Rabu, 12 Juli 2017

BUTUH TIGA PINTU SUKSES

“Perseverance is the hard work you do after you get tired of doing the hard work you already did.”
~Newt Gingrich

Sedari lahir tiap kita dilatih untuk inti permasalahan pokok yakni: Ada pekerjaan – sesuatu yang harus dikerjakan; Ada yang dicinta – seseorang untuk  dicintai; Ada yang dipercaya – yang kita percayai; Ada pengharapan – bahwa semuanya akan lebih baik.

Dan Anda boleh membantahnya - betulkah begitu? Setelahnya, yakinilah! Agar Anda layak untuk disertifikasi “sehat walafiat!”.

Beranjak besar, kita dipaksa untuk patuh, mematuhi aturan ketentuan undang-undang negara, aturan lingkungan, ketentuan keluarga dan paham meng-atur diri sendiri. Kita bahkan dilarang mencelakai diri karena diri kita dianggap mengusung rupa-rupa kepentingan. Jika sembrono, eksesnya akan menyeret kepentingan lainnya.

Untuk sukses kita diyakinkan untuk paham makna tiga pintu keberhasilan,

Yakni:

Pintu PERTAMA: Lakukan dengan benar!
Jika  serampangan tidak benar, kita akan disertifikasi sebagai “Pelaku”. Diberi pembatasan. Jika salah dan salah melulu, akan diwisuda dengan gelar “Narpid”. Diberi tempat terbatas untuk menebus kesalahan.

Dan kita diwarisi gagasan pemikiran bahwa kita telah diperlakukan tidak adil – itu betul! Tetapi, andai kita menerima makna “keadilan” maka akan ketemu bahwa keadilan tiap orang telah dikorting untuk dibagi merata ke orang satu lainnya. Orang sedunia, se-negara, selingkungan sekeluarga dan untuk diri kita sebagai bagian darinya.

Maka berdamailah dengan ketentuan perilaku dunia karena mustahil bisa hidup di dunia sendiri.

Pintu KEDUA: Lakukan semampunya!
Lakukan dengan baik, tepat waktu sesuai batasan yang diperbolehkan, terutama karena tiap orang diyakini bisa melakukan tiap hal. Harus berterima jika Anda dinilai dan diawasi sepanjang waktu – selama hayat dikandung badan.

Jika Anda bagian dari tim, lakukanlah sesuai porsi Anda, jangan rusak porsi orang lain. Jika tidak, Anda akan disertifikasi – tidak cermat, tidak disiplin, tidak kompeten, tidak bisa kerja tim serta segudang cap stempel “Tidak” lainnya.

Pintu KETIGA: Lakukanlah untuk yang Terkasih!
Ketika sesuatu itu dilakukan untuk menyenangkan orang-orang yang kita sayangi, hasilnya akan luar biasa apalagi jika itu didorong keinginan untuk membantu sesama.

Itulah aturan mendasar penggerak roda kehidupan yang diyakini akan terus berlangsung abadi karena kehidupan dunia terperangkap oleh 3-Pertanyaan mendasar,

Yakni:

Tanya Ke-1: Bisa dipercaya-kah?
Jika tak dipercaya, tak pernah akan ada kesempatan. Habis percaya terbitlah kesempatan. Percaya dulu prestasi kemudian, setelahnya bicarakanlah produk.

Tanya Ke-2: Komitmen-kah?
Jikapun “prestasi” telah menjelaskan segalanya, tetapi “prestasi” terbentuk oleh standar kategorial ketentuan tertentu – didasarkan pada kesepakatan dunia, sesuai kesepakatan negara – sesuai ketentuan lingkungan – sesuai aturan keluarga. Sesuai kesepakatan antara Anda dengan kolega Anda.
Maka jagalah standar itu. Jaga komitment Anda!

Tanya Ke-3: Peduli-kah?
Ketika kita peduli akan orang satu lainnya maka kita dianggap telah membantu mensukseskan orang itu, dan itu adalah cara terbaik untuk kita mensukseskan diri sendiri.

Dan peradaban mencatat bahwa Trust, Commitment, Love diatas segalanya. Ketiganya mewakili nilai-nilai universal, bukti valid bahwa kasih sayang adalah landasan abadi untuk tiap tindakan kita – pengisi dunia.

Dan, itu tidak mudah! Tetapi, Anda pasti bisa!

"Have you ever thought there'd be a day when people think a different way? And on that day, what would you say, if you still thought the other way?"\
~Paul McMillan

~Salam Pintu untuk Anda!
Join mySFIteam

Terbaru

MEMBANGUN MOMENTUM DIRI

Perlu momentum untuk berhasil. Banyak yang giat membangun momentum untuk kesuksesan dirinya dan banyak yang sabar, bersabar menunggu saa...