Selasa, 26 Juni 2018

ANDAI KITA PAHAM ARTI PERILAKU NEGATIF

“We think too much and feel too little. More than machinery, we need humanity. More than cleverness, we need kindness and gentleness”
~Charlie Chaplin

Tiap kita pasti pernah jengkel, sakit atau mengalami suasana hati yang tidak baik, beberapa bahkan mungkin merasa tengah berada di neraka. Ada yang mendasarkan penilaiannya karena situasi keuangan yang kronis, ada karena pekerjaan yang tidak menjanjikan perkembangan karir, ada juga yang merasa kehidupannya serasa kian jauh dari yang dicita-citakan. Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi. 

Meski banyak yang tak mengakuinya tetapi pernah merasakannya. Ada yang pintar menyembunyikannya, ada yang malah ekstrim hingga benci ketiap orang hingga berlaku tidak senonoh terhadap dirinya. Berkata kasar ke tiap orang hingga berusaha mencilakakan dirinya, bahkan malah menggugat sang Maha Kuasa.

Jika disimak lebih mendalam, penyebab utama diduga berawal dari penyangkalan atas diri serta perilaku sendiri dalam mengharungi hidup.

Beberapa yang dianggap menjadi sumber petaka:

DEMI HARGA DIRI:
Sulit jika tiap hal didasarkan pada harga diri. Hingga malu meminta bantuan orang, hingga minus rasa hormat kepada orang lain, hingga hanya percaya pada kekuatan diri sendiri, hingga hanya bersedia mengikuti naluri sendiri. Seiring waktu perilaku seperti itu akan menjadi bumerang dan kita akan dijauhi oleh orang-orang.

Kita harus belajar menerima diri kita sepenuhnya. Baik atau buruk itu adalah diri kita, dan apa yang kita perbuat dalam hidup bukan karena keinginan orang lain. Jika ingin merubah diri, lakukanlah itu karena terdorong oleh keinginan sendiri, bukan karena berpikir agar supaya orang lain menilai diri kita telah berubah menjadi terbaik.

Kita tidak sepatutnya meletakkan harga diri kita melebihi langit-langit kamar tidur kita. Tidak sepatutnya kita bertindak berlebihan berketergantungan pada ketetapan sesat bahwa betapa diri kita sangat penting. Belajarlah mencintai diri sendiri secara benar, menghargainya secara wajar agar orang lain bisa memperlakukan kita secara wajar.

Maka mulailah dari diri kita sendiri. Janganlah berlebihan.

DEMI DENDAM MASA LALU:
Kita kerap bersikap melankolis untuk hal-hal yang menyesatkan. Entah untuk alasan apa, kita kerap menyimpan dendam hingga sulit untuk menemukan kedamaian hidup. Seyogianya kita lepaskan rasa kebencian dan hal-hal yang mengganjal pikiran. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan mengurusi hal-hal negatif, merawat kepahitan-kepahitan yang kita pernah alami.

Jika pun itu adalah kesalahan fatal orang-orang, tak lah patut kita berlelah-lelah menghabiskan waktu untuk mendaftarkan kesalahan orang-orang itu ketiap pelosok penjuru dunia. Melepaskannya akan membuat hidup lebih indah, lebih ringan serta mewarnainya dengan berbagai keindahan.

Hidup itu indah, tak patut untuk dirusak dengan kenangan-kenangan pahit seolah tiap orang yang pernah bersalah malah berhutang pengampunan ke kita.

Belajarlah menerima masa lalu, melepaskannya untuk menjadi pendorong yang memberdayakan kita mencurahkan kantong-kantong pengampunan ke orang-orang yang pernah menyakiti.

Bergegaslah. Mulailah sedari dini.

TERPERANGKAP RUTINITAS:
Kita terbiasa melakoni hidup mengikutkan kebiasaan sehari-hari, kita lupa bahwa bukan hanya itu cara mengisi hidup. Tersadar ketika menjelang usia pensiun, kala vitalitas kian melemah, kemampuan produktif menurun seiring usia. Kesempatan kala muda serasa menghilang seiring waktu. Menyesal terpenjara oleh rutinitas sehari-hari, kehilangan waktu seolah menggerogoti perasaan sisa usia.

