Jumat, 02 November 2018

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA KONSEKUENSI

”Only one who devotes himself to a cause with his whole strength and soul can be a true master. For this reason mastery demands all of a person”.
~Albert Einstein

Tak mudah buat seorang Saksi menjelaskan detil sesuatu peristiwa dimana tidak setiap orang turut menyaksikan. Terkadang malah si Saksi yang dicap pambongak tidak jujur. Disudutkan! Tak dihargai, lelah dihujani tanya. Tak jelas apakah si penanya bertanya agar bisa percaya atau malah si Saksi yang berjuang agar tidak dituduh “memberi kesaksian palsu”.

Mungkin karena itu si Saksi takut menagih upahnya. Kesaksiannya telah menakutkannya. Takut dianggap sebagai bagian dari, atau antek-antek pelaku, takut dituduh bagian dari persekongkolan. Atau dituduh “ada upaya pembiaran” karena tak berusaha mencegah.

Mungkin tawaran tak akan dituntut balik masih lebih menguntungkan dibandingkan upah. Impas karena Takut? Bisa dianggap begitu, itu konsekuensinya!

Orang hukum akan mudah untuknya memahami. Berbeda dengan orang yang tak tahu hukum, bingung teriak; Saya ini korban hukum! Orang lain yang berbuat kenapa saya yang bertanggungjawab? Orang yang berkelahi kenapa saya yang dituntut karena tidak melerai? Orang lain yang merampok kenapa saya yang dituntut karena tidak mencegah? Si Nenek yang berbohong kenapa saya yang berdarah-darah? Sulit dia pahami!

Konsekuensinya berat. Hanya karena berada ditempat yang salah disaat yang tidak tepat dia rendong ikut bertanggungjawab. Itu bukan pilihannya? Ada yang menyebutnya sebagai turut menjadi korban - collateral damage. Tetapi yang lain menyebutnya turut bersekongkol. Mungkin ada pasal yang melindunginya, tetapi tak mudah untuknya memperjuangkan haknya.

Akan selalu ada tawaran-tawaran tertentu dimana pihak yang dirugikan akan merasa lebih terlindungi jika dipaksa menerima keadaan. Sepahit apapun itu! Konsekuensinya begitu. Konon, itu bukti pertanda tegaknya hukum. Katanya lagi, hal serupa kerap diperdebatkan di dunia hukum. Kian tak paham dia!

Beragam konsekuensi diperdebatkan sepanjang waktu dan itu membuat hidup menjadi lebih hidup, menakjubkan! Enerji terkuras karenanya.
Ini adalah realitas pikiran!

Contoh lainnya: Banyak yang berpendapat bahwa cara mudah mendapatkan apa yang diinginkan dalam hidup adalah dengan menggali informasi tentang cara kerja alam semesta. Katanya, alam semesta menyimpan hal-hal yang paling diperlukan dalam hidup, memendam Rahasia tentang keunikan diri kita. Banyak penelitian diarahkan menggalinya, berbagai temuan serta penemu hebat dianugerahi hadiah Nobel.

Semisal kerumitan otak manusia, sulit menjelaskannya, sedari bentuknya yang unik, dimensi buntal hingga rangkaian fungsinya, tak bisa secara pasti ditentukan. Pendapat ahli berbeda satu sama lain. Diduga cuma sepuluh persen yang digunakan, sisanya masih terpendam. Takjub andai bisa seluruhnya digunakan. Tak henti ahli menggarapnya.

Ada yang berkata; “mungkin yang sembilan puluh persen itu sudah afkir, sia-sia menelitinya, buang-buang enerji saja, percuma!”.

Yang lain berkata; “yang sepuluh persen itu, itu pun hanya bonus! Pokoknya sama sekali belum terjamah, komplit seratus persen tersimpan aman di batok kepala, karenanya harus dijaga. Bagi pengguna Sepeda Motor gunakanlah Helm SNI sedangkan pengendara Mobil gunakan ‘safeti belt’ agar otaknya tidak tumpah tercecer saat terjadi kecelakaan”.

Tetapi ada yang berkata; “jika pun potensi itu masih tersimpan, itu adalah tanda kasih setiaNya. Tuhan Maha Penyayang, tak akan Dia berikan manusia melebihi kemampuan dirinya. Bisa jadi itu telah digunakan tetapi untuk tujuan keimanan. Karenanya, yang rajin beribadah, taat pada orang tua sayangi yang lebih muda, maka semua kekayaan dunia akan diberikan kepadamu berikut anak cucu keturunanmu. Karena segala apa yang Dia cipta, tiap satu daripadanya ditujukan untuk manusia, mahluk tersayang hingga dilimpahi karunia untuk menaklukkan jagad semesta. Yang tabah menghadapi pencubaan, jangan congkak dikala berkelebihan. Rendah diri itu diharamkan, tetapi Rendah hati sangat disarankan. Karena itu adalah jalan surgawi”. Puji Tuhan halleluya. Amin,,,!

Tiap konsekuensi melahirkan konsekuensi lain dan tiap satu daripadanya menubruk satu lainnya.

Mari lihat terjemahan Email dari seorang teman, katanya;
Hey Hotman, pernahkah Anda mengalami momen indah kala Anda benar-benar bisa melakukan sihir? Saya menyaksikan salah satu ciptaan paling ajaib dari Tuhan, kelahiran bayi. Awal kehidupan baru. Bayangkan jika kita bisa mencipta sedemikian indah, keajaiban apa lagi yang kita bisa wujudkan?

Sepupuku telah lima tahun berusaha, selama itu mereka mencoba. Frustrasi, mungkin tidak akan pernah merasakan pengalaman menjadi orang tua. Ketika hamil si istri keguguran. Depresi hingga akhirnya mereka berhasil menyalakan percikan sihir kehidupan dan mendapatkannya. Ajaib!

Hidup punya cara membebani kita bahkan mungkin mencuri sukacita dan keajaiban kita. Jangan biarkan hal itu menghancurkan Anda. Manifestasikan Sihir ke dalam hidup Anda.

Berjuang keras dikata sihir. Dan itu, konsekuensi juga!

Ntahlah, tiap kita mudah mengeluarkan titah atas sesama, apakah itu konsekuensi juga? Mungkin, bisa jadi begitu.

~Salam Konsekuen!
 Ecommercegy