Senin, 03 September 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA TANGGUNGJAWAB

“Batas akhir ‘Tanggungjawab’ berakhir tuntas kala ‘Kewenangan’ yang dimiliki dipakai menguliti ‘Kekuasaan’ dari sipemberi Kewenangan itu”~Hotman Sihombing

Ujung akhir dari proses mencapai sukses keberhasilan adalah sejumput “Kekuasaan” yakni “Kewenangan” mengatur, kewenangan berbuat begini-begitu, menguasai segala ini serta segala itu. Dengan stempel ‘Penguasa’.

Tentangan atasnya dianggap kudeta menentang kekuasaan. Haram dan harus ditindak sesuai hukum demi tegaknya hukum. Penguasa bahkan diberi hak membuat peraturan ketentuan demi keteraturan.

Kekuasaan terlihat absolut gagah dibekali Kewenangan hingga kelak diperhadapkan pada sessi akhir yaitu “Tanggungjawab”. Bagai rangkaian gerbong ketiganya bersambung saling bertarikan mengisi situasi mengikutkan keterjadiannya.

Kekuasaan mengatur Kewenangan kelak diperhadapkan disessi pengecekan yakni tahap dimana tiap Tanya harus diberi Jawab. Sessi dimana Kewenangan yang melekat pada Kekuasaan akan dibenturkan dengan rupa-ragam delik meneliti: Bagaimana pelaksanaannya? Sejauh apa terlaksananya? Apakah telah persis sesuai seperti yang ditetapkan? Apakah terlanggar? Telah terjadikah atau bisa dikategorikan demikian?

Sessi dipenuhi segala dalil dan dalil-dalil, bahkan dalil dari dalil-dalil. Tiap Tanya berjejalan dengan Jawab, ganti saling depak bersahutan hingga tak lagi jelas mana Tanya dan yang mana Jawab? Terkadang bahkan Tanya berubah menjadi Jawab begitu pula sebaliknya, kala yang Jawab terdengar bernada Tanya.

Untuk sesaat terlihat penuh peminat, ramai. Namun yang tidak berbakat bakal memilih mengatur jarak. Konon berjalan lamban membosankan! Apalagi kala menentukan yang mana tanggungjawab dari kewenangan? Dan yang mana kewenangan yang dari kekuasaan? Kenapa ada wewenang menguliti kekuasaan - si pemberi kewenangan?

Membingungkan, mari cuba ulas lebih jauh!

Tanggung jawab, Kewenangan & Kekuasaan:
Sesuai kosakata, taklah berlebihan jika ketiganya disebut sebagai “Biji” dari suatu buah, bahwa; “tanggungjawab adalah biji dari buah ‘kewenangan’ yang sebelumnya dibuahi oleh biji ‘kekuasaan’ yang notabene adalah buah perjuangan. Tiap satu daripadanya adalah “biji”, sederhananya begitu!

Bahwa, sesuatu 'Tanggungjawab' walau melekat erat pada 'Kewenangan' sejatinya tergantung pada seberapa tebal lapis ‘Kekuasaan’ yang dimiliki. Ada lapisan akhir yang membatasi.

Pengemban 'Kekuasaan' pun diijinkan untuk menunjuk pihak yang memikul ‘tanggungjawab’ atas sesuatu hal pada sesuatu peristiwa. Atau sebaliknya, memilih untuk sama sekali tidak bertanggungjawab dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Dibekali ‘Kewenangan’ memilih pelaksana di bagian tertentu maka yang itulah pihak yang paling bertanggungjawab tentang itu.

Saling bersilang sang berpendapat, masing-masing bersitegang kukuh menyatakan bahwa bagaimanapun “Tanggungjawab, Kewenangan serta Kekuasaan” adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Bahkan tiap satu daripadanya tegas menyatakan hal itu, dan itu nyata tersirat pada ketentuan produk kekuasaan.

Ditemukan ada pihak yang jelas dinyatakan sebagai paling bertanggungjawab walau diketahui tidak memiliki kewenangan. Itu dimungkinkan, mungkin karena diiming-imingi sesuatu. Ironis jika itu terjadi karena dijebak, walau kukuh tak mengaku namun posisinya jauh dari rentang Kekuasaaan. Dikorbankan?