Seyogianya usia tua dianggap sudah meliwati zona kenyamanan hidup hingga tak lagi perlu berpikir secara rutinitas. Akan lebih bersahaja untuk mencari sesuatu yang baru. Usia tidak patut untuk dijadikan penghalang menggali pengalaman baru. Kita hanya perlu peluang, menjalankannya dan memanfaatkannya. Walau itu hanya untuk waktu singkat itu lebih berarti daripada tidak sama sekali.

Ada banyak yang bisa dilakukan tanpa harus terbebani akan usia. Hidup itu bersahaja, tak patut untuk dirusak dengan pikiran takut tak berdasar. Kelak sejarah mencatat bahwa kita telah melakukan sesuatu. Karena ada banyak hal besar yang sukses dilakukan oleh orang-orang di usia senja.

Jangan biarkan rasa takut menghentikan langkah menyalurkan unsur kebajikan. Jangan biarkan perangkap rutinitas membuat pikiran menjadi rentan membuat hati terluka. Kreatifitas bisa memacu rasa empati dan menghadirkan seluruh unsur kebajikan dalam hidup kehidupan kita.

TERPENJARA ALAM KESENDIRIAN:
Terkadang kita sendiri yang menghalangi langkah untuk mengenal lingkungan. Tanpa sadar membangun tembok pemisah agar tidak perlu bertegur sapa, hingga orang lain pun menjadi enggan untuk bersisian. Seolah berupaya menghindari orang-orang demi mencari ketenangan, sunyi di alam kesendiriannya.

Sebaliknya, disudut lain, ada yang malah memaksakan diri untuk bergaul walau orang-orang di lingkungan itu tidak mengharapkannya, beberapa malah menghindarinya. Ini adalah situasi demi menghindari perasaan sunyi karena alam kesendirian.

Mencari ketenangan didalam kesunyian diri adalah normal, sama normalnya dengan memaksakan diri bergaul dengan siapa saja dilingkungannya daripada terperangkap dalam perasaan sunyi oleh kesendirian yang mencekam.

Ibarat candu, menghindari pergaulan hanya akan merusak diri. Kita seolah menentang pemahaman bahwa kita punya kebutuhan untuk diakui - bahwa kita eksis.

Menghindari pergaulan dengan cara menenggelamkan diri dengan alkohol, atau menonton semua siaran televisi atau surfing internet adalah cara semu agar kita teralihkan dari lingkungan sekitar. Kita terbantu hingga batas waktu tertentu, tetapi akan terpenjara dalam alam kesendirian. Rasa sunyi akan meracuni hari-hari kita.

Sejatinya, kita terlahir tidak untuk hidup sendiri!

Belajarlah mengisi keseharian dengan tindakan efektif bahkan jika itu disaat-saat sulit sekalipun, yakinlah bahwa itu menuju titik kebahagiaan.

Belajar menjadi satu-satunya cara yang dipersyaratkan untuk kita bisa mengisi hidup agar tetap diperlukan dalam kehidupan ini.

~salam positif selalu!


"There's no feeling quite like the one you get when you get the truth: You're the captain of the ship called you. You're setting the course, the speed and you're out there on the bridge, steering."
~Carl Frederick

Selasa, 19 Juni 2018

ANDAI KITA TAHU MAKNA KATA “INTROSPEKSI DIRI”

"Things work out best for those who make the best of how things work out"
~John Wooden

Begitu itulah hidup! Semakin kita mengenal diri kita - dalam arti sesungguhnya, maka kita akan semakin tertarik untuk bisa mengenal orang-orang di sekitar kita dan kita akan menemukan ada banyak lagi yang kita perlu kenali.

Sejatinya, mengenal itu wajib hukumnya!

Kenali Lingkungan Kita:
Sekali waktu kita melihat bagaimana seekor tikus lari berkelebat menghilang kala kepergok menyatroni sisa makanan. Dikenal sebagai pengerat handal, dan menjadi perlambang pikiran Negatif. Tiap ada hal yang membuatnya tidak nyaman dia akan kabur, namun, jika nyaman maka kita akan lihat tikus-tikus itu bergerombol melahap secara berkelompok. Karena hal negatif pun akan saling tarik-menarik dan membentuk ikatan tersendiri.

Tak berselang lama, kita akan khawatir bahwa tikus-tikus itu adalah wabah, dan kita akan berusaha memusnahkannya. Strategi awal adalah mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. Dan kita cenderung akan sependapat dengan orang-orang bahwa diperlukan racun pemusnah. Bagaimana menggunakannya? Akankah berhasil? Apa keistimewaannya hingga racun ini yang direkomendasikan-terbaik?

