“In prosperity our friends know us; In adversity we know our friends”~John Churton Collins
Setiap kita menginginkan hidup sehat dan sejahtera, tetapi jika kita menyadari bahwa kita tengah berjuang mendapatkan keduanya atau bahkan salah satunya, saatnya untuk kita meninjau ulang pemahaman kita atasnya.
Konon katanya, didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, dan oleh waktu telah terbukti kebenarannya. Manakala kita merasa fit serasa siap melakukan apa saja, dan kala itu terjadi segala hal baik akan datang menghampiri.
Kita sadar tidak pernah mendapatkan latihan phisik yang cukup, masuk akal jika banyak yang berusaha berolahraga untuk mendapatkan kebugaran disela-sela rutinitasnya. Tak perlu malu untuk mengakui bahwa kesegaran jasmani adalah sumber kesehatan dan itu adalah asupan giji sehat untuk otak kita. Tanpa kesehatan segala pencapaian menjadi tak begitu berarti, kekayaan maupun kebahagiaan terganggu jika tubuh tidak sehat pikiran pun terganggu.
Orang moderen bahkan membayar mahal untuk bisa ikut menggunakan fasilitas pelatihan atau untuk pendampingan pelatih tertentu. Tak ayal kini kesehatan menjadi sesuatu yang mahal, komoditas dengan pangsa pasar tersendiri.
Orang takut sakit, takut biaya rumah sakit yang tak kenal batas maksimal, hingga orang dipaksa rela membayar asuransi kesehatan. Orang dirawat di Rumah sakit kini tak lagi karena benar-benar sakit, terkadang hanya rehat atau uji coba klaim asuransi kesehatannya.
Orang takut akan banyak hal. Takut mati. Takut kemalingan, takut tergores, takut hartanya hilang kecurian, takut ketubruk, takut kebakaran, takut sesuatu terjadi dalam perjalanan, bahkan takut kukunya terkelupas. Takut terjadi, takut mengalami menjadi momok hingga orang-orang berusaha meminimalkan risiko kerugiannya. Penyedia jasa perlindungan kian berkembang hingga tak lagi jelas mana ekses, mana sebab dan yang mana akibat. Apalagi tiap hal kini bisa diasuransikan, bahkan rasa takut akan takut pun bisa, dengan bungkus asuransi tambahan - additional excess.
Ekses perlu ditakutkan. Karena hidup adalah Takut maka takut bakal tak lagi hidup pun kerap dihitung berdasarkan taksasi matematis. Jika sampai dengan batas akhir taksiran yang bersangkutan tak juga Mati, maka jumlah premi yang dibayar dikembalikan - layaknya bonus. Karena Tak mati-mati, dibayar! Jika selang beberapa saat kemudian mati, maka pewaris mendapat uang sebesar jumlah yang pernah dipertanggungkan - walau tak lagi membayar premi.
Bisnis yang aneh!
Takut adalah dagangan yang menggelikan!
Petuah berkata bahwa:“Pelajari masa lalu jika akan menentukan masa depan!”.
Konon katanya, sejak dahulu kala rasa takut jamak dijadikan komoditi transaksi, semisal: dalam situasi tertentu rombongan pedagang takut dirampok, atau penghuni sekampung takut panennya dijarah, atau pengiriman logistik ke wilayah tertentu takut dirampas. Ditawarkan sejumlah uang sebagai balas jasa jika melakukan pengawalan.
Tetapi hal yang ditakutkan kerap terjadi, dan itu dianggap lumrah terjadi, namun tak lajim jika membebankan seluruh kerugian kepada si pengawal. Si pengawal hanya Rugi sebesar jumlah balas jasanya saja, ditangguhkan atau tidak dibayarkan. Sedari dulu pun telah berkembang pemikiran bahwa, adalah: “Haram membebankan kerugian melebihi batas kemampuan orang yang menanggungkannya”.
”Study the past if you would define the future”~Confucius
Menjadi terlihat Ganjil jika bisnis “Takut” di dua jaman itu diperbandingkan!
Disarankan, jika kita menjadi “seseorang yang sehat, sejahtera serta bijaksana tak bakal ada yang akan mengabaikan”. Ini adalah pembelajaran masa lalu juga, karena lajim tiap orang diajarkan agar berlaku demikian, hingga menjadi tauladan, pasca kematiannya pun dikenang menjadi orang berkebajikan. Ditiap jaman lajim dicatatkan berbagai kebijaksanaan serta orang-orang bijaksananya namun hakiki kebenaran “Confucius” tak pernah surut dijaman yang berbeda.
“Karena hidup adalah takut maka berlaku begitu terutama agar bisa selalu waspada apalagi hanya mereka yang paham makna kata bijaksana”.~Hotman Sihombing
~Salam Bijaksana selalu!