Ada juga yang jor-joran mengaku bertanggungjawab. Ketika ditelusuri, ternyata itu adalah modus barter jabatan. Kian lucu lagi, sekonyong-konyong mengaku bertanggungjawab walau tak jelas pucuk pangkalnya. Ternyata “penjilat kekuasaan” tengah berupaya hendak naik panggung.

Lebih banyak yang tak mau tanggungjawab, walau Kewenangan’ nya jelas, oleh karena satu dan lain hal atau oleh karena takut kehilangan Kekuasaan secara licik berkelit menghindar. Terlihat lucu - benjol menggelikan.

Ada juga yang pada awalnya terlihat pintar, dimulai dengan mendisain sistem pembatasan tanggungjawab terbatas. Lalakonnya adalah dengan menipiskan ketebalan Kewenangan untuk tujuan agar bisa memelihara lapisan tingkat Kekuasaan yang diemban. Akhirnya, terjadi simpang siur batas kewenangan hingga membuat batas tanggungjawab menjadi absurd tak jelas. Secara tiba-tiba dia tampil menjadi pembuat keputusan tetapi tanggungjawab akhir tetap berada dipihak satu lainnya.

Tiap sebentar berulang, terlihat ada saja bawahan dimintai tanggungjawab untuk kemudian diejek tidak becus, bangsat dan dibebastugaskan, tuntas!
Lain waktu ada lagi dan ada lagi, berulang hingga dirinya dikenal bagai pembasmi bangsat begal, pejabat bersih. Tiap kali bersin ada bawahan yang dilepastugaskan, semua demi tonggak penopang tirai kekuasaannya.

Seiring waktu terdeteksi, tindakannya amoral jauh dari layak, ironisnya sipelaku terlihat cenderung bertahan mengerahkan segala daya demi mempertahankan pamor bahkan hingga tergelincir sendiri anak istri kurban diberai cerai.

Konon, batas lapisan terakhir dari ‘Tanggungjawab’ tuntas berakhir kala ‘Kewenangan’ dibekali wewenang menguliti ‘Kekuasaan’ dari sipemberi kewenangan itu.

Kelak dibahas disessi berikut.

~Salam tanggungjawab selalu!
JoinmySFIteam


Jumat, 24 Agustus 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA BELENGGU

"Most people give up just when they're about to achieve success. They quit on the one yard line. They give up at the last minute of the game, one foot from a winning touchdown."~H. Ross Perot

Pada proses mencapai sukses keberhasilan umumnya sebagian besar rangkaian kegiatan terjadi di belakang layar, lajimnya begitu. Tahapannya berjalan dalam debaran adrenalin semangat perjuangan, dan ketika berhasil sontak kegiatan dipenuhi hingar bingar euforia perayaan, semua beban serasa sirna oleh gejolak kegembiraan.

Tak berselang lama,  semua berubah, gaya hidup bahkan lingkungan tempat tinggal berubah. Kehidupan sehari-hari wajib patuh memenuhi kegiatan mengikutkan protokoler, cara makan, cara berjalan bahkan cara berbicara semua diatur. Tiap saat dikelilingi sekretaris hingga pengawal pribadi.

Orang-orang yang semula mengenal sebagian bergumam bingung tak paham kenapa kini tak lagi bebas diajak ngobrol? kenapa kini segala kegiatannya dipenuhi aturan dan peraturan? Terbelenggu tali kekang sukses keberhasilan!

Mari lihat belenggu sebelumnya!

1. Belenggu Penderitaan:
Sejarah orang-orang sukses bermula dari keberhasilan mereka mengubah dera belenggu penderitaan menjadi sesuatu. Mereka berhasil mengubah hambatan, jejak tentang hal ini bisa ditemukan dalam buku-buku kisah para orang-orang sukses pengubah wajah dunia.