Dan kita cenderung akan mendengar pendapat orang-orang, membelinya dan berharap akan berhasil. Memposisikan diri untuk bersikap “realistis”, bahwa, yang terbaik akan membawa hasil yang terbaik juga. Lajimnya begitu! Tak ubahnya seperti pemikiran negatif yang menarik pemikiran negatif lainnya, maka pemikiran positif pun akan menarik pihak lain untuk bersama membangun pemikiran positif juga.

Demikian John Wooden menyampaikan bahwa: ”Hal terbaik adalah untuk mereka-mereka yang membuat hal terbaik berfungsi dengan baik”. Dan kita disarankan untuk mengenal lingkungan agar kita bisa menempatkan diri di lingkungan orang-orang yang berpikiran positif.

Introspeksilah untuk memastikannya!

Kenali Tubuh Kita:
Kita dituntut untuk selalu sehat dan bugar, dan kita akan cenderung sepakat dengan orang-orang bahwa tubuh harus diberi asupan gizi, olahraga serta istirahat yang cukup. Bahwa kebugaran akan terjaga jika tetap aktif karena tubuh akan merespon pilihan gaya hidup kita.

Bahwa intensitas tubuh perlu disesuaikan dengan metabolisme bahkan kalori dan lemak tubuh perlu dibakar agar lebih enerjik. Dan kita harus konsisten menjaganya. Kita cenderung akan sepakat bahwa kebugaran tubuh akan membuat aktivitas lancar, ritme kapasitas aerobik tubuh akan bertambah kuat.

Kita disarankan untuk jogging beberapa menit, melakukan senam peregangan, menarik nafas dalam-dalam, rileks bermeditasi. Tubuh yang enerjik terasa nikmat dan hidup akan menjadi lebih nikmat.

Dan tiap kita layak mendapatkannya!

Kenali Diri Kita:
Tiap waktu kita disarankan untuk meningkatkan kualitas hidup dengan cara mengetahui lebih banyak lagi tentang diri kita agar menemukan pengetahuan apa yang kita kuasai serta bidang apa yang kita minati.

Tuliskanlah disecarik kertas, apa kelemahan serta apa kelebihan kita, letakkan ditempat yang mudah terlihat. Itu akan memudahkan kita menentukan dimana kita ingin berada. Kita harus yakin akan daftar kelemahan serta kelebihan diri kita itu agar bisa mengasah bidang keahlian untuk lebih didalami.

Karena kita cenderung melakukan hal-hal yang kita tahu tidak seharusnya kita lakukan.

Tiap kita cenderung tidak mengakui kelemahan kita tetapi membesar-besarkan kelebihan kita, dan kejujuran akan mengupas tiap lapisan diri kita menuju arah perubahan yang kita inginkan.

Jangan hidup dalam penyesalan! Mulailah mengindentifikasi, hal apa yang ingin kita ubah? Itu basis awal untuk membuka lapisan-lapisan diri kita lainnya.

Mungkin kita tidak berada ditempat yang kita inginkan! Mungkin kita tidak tahu apa yang kita inginkan dalam hidup ini! Tentukanlah apa itu – dan mulailah dari titik itu.

Jika gagal, maka kita akan menghabiskan waktu mencari-carinya sepanjang hidup. Tiap waktu kita akan kesasar menuju tiap hal yang akhirnya kita sadari bukan yang itu yang diinginkan.

Mungkin kita tidak punya ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai tingkat hidup yang kita inginkan. Atau, Mungkin ketrampilan kita jauh diatas bobot pekerjaan yang kita geluti.

Kita cenderung mengecilkan apa yang kita kuasai dengan baik, dan bahkan cenderung fokus menghabiskan waktu ke hal-hal yang tidak kita kuasai. Cenderung merendahkan sendiri aspek-aspek kehidupan yang kita jalani.

Cari tahulah, keluarga mungkin tahu apa keahlian dan minat kita, maka biarkan mereka memberi saran. Atau mungkin teman karib atau rekan kerja bisa menambah gagasan. Pertimbangkanlah ide masukan itu, atau bahkan rekan kerja tahu kwalitas kita.

Jangan apriori atau langsung curiga, bahkan jika saran itu terasa bias itu masih bisa dievaluasi. Kita tak harus setuju semuanya tetapi tiap alternatif akan memperluas wawasan khasanah pengetahuan.

Kita cenderung menanggapi Negatif jika dikritik. Seyogianya kita berterima kasih! Itu pertanda bahwa kita masih diharapkan untuk menjadi lebih baik lagi.

