"Make it a
habit to tell people thank you. To express your appreciation, sincerely and
without the expectation of anything in
return. Truly appreciate those
around you, and you'll soon
find many others around you. Truly
appreciate life, and you'll
find that you have more of it."
~Ralph Marston
Biasakanlah untuk mengucapkan “Terima kasih!”, atau setidaknya
nyatakan penghargaan kita secara tulus atas hal baik yang orang-orang berikan,
bahwa kita tak akan bisa membalaskannya tetapi berdoa kiranya Tuhan yang membalaskannya.
Imbal baliknya akan kita peroleh: “Terima Kasih kembali”, orang akan berbalik
menyampaikan ucapan tulusnya bahwa apa yang mereka lakukan terdorong oleh rasa
bahagia. Bahkan menegaskan bahwa mereka tidak mengharapkan imbalan apa pun.
Sedemikian itulah kehidupan. Semakin kita menghargai
orang-orang di sekitar kita maka kita akan semakin menemukan ada banyak lagi
bentuk penghargaan yang akan kita dapatkan.
Hidup itu indah!
Renungkanlah, kapan terakhir kali Anda mengucapkan Terima
kasih? mungkin kita tak sengaja menjatuhkan sesuatu dan orang lain
mengambilkannya, atau seseorang menahan pintu Lift untuk kita, atau kala ada seseorang
yang membantu kala kita parkir kendaraan. Apapun itu, mengucapkan “Terima kasih”
adalah baik, suatu kebiasaan baik yang harus dipraktikkan dan kita lestarikan
dalam hidup ini.
WARISAN LELUHUR:
Mungkin kita pernah tahu ceritera wejangan tentang
“Manusia satu persen” yakni orang-orang terkaya di dunia ini, dan jumlah mereka
hanya satu persen dari seluruh populasi manusia di muka bumi ini.
Beberapa pihak mungkin ada yang tidak bisa menerima
keadaan ini, beberapa lainnya bahkan mungkin berusaha membangun stigma negatif
seolah mereka telah berlaku tidak adil, seolah keberadaan mereka dikarenakan hasil
tindakan licik, serakah, culas atau sesuatu konspirasi yang merugikan banyak orang
– kenapa bisa sangat kaya begitu rupa?
Ada saja orang-orang yang menganggap dirinya pakar hingga
cukup pintar untuk mengutarakan pendapatnya. Katanya, itu adalah kontroversi, bahwa
itu dimungkinkan, bahwa itu adalah akibat langsung dari sistim feodalisme, bahwa
itu terjadi karena asas Ekonomi Liberal, itu adalah kesenjangan ekonomi efek
langsung dari Neo-Liberalisme. Berbagai penjelasan dan segudang theory yang
terkadang malah terdengar menggelikan.
Tetapi, cuba teliti lebih seksama lagi, nyaris disemua
Kitab sudah dijelaskan bahwa orang-orang kaya itu sudah ada sejak peradaban berkembang,
bahkan jauh sebelum Era theory-theory itu dikenal. Kekayaan mereka diketahui setelah
era tulis baca dan sistim pencatatan dikenal luas. Jumlahnya kian jelas setelahdi
Nilai diberi Harga dan di dokumentasikan.
Sejatinya “manusia satu persen” itu bukanlah hal baru dan
itu bukan kontroversi. Faktanya mereka itu sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Jauh
sebelum peradaban ekonomi modern dikenal, orang-orang terkaya atau “manusia satu
persen” itu telah dilekatkan kepada orang-orang Mesir Kuno dijaman kejayaannya.
Kala itu bahkan mereka dinilai telah punya teknologi yang dianggap canggih.
Mereka bahkan telah menerapkan sistim bertani berdasarkan siklus iklim, paham
akan cuaca bahkan ahli dalam ilmu perbintangan.
Ada dugaan itu adalah berkat ajaran sakral dari apa yang sekarang
kita kenal sebagai “misteri kehidupan”. Dunia kemudian mengakui bahwa “keahlian
misteri kehidupan” serupa itu kala di jaman itu juga ditemukan di Israel dan di
China.
Seyogianya diakui bahwa itu adalah “berkat karunia”,
terutama karena mereka juga dikenal sebagai orang-orang yang begitu sangat menghargai
Leluhur dan melestarikan Rahasia Kehidupan Leluhurnya. Melestarikan ritual
khusus cara menyampaikan ucapan Terima kasih ke para leluhurnya. Cukup alasan jika
kemudian mereka dinilai paham cara terbaik bagaimana untuk meningkatkan taraf
kehidupannya.
WASIAT LUHUR:
Oleh Theodore Roosevelt dikatakan bahwa dalam situasi
apapun, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah hal yang benar, hal terbaik
berikutnya yang dapat kita lakukan adalah hal yang salah; hal terburuk yang
bisa kita lakukan adalah tidak berbuat apa-apa.
“In any situation, the best
thing you can do is the right thing, the next best thing you can do is the
wrong thing; the worst thing you can do is nothing”.
~Theodore Roosevelt
Selintas sulit untuk memahami maknanya, tetapi sedikit
demi sedikit kita akan menemukan makna tujuannya bahwa tak-lah gampang untuk mengatasi
tantangan hidup, satu-satunya cara
terbaik adalah dengan menghadapinya, dengan cara bagaimana kita menginginkannya
dan bagaimana cara kita mengatasinya?
Karena hidup adalah petualangan dan orang yang
melampauinya hanya mereka yang memiliki kemauan memelihara pengharapannya, dan
mewujudkannya. Kita disarankan untuk Fokus pada Solusi bukan pada Masalah,
tetapi kebanyakan dari kita melakukan secara sebaliknya. Tak heran jika lebih
banyak terdengar suara keluhan penderitaan dibandingkan dengan suara antusias keberhasilan.
Kita lupa nasihat bahkan wasiat luhur dari para leluhur.
Bisa jadi hanya ”manusia satu persen” yang terlatih
mengatasi kehidupan, mungkin hanya mereka yang paham makna jalan hidup dan tahu
cara terbaik mengatasinya. Cukup beralasan untuk kita mengucapkan “Terima kasih”
karena mereka telah menunjukkan cara bagaimana keberhasilan itu harus diraih dalam
kehidupan ini.
Terima kasih untuk para leluhur!