Maha karya bahkan penemuan gemilang dihiasi berbagai ceritera kegagalan yang berulang-ulang, lagu-lagu top populer bahkan karya filem serta bintang filem yang menjadi ikon dunia perfiliman menorehkan karirnya dari gelimang belenggu penderitaan. Perjuangan membebaskan diri dari dera rasa sakit banyak mengilhami pencapaian sukses keberhasilan.

Pada ilmu psikologi dikenal ‘pasca-trauma’ bahwa orang-orang yang terbebas dari belenggu penderitaannya bisa berubah menjadi lebih kreatif, lebih bersyukur, lebih mampu mengontrol emosi bahkan kepribadiannya menjadi lebih kuat serta lebih berakal. Penderitaannya memaksa dirinya untuk melihat dunia dari sudut persfektif yang berbeda, menjadikannya bagai pemula dengan persfektif yang lebih aggresif, tahan banting dan menjadi lebih kreatif.

2. Belenggu Sikap:
Jamaknya, kemampuan diagnosis alam pemikiran kita akan jauh lebih meningkat bila kita bisa fokus pada hal-hal yang positif. Sifat yang optimis lebih cepat berhasil dibandingkan dengan sikap pesimis. Dalam hal ini jiwa psikologis kita akan lebih baik melakukan hal-hal yang terbaik kala kita bersikap positif bukan kala bersikap negatif atau bahkan netral.
Lebih efektif jika kita berhasil melepaskan diri dari enerji emosi negatif, bila perlu kita bahkan diharuskan bisa menerima sesuatu keadaan jika tak lagi bisa mengubahnya.

Kemampuan mengelola pola pikir menghadapi masalah dinilai jauh lebih penting dibandingkan kemampuan mengelola masalah.

3. Belenggu Kehendak:
Tiap kita pasti pernah bertanya: “Apakah kita bisa menghilangkan semua masalah berserta segala permasalahan awal mula musabab dari masalah-masalah itu?”

Jawabannya, mungkin itu tidak mungkin bisa dilakukan disepanjang hidup kita, terutama karena masalah-masalah itu sudah ada jauh sebelum kita ada. Beberapa bahkan dinilai keberadaannya diperlukan untuk menyibukkan kita dalam hidup ini, apalagi hidup adalah sesuatu masalah hingga pada tataran tertentu kita seolah hidup untuk menangani masalah-masalah itu.

Orang-orang sukses lajimnya melakukan sesuatu berdasarkan rencana karena dinilai akan lebih bermanfaat dibandingkan dengan yang tidak terrencana. Karenanya sibukkanlah diri sesuai rencana agar produktif serta manajemen waktu lebih efektif.

Konon katanya, kita telah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sama sekali tidak ter-rencana hingga habis waktu tersia-sia untuk hal-hal yang sama sekali tidak dimengerti, “kenapa?”.

Beberapa bahkan tidak tahu apa yang dikehendaki dalam hidupnya hingga tak mau pusing bagaimana ia menjalani hidupnya. Karenanya, mari belajar untuk mengetahuinya.

"You can experience rejection for free or you can do it for money. Nobody likes rejection but it is a fact of life in just about every thing you do. In business, deal with it or stay poor."~Jack M. Zufelt

~Salam belajar selalu!
Join-my-sfi-team!

Selasa, 07 Agustus 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA SELFISH

Success on any major scale requires you to accept responsibility...In the final analysis, the one quality that all successful people have...is the ability to take on responsibility."
~Michael Korda

Kata ‘Selfish’ sering diartikan sebagai sikap egois, perilaku yang oleh orang lain dinilai menyimpang karena lebih mementingkan diri sendiri. Kata egois dikenakan untuk menggambarkan tabiat seseorang yang tidak perduli akan keberadaan sekitar apalagi kepentingan orang-orang di lingkungannya.
Sungguh tak sehat dia!

Diperistiwa lain, seseorang dikenai tuduhan telah berperilaku ‘selfish’ karena terdorong oleh perasaan tidak suka. Penilaian yang cenderung subyektif. Pada peristiwa lainnya, perilaku ‘selfish’ terlihat bagaikan upaya berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya tetapi berusaha melindungi dirinya. Perilaku yang dia pikir diperlukan untuk menekan hunjaman beban rasa khawatir akan imbas suatu kenyataan dan takut akan dihakimi oleh keadaan.
Semakin tak sehat kah?

