Jumat, 10 April 2020

VIRUS COVID-19, KONSPIRASI SENGKETA HAK VAKSINASI-KAH?

“You will get through this. You will be fine. Trust the universe’s plan. Hold space for possibilities you can’t yet imagine. Move forward as someone who handles things with good character and a loving heart. You’ll create a better life for yourself. Just wait. You’ll see.”~Karen Salmansohn

Virus corona covid-19 berhasil mengubah tatanan kehidupan. Pemerintah se-dunia memaksa warganya untuk berdiam di rumah. Tidak jelas sampai kapan, mungkin sampai ancaman mereda. Orang-orang panik menghadapi bayangan situasi tak menentu. Takut terpapar virus si corona, tetapi takut mati kelaparan membuat batin tersiksa.

Setiap orang berpesan ke orang satu lainnya agar mengisolasi diri. Di rumah saja, manfaatkan waktu merenung betapa berharganya hidup ini, saatnya bersama keluarga, karena kematian bisa tiba-tiba tiba merenggut siapa saja.

Tiap orang menyarankan agar menghindari hal-hal yang menambah beban pikiran, hindari kerumunan, jangan bersalaman. Isolasi diri demi orang-orang. Entah bagaimana, setiap orang dianggap tengah panik karena dianggap kurang perhatian. Gunakan waktu untuk saling berbagi.

Tak disadari jika akumulasi energi emosional yang mendasari malah membuat kian stress tertekan. Tersiksa, demi virus si corona, orang-orang mengisolasi diri, bekerja di rumah, anak-anak pun belajar di rumah.

Kami siap menerjang maut, begitu itu ikrar para punggawa medis, perawat, dokter, petugas ambulans, petugas jenazah, penggali makam, berjaga di garda terdepan dengan peralatan seadanya. Anda harus di rumah atau segalanya akan berubah menjadi lebih buruk. Mencekam.

Entah bagaimana, semua pihak terus-menerus menyuarakan menjadikannya terdengar mengerikan. Luar biasa virus Wuhan dari China bergelar SARS Corona covid-19. Belum ada obatnya bahkan vaksin pun tidak ada. Cuci tangan, diam di rumah, itu saja!

Walau upaya menghindari resiko sudah jamak terdengar, tetapi menyusun perencanaan dianggap bisa mengantisipasinya. Entah bagaimana, penguasa terus-menerus mengingatkan agar menghindari kerumunan, pakai masker, cuci tangan, jangan salaman.

Walau belum jelas apa itu corona covid-19, namun televisi menyiarkan jika masyarakat yang panik telah memborong stok makanan dari toko swalayan.

“It’s okay to be scared. It means you’re about to stretch yourself out of your comfort zone and grow a little.”~Karen Salmansohn

Entah bagaimana, semuanya dianggap tidak paham jika usaha mendapatkan kenyamanan hidup serta usaha menghindari kegagalan tercipta dari bayang-bayang di benak pikiran. Kita bahkan paham jika kenyamanan cenderung membuat malas tetapi kegagalan akan membuat lebih kuat. Orang-orang pastinya tak perlu diberitahu akan hal ini.

Entah bagaimana, penguasa se-dunia terus-menerus berusaha mencipta cara agar orang-orang takluk dan patuh diatur menghadapi sesuatu yang sejatinya tidak benar-benar dipahami. Diduga penguasa pun tidak paham tengah menghadapi apa. Mari berdoa moga-moga sehat selalu, Amin!

Kian aneh, orang-orang di sekitar dianggap layak dijaga kesehatannya hingga Anda wajib menjaga jarak agar tidak terpapar virus. Kepatuhan Anda menjadi bukti pertanda bahwa Anda benar-benar sehat, karena hanya orang sehat yang mentaati peraturan. Jangan kemana-mana.

Jika keluar rumah tanpa masker akan langsung ditegur, diminta masuk. Bahkan diharamkan naik kendaraan umum, Anda dianggap potensil sebagai kurir penebar virus. Jika hendak memasuki gedung-gedung diharuskan mencuci tangan. Konon, virus itu bersarang di jejari tangan Anda namun hancur jika dibilas sabun. Jangan kucek-kucek mata, jangan menggaruk wajah.

Entah bagaimana, virus si corona itu konon tengah bersiaga menyerang sistem pernafasan Anda, karenanya mulut serta kedua lubang hidung Anda wajib diganjal masker penutup, walau itu hanya berupa kain tipis.