“There is always room at the top”.~Daniel Webster.

Itulah secuil Rahasia kehidupan yang kita perlu ketahui, dan masih ada banyak Rahasia lain lagi yang kita bahkan tak punya waktu untuk bisa sempat mengetahuinya.

~Salam Instrospeksi selalu!

JoinmySFIteam!
 

Rabu, 06 Juni 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA “TERIMA KASIH”

"Make it a habit to tell people thank you. To express your appreciation, sincerely and without the expectation of anything in return. Truly appreciate those around you, and you'll soon find many others around you. Truly appreciate life, and you'll find that you have more of it."
~Ralph Marston

Biasakanlah untuk mengucapkan “Terima kasih!”, atau setidaknya nyatakan penghargaan kita secara tulus atas hal baik yang orang-orang berikan, bahwa kita tak akan bisa membalaskannya tetapi berdoa kiranya Tuhan yang membalaskannya. Imbal baliknya akan kita peroleh: “Terima Kasih kembali”, orang akan berbalik menyampaikan ucapan tulusnya bahwa apa yang mereka lakukan terdorong oleh rasa bahagia. Bahkan menegaskan bahwa mereka tidak mengharapkan imbalan apa pun.

Sedemikian itulah kehidupan. Semakin kita menghargai orang-orang di sekitar kita maka kita akan semakin menemukan ada banyak lagi bentuk penghargaan yang akan kita dapatkan.

Hidup itu indah!

Renungkanlah, kapan terakhir kali Anda mengucapkan Terima kasih? mungkin kita tak sengaja menjatuhkan sesuatu dan orang lain mengambilkannya, atau seseorang menahan pintu Lift untuk kita, atau kala ada seseorang yang membantu kala kita parkir kendaraan. Apapun itu, mengucapkan “Terima kasih” adalah baik, suatu kebiasaan baik yang harus dipraktikkan dan kita lestarikan dalam hidup ini.


WARISAN LELUHUR:
Mungkin kita pernah tahu ceritera wejangan tentang “Manusia satu persen” yakni orang-orang terkaya di dunia ini, dan jumlah mereka hanya satu persen dari seluruh populasi manusia di muka bumi ini.

Beberapa pihak mungkin ada yang tidak bisa menerima keadaan ini, beberapa lainnya bahkan mungkin berusaha membangun stigma negatif seolah mereka telah berlaku tidak adil, seolah keberadaan mereka dikarenakan hasil tindakan licik, serakah, culas atau sesuatu konspirasi yang merugikan banyak orang –  kenapa bisa sangat kaya begitu rupa?

Ada saja orang-orang yang menganggap dirinya pakar hingga cukup pintar untuk mengutarakan pendapatnya. Katanya, itu adalah kontroversi, bahwa itu dimungkinkan, bahwa itu adalah akibat langsung dari sistim feodalisme, bahwa itu terjadi karena asas Ekonomi Liberal, itu adalah kesenjangan ekonomi efek langsung dari Neo-Liberalisme. Berbagai penjelasan dan segudang theory yang terkadang malah terdengar menggelikan.

Tetapi, cuba teliti lebih seksama lagi, nyaris disemua Kitab sudah dijelaskan bahwa orang-orang kaya itu sudah ada sejak peradaban berkembang, bahkan jauh sebelum Era theory-theory itu dikenal. Kekayaan mereka diketahui setelah era tulis baca dan sistim pencatatan dikenal luas. Jumlahnya kian jelas setelahdi Nilai diberi Harga dan di dokumentasikan.

Sejatinya “manusia satu persen” itu bukanlah hal baru dan itu bukan kontroversi. Faktanya mereka itu sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Jauh sebelum peradaban ekonomi modern dikenal, orang-orang terkaya atau “manusia satu persen” itu telah dilekatkan kepada orang-orang Mesir Kuno dijaman kejayaannya. Kala itu bahkan mereka dinilai telah punya teknologi yang dianggap canggih. Mereka bahkan telah menerapkan sistim bertani berdasarkan siklus iklim, paham akan cuaca bahkan ahli dalam ilmu perbintangan.

Ada dugaan itu adalah berkat ajaran sakral dari apa yang sekarang kita kenal sebagai “misteri kehidupan”. Dunia kemudian mengakui bahwa “keahlian misteri kehidupan” serupa itu kala di jaman itu juga ditemukan di Israel dan di China.

