-langkah yang masih akan diperlukan - sebagaimana direncanakan. Sumbang saran dari para yang terdahulu akan menambah penyempurnaan rencana. Menuliskan tiap hal di sepanjang proses pelaksanaan menjadi bahan tambahan ketika evaluasi, dan kian memperkaya ramuan stratejik saat ketika analisa kinerja dilakukan.
Tak heran jika orang sukses umumnya memetakan tujuannya, mengembangkannya bahkan menciptakan kerangka alur proses pencapaiannya. Baginya, rencana juga dimanfaatkan untuk memerangi hantu keraguan yang kadang timbul menghantui. Pada skala tertentu Rencana bahkan dijadikan sebagai rujukan masukan untuk menambah khasanah wawasan.

Pencapaian Terencana: Pada proses pelaksanaan kegiatan kita diperhadapkan dengan berbagai variabel yang terkadang kontras bersinggungan tidak sesuai rencana, terkadang bahkan memaksa kita untuk bertindak fleksibel menyesuaikan beberapa tahapan-tahapan pelaksanaan. Dinamika dan realitas lapangan semakin memperkaya masukan untuk terus melakukan evaluasi sedari waktu ke waktu. 
Walau ada yang berpendapat bahwa evaluasi akan menambah biaya dan membuat rencana kian sulit dipahami namun jangan mengkedepankan ketangguhan diri semata tetapi tetaplah berpegang pada rencana. 

Bahwa itu memang sulit – itu harus diakui, hingga tidak tiap orang berhasil sesuai rencana. Jika saja itu mudah maka tiap orang akan melaksanakannya.
"Without goals, and plans to reach them, you are like a ship that has set sail with no destination."
~Fitzhugh Dodson
~salam Cerdas selalu
~disarikan dari berbagai sumber.

Selasa, 21 Februari 2017

Kecerdasan Emosional = Orang Tidak Cerdas Kerap Emosional


"If you are not willing to learn, no one can help you! If you are determined to learn, no one can STOP you!"
~Zig Ziglar

Sejarah peradaban mencatat bahwa ‘dimensi persfektif’ yang kerap menimbulkan terjadinya perbantahan atas berbagai perbedaan dinilai berhasil menjadikan hidup menjadi lebih hidup.

Dimensi persfektif” dinilai mengusung ‘dimensi moralitas’ serta asas kepatutan hingga layak menjadikannya sebagai dasar landasan partusnya ‘dimensi hukum’. Tujuannya adalah untuk mengatur sejelas-jelasnya agar bilamana tatanan kehidupan terhadang oleh persfektif yang tidak sama maka para pihak telah punya bekal tuntunan untuk bersama menuju persfektif yang paling memiliki kesamaan. Konon katanya berbeda itu indah. Diperlukan agar tiap orang bisa bekerjasama dengan orang satu lainnya. Dan itu bagian dari ibadah juga.

Manusia yang telah menilai sendiri dirinya sendiri sebagai mahluk mulia paling sempurna, kerap menilai ulang nilai–nilai kemuliaan yang dimaksudkan. Dan itu dianggap mulia juga karena didasari alasan yang mulia bahwa; walau tak akan bakal pernah sempurna namun tindakan penyempurnaan menjadi keharusan demi kemanfaatannya.

Ntah kenapa, proses penyempurnaannya kerap terperangkap oleh makna hakikat kesempurnaan itu sendiri. Diduga karena ‘dimensi persfektif’ selalu dianggap sebagai mula awal dari berbagai dimensi-dimensi yang mewarnai kehidupan.

Dimensi hukum’ yang semula dinilai menjadi batas akhir dari gejolak persfektif yang tidak sama, dianggap menjadi awal mula timbulnya perbedaan. Ia yang semula dinilai sebagai aturan dasar demi untuk keteraturan, seolah dianggap menjadi biang kerok terjadinya ketidakteraturan. Harus kah disesuaikan lagi?

Peradaban dipenuhi catatan berbagai warna-warni pelanggaran, sedari pelanggaran ketentuan Dewa-Dewi hingga hukum ketentuan Nagari malah dianggap kian memperkaya warna ‘dimensi persfektif’ untuk menetapkan ulang ‘dimensi hukum’. Harus kah diubah dan diubah – ubah lagi?