Entah bagaimana, tanpa alternatif Anda wajib mematuhi ketentuan pemerintah yang sejatinya tidak paham benar tengah menghadapi apa? Pendapat penguasa yang satu saling bertubrukan dengan yang lainnya. Aturannya jelas, patuhi saja daripada dianggap membahayakan nyawa orang-orang. Dikenai denda, atau hendak di-hukum-kah? Sadis.

Entah bagaimana, penguasa terus-menerus menyuarakan bahwa Anda berada ditangan orang-orang yang paham mengatur bagaimana cara menghadapi sesuatu yang tidak benar-benar dipahaminya. Aneh.

Sudahlah, penguasa tahu apa yang harus dilakukan!

Entah bagaimana, orang-orang terus-menerus diarahkan menjalani tatanan kehidupan baru. Orang muda kuat phisiknya, tetapi yang berusia lima puluh-an rentan terpapar virus si corona. Jauhi saja, tak usah peluk cium, jangan salam, jika pun ulang tahun lakukan dari kejauhan saja. Atur jarak, ingatkan kerabat agar jangan berkerumun. Aneh.

Entah bagaimana, penguasa terus-menerus berusaha menggiring orang-orang ke tengah persimpangan peradaban yang menantang setiap individu untuk secara kolektif mengatur sendiri-sendiri peradabannya sendiri. Aneh.

Entah bagaimana, semuanya serba membingungkan, menyulitkan karena diminta fokus berpikir positif. Bilamana diantara keluarga ada yang sakit, tidak usah dibesuk, bahkan yang meninggal pun cukup didoakan dari kejauhan saja, langsung dimakamkan sesuai “protap” virus corona. Walau dipersekusi, namun tindakan merebut jenazahnya dianggap mengancam nyawa orang-orang. Semua telah diatur, Anda hanya diminta mematuhi saja.

Entah bagaimana, penguasa terus-menerus mengajak memerangi virus yang tak jelas tengah berada dimana, tetapi dipastikan tengah berada ditengah-tengah orang-orang. Tengah siap siaga menyerang sistem pernafasan Anda, karenanya cuci tangan. Pakai masker, hindarkan kerumunan. Itu saja.

Ahli virus dan vaksin tak bisa menjamin kesembuhan yang terpapar, konon segalanya tergantung pada stamina tubuh. Diklasifikasikan kedalam dua kategori, yakni berstatus ODP atau PDP. Yang gagal nafas akan diberlakukan “protap pemakaman korban virus corona”, langsung diplastiki, dimasukkan ke peti, dimakamkan di kedalaman sekian meter. Jangan mendekat. Doakan dari kejauhan saja.

Entah bagaimana, dikata tidak ada obatnya, vaksin pun belum ditemukan. Alat peralatan testing untuk memastikan apakah terpapar juga dipersoalkan. Namun, orang-orang terus saja diperiksa memakai alat peralatan test virus versi tertentu dan dianggap memadai untuk membedakan apakah berstatus ODP atau PDP. Aneh.

Walau para ahli pakar virus itu belajar dari buku yang sama, tetapi lembaga yang menaungi profesinya beda-beda, tak heran jika berpendapat beda. Yang suka mempolitisasi terus berusaha memanfaatkan situasi demi kepentingan diri dan kelompoknya.

Advokasi layanan kesehatan dipenuhi dengan membuka line telepon nomor darurat, dijaga tenaga medis non stop 24jam. Yang mengeluhkan layanannya dipersilahkan menyampaikan secara tertulis lengkapi dengan KTP. Yang direspon juga mengeluh dijejali istilah, akhirnya diminta memeriksakan diri. Jika bersedia menanggung biayanya diminta menandatangani formulir, antri karena alat-peralatan dan petugas terbatas. Entah bagaimana, walau telah diperiksa tidak ada jaminan bahwa Anda terbebas dari kewajiban tutup mulut. Pakai masker! Aneh.

Entah bagaimana, tersebar rumor bahwa semuanya ini imbas sengketa para pihak yang terlibat konspirasi. Konon, terjadi pertarungan antara pihak yang menuntut hak kesehatan dan menggugat penelitian tentang keselamatan dan efektifitas vaksinasi yang dianggap penggunaannya terasa dipaksakan. Santer informasi bahwa orang-orang se-dunia akan dihimbau agar divaksinasi jenis tertentu.

