“Anda tidak hanya menjadi apa yang paling Anda pikirkan, tetapi Anda juga meraih apa yang paling Anda pikirkan.”
~John Assaraf
Diduga setiap orang punya jangkauan pemikiran yang tidak sama dikarenakan gelombang alam pemikiran yang berbeda. Tak aneh jika ada yang mudah untuk bisa membangun kata sepakat untuk saling memahami, sementara yang lain harus terlebih dahulu berperang berkorban nyawa, harta serta martabat hanya untuk mendapatkan kata sepakat.
Diyakini perbedaan jangkauan alam pemikiran terbangun bertahap mengikutkan pengalaman hidup, dari kontribusi pengajaran, dari hasil pembinaan termasuk pengaruh lingkungan ditempat mana kita hidup. Semua berkontribusi menciptakan pemahaman baru bahkan hingga menerobos batas nalar melintasi rentang perjalanannya, berakhir di titik konkrit bagaimana untuk mengamalkannya. Diduga perbedaan itu yang membuat proses belajar menjadi tak pernah tamat bahkan selama hayat dikandung badan, bahkan walau dua pertiga daripadanya telah diberdayakan untuk mengamalkannya. Dari waktu ke waktu proses belajar yang terjadi terus-menerus menempa alam pemikiran.
Penempaan panjang berlangsung demi mencipta warna kehidupan, demi menambah semarak perjalanan hidup hingga tiba waktunya untuk mengajarkannya kembali ke anak cucu keturunannya karena mereka pun akan melanjutkan pencariannya disepanjang perjalanan hidupnya. Terus-menerus demikian sedari generasi pendahulu hingga ke generasi saat kita sekarang ini, karena hidup adalah pengulangan. Dan, tiap kita dibekali hak “tak kuasa menolak belajar serta mengamalkannya” dan, itulah warisan peradaban.
Hidup adalah pengulangan karenanya cukup alasan untuk kita bisa belajar dari masa lalu pendahulu, dan mengisi hidup kini ini dengan berbagai keragaman rupa kebajikan serta kebaikan.
Namun, hidup tak lelah mengarahkan kita untuk masuk merambah wilayah-wilayah yang terkadang tak terjangkau pemikiran. Hingga bingung kala kebejatan dianugerahi medali penghargaan, linglung kala mendapat penjelasan bahwa demi sesuatu alasan halal kita diharamkan untuk mengharamkannya. Jangkauan pemikiran yang berbeda membangun sekat batasan pemahaman sendiri-sendiri.
Perbedaan gelombang pemikiran diduga menjadikan jangkauan pemikiran menjadi tidak sama, hingga terlihat sebagian menjadi tidak berdaya. Sulit untuknya memahami uraian bahwa Kebejatan pun diperlukan untuk menciptakan tatanan hidup yang bebas dari perbuatan bejat. Bahkan sistim peradilan hukuman mati yang dinilai menista hidup sejatinya diperlukan demi menjaga kesucian nilai-nilai kehidupan hidup itu sendiri. Alam pemikirannya seolah dipaksa menjangkau menerima kesucian pasal-pasal hukuman mati, hukuman kursi listrik, hukuman tembak, hukuman gantung sampai mati bahkan dirajam serta dihukum pancung. Jangkauan alam pemikiran membangun sekat membuat pemahaman sendiri tentang batas nilai kewajaran menurutkan batasan alam pemikirannya.
Terlihat dungu kala kenyataan hidup memaksanya menghadirkan ketidakwajaran demi mencapai kewajaran? Pepatah Tetua berkata: “Andai saja kau mengubah cara mu melihat sesuatu, niscaya sesuatu itu pun akan berubah mengikutkan cara mu melihatnya”.
Jangkauan alam pemikiran selamanya bertentangan dengan batas penalaran serta kemurnian sanubari yang diduga memiliki batasan akhir dan tidak pernah tersentuh oleh hal apa pun. Murni sepanjang waktu.
Oleh sebagian Pakar diyakini andai kemurnian sanubari bisa diarahkan untuk membanjiri gelombang alam pemikiran dipastikan pendidikan tidak akan pernah bisa meracuni penalaran. Bahkan pengamalan tidak akan pernah membutuhkan corak-ragam bentuk penghukuman hingga dalil perlunya membentuk Pengadilan demi mendapatkan keadilan bisa terpatahkan. Karena hukuman terberat sejatinya adalah kekecewaan.
"A great attitude does much more than turn on the lights in our world; it seems to magically connect us to all sorts of serendipitous opportunities that were somehow absent before the change".~Earls Nightingale
Salam hangat selalu!