Dimensi hukum’ bahkan kerap dinilai menimbulkan terjadinya kecelakaan persfektif sudut pandang – bagaimana sesuatu pasal ketentuan hukum seyogianya diterapkan? Beda orang beda kepentingan maka wajar jika berbeda pendapat! Walau pun tiap ketentuan pasal-pasal hukum yang diundangkan telah dinyatakan jelas - hingga tak lagi diperlukan pasal penjelasan atasnya, namun titik koma pun bisa dijadikan celah kecil mengusung perbedaan kepermukaan. Konon katanya, berbeda itu adalah anugerah!

Dinamika aspek realitas serta kosa kata dan intonasi yang menghantarkannya pun kian berhasil mengusung perbedaan ke permukaan persfektif yang luas. Saling bantah berbantahan demi membantah tiap perbantahan meluas seolah tak berujung tak berpangkal. Alasan dan bukti dasar serta realita fakta aktual pun turut diperbantahkan. Pendapat Pakar ahli dari berbagai tingkatan ilmu diundang hadir untuk turut serta meramaikan hiruk pikuk perbantahan. Dan kian semakin meruncing oleh ‘dimensi politik’ yang memperanakkan ‘dimensi kekuasaan’.

Dimensi politik’ yang semula dipercaya membidani kelahiran ‘dimensi hukum’ demi untuk tujuan tujuan mulia – agar tercipta keteraturan, berbenturan dengan ‘dimensi persfektif  dari pawang-pawangnya - para politisi. Seolah dipaksa perbantahan fokus mengarah memperdebatkan ‘dimensi persfektif’ – yang dipakai ketika membidani kelahiran ‘dimensi hukum’. Agenda pemodal terselip rapi di celah tiap riak gelombang benturan kepentingan, demi kemanfaatannya siap mendanai biaya ini itu, terkesan rela suka hati-hati. Bayar kini, kelak menagih kemudian.

Penguasa, pawang pengatur tatanan kehidupan lantang berseru bahwa keputusan akhir harus tetap mengkedepankan kepentingan masyarakat luas. Gagah bak panglima pengatur situasi, aktif mengkondisikan jargon-jargon kepentingan pengusung yang memperANAKannya. Demi situasi! Menang atau kalah bukan lagi asas kepatutan yang diharuskan, seketika berubah menjadi pilihan.

Seolah Anda boleh Menang didenda sekian atawa Anda Kalah dibayar sekian. Ini demi masyarakat luas. Demi keteraturan tatanan kehidupan! ‘Dimensi moral’ terabaikan, dan ‘dimensi persfektif’ kembali berhasil mengubah wajah dunia dan penghuninya.

Pasal demi pasal dibaca ulang berturutan. Bab demi Bab terjilid rapi, ditandatangani dan telah diundangkan. Dicatatkan di lembaran berita negara hingga tiap warga negara wajib mengetahui, patuh dan mematuhinya. Demi Keteraturan semua harus diatur teratur – seyogianya begitu itu. Apakah ‘dimensi moral’ tak dianggap pantas untuk dipertimbangkan?

Bentuk lampau dari kebohongan adalah – Anda dapat menebaknya. Manakala kepongahan ‘dimensi politik’ galak mengusung persfektif-nya sendiri maka ‘dimensi moral’ menjadi terabaikan. Segala prilaku didominasi oleh ‘dimensi kekuasaan’. Dan ketika itu terjadi ‘dimensi hukum’ akan diperlakukan bak bagai musuh penghalang. Situasi dan kondisi kian semakin diperkeruh oleh persfektif pemodal yang terbebani motif dan perilakunya.

Kecerdasan versus arogansi emosional. Kecerdasan emosional tak sudi disusupi arogansi karena arogansi emosional bersemayam didiri si empunya kekuasaan.
~Salam Cerdas selalu!!
You're the Best!!

"Don't waste time calculating your chances of success and failure. Just fix your aim and begin.”
~Guan Yin Tzu

Selasa, 24 Januari 2017

Bahkan Kata-kata Mengusung Malapetaka

“Sesuatu yang tidak dapat kita percayai bukan berarti tidak benar – something that we can not trust is not mean untruth”-Unknown

Kita semua tergoda untuk menggunakan kata-kata yang sejatinya tidak terlalu akrab dengan kita – jamaknya seperti itu, dan menyajikannya pada berbagai pertemuan, pada resume serta dokumen lainnya agar orang bisa mengetahuinya. Tidak peduli seberapa berbakat Anda, namun penggunaan kata-kata dapat mengubah cara orang melihat Anda.