Entah bagaimana, "utak-atik teori konspirasi" membuat santer informasi tentang agenda global akan ada keharusan menjalani vaksinasi tertentu agar selamat dari ancaman virus dimasa mendatang.

Entah bagaimana, ancaman virus yang masif melanda menggiring orang-orang membahas pengumunan Bill Gates tentang pandemic dunia. Dicuba-kaitkan dengan invetasinya bernilai miliaran dollar dibidang industri vaksin. Terkesan agar orang-orang bersiap untuk disertifikasi secara digital, bahwa dirinya telah divaksinasi, bukti pertanda telah “kebal”. Yang menolak, tidak terdigitalisasi akan dihambat bepergian lintas negara. Mungkinkah?

Entah bagaimana, kini orang-orang malah menyerang kebijakan pemerintah, malah lebih mendengarkan saran masukan dari LSM bergelar WHO. Aneh.

Entah bagaimana, semua aktivitas serempak terhalang oleh virus si corona bergelar SARS COVID-19. Orang-orang berdiam diri di rumah, aktivitas bisnis, pabrikasi, perdagangan, perbankan dan keuangan nyaris tersendat. Dunia kini berada di persimpangan perubahan peradaban, segalanya dilakukan di rumah dan harus mencuci tangan.

Entah bagaimana, Amerika serikat malah mengancam mengurangi anggaran bantuannya kepada WHO jika dalam banyak hal masih memihak kepada China.

Entah bagaimana, warga Ameriksa Serikat tercatat paling menderita terpapar covid-19 virus si corona. Ribuan mati terpapar. Oleh sebagian, diyakini tidak benar-benar diidentifikasi, tidak diuji secara akurat apakah benar kematiannya dikarenakan virus. Penguasa dihujat. Semuanya terfokus pada pemakaian kata "dicurigai mati terpapar virus”, dikuburkan dengan protap, tercantum di Akte kematiannya.

Misteri menyelubungi. Fantastis.

Entah bagaimana, orang-orang sebagian menyesalkan tindakan menjadikan jumlah kematian bagaikan indeks-indeks statistik.

Entah bagaimana nyaris semua lembaga-lembaga keuangan global dunia fokus membahas kesiapan pendanaan menangani ekses yang ditimbulkan. Layaknya semua berusaha memanfaatkan kisah misteri virus si corona covid-19.

Entah bagaimana, tidak terdengar ada yang diijinkan memeriksa detil peristiwa yang sebenarnya. Seolah semua sepakat menutupi kerumitan sumber masalah yang dipermasalahkan. Walau jika pun ada kebohongan yang dicipta menutupi kebohongan lainnya, sepertinya orang-orang tak lagi sudi mempersoalkan. Semuanya memilih berdiam diri di rumah, melakukan segalanya dari rumah.

Entah bagaimana, kebebasan global yang sebelumnya diagungkan sebagai borderless-world seolah ternoda. Anda tak lagi bebas bepergian ke negara mana saja. Gerbang-gerbang internasional menutup diri dengan aturannya sendiri. Beberapa dideportasi setelah jidatnya ditempeli alat plastik. Saldo isi kepala Anda =0! Anda ditolak, tidak diperkenankan masuk berkunjung ke negara ini. Anda akan dikembalikan ke bandara asal, prosesnya akan ditangani penguasa. Anda diminta menunggu tanpa diberi hak bertanya.

Entah bagaimana, penguasa dunia seolah puas bisa melumpuhkan kebebasan orang-orang dan semuanya bersikukuh beralasan jika kebijakan yang ditempuh didasarkan pada UU keamanan negara untuk menjaga keselamatan bangsanya.

Negara yang terlambat menerapkan sebisanya planga-plongo berkelit, tampak lucu, mencari alasan dengan mendongeng seperlunya.

Entah bagaimana, penguasa dunia seolah terkotak-kotak berpendapat. Taiwan yang non-WHO malah dipuji. Pemerintahnya proaktif menjaga kesehatan warganya, berhasil tanpa campur tangan WHO. Konon Taiwan malah dijadikan teladan walau tidak diakui sebagai negara merdeka. Aneh.

Entah bagaimana, Korea Utara yang dianggap mengkerangkeng hak kebebasan warganya gagah mengumumkan bahwa virus si corona covid-19 itu tidak terlalu mempengaruhi. Jumlah korban terpapar dianggap rendah, korban mati malah dianggap tidak seberapa. Aneh.

