“Success on any major scale requires you to accept responsibility...In the final analysis, the one quality that all successful people have...is the ability to take on responsibility."
~Michael Korda
Jalan pikiran manusia itu sangat kompleks, tak diketahui pernah cuti apalagi berhenti. Luar biasa, dijuluki sebagai mesin pemikir, mengalir tanpa terbendung mengikutkan situasi dan seketika bisa berubah demi membentengi si empunya pikiran.
Tak mudah untuk Pikiran bisa berkata: “Iya, baik saya setuju!” Tetapi, cenderung mendahului berkata: “Tidak, saya tidak setuju”. Kerap mengulur waktu: “Tahan sebentar, nanti dulu, perlu waktu untuk memikirkannya!”.
Kerap terjadi bahkan jika itu untuk kepentingan masa depannya, jalan pikiran manusia cenderung memanipulasi situasi, cenderung berlebihan mengantisipasi terkadang bahkan bisa menghembuskan issu yang meresahkan khalayak.
Beberapa berkesimpulan bahwa jalan pikiran manusia cenderung berbohong membohongi si pemilik pikiran, meyakinkannya untuk tak setuju atau untuk menahan diri tak bertindak walau itu akan menguntungkan. Sering mengambil sikap berlawanan hingga terkadang menolak tawaran untung dan malah lebih memilih Rugi. Sulit menjelaskan, tetapi itu yang terjadi.
Diduga kecenderungan bertolak belakang itu yang kerap menghalangi. Itu yang mencegah untuk tak mau mengikuti proses mencapai keberhasilan. Walau kita berkehendak bagaimana agar sukses tetapi terlalu takut meninggalkan zona kenyamanan - yang oleh jalan pikiran diartikan sebagai yang harus dibela mati-matian, dipertahankan! Dan itu tanggungjawabnya!
Anda boleh mendebat, tetapi sebagian besar pengisi dunia ini percaya hal itulah yang sebenarnya.
Cenderung Tak Masuk Akal:
Pikiran manusia begitu sangat luar biasa tetapi cenderung menyajikan alasan yang sulit diterima akal. Cenderung berbohong menghadapi fakta kenyataan dengan memberikan alasan yang irrasional. Diduga, karena jalan pikiran manusia takut akan tekanan bahkan takut akan perubahan yang secara sepihak dia deteksi akan menimbulkan ketidaknyamanan.
Jalan pikiran manusia terkungkung dalam zona nyaman. Setiap kali diajak memasuki alam perubahan, jalan pikiran serta merta akan menolak berusaha menggagalkan.
Ganjal penghalang timbul dalam berbagai rupa, menjadi malas untuk lebih teliti, takut sakit menjadi stress, semangat menurun, digangggu rasa takut menjadi jauh, takut tergelincir, takut curam, takut dalam, takut rugi, takut dibohongi, takut palsu. Takut akan segala takut yang kita pernah ketahui menakutkan.
Jalan pikiran berusaha mati-matian mengganjal derap langkah maju dan itu telah berlangsung berabad-abad disepanjang kehidupan.
Mari bedah alasan yang umum ditemukan.
Dia Bisa Karena Mereka Berada:
Orang itu bisa sukses karena dia memang berasal dari keluarga berada, segala punya, mudah dalam segalanya, mereka orang kaya. Alasan muncul seketika berupaya membentengi dengan memunculkan alasan tokcer kenapa kita tidak bisa sukses seperti orang lain itu.
Sulit diterima akal, tetapi itu merata hadir didalam tiap kepala.
Dia Bisa Karena DNA Pejuang:
Kala mendapat detil penjelasan bagaimana si orang itu berjuang susah payah jatuh bangun, bagaimana dia jatuh bangkrut merugi, nelangsa ditinggalkan teman-teman yang dia kenal. Bagaimana dicaci-maki kala memohon bantuan dari orang-orang yang dia kenal, bahkan dicemooh keluarga.
Salut, Takjub!
Tetapi, didalam kepala bergumam sayup, tak heran dia bisa meliwati rintangan begitu itu apalagi sedari moyangnya hingga ibu bapaknya semuanya pejuang. Tekad semangatnya berbeda, sedangkan saya ini cuma anak seorang Guru SD Kelas-3, itupun guru Bahasa Indonesia. Murid seisi kelas bapakku itu, engga diajari pun memang sudah berbahasa Indonesia.
Matian-matian jalan pikiran sekenanya bertahan bahwa kita itu punya alasan tokcer kenapa tak bisa maju seperti orang itu.
Aneh!
Seolah diramu tersedia segudang alasan untuk digunakan seketika, semisal dia itu masih muda, mudah untuknya menang, dia bisa begitu karena fasilitas. Dia menang karena fokus latihan, tidak seperti saya yang latihan sembari bekerja menghidupi keluarga. Dia bisa fokus berlatih karena didukung istrinya tidak seperti saya yang selalu dicari-cari hingga tak fokus. Alasan demi alasan meluncur membenarkan kenapa tidak sukses.
Kenapa kita hanya sukses membangun alasan?
Kita Suka Berpura-Pura:
Beberapa menduga isi dalam pikiran manusia dipenuhi alasan bagaimana membentengi diri agar rasa iri, dengki dan cemburu tidak terlihat, dan jalan pikiran berupaya memandu agar tidak terlihat berpura-pura.
"Have you ever thought there'd be a day when people think a different way? And on that day, what would you say, if you still thought the other way?"
~Paul McMillan
Konon, bantahan spontan mencuat didalam kepala adalah cara terbaik menahan diri, berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri kita. Betulkah begitu itu?
Ini mengemuka karena kita harus melindungi diri dari perasaan terbebani merasa tengah dihakimi dunia. Jalan pikiran punya kekhawatiran tak bisa berterima karena tak ada yang suka dihakimi.
Bagaimana jika kita benar-benar tahu bahwa kita tengah berpura-pura menjadi yang terbaik?
Walau itu harus berpura-pura tetapi kita telah berjuang untuk menjadi yang terbaik, dan kita belajar untuk bisa begitu itu.
Yang terbaik adalah menjadi diri sendiri - to be yourself! Dan, itu tidak mudah! Tetapi, Anda pasti bisa!
~Salam berpura-pura!