Barangkali, Anda tidak berpikir itu adalah masalah - toh itu hanya kata-kata. Tetapi bahasa atau kata-kata bisa berakibat fatal bahkan bisa menghantarkan orang lain membenturkan kepalanya ke dinding terutama mereka yang kerap terbiasa menelan tiap kata yang didengar.

Sejarah menyajikan berbagai petaka kehidupan terjadi oleh karena kata-kata, oleh karena bahasa yang digunakan. Tetapi sejarah enggan untuk mengakui bahwa tingkat kecerdasan emosional orang yang berbeda adalah gambaran dari temuan bahwa kesadaran diri tiap orang adalah yang terendah.

Dalam hal ini semua orang seyogianya dipersalahkan oleh karena kesalahan serupa kerap terjadi. Dari waktu ke waktu, sering orang tersandung oleh karena kata-kata yang digunakan. Kata-kata bahkan dianggap bisa menjadikan seseorang terdengar lebih hebat dari satu lainnya. Lebih pintar bahkan lebih canggih. Hingga kemudian kaget terkejut oleh karena kata-kata yang digunakan menjadi petaka kehancuran dirinya. Kata-kata memiliki kecenderungan untuk membawa kehancuran oleh karena jamak diketahui orang pintar tersandung, terlempar dari arena kehidupan.

Sebagian berpendapat bahwa itu hanyalah faktor kebetulan saja, itu hanya karena nasib buruk semata. Yang lain berpendapat, itu adalah kekeliruan dan itu manusiawi – cukup mohon maaf saja. Sebagian lain ditengarai telah berhasil membangun pemahaman bahwa kata maaf pun harus dimaknai dan disempurnakan penggunaannya. Itu adalah sesuatu gambaran bahwa telah terjadi sesuatu pengakuan ‘bersalah’. Jadi itu bukan nasib buruk, itu bukan lagi faktor kebetulan tetapi, itu adalah ironi.

Ironi diartikan sebagai sesuatu ‘pembalikan’ situasional. Verbalnya sebagai mengusung pembalikan dari apa yang diharapkan. Semisal kalimat: “panjatlah tinggi-tinggi agar kau jatuh”. Ditengarai tujuannya adalah agar tidak perlu memanjat hingga tidak bakal akan jatuh. Ironi situasionalnya adalah ketika hasilnya merupakan kebalikan dari apa yang diharapkan.

Penggunaan kata-kata bisa membawa efek – mempengaruhi, dan yang seperti itu umumnya malah menimbulkan kebingungan tersendiri, terutama karena kata-kata yang digunakan bisa untuk tujuan kata benda atau bahkan kata kerja. Ketika digunakan untuk ‘mempengaruhi’, pencapaian hasilnya adalah untuk pencapaian tujuan – sesuatu. Sebagai kata benda, efek adalah cerminan dari sesuatu. Konon kata-kata yang digunakan untuk tujuan seperti itu kerap dikenal sebagai ‘hoaks’.

Dan kita semua cukup paham arti ‘kebohongan’ yakni sesuatu yang tidak benar. Penggunaan kata-kata untuk mengamankan ‘kebohongan’ disajikan dengan baik dan teratur. Mumpuni dijelaskan bahwa itu lah yang sebenarnya dan itu dijamin ‘kebenaran’-nya. Dijamin akurat. Terdengar lucu menggelikan apalagi jika sesuatu kebenaran benar-benar dijamin kebenarannya secara benar-benar. Benar-benar dah!!

Sejatinya, kata-kata hanyalah sarana. Orang pintar umumnya sepakat untuk menggunakan kata-kata sederhana dalam penjelasannya hingga tiap orang sederhana bahkan tak paham bagaimana cara untuk memahaminya. Manakala kerumitan tiba maka sebagian orang pintar lainnya menghidupi dirinya dengan dalil agar bisa lebih disederhanakan lagi. Membuatnya menjadi lebih sederhana dan kian semakin lebih sederhana lagi hingga bahkan orang yang paling sederhana pun kian sulit untuk sekedar bisa bingung - apalagi paham?. Maka jadilah ‘paham dan memahami’ menjadi sesuatu yang mahal dan kian semakin mahal dari waktu ke waktu.

Ada banyak kerumitan yang terjadi hingga kata-kata yang terdengar benar sesungguhnya adalah salah dan kata-kata yang terdengar salah sejatinya adalah benar. Cilaka!!