Entah bagaimana, orang-orang mulai percaya virus ini benar-benar pandemic dunia apalagi nyaris melumpuhkan aktivitas kehidupan se-dunia. Orang-orang menyimpan diam-diam kata tanya di dalam kepalanya:
^Mungkinkah ini bukan benar-benar pandemic?
^Apakah mungkin ini “pandemic-terencana”?
^Tetapi oleh siapa-kah?, dan untuk tujuan apakah?
^Jika denyut kehidupan dunia nyaris terhenti, apa keuntungannya?
^Jika karena punya vaksinnya, dunia sepakat menyatakan belum ada.
^Jika karena punya obatnya, dunia berkata tidak ada obatnya.

Mungkin sudah waktunya untuk Anda menyatakan hal yang sebenarnya, jujur sajalah!, sampaikan apa adanya. Jelaskan jika pun itu direncanakan.

Entah bagaimana, orang-orang tak lagi perduli dengan rencana Anda. Bahkan tak lagi mempersoalkan tujuan Anda. Apapun alasan Anda, orang-orang tak lagi berminat mendengarnya. Walau jika pernyataan Anda didasarkan pada bukti-bukti dokumen yang sah, orang-orang lebih memilih menyelamatkan diri. Jika Anda menjadi kecewa dan mengambil keputusan untuk gantung diri, orang-orang tak lagi meributkannya. Anda tak lagi dipersoalkan.

Sejarah akan melupakan. Anda hanya akan dianggap sebagai bagian dari kelompok pendongeng luar biasa, yang entah bagaimana bisa melumpuhkan aktivitas dunia, entah untuk apa.

Entah bagaimana, orang-orang sukarela menerima status sebagai tahanan global, bahkan inisiatif sendiri mengisolasi diri demi orang-orang disekitarnya.

Entah bagaimana, kerugian yang diderita tak lagi dipersoalkan, bahkan tak lagi percaya terhadap angka-angka statistik jumlah korban terpapar, yang mati dan yang sembuh. Orang-orang tak lagi merasa kehilangan apa-apa, masing-masing sibuk berjuang bertahan hidup.

Entah bagaimana, orang-orang tidak lagi perduli terhadap kebenaran sejati tentang peristiwa yang melanda dunia. Kini setiap orang berusaha bertahan dengan caranya, sebisanya menangani sendiri banyak hal sembari menghindari banyak hal lainnya.

Entah bagaimana, orang-orang bahkan tak lagi peduli jika para penipu terus berusaha memaksimal keuntungan dari peristiwa yang terjadi.

Entah bagaimana, orang-orang tak lagi mempersoalkan apakah ini senjata biologis? Apakah ini virus sungguhan yang secara alamiah terbang lepas kemana-mana. Apakah tersebar karena kecelakaan laboratorium? Apakah dikarenaka uji coba yang gagal? Atau mungkin tadinya dimaksudkan untuk tujuan lokal regional saja, tetapi menyebar tak terkendali meracuni seisi dunia. Jika pun benar begitu itu, itu pun tak lagi ada yang peduli.

Entah bagaimana, orang-orang tak lagi peduli jika penguasa malah mempolitisasi upaya penanganan yang dilakukan. Mendongeng lagi bahwa ini adalah prestasi dimasa rejim kepemimpinannya. Orang tak lagi perduli penanganan yang amburadul karena kebobrokan birokrasi. Persekusi terhadap korban tak lagi dipersoalkan walau itu jelas pelanggaran HAM. Orang-orang bahkan tak perduli ada lembaga berulah membuat aturan sendiri menentang ketentuan undang-undang. Walau gagal paham tetapi memaksa ditaati.

Entah bagaimana, orang-orang jijik mendengar siaran pers yang tak juga bosan mempertontonkan data yang berbeda-beda. Orang-orang kini fokus menghadapi kenyataan pahit bertahan hidup ditengah-tengah ketidakpastian.

Akankah kepastian yang didamba tiba tepat waktu? Semuanya berharap, setidaknya akan tiba sebelum tiba waktunya kalah bergumul melawan ajal yang tiba-tiba tiba menghampiri.

Mari berdoa bersama menurut keyakinan masing-masing, Amin.
 “You will get through this. You will be fine. Trust the universe’s plan. Hold space for possibilities you can’t yet imagine. Move forward as someone who handles things with good character and a loving heart. You’ll create a better life for yourself. Just wait. You’ll see.”~Karen Salmansohn
~Salam sehat selalu.
join_my_team