Rabu, 06 Juni 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA “TERIMA KASIH”

"Make it a habit to tell people thank you. To express your appreciation, sincerely and without the expectation of anything in return. Truly appreciate those around you, and you'll soon find many others around you. Truly appreciate life, and you'll find that you have more of it."
~Ralph Marston

Biasakanlah untuk mengucapkan “Terima kasih!”, atau setidaknya nyatakan penghargaan kita secara tulus atas hal baik yang orang-orang berikan, bahwa kita tak akan bisa membalaskannya tetapi berdoa kiranya Tuhan yang membalaskannya. Imbal baliknya akan kita peroleh: “Terima Kasih kembali”, orang akan berbalik menyampaikan ucapan tulusnya bahwa apa yang mereka lakukan terdorong oleh rasa bahagia. Bahkan menegaskan bahwa mereka tidak mengharapkan imbalan apa pun.

Sedemikian itulah kehidupan. Semakin kita menghargai orang-orang di sekitar kita maka kita akan semakin menemukan ada banyak lagi bentuk penghargaan yang akan kita dapatkan.

Hidup itu indah!

Renungkanlah, kapan terakhir kali Anda mengucapkan Terima kasih? mungkin kita tak sengaja menjatuhkan sesuatu dan orang lain mengambilkannya, atau seseorang menahan pintu Lift untuk kita, atau kala ada seseorang yang membantu kala kita parkir kendaraan. Apapun itu, mengucapkan “Terima kasih” adalah baik, suatu kebiasaan baik yang harus dipraktikkan dan kita lestarikan dalam hidup ini.


WARISAN LELUHUR:
Mungkin kita pernah tahu ceritera wejangan tentang “Manusia satu persen” yakni orang-orang terkaya di dunia ini, dan jumlah mereka hanya satu persen dari seluruh populasi manusia di muka bumi ini.

Beberapa pihak mungkin ada yang tidak bisa menerima keadaan ini, beberapa lainnya bahkan mungkin berusaha membangun stigma negatif seolah mereka telah berlaku tidak adil, seolah keberadaan mereka dikarenakan hasil tindakan licik, serakah, culas atau sesuatu konspirasi yang merugikan banyak orang –  kenapa bisa sangat kaya begitu rupa?

Ada saja orang-orang yang menganggap dirinya pakar hingga cukup pintar untuk mengutarakan pendapatnya. Katanya, itu adalah kontroversi, bahwa itu dimungkinkan, bahwa itu adalah akibat langsung dari sistim feodalisme, bahwa itu terjadi karena asas Ekonomi Liberal, itu adalah kesenjangan ekonomi efek langsung dari Neo-Liberalisme. Berbagai penjelasan dan segudang theory yang terkadang malah terdengar menggelikan.

Tetapi, cuba teliti lebih seksama lagi, nyaris disemua Kitab sudah dijelaskan bahwa orang-orang kaya itu sudah ada sejak peradaban berkembang, bahkan jauh sebelum Era theory-theory itu dikenal. Kekayaan mereka diketahui setelah era tulis baca dan sistim pencatatan dikenal luas. Jumlahnya kian jelas setelahdi Nilai diberi Harga dan di dokumentasikan.

Sejatinya “manusia satu persen” itu bukanlah hal baru dan itu bukan kontroversi. Faktanya mereka itu sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Jauh sebelum peradaban ekonomi modern dikenal, orang-orang terkaya atau “manusia satu persen” itu telah dilekatkan kepada orang-orang Mesir Kuno dijaman kejayaannya. Kala itu bahkan mereka dinilai telah punya teknologi yang dianggap canggih. Mereka bahkan telah menerapkan sistim bertani berdasarkan siklus iklim, paham akan cuaca bahkan ahli dalam ilmu perbintangan.

Ada dugaan itu adalah berkat ajaran sakral dari apa yang sekarang kita kenal sebagai “misteri kehidupan”. Dunia kemudian mengakui bahwa “keahlian misteri kehidupan” serupa itu kala di jaman itu juga ditemukan di Israel dan di China.

Seyogianya diakui bahwa itu adalah “berkat karunia”, terutama karena mereka juga dikenal sebagai orang-orang yang begitu sangat menghargai Leluhur dan melestarikan Rahasia Kehidupan Leluhurnya. Melestarikan ritual khusus cara menyampaikan ucapan Terima kasih ke para leluhurnya. Cukup alasan jika kemudian mereka dinilai paham cara terbaik bagaimana untuk meningkatkan taraf kehidupannya.


WASIAT LUHUR:
Oleh Theodore Roosevelt dikatakan bahwa dalam situasi apapun, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah hal yang benar, hal terbaik berikutnya yang dapat kita lakukan adalah hal yang salah; hal terburuk yang bisa kita lakukan adalah tidak berbuat apa-apa.

“In any situation, the best thing you can do is the right thing, the next best thing you can do is the wrong thing; the worst thing you can do is nothing”.
~Theodore Roosevelt

Selintas sulit untuk memahami maknanya, tetapi sedikit demi sedikit kita akan menemukan makna tujuannya bahwa tak-lah gampang untuk mengatasi tantangan hidup,  satu-satunya cara terbaik adalah dengan menghadapinya, dengan cara bagaimana kita menginginkannya dan bagaimana cara kita mengatasinya?

Karena hidup adalah petualangan dan orang yang melampauinya hanya mereka yang memiliki kemauan memelihara pengharapannya, dan mewujudkannya. Kita disarankan untuk Fokus pada Solusi bukan pada Masalah, tetapi kebanyakan dari kita melakukan secara sebaliknya. Tak heran jika lebih banyak terdengar suara keluhan penderitaan dibandingkan dengan suara antusias keberhasilan.

Kita lupa nasihat bahkan wasiat luhur dari para leluhur.

Bisa jadi hanya ”manusia satu persen” yang terlatih mengatasi kehidupan, mungkin hanya mereka yang paham makna jalan hidup dan tahu cara terbaik mengatasinya. Cukup beralasan untuk kita mengucapkan “Terima kasih” karena mereka telah menunjukkan cara bagaimana keberhasilan itu harus diraih dalam kehidupan ini.

Terima kasih untuk para leluhur!

~Salam Terima kasih selalu!
Click and find out!



JoinMySFIteam