Maka itu, jagalah kata-kata Anda agar tidak salah walaupun kebenaran bukan milik Anda - si empunya kata-kata.
~Selamat berkata-kata.
Join mySFIteam
 

Sabtu, 03 Desember 2016

STRATEJIK (7)-; Dicari Partner Bisnis


-->“If you have one true friend, you're wealthy. More than one? You're a billionaire!”.
~Unknown

“Jika kamu punya satu teman baik, kamu akan sejahtera. Jika lebih dari satu? Kamu (bisa) menjadi miilioner?”. Penasehat Bisnis kerap menyarankan klien nya agar mawas memilih partner bisnis, rekanan usaha mencakup vendor, supplier, developer, perencana hingga kontraktor pelaksana, tenaga sales terutama Investor – sang pemodal yang mendanai usaha. Partner bisnis bagaikan rangkaian nadi penghantar jalan darah, teman setia dikala bisnis mengalami kemunduran yang tak bahagia memetik keuntungan dari kesusahan yang timbul.

Sejatinya, partner bisnis sejati hanyalah semangat Anda, lain daripadanya hanya menguatkan atawa bahkan melemahkan saja. Partner bisnis yang paham akan nilai perjuangan Anda akan selalu ada menguatkan, mendorong untuk terus semangat tetapi, jika hanya memetik keuntungan belaka sejatinya hanya akan melemahkan semangat Anda berusaha. Investor pendana berada ditengah - diantara keduanya. Dengan dalih telah menganalisa prospek bisnis Anda, Investor sepakat mendanai operasional bisnis hingga memfasilitasi berbagai kemudahan seyogianyalah untuk demi menguntungkan para pihak.

Dengan caranya Investor berdalih menjadikan Anda sebagai mitra usaha sejati sebaliknya Anda berkilah tak punya alternatif permodalan lainnya – yang penting usaha bisa berjalan. Sesal diakhir tiada ampunan! Pelaku usaha kerap menjadi pihak yang paling dirugikan, tragis bagaikan pejuang tanpa nama ditengah kecamuk perang dengan senjata seadanya.

Pada berbagai peristiwa Investor bahkan berlagak bak orang yang paling tahu seluk beluk bisnis Anda. Dengan alasan demi keamanan investasinya, tiap hal yang dinilai berpotensi (akan) merugikan wajib disingkirkan, tiap hal yang mungkin dimungkinkan (bakal) mengancam kelangsungan investasinya harus dihindarkan. Segudang alasan plus detil penjelasan mencengangkan tersaji mengingatkan rupa macam (potensi) risiko usaha hingga harus dipetakan sedini mungkin. Tiap potensi risiko diperhitungkan (seolah) menambah beban operasional – apapun itu, sehingga Investor akan melakukan penilaian tersendiri terkadang bahkan terlihat berlebihan karena harus mendepak Anda keluar dari bisnis Anda sendiri, digantikan orang lain – seseorang yang dinilai mampu dan lebih berkemampuan. Tragis!

Berbagai istilah bisnis plus rumusan ruwet sedari rasio investasi, rasio hutang piutang hingga rasio risiko, ebitda de-el-el membuat Investor seolah lebih trampil dibandingkan Anda sebagai pebisnis. Demi efisiensi, efektivitas serta ekonomis penugasan tim independen yang profesional dari berbagai bidang keilmuan menjadi tambahan biaya yang diharuskan, dan hasilnya kian menambah alasan dan serta persyaratan yang susah ditolak oleh pebisnis pelaku usaha para pengguna modal.

Tak jarang, pebisnis bahkan diharuskan mengalah dan malah diatur tatacara bagaimana berbisnis dengan benar dan ketika gagal pebisnis akan kehilangan usahanya - bahkan rumah tinggal pun raib binasa. Dan sebagai partner bisnis, Investor ringan berkilah, aman berlindung dibalik definisi bisnis dan menjabarkan apa itu risiko bisnis maka wajib hukumnya bagi pebisnis untuk paham dan mahfum adanya.

Konon, dunia usaha telah berlaku adil memberikan kesempatan berusaha ke tiap pelaku usaha untuk bisa berbisnis dan hanya pebisnis cerdas yang kerap sukses. Dan mereka itulah yang punya partner bisnis bersahaja. Dan itu stratejik usaha juga.
Bagaimana dengan Anda?
~Salam berpartner!

Kamis, 14 Juli 2016

STRATEJIK (6)-; Harus Bagaimana Lagi?