Namun ada juga perilaku ‘selfish’ untuk menyenangkan diri si orang itu sendiri, terdorong oleh rasa bahagia bahwa dia sukses menuntaskan sesuatu tugas. Dan dia memaksakan keberhasilannya agar diterima khalayak bahwa itu adalah prestasinya, bahwa dia lah orangnya. Bahwa itu harus diketahui orang-orang. Dia bahkan berkata tidak penting menjadi juara, julukan itu dia abaikan karena juara bisa siapa saja, tetapi ini adalah tentang dia, tentang kemampuannya. Menjadi dirinya lebih penting dari apapun!
Sakit kah?

Sekilas perilaku ‘selfish’ terlihat bagaikan penyakit. Jadi jika Anda berpikir orang itu sakit atau mengidap gangguan kejiwaan yang memerlukan penanganan psikiater, tak berarti Anda menjadi tak sehat. Mungkin Anda benar!

Tetapi ada juga yang bilang perilaku ‘selfish’ itu adalah dorongan untuk membahagiakan orang lain. Menyenangkan keluarga, teman-rekan bahkan demi menyenangkan hati orang banyak. Atau untuk memuaskan pelanggan, untuk menyenangkan hati pemodal pendana atau demi bos penguasa. Walau terdengar berlebihan tetapi sulit membantah jika ada orang yang mengabaikan dirinya demi mencapai sesuatu. Dunia penjilat punya motto bahwa ia terlahir untuk membahagiakan orang lain walau jika harus mengabaikan kebahagiaan dirinya.

"Have you ever thought there'd be a day when people think a different way? And on that day, what would you say, if you still thought the other way?"
~Paul McMillan

Pada skala tak terukur, perilaku ‘selfish’ diduga karena keberhasilan mendengarkan apa yang orang lain katakan untuk dilakukan dengan hidupnya. Sesuatu indoktrinasi menanamkan gagasan pemikiran yang harus dilaksanakan tanpa pengecualian, walau jika itu harus mengorbankan hidup orang lain.

Menjadi tidak terukur ketika gagasan itu dipraktikkan untuk menyakiti orang-orang yang mengasihinya, dia menjadi goyah. Terguncang akan konsekuensi bahwa kebahagian orang lain itu adalah untuk membahagiakan dirinya dan dia gagal membahagiakannya. Penjilat lebih tersiksa jika dia gagal membahagiakan Bos-nya.

Ada juga yang meyakini bahwa perilaku ‘selfish’ lebih dikarenakan karena seseorang itu masih hidup dimasa lalu, dikekang penyesalan gelisah dihantui konsekuensi masa lalu. Menolak belajar dari kesalahan masa lalu dengan membantah keberadaan masa depan. Baginya, masa depan tak beda dengan himpitan beban imbas peristiwa masa lalu. Derita batin yang tak terhingga hingga takut tak akan pernah menemukan lagi hidupnya yang dulu. Memilih tak melepaskan kenangan masa lalu walau ia sadar itu tak akan pernah kembali karena telah disita oleh waktu. Dikerangkeng masa lalu.

Ada lagi yang berpendapat bahwa perilaku ‘selfish’ terjadi karena terdorong oleh pengakuan bahwa itu bukan pikirannya bahkan bukan perasaannya. Menolak memiliki pikiran bahkan membantah punya perasaan hingga menolak dimintai tanggungjawab. Parah!

Dan kian parah kala yang berperilaku ‘selfish’ mengaku bahwa sejatinya dia sadar akan hal itu, tetapi dia begitu karena dia telah tidak adil terhadap dirinya karena telah mensia-siakan hidupnya, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang tak berguna. Menurutnya sudah tak lagi punya waktu untuk bisa lebih baik selain dari berperilaku ‘selfish’.
Agak ganjil tetapi genap!

Dan kian semakin seru untuk terus belajar lebih banyak lagi!
~Salam belajar selalu!
JoinMySFITeam