“Hanya orang-orang yang memberi kesempatan kebahagiaan hadir ditengah-tengah kehidupannya yang akan bisa mengecap apa arti kata bahagia”~Hotman Sihombing
Para Tetua kerap berpesan: “Hidup adalah perjuangan. Baik atau buruk itulah pilihan”! Bahagia bukan berarti tak bermasalah tetapi kemampuan mengatasinya timbul dari kejujuran yang terpelihara. Hadapilah dengan apa yang dimiliki, bukan karena apa yang akan dimiliki atau oleh karena apa yang pernah dimiliki.
Mungkin kita pernah mendengar seorang teman bergumam,: “hingga kini saya terus mencari cara terbaik agar berhenti menyalahkan diri sendiri. Saya tak akan henti berusaha mengubah pola pikir serta mentalitas diri, dan akan terus begitu. Mungkin tak akan saya pernah tahu bahwa saya telah berhasil mengubahnya tetapi saya yakin itu harus dilakukan, dan tak akan berhenti belajar tentangnya. Akankah saya berhasil?”
Dilain waktu teman itu kembali bergumam,: “Saya tengah berusaha mengubah kisah hidup saya. Mengubah segalanya! Saya tak akan berhenti menyatakan ke diri sendiri tentang hal yang saya kehendaki yang ingin saya lakukan. Saya terus bergerak menemukan jalan terbaik menuju hidup yang lebih baik dengan cara yang lebih baik. Akan berhasilkah?”
Sekali waktu kita mendengar dia bertanya kepada seseorang: “jadi bagaimana dia melakukannya? bagaimana dia bisa bangkit mengatasi rintangan?”
Dan selanjutnya dia bergumam,: “Salut, dia berhasil menggeser pola pikirnya”. Itu membuatnya menjadi lebih bertanggungjawab akan hidupnya. Tak lagi menyalahkan dirinya, dan itu yang mengubahnya menjadi tauladan bagi sesama satu lainnya. Siapkah saya?”
Meskipun tak ada cara seragam untuk semua tetapi kita tahu ada yang bisa digunakan untuk mengubah pola pikir kita. Apalagi tiap kita, masing-masing punya kisah dan pengalaman sendiri. Mungkin perlu masukan, mungkin bisa digunakan sebagai panduan awal pemberangkatan. Itu pun, hanya jika Anda setuju. Sebagai berikut:
Ini Yang Sebenarnya:
Mungkin ini terdengar lucu kala kita mengungkapkan diri kita ke diri sendiri. Tetapi itu syarat awal karena tak mudah mengajak diri sendiri memasuki Alam Sadar dan menjadikan diri kita sadar sesadar-sadarnya. Sulit, dan itulah kita. Itulah diri yang kita bangga-banggakan itu. Itulah diri yang tiap saat kita sombongkan itu. Itulah diri yang terkadang menyenangkan bahkan sering menyakiti hati orang satu lainnya. Demikianlah kelakuan kita.
Sanggup-kan?
Ini Narasi Hidup Saya:
Bagaikan narasi skenario filem, mari susun ulang ceritera perjalanan hidup kita, episode demi episode. Membacanya berulang-ulang, mengeditnya mengikutkan perubahan yang diinginkan. Melelahkan, tetapi itulah hidup yang telah kita lalui dan itu yang akan kita ubah menjadi tatanan terbaru untuk dicapai di sisa perjalanan hidup kita episode berikutnya. Naskah itu kita buat secara sadar. Itulah fakta realitas, yang akan memaksa kita untuk lebih menghormati hidup.
Dapatkan masukan dari orang yang benar-benar menyayangi. Hal apa yang membuat disenangi? Itulah realitas. Minta dijelaskan kenapa begitu? Narasi itu akan membuat kita semakin tahu dalam peristiwa apa kita hingga kerap memusuhi diri sendiri dan tidak menghargai hidup kita sendiri.
Jabarkan lagi, lengkapi dengan informasi lain sertakan janji perubahan yang diperlukan. Bisa-kan?
Menjadi Lebih Baik:
Berlatihlah menjalani hidup sesuai itu mengisinya dengan kegiatan bernilai serta perilaku dan kelakuan yang dikehendaki. Teruslah berlatih jika pun masih berbuat salah. Maafkanlah diri sendiri!
Katakan tidak untuk tiap hal negatif, yang kurang produktif. Hargai hidup sendiri. Walau lingkungan sekitar akan terus menghunjam teruslah belajar memahami naskah hidup yang baru. Jangan lagi gagal dan gagal lagi.
Komentar miring sanak keluarga, sahabat bahkan cuitan medsos akan meracuni berusaha menjauhkan kita dari hidup yang dikehendaki. Tetapi kita cukup tangguh jika kita paham akan pentingnya merubah diri. Kita perlu menghargai diri sendiri, tidak malah memusuhinya dengan acuh tak acuh terhadapnya oleh karena kerap terjebak dalam kesalahan yang sama.
Perlu tangguh berkelit dari gurita yang membelokkan kita menjauh dari arah yang hendak dituju. Berani menyatakan bahwa kita tidak seburuk info yang berseliweran di medsos, tidak seburuk yang diberitakan. Jangan mengurusi hal-hal yang tak bisa diubah apalagi jika itu tentang perilaku penghuni dunia. Takkan kita mampu, bahkan Tuhan pun telah berusaha!
Tak perlu menilai sesama, Narasi terbaru itu yang akan memaksa kita belajar agar tidak menafsirkan perilaku orang lain tentang kita, bahkan jika itu tentang komentar miring seseorang mengenai orang satu lainnya.
Sejatinya, hidup itu adalah berteman dan kita terlahir untuk itu, karenanya kita tak perlu memusuhi diri sendiri.
Saatnya belajar menjalani hidup mengikutkan keinginan hati karena tak satu pun kita yang berkehendak dihati akan merusak hidup kehidupan sendiri.
~salam hidup baru!
"The only difference between success and failure is the ability to take action."
-Alexander Graham Bell
"The only difference between success and failure is the ability to take action."
-Alexander Graham Bell