“Pengalaman di hari kemarin menjadikan tiap orang lebih siap dihari ini, dan semakin lebih siap lagi esok harinya”.~Hotman Sihombing

Engga tahu kenapa, tiap kali gagal tiap orang mudah terpancing untuk mengeluh. Andai mertua tak tergoda korupsi tak akan divonnis, disita semua nelangsa jadinya; andai mertua jadi pengusaha tak perlu dia korupsi untuk menjadi kaya. Derita seolah tak komplit tanpa keluh kesah.
Andai tak ikut-ikutan tetangga investasi saham tak bakal ludes merugi - harus bagaimana lagi? Konon katanya, keluh kesah berhasil memicu lahirnya evaluasi, mencari cara bagaimana agar lebih baik.

Abaikan Kekuatiran Anda:
Anda tak perlu percaya bahwa jika hanya mengandalkan penghasilan gaji bulanan semata Anda tak akan bisa kaya. Tetapi Anda boleh percaya bahwa dengan beberapa variasi sumber penghasilan Anda bakal bisa kaya. Dan itu hanya dimungkinkan jika Anda berbisnis.

Jika berhenti bekerja - mau makan apa? Mengeluh lagi! kuatir oleh ketakutan diri sendiri; hendak berbisnis apa lagi? semua sudah ada nyaris tak ada yang tersisa. Lagi-lagi mengeluh! orang kerap lupa bahwa nama nya sendiri pun bisa dibisniskan – jual saja; Jika gagal bagaimana? Cilaka!

Tetapi jangan pula langsung tergoda, lalu berhenti bekerja. Persiapkan dulu rencana bisnis Anda; cuba dulu memanfaatkan waktu luang sehabis bekerja; disiplin, lakukan setiap hari. Fokus menuju tujuan akan mengurangi keluhan.

Abaikan Penghakiman Orang:
Tentangan utama timbul dari kalangan kerabat sendiri. Jangan terbebani, jangan biarkan orang lain menghakimi rencana baik Anda: “jika ingin memanen padi jangan pupuk ilalang”.

Jika ingin berinvestasi di bisnis, cari dulu kemungkinan ada bisnis yang dijual; Lihat-lihat dulu kemungkinan ada pihak yang ingin membeli; Posisikan diri Anda ditengah. Saat keduanya bernegosiasi Anda akan mendapatkan banyak informasi berharga; Investasikan dana Anda mengikutkan mekanisme nya.

Jika hendak berbisnis, Anda tidak harus lulus dari lembaga pendidikan ternama. Kini bahkan Anda bisa memanfaatkan sistim online belajar langsung dari pebisnis yang paham bahwa sukses keberhasilan harus diperjuangkan dan fokus. Itu saja!

Jaga Kesehatan Anda:
Bisnis senantiasa menguras pemikiran, bagaimana kebutuhan operasional, keluarga serta kebutuhan modal kerja, dll. Melelahkan. Istirahat yang cukup untuk menjaga kebugaran phisik.

Untuk beristirahat tidak harus di hotel mewah berada ditengah-tengah keluarga akan lebih menakjubkan. Untuk bugar, tidak harus terdaftar di klub kebugaran ternama, cukup teratur berjalan di lingkungan tinggal Anda.
Kesederhanaan terbukti handal membuat hidup lebih hidup. Dan yang lebih penting lagi, jangan pernah berpikir bahwa masalah tidak akan terhenti jika Anda tidak memikirkannya sepanjang waktu.

Jaga Keunikan Anda:
Kalimat sepele yang kerap disepelekan. Ketahuilah tiap orang memiliki semangat – demikian halnya Anda. Semangat mengusung keunikan sendiri sehingga kadar nya tidak sama pada setiap orang. Pupuk senantiasa kesuburan semangat Anda dengan tetap fokus menggenjot kemampuan Anda berbisnis. Fokus bersemangat – itu lah keunikan Anda.

Jaga Kreatifitas Anda:
Orang yang kreatif akan terlihat lebih kompeten, seakan lebih pintar dari lainnya. Berusahalah menghadirkan sesuatu yang kreatif, mencatatnya baik-baik, itu akan menjadikan Anda kian diperhitungkan.
Dunia berpihak pada orang yang kreatif dipenuhi innovasi tiada henti. Selalulah jujur, tidak terpancing memanipulasi kreasi orang lain seolah kreasi Anda sendiri. Malu! Jaga hubungan baik Anda dengan dunia.
become ECA member!