Seyogianya diakui bahwa itu adalah “berkat karunia”, terutama karena mereka juga dikenal sebagai orang-orang yang begitu sangat menghargai Leluhur dan melestarikan Rahasia Kehidupan Leluhurnya. Melestarikan ritual khusus cara menyampaikan ucapan Terima kasih ke para leluhurnya. Cukup alasan jika kemudian mereka dinilai paham cara terbaik bagaimana untuk meningkatkan taraf kehidupannya.


WASIAT LUHUR:
Oleh Theodore Roosevelt dikatakan bahwa dalam situasi apapun, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah hal yang benar, hal terbaik berikutnya yang dapat kita lakukan adalah hal yang salah; hal terburuk yang bisa kita lakukan adalah tidak berbuat apa-apa.

“In any situation, the best thing you can do is the right thing, the next best thing you can do is the wrong thing; the worst thing you can do is nothing”.
~Theodore Roosevelt

Selintas sulit untuk memahami maknanya, tetapi sedikit demi sedikit kita akan menemukan makna tujuannya bahwa tak-lah gampang untuk mengatasi tantangan hidup,  satu-satunya cara terbaik adalah dengan menghadapinya, dengan cara bagaimana kita menginginkannya dan bagaimana cara kita mengatasinya?

Karena hidup adalah petualangan dan orang yang melampauinya hanya mereka yang memiliki kemauan memelihara pengharapannya, dan mewujudkannya. Kita disarankan untuk Fokus pada Solusi bukan pada Masalah, tetapi kebanyakan dari kita melakukan secara sebaliknya. Tak heran jika lebih banyak terdengar suara keluhan penderitaan dibandingkan dengan suara antusias keberhasilan.

Kita lupa nasihat bahkan wasiat luhur dari para leluhur.

Bisa jadi hanya ”manusia satu persen” yang terlatih mengatasi kehidupan, mungkin hanya mereka yang paham makna jalan hidup dan tahu cara terbaik mengatasinya. Cukup beralasan untuk kita mengucapkan “Terima kasih” karena mereka telah menunjukkan cara bagaimana keberhasilan itu harus diraih dalam kehidupan ini.

Terima kasih untuk para leluhur!

~Salam Terima kasih selalu!
Click and find out!



JoinMySFIteam
 

Senin, 28 Mei 2018

ANDAI KITA TAHU MAKNA “JATIDIRI”

“It is absurd that a man should rule others, who cannot rule himself. (Absurdum est ut alios regat, qui selpsum regere nescit)”.
~Latin Proverb

Seorang klien mengirimkan email bersahaja suatu pengakuan yang menyentuh, sangat menggetarkan, saya bahkan terlarut mengikuti tulisannya.

Katanya memulai:
Harus saya akui, sudah lama saya menahan diri untuk melakukan hal mengikutkan kata hati saya. Sesungguhnya saya mengimpikan bisa melakukan banyak hal tetapi saya tak percaya diri. Saya bahkan terlalu takut untuk memulai. Takut keluar dari zona kenyamanan hingga harus mencari-cari alasan pembenaran. Telinga saya terkadang heran mendengar alasan lemah begitu itu, bahkan malah tak nyambung.

Saya itu, takut akan kualitas pribadi yang tidak cukup baik dan tak bisa melakukannya. Keyakinan sesat tertanam membatasi diri bertolak belakang dengan pengakuan banyak orang bahwa saya ini termasuk seseorang yang dinilai cukup sukses dalam berkarier.

Saya sesungguhnya sangat suka membaca buku-buku tentang orang-orang sukses. Sepertinya gampang untuk mereka melakukan hal-hal luar biasa, maka tak salah jika saya juga mengimpikan hal yang sama. Tetapi minus keyakinan diri.

Saya cenderung berpendapat bahwa mereka mudah melakukannya karena mereka terlahir ditengah keluarga kaya yang berkecukupan dan punya koneksi luas. Mungkin punya bakat sedari lahir. Pemikiran sesat itu terpatri dalam-dalam dan membatasi langkah.

Sekali waktu saya diikutkan dalam suatu acara bersama rombongan berkunjung ke kampung halaman salah seorang petinggi nagari. Saya terkejut mengetahui daerah asalnya. Serasa ada beban berat menggayuti, ternyata selama ini saya salah. Beliau ternyata berasal dari keluarga bersahaja bahkan taklah begitu kaya. Saya telah berlaku tidak adil terhadap diri sendiri.

