“Perseverance is the hard work you do after you get tired
of doing the hard work you already did.”
~Newt Gingrich
~Newt Gingrich
Sedari lahir tiap kita dilatih untuk inti permasalahan
pokok yakni: Ada pekerjaan – sesuatu yang harus dikerjakan; Ada yang dicinta – seseorang
untuk dicintai; Ada yang dipercaya – yang
kita percayai; Ada pengharapan – bahwa semuanya akan lebih baik.
Dan Anda boleh membantahnya - betulkah begitu? Setelahnya,
yakinilah! Agar Anda layak untuk disertifikasi “sehat walafiat!”.
Beranjak besar, kita dipaksa untuk patuh, mematuhi
aturan ketentuan undang-undang negara, aturan lingkungan, ketentuan keluarga
dan paham meng-atur diri sendiri. Kita bahkan dilarang mencelakai diri karena diri
kita dianggap mengusung rupa-rupa kepentingan. Jika sembrono, eksesnya akan
menyeret kepentingan lainnya.
Untuk sukses kita diyakinkan untuk paham
makna tiga pintu keberhasilan,
Yakni:
Pintu PERTAMA: Lakukan dengan benar!
Jika serampangan
tidak benar, kita akan disertifikasi sebagai “Pelaku”. Diberi pembatasan. Jika
salah dan salah melulu, akan diwisuda dengan gelar “Narpid”. Diberi tempat terbatas
untuk menebus kesalahan.
Dan kita diwarisi gagasan pemikiran bahwa
kita telah diperlakukan tidak adil – itu betul! Tetapi, andai kita menerima makna
“keadilan” maka akan ketemu bahwa keadilan tiap orang telah dikorting untuk dibagi
merata ke orang satu lainnya. Orang sedunia, se-negara, selingkungan sekeluarga
dan untuk diri kita sebagai bagian darinya.
Maka berdamailah dengan ketentuan perilaku dunia
karena mustahil bisa hidup di dunia sendiri.
Pintu KEDUA: Lakukan semampunya!
Lakukan dengan baik, tepat waktu sesuai batasan
yang diperbolehkan, terutama karena tiap orang diyakini bisa melakukan tiap hal.
Harus berterima jika Anda dinilai dan diawasi sepanjang waktu – selama hayat
dikandung badan.
Jika Anda bagian dari tim, lakukanlah sesuai porsi
Anda, jangan rusak porsi orang lain. Jika tidak, Anda akan disertifikasi –
tidak cermat, tidak disiplin, tidak kompeten, tidak bisa kerja tim serta segudang
cap stempel “Tidak” lainnya.
Pintu KETIGA: Lakukanlah untuk yang Terkasih!
Ketika sesuatu itu dilakukan
untuk menyenangkan orang-orang yang kita sayangi, hasilnya akan luar biasa apalagi jika itu didorong
keinginan untuk membantu sesama.
Itulah aturan mendasar penggerak roda
kehidupan yang diyakini akan terus berlangsung abadi karena kehidupan dunia terperangkap
oleh 3-Pertanyaan mendasar,
Yakni:
Tanya Ke-1: Bisa dipercaya-kah?
Jika tak dipercaya, tak pernah akan ada
kesempatan. Habis percaya terbitlah kesempatan. Percaya dulu prestasi kemudian,
setelahnya bicarakanlah produk.
Tanya Ke-2: Komitmen-kah?
Jikapun “prestasi” telah menjelaskan
segalanya, tetapi “prestasi” terbentuk oleh standar kategorial ketentuan tertentu
– didasarkan pada kesepakatan dunia, sesuai kesepakatan negara – sesuai
ketentuan lingkungan – sesuai aturan keluarga. Sesuai kesepakatan antara Anda
dengan kolega Anda.
Maka jagalah standar itu. Jaga komitment
Anda!
Tanya Ke-3: Peduli-kah?
Ketika kita peduli akan orang satu lainnya maka
kita dianggap telah membantu mensukseskan orang itu, dan itu adalah cara terbaik
untuk kita mensukseskan diri sendiri.
Dan peradaban mencatat bahwa Trust,
Commitment, Love diatas segalanya. Ketiganya mewakili nilai-nilai universal, bukti
valid bahwa kasih sayang adalah landasan abadi untuk tiap tindakan kita –
pengisi dunia.
Dan, itu tidak mudah! Tetapi, Anda pasti bisa!
"Have you ever thought there'd be a day when people
think a different way? And on that day, what would you say, if you still
thought the other way?"\
~Paul McMillan
~Salam Pintu untuk Anda!