 
~Salam bagaimana lagi!

Jumat, 08 Juli 2016

STRATEJIK (5)-: Malu Memulai Bisnis - Perlu Stratejik Apa?

"Everyone has inside of him a piece of good news. The good news is that you don't know how great you can be! How much you can love! What you can accomplish! And what your potential is!"
~Anne Frank

Jamak diketahui pebisnis pemula mengawali bisnisnya hanya karena diajak teman, diajak kerabat, hanya berdasarkan cerpen – bakal untung sekian. Hingga tersadar dan mengubah bisnisnya diubah dan berubah lagi bahkan malah lupa pada rencana bisnis semula. Beberapa diantaranya malah terhenti. Lainnya terus giat, tetapi hanya sebatas berencana dan tak kunjung mulai. Didera rasa kuatir, menjadi tidak percaya diri terbelenggu oleh ketakutan sendiri – jika nanti gagal bagaimana? Cilaka! 
Berikut, disajikan beberapa saran sederhana:

CARI TAHU DULU: 
Pemula disarankan untuk mencari tahu dulu infomasi sebanyak mungkin. Jika memungkinkan dapatkan informasi dari orang yang sudah menjalankannya. Untuk tahu: hal apa saja yang perlu diketahui; hal apa saja yang perlu dipersiapkan; apa saja yang harus dilakukan; yang mana yang harus didahulukan; perijinan apa yang diperlukan. Cari tahu itu dulu!

LIHAT-LIHAT DULU:
Jangan bosan bertanya untuk mengumpulkan jawaban. Jika memungkinkan upayakan untuk bisa melihat-lihat dari dekat - aktivitas nya apa saja? Amati caranya – pelaksanaannya bagaimana? Kemungkinan masih ada informasi lain atau mungkin ada jenis bisnis tertentu yang memiliki keterkaitan – apa itu? Lihat-lihat dulu!

PELAJARI DULU:
Pemula kerap tergopoh-gopoh menyelesaikan tiap hal. Jika diberitahu satu hal cenderung ingin tahu banyak hal. Jika diminta fokus di tiap hal, cenderung menantang ingin bisa segala hal. Mendebat tiap hal, tak sabar seolah lupa perlu waktu untuk tahu apa itu - tiap hal. Maka itu, pelajari dulu!

BERTAHAP DULU:
Pemula kerap digayuti sejuta bayang impian keuntungan yang terkadang mencengangkan, lupa akan tiap situasi yang bisa merugi. Terbuai lamunan untung dan bakal beruntung. Beruntung lagi, dan lagi-lagi beruntung.
Ingin lekas-lekas membeli MONAS. Akan dia taruh buaya berjaga siang malam hingga mertua tetangga tak lagi bebas duduk ngopi di sana. Pemula kerap lupa bahwa tiap sesuatu itu memerlukan tahapannya sendiri-sendiri. Yang sabar, bertahap dulu!

KECIL-KECILAN DULU:
Menjaring informasi akan lebih efektif jika dilakukan sembari berbisnis, barangkali skala kecil bisa membuat leluasa bergaul dengan pebisnis lainnya. Berbisnis kecil-kecilan akan memicu mental kewirausahaan, jika disiplin akan dapat membuka kesempatan besar – mungkin malah lebih menguntungkan. Malu? Bisnis Online dulu!

BISNIS ONLINE DULU:
Pemula tak perlu mengubah-ubah rencana jika tidak pernah memulainya, apalagi jika alasannya hanya karena – akan malu, jikalau gagal! Kini ini, tak lagi perlu malu. Teknologi telah berhasil membuat tiap orang terlihat lebih pintar. Fitur-fitur gadget, tablet, laptop, dll., bahkan berhasil membuat bisnis kian mudah dan murah.

Jika dulu tenaga penjual dianggap memerlukan pelatihan khusus, kini cukup dengan pengetahuan: “bisa email”, langsung bisa “promosi” di sosmed. Langsung berjualan - sembari melamun, engga ada yang tahu!

Laju teknologi kian memudahkan bisnis, seolah mentertawakan pengetahuan yang dipersyaratkan professor angkatan terdahulu. Berlalu sudah era buku tebal-tebal. Sudah tak jaman menghapal macam rupa istilah marketing. Cukup dengan: “Klik dan Klik saja”. Itu saja. Dan itu stratejik juga.
~Salam klik-klik!
Join MySFITeam