“Success on any major scale requires you to accept responsibility...In the final analysis, the one quality that all successful people have...is the ability to take on responsibility."
~Michael Korda
Kata ‘Selfish’ sering diartikan sebagai sikap egois, perilaku yang oleh orang lain dinilai menyimpang karena lebih mementingkan diri sendiri. Kata egois dikenakan untuk menggambarkan tabiat seseorang yang tidak perduli akan keberadaan sekitar apalagi kepentingan orang-orang di lingkungannya.
Sungguh tak sehat dia!
Diperistiwa lain, seseorang dikenai tuduhan telah berperilaku ‘selfish’ karena terdorong oleh perasaan tidak suka. Penilaian yang cenderung subyektif. Pada peristiwa lainnya, perilaku ‘selfish’ terlihat bagaikan upaya berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya tetapi berusaha melindungi dirinya. Perilaku yang dia pikir diperlukan untuk menekan hunjaman beban rasa khawatir akan imbas suatu kenyataan dan takut akan dihakimi oleh keadaan.
Semakin tak sehat kah?
Namun ada juga perilaku ‘selfish’ untuk menyenangkan diri si orang itu sendiri, terdorong oleh rasa bahagia bahwa dia sukses menuntaskan sesuatu tugas. Dan dia memaksakan keberhasilannya agar diterima khalayak bahwa itu adalah prestasinya, bahwa dia lah orangnya. Bahwa itu harus diketahui orang-orang. Dia bahkan berkata tidak penting menjadi juara, julukan itu dia abaikan karena juara bisa siapa saja, tetapi ini adalah tentang dia, tentang kemampuannya. Menjadi dirinya lebih penting dari apapun!
Sakit kah?
Sekilas perilaku ‘selfish’ terlihat bagaikan penyakit. Jadi jika Anda berpikir orang itu sakit atau mengidap gangguan kejiwaan yang memerlukan penanganan psikiater, tak berarti Anda menjadi tak sehat. Mungkin Anda benar!
Tetapi ada juga yang bilang perilaku ‘selfish’ itu adalah dorongan untuk membahagiakan orang lain. Menyenangkan keluarga, teman-rekan bahkan demi menyenangkan hati orang banyak. Atau untuk memuaskan pelanggan, untuk menyenangkan hati pemodal pendana atau demi bos penguasa. Walau terdengar berlebihan tetapi sulit membantah jika ada orang yang mengabaikan dirinya demi mencapai sesuatu. Dunia penjilat punya motto bahwa ia terlahir untuk membahagiakan orang lain walau jika harus mengabaikan kebahagiaan dirinya.
"Have you ever thought there'd be a day when people think a different way? And on that day, what would you say, if you still thought the other way?"
~Paul McMillan
Pada skala tak terukur, perilaku ‘selfish’ diduga karena keberhasilan mendengarkan apa yang orang lain katakan untuk dilakukan dengan hidupnya. Sesuatu indoktrinasi menanamkan gagasan pemikiran yang harus dilaksanakan tanpa pengecualian, walau jika itu harus mengorbankan hidup orang lain.
Menjadi tidak terukur ketika gagasan itu dipraktikkan untuk menyakiti orang-orang yang mengasihinya, dia menjadi goyah. Terguncang akan konsekuensi bahwa kebahagian orang lain itu adalah untuk membahagiakan dirinya dan dia gagal membahagiakannya. Penjilat lebih tersiksa jika dia gagal membahagiakan Bos-nya.
Ada juga yang meyakini bahwa perilaku ‘selfish’ lebih dikarenakan karena seseorang itu masih hidup dimasa lalu, dikekang penyesalan gelisah dihantui konsekuensi masa lalu. Menolak belajar dari kesalahan masa lalu dengan membantah keberadaan masa depan. Baginya, masa depan tak beda dengan himpitan beban imbas peristiwa masa lalu. Derita batin yang tak terhingga hingga takut tak akan pernah menemukan lagi hidupnya yang dulu. Memilih tak melepaskan kenangan masa lalu walau ia sadar itu tak akan pernah kembali karena telah disita oleh waktu. Dikerangkeng masa lalu.
Ada lagi yang berpendapat bahwa perilaku ‘selfish’ terjadi karena terdorong oleh pengakuan bahwa itu bukan pikirannya bahkan bukan perasaannya. Menolak memiliki pikiran bahkan membantah punya perasaan hingga menolak dimintai tanggungjawab. Parah!
Dan kian parah kala yang berperilaku ‘selfish’ mengaku bahwa sejatinya dia sadar akan hal itu, tetapi dia begitu karena dia telah tidak adil terhadap dirinya karena telah mensia-siakan hidupnya, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang tak berguna. Menurutnya sudah tak lagi punya waktu untuk bisa lebih baik selain dari berperilaku ‘selfish’.
Agak ganjil tetapi genap!
Dan kian semakin seru untuk terus belajar lebih banyak lagi!
~Salam belajar selalu!