Saya menyadari terlalu banyak buang waktu berkutat dengan pemikiran tidak produktif. Dan itu membatasi gerak langkah saya untuk berani melangkah keluar dari zona kenyamanan.

Abang betul!

“In this world a man must either be an anvil or hammer.”

Kini ini Bang, saya tengah berjuang dan akan terus meyakinkan diri bahwa jawaban yang diperlukan ada di diri sendiri.

Kini ini, saya kian semakin yakin menerima tantangan menangani hal permasalahan baru. Kini saya kian sering dilibatkan menangani hal besar, saya kian tertantang menantang kapasitas pribadi. Saya kian mantap melangkah, tak lagi perlu mencari-cari alasan demi membenarkan ketidak-becusan diri. Dan berkomitmen akan terus memacu kapasitas pribadi bergiat mempelajari hal-hal baru, kukuh mencari jalan keluar untuk sukses mencapai keberhasilan.

Apakah saya telah menemukan jati-diri saya? Terima kasih untuk perhatian dan sarannya.

---Selesai---

Hening,,,,,,saya termangu!
Jauh di lubuk hati, terasa ada dorongan percaya bahwa saya meyakini Dia itu juga sama saja dengan saya, mungkin Anda juga?

Respon apapun yang diberikan hanya akan ada satu kata bahwa jawaban apapun yang diperlukan, itu sudah ada didalam diri kita.

Tak soal dari mana kita berasal. Apa pun latar belakang kita tak masalah, bahkan itu bukan penentu kapasitas pribadi kita.

Bahkan pengalaman masa lalu hanya akan membawa kita ke suatu titik dimana kita tak lagi bisa mengulanginya. Dan itu bukan penentu langkah ke depan, karena kita diberi kesempatan untuk memulai titik baru.

Kita diberi waktu menambah pengalaman.

Titik dimana kita terlahir kembali dengan segala alat kelengkapan yang diperlukan untuk sukses. Sama seperti orang lain, kita juga punya alasan yang sama bahwa kita juga bisa sukses berhasil.

Seperti orang satu lainnya, jika pun merasa diberati rantai pengikat langkah maju itu hanya karena ulah kita sendiri. Hanya kita yang terbiasa memasung sendiri ayunan langkah maju yang membuat kita terjebak dalam lingkaran tak putus hingga lelah - tertahan.

Dari pengalaman pribadi yang mendapat kehormatan untuk terlibat dalam banyak kegiatan yang melibatkan banyak pihak dari berbagai unsur lapisan masyarakat, telah banyak yang saya lihat bahwa penghalang menuju sukses keberhasilan adalah bikinan sendiri.

Karena, tiap kita sejatinya punya kemampuan mencapai batas maksimal potensi kapasitas pribadi kita sendiri.

“Rely on your own strength of body and soul. Take for your star self-reliance, faith, honesty, and industry. Don’t take too much advice – keep at the helm and steer your own ship, and remember that the great art of commanding is to take a fair share of the work. Fire above the mark you intend to hit. Energy, invincible determination with the right motive, are the levers that move the world”.
~Noah Porter

Saya meyakini bahwa tiap kita diberi kesempatan untuk sukses, dan saya antusias melihat perjuangan meraih keberhasilannya. Saya meyakini, tiap kita diberi hak untuk memilih bagaimana kita mencapai keberhasilan itu, bahkan dibekali keunggulan pribadi untuk itu.
Hanya kita harus membebaskan diri dari ketidakyakinan diri karena kita diberi kebebasan untuk memilih bagaimana berpikir untuk itu.

Jika hari ini sukses itu masih tertunda, kita diberi waktu untuk meraihnya pada keesokan harinya, maka cukup alasan untuk tetap bersemangat menatap ke masa depan.

"Once a man has made a commitment to a way of life, he puts the greatest strength in the world behind him. It's something we call heart power. Once a man has made this commitment, nothing will stop him short of success."
~Vince Lombardi

Tulisan ini kami sepakati untuk dibagikan kepada Anda atau siapa saja yang membacanya, dengan harapan agar bisa menemukan cara bagaimana menemukan jati-diri dan memanfaatkannya. Karena jatidiri adalah modal awal mencapai sukses keberhasilan

Mulailah mencarinya! Karena masih ada banyak lagi rahasia hidup yang kita perlu ketahui bahkan yang tak akan pernah kita ketahui.

~Salam jati diri